
Bab 110
Mau Tidak Mau, Mau Juga
(POV Author)
Kadang kita perlu merasakan hancur untuk membangun pribadi yang baru.
***
Dua minggu kemudian.
Pernikahan Arjuna dan Siska pun berjalan dengan lancar. Keluarga Arjuna sudah mau menerima Siska sebagai keluarga baru mereka. Hal itu cukup melegakan untuk Ibu Naima dan Fandi.
Walau di awal Siska sangat menolak, namun pada akhirnya wanita itu menurut juga setelah di ancam Fandi akan dikeluarkan dari Kartu Keluarga(KK) keluarganya. Padahal jika saja Siska bisa berpikir logis, setelah menikah pun ia tentu akan pisah KK dari anggota keluarganya dan membuat KK baru bersama Arjuna sang suami. Sungguh miris isi kepala Siska
Walau sepanjang acara wajah Siska ditekuk seribu, namun ia tidak berbuat sesuatu yang nekat dan mempermalukan kedua keluarga.
Sama halnya dengan Arjuna. Lelaki itu pun pasrah, yang sepertinya sudah dapat menerima konsekuensi dari perbuatannya.
Siska tetap tinggal di rumah orang tua Arjuna selama masa kehamilannya. Setelah acara berakhir, keluarga Siska yaitu Fandi dan Nuning, serta Ibunya dan Bibinya kembali ke rumah masing-masing.
Roy beserta keluarga yang datang sebagai tamu undangan pun, pulang setelah menyalami ke dua pengantin.
"Kok kamu kelihatan pucat Ney?" Tanya Roy sekilas memperhatikan wajah istrinya sebelum menjalankan mobilnya.
"Aku merasa sedikit lelah Hon. Kita langsung pulang saja ya?" Pinta Indah yang tampak lemah.
"Iya kita langsung pulang saja. Lagian Umi dan Abi sudah ada Teguh yang menyetir mobil mereka." Ujar Roy.
"Teguh Kenapa pulang Hon? Bukannya sudah tidak ada libur panjang lagi?"
"Entahlah bocah itu. Katanya dia misi untuk merebut hati Umi kembali." Jelas Roy.
"Kok gitu Hon? Kenapa perlu merebut hati Umi? Emang Umi direbut siapa dari dia?"
Roy terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Indah.
"Kayaknya dia ngerasa cemburu sama Aditya Dasar Bocah Tengil"
Indah pun ikut terkekeh.
Sampai di rumah setelah membersihkan diri, Indah segera merebahkan tubuhnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering kecapean dan mudah lelah.
"Kamu tidak apa-apa Ney? Atau besok aku tidak masuk kerja saja menemanimu periksa ke dokter, mau?"
"Tidak apa-apa Hon. Sepertinya aku hanya butuh istirahat saja." Ujar Indah.
"Tapi aku khawatir Ney, kamu tidak biasanya seperti ini."
"Beneran aku tidak apa-apa kok."
__ADS_1
"Ya sudah. Tapi jika sampai besok-besok lagi kamu masih seperti ini, tolong kamu nurut aku ya? Kamu jangan nolak untuk periksa ke dokter."
"Iya Hon."
"Malam ini kita istirahat saja. Naninunaninunya libur dulu. Aku tidak mau kamu tambah lelah. Karena kesehatanmu merupakan tanggung jawabku juga."
Indah tersenyum seraya mengusap pipi suaminya. Mereka merebahkan diri bersama saling pandang dalam pelukan dekapan hangat.
Sementara itu di rumah Umi dan Abinya
Teguh menatap sinis Aditya yang sedang bermain sendiri tanpa peduli kehadirannya. Bocah kecil itu tampaknya sudah mulai terbiasa berada di rumah Omanya.
Banyak mainan yang diberikan sang Oma, sehingga ia tidak merasa jenuh walaupun main sendiri.
Teguh melipat tangan di depan dada
"Pssst! Pssssst!"
Teguh memanggil sang bocil tapi yang di panggil tidak bereaksi sedikitpun.
"Hei Bocil! Lo ngapain aja sama Umi selama Gue gak ada?! Udah berapa persen hati Umi Lo garap?! Jangan harap Lo bisa menang dari Gue ya?!" Panjang lebar Teguh mengomel tapi tidak direspon Aditya.
"Kok Lo gak lihat Gue sih?! Lo tahu gak siapa Gue?!"
Lagi, Teguh berbicara pada Aditya. Namun bocah kecil itu hanya sesekali melihatnya terus kembali asik bermain sendiri dengan mainannya. Sungguh wajah lugu anak-anak tidak berdosa.
"Cil! Bocil!! Lihat Gua napa?! Gue sentil juga ginjal Lo.... adududu... Aduh aw.. aw.. sakit!! sakit!!!"
"Siapa yang mau kamu sentil Teguh?!" Tanya sang Umi yang tiba-tiba sudah ada di belakang Teguh sambil dan menjewer telinga lelaki itu.
"Berani kamu mau nyentil Adit yang masih kecil itu?!"
"Bukan Adit, Mi. Itu loh Mi, lihat di dekatnya ada semut-semut gede. Itu semut kalau gigit si Adit dianya pasti nangis lho Umi." Kilah Teguh.
Umi melepaskan jewerannya di telinga Teguh dan segera menghampiri sang cucu untuk melihat di sekitar, apakah benar ada semut seperti yang dikatakan oleh Teguh.
Tidak menemukan satupun binatang di dekat cucunya, Umi menatap sengit ke arah Teguh.
Seketika bulu kuduk Teguh berdiri. Jantungnya berdebar keras seakan-akan bersiap menyambut halilintar yang akan menyambar dirinya.
"Awas kalau kamu macam-macam sama Adit. Dia itu anak Abangmu berarti ponakanmu, gitu aja cemburu! Jagain dia! Umi mau masak dulu."
"Iya Mi, Iya..."
Teguh merubah sikapnya menjadi anak yang penurut. Setelah Umi berlal, ia kembali kepada sikap semula.
Perlahan ia beranjak mendekati Aditya yang bermain sendiri mengambil salah satu mobil mini dan ikut memainkannya bersama bocah kecil itu.
"Lo pakai jurus pelet apa sih Cil, sampe Umi klepek-kelepek gitu? Coba bagi Gue. Enak banget Lo belum lama di sini udah dapat perhatian lebih dari Umi. Jatah Gue disayang kan jadi berkurang. Duh, sepertinya harus nyari orang yang mau menyayangin Gue nih."
Curhat Teguh yang hanya didengari Aditya namun tidak mendapatkan respon sedikitpun oleh anak kecil itu.
__ADS_1
"Ish gemesin!" Ujar Teguh mencubit pipi bocah kecil itu pelan.
Walaupun Aditya datang secara mendadak, namun karena ia adalah anak Almarhum Abangnya, dalam hati Teguh tentu ada perasaan sayang untuk Aditya. Apalagi bisa memeluk dan melihat darah daging Abangnya. Anggap saja pengganti si Abang yang sudah tiada.
***
Keesokan harinya.
Indah tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Iya merasakan tubuhnya benar-benar tidak fit hari itu disertai sakit kepala yang tidak pernah ia rasakan di setiap paginya sebelumnya.
Roy yang terlanjur berjanji untuk menemui rekan kerjanya pagi itu tidak dapat membatalkan janji begitu saja hingga akhirnya ia menelpon sang Umi dan memintanya untuk menemani Indah di rumahnya.
"Tolong ya Mi, nanti jam istirahat siang, Roy izin tidak kerja aja. Kerja setengah hari saja hari ini."
"Iya, Umi segera ke sana bersama Aditya dan Teguh. Indah sudah sarapan belum? Biar Umi masakin masakan kesukaannya."
"Tadi kayaknya makannya cuma sedikit Mi. Coba deh Umi ngomong sama mantu Um dia mau makan apa. Roy sudah terlanjur janjian pagi ini dan lagi buru-buru sudah telat soalnya."
"Ya sudah. Umi coba telepon dia dulu."
Umi mematikan panggilan Roy dan segera menelepon ke nomor Indah.
"Assalamualaikum Umi."
"Waalaikumsalam Nak, kata Roy kamu kurang sehat?"
"Iya Umi. Mungkin cuma kecapean aja."
"Umi mau ke sana jengukin kamu. Kamu pengen makan apa? Biar Umi buatin."
"Tidak usah repot-repot Umi. Umi datang ke sini aja aku udah sangat senang."
"Jangan gitu, kata Roy kamu makannya sedikit. Ayo, sehatkan tubuhmu jangan sakit. Kamu mau sop iga sepertinya waktu itu? Waktu Umi masak sop iga, kamu lahap sekali makannya."
"Umi nyebut sop iga aku jadi kepengen. Boleh deh Mi, aku minta masakin itu."
"Ya sudah, Umi beli bahan-bahannya. Entar Umi masak di sana ya, tungguin Umi ya sayang."
"Iya Mi."
Panggilan pun berakhir
"Umi mau ke sini Hon." Kata indah setelah suaminya masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk pamit pergi kerja kepadanya.
"Iya. Tadi pas aku lagi sarapan, aku nelpon Umi dan katanya Umi mau ke sini jengukin kamu. Ini tidak apa-apa ya aku tinggal dulu? Paling Umi sebentar lagi juga datang. Aku buru-buru soalnya. Maaf ya sayang."
"Tidak apa-apa Hon. Aku juga tidak gimana-gimana."
"Ya sudah. Aku pergi dulu ya."
Roy mencium pucuk kepala Indah dan Indah pun menyalami dan mencium punggung tangannya suaminya.
__ADS_1
Sambil menunggu Ibu mertuanya datang, Indah kembali menidurkan diri. Hampir semalaman ia kurang bisa tidur karena badannya yang terasa pegal-pegal.
Bersambung...