
Bab 71
Siska meradang
(POV Author)
Sebuah mobil Agya putih melaju dengan kecepatan cukup tinggi dan nyaris saja menabrak orang yang sedang mendorong gerobak di pinggir jalan. Pikiran kalut karena emosi membuat seorang wanita yang menyetir mobil itu hampir saja membunuh serta kehilangan nyawanya sendiri.
"Si*al! Si*al! Si*al!"
Siska memukul stir mobilnya dan mencengkeramnya kuat. Ia masih kesal karena Indah melawan keinginannya. Pikiran wanita itu menerawang, mencari akal bagaimana cara agar bisa menyingkirkan Indah dari kehidupan Fandi.
"Ini tidak bisa di biarkan. Lihat saja nanti, aku tidak akan menyerah begitu saja!" Gumam Siska kesal pada angin.
Ia pun menjalankan kembali mobilnya menuju tempat yang bisa memperbaiki suasana hatinya.
Akhirnya mobil yang ia kendarai berhenti di kantor Kakak angkatnya Fandi. Siska lalu masuk ke dalam kantor menuju ruangan Fandi setelah memarkirkan mobilnya tentunya.
"Pak Fandi ada yang mencari." Ujar sekretaris Fandi setelah mengetuk pintu.
"Siapa Mis?" Tanya Fandi.
Namun belum sempat Misna menjawab, Siska lebih dulu menerobos masuk dan langsung duduk di kursi di hadapan Fandi, Kakak angkatnya.
Misna yang sedikit terdorong oleh senggolan tubuh Siska merasa kesal. Wanita itu menatap tidak suka pada Siska yang cuek merasa tidak bersalah.
"Kamu boleh kembali ke tempatmu Mis." Ujar Fandi.
"Baik Pak." Misna pun kembali ke meja kerjanya setelah menutup pintu ruangan Fandi.
"Ada apa Sis? Lain kali jangan bersikap kasar begitu di tempat kerjaku." Ujar Fandi.
"Mas, kok mau sih menikah sama wanita tidak jelas itu?!"
Fandi menghela napas jengah. Ia sepertinya mulai merasa bosan membahas masalah itu-itu saja. Ia pun lebih memilih diam, mengabaikan pertanyaan Adik angkatnya, Siska.
"Mas, kok diam sih?"
"Sudah lah Siska, apa yang mau kamu permasalahkan lagi? Bukankah waktu itu aku sudah menyampaikan dengan jelas kepada semua keluarga? Dan Indah itu bukan wanita tidak jelas seperti yang kamu tuduhkan."
"Ck! Bela saja terus!" Ujar Siska berdecak kesal.
"Kenapa sih kamu selalu begini? Dulu sama Mira pun kamu tidak setuju seperti ini. Jangan terlalu mengaturku Siska!"
"Aku cuma ingin yang terbaik untukmu Mas."
"Aku tahu mana yang terbaik untukku." Ujar Fandi mulai kesal terhadap sikap adiknya, dan menatapnya tajam.
"Tidak Mas, mereka-mereka itu bukan yang terbaik untukmu!" Balas Siska yang juga menatap Fandi.
__ADS_1
"Lalu siapa yang terbaik Siska? Kamu?" Tanya Fandi yang sudah lelah dan melemparkan pertanyaan itu begitu saja.
"Memangnya aku kurang apa Mas?" Tanya Siska serius.
Fandi menghentikan kegiatannya dan menatap serius Siska setelah mendengar ucapan Adiknya itu. Pria itu tampak berpikir dan bingung maksud dari ucapan Adiknya.
Siska berubah kikuk di tatap Fandi. Ia mengalihkan pandangan dan terlihat mengatur napasnya. Rupanya jantung wanita itu berdebar-debar di tatap oleh sang Kakak.
"Siska, jika aku salah mengira tentang perasaanmu ini aku minta maaf. Tapi, jika benar... tolong hentikan!" Ujar Fandi dengan wajah serius.
Apa ini yang di curigakan oleh Mira waktu itu? Apa mungkin Mira sudah menyadarinya sejak lama? Batin Fandi bertanya-tanya.
"Mas..."
Siska menggantung kata-katanya dan menatap sedih Fandi yang langsung menolak dirinya.
"Kenapa sih Mas? Apa aku sebaiknya pergi saja dari rumah, dan kita memulai hubungan baru tanpa ada embel-embel Adik-Kakak. Lagian kita juga bukan saudara kandung. Jadi hal itu mungkin saja." Ujar Siska kembali.
"Tapi bagiku kamu tetap adikku. Dan aku tidak mau merubah itu!"
"Sejalan waktu cinta pasti tumbuh Mas." Siska masih terus berusaha untuk membujuk dan mengutarakan isi hatinya.
"Carilah laki-laki lain Siska. Yang jelas aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan mu."
"Triing! Triing! Triing!"
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, Bro... ada sesuatu yang harus kamu ketahui."
"Apa itu?"
"Ini tentang Adikmu Siska." Ujar Roy di seberang sana.
Fandi langsung menoleh ke arah Siska yang masih duduk manis di ruangannya sambil memainkan gawainya.
"Kenapa dia?" Tanya Fandi melanjutkan obrolan mereka namun Fandi mulai sedikit menjauh dari Siska.
"Indah dan Siska bertemu di Plaza. Tahu apa yang terjadi? Ku kira aku hanya melihat di video-video viral. Ternyata aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Siska dan Indah main jambak-jambakan."
"Apa?!"
Fandi terkejut mendengar apa yang dikatakan Roy padanya. Lelaki itu lalu melirik Siska sekilas dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Haaah."
Fandi menghela napas kesal. Ia tidak mengira Siska akan bertindak kasar seperti itu.
"Lalu bagaimana dengan Indah?"
__ADS_1
"Dia tidak apa-apa Bro. Hanya saja, apa kamu tahu kira-kira apa yang mereka perdebatankan?"
Sekali lagi Fandi membuang napas kasar. Tentu saja ia tahu apa kira-kira penyebab Siska bertindak seperti itu. Karena ia baru saja mengetahuinya sendiri.
"Aku tahu dan itu baru saja. Dia ada di ruangan ku sekarang."
"Wah, oke Bro. Jangan terlalu keras."
"Hmm, terima kasih informasinya Bro. Dan sampaikan permintaan maaf ku pada Indah."
"Baiklah, akan aku sampaikan. Kalau begitu, telpon aku tutup. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Fandi pun menutup telponnya. Lalu melihat ke arah Siska.
Dalam hati Fandi ia kecewa dengan prilaku Siska. Padahal Siska sang Adik yang ia kenal adalah wanita penurut dan rajin. Namun sepertinya Fandi belum mengetahui semua sifat sang Adik.
Yah, tidak ada yang tahu apa yang di sembunyikan manusia. Bisa saja mereka tampil apa adanya, bisa juga mereka memakai topeng untuk menutupi sifat aslinya.
"Siska, apa yang kamu lakukan terhadap Indah?!" Tanya Fandi menatap tajam Siska.
Seketika Siska merubah posisi duduknya menjadi tegak, lalu beberapa detik kemudian kembali santai setelah menguasai suasana hatinya.
"Rupanya ada yang mengadu. Dasar wanita ular!" Umpat Siska berang.
"Jaga bicaramu Siska!" Sergah Fandi.
"Kenapa sih Mas? Mas lebih membela wanita itu dari pada aku? Kita bertahun-tahun bersama sedangkan Mas belum sampai setahun bukan, mengenalnya?"
"Aku tidak membedakan kalian, tapi aku tidak suka kamu menyakitinya."
Siska tersenyum getir menanggapi ucapan Fandi.
"Mas, perlakuanmu jelas beda! Apa harus ku jabarkan agar kamu sadar Mas?"
"Cukup Siska! Ingat posisimu dan jaga sikapmu! Fandi kembali mencoba mengingatkan.
"Kamu jahat Mas! Kamu tidak merasa bagaimana sakitnya perasaanku!"
"Sudah ku katakan sebelumnya, hentikan perasaanmu itu karena sampai kapan pun aku tidak akan menanggapinya!"
Siska menatap tajam Fandi. Ia kecewa akan jawabnya sang Kakak yang sudah menolaknya dua kali di waktu yang sama.
"Perasaan itu tulus ada untukmu Mas, dan aku tidak bisa mencegah apalagi membuangnya. Kita bukan sedarah, dan aku berhak untuk mencintaimu."
Siska bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Fandi yang mulai tersulut emosi. Wanita itu begitu kecewa hingga bulir bening matanya mulai menetes satu persatu.
Bersambung...
__ADS_1