Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 31 Calon Janda


__ADS_3

Bab 31


Calon Janda


Selera makanku tiba-tiba menghilang setelah jatuh talak yang di ucapkan Mas Heru. Padahal tadi aku sedang lapar-laparnya karena lelah berbelanja. Makanan yang aku pesan hanya ku tatap dan aku obrak abrik sedemikian rupa. Hati ku masih terkejut rasanya akan status yang baru saja aku dapatkan yaitu janda walau baru sah secara Agama.


"Kak makan dulu, atau Kakak mau makan di kosan aja biar di bungkus?"


Jihan memecah kesunyian di antara kami. Gadis itu pasti sangat ketakutan tadi harus melihat sesuatu hal yang seharusnya tidak pantas untuk di lihat.


"Maaf ya Ji, kamu pasti terkejut dan ketakutan tadi."


"Iya Kak, tidak apa-apa. Jihan tidak tahu kalau Kakak sudah berumah tangga dan sedang ada masalah. Sabar ya Kak...,Jihan tidak tahu harus berkata apa karena Jihan belum punya pengalaman. Tapi Jihan yakin Allah tidak tidur. Allah pasti mendengar doa-doa Kakak dan akan mengabulkannya suatu hari nanti. Sabar ya Kak... "


Benar, aku tidak boleh lemah. Ada masa depan yang baru menanti. Entah itu kebahagian atau ujian lagi yang harus aku jalani. Perceraian ini mungkin tinggal menunggu ketukan palu hakim karena Mas Heru sendiri telah menjatuhkan talak padaku. Setelah ini aku bisa bebas dari belenggu Mas Heru dan keluarganya. Aku tidak perlu sakit hati lagi karena ulah mereka.


"Makasih ya, Kakak tidak apa-apa. Ayo kita makan terus pulang."


Perlahan aku berusaha menghabiskan makananku walau selera makan tidak sepenuhnya ada. Begitu selesai makan, kami pun pulang dengan suasana hati yang berbeda ketika pergi.


"Ji... sini!" Aku manggil Jihan sebelum dia masuk ke kamar kosannya.


"Ada apa Kak?" Jihan mendekat kepadaku.


"Ini..."


Ku keluarkan kemeja ruffle berukuran S yang sengaja aku beli untuknya dan memberikannya kepada gadis itu.


"Ini kemeja yang tadi." Kata Jihan yang tampak bingung bingung.


"Iya, buat kamu."


"Ya ampun Kak, tidak usah sampai begini. Jihan seneng kok bisa jalan-jalan sama Kakak. Apalagi tadi sudah ditraktir Kakak sampai kenyang." Tolak Jihan.


"Ambil saja Ji, itu ukuran S mana muat sama Kakak."


"Loh, kan tadi Kakak bilang M kebesaran?"


"Hehehe, sudah Ji. Kakak emang sengaja beli itu buat kamu kuliah. Ya kalau ukuran M tentu kebesaran buat mu Ji."


" Tapi Kak..."


"Sudah ambil saja..."


Aku meletakkan baju kemeja itu di tangan Jihan.


"Ya Allah Kak, baik banget. Hiks... "


"Lah Kok malah nangis? Kamu tidak suka Ji?" Tanya ku bingung tiba-tiba saja gadis itu menangis.


"Kakak sangat baik begini, tapi Kok di dzolimi seperti tadi oleh keluarga suami Kakak, eh.. mantan suami."

__ADS_1


Aku menghela napas.


"Mungkin itu ujian dalam hidup Kakak berumah tangga Ji. Jadi ini juga pelajaran untukmu bila mencari suami, jangan terlalu mencintai hingga membuatmu buta dengan keadaan dan kenyataan."


Jihan saja bisa menangis karena keadaanku. Tapi air mataku sudah mengering karena terlalu lelah untuk menangisi lagi perbuatan Mas Heru dan keluarganya.


Jihan memelukku erat. Aku yang bermasalah disini tapi seperti dia yang sangat berduka atas apa yang menimpa diriku. Sungguh gadis yang perasa. Andai aku punya adik laki-laki, sudah ku jodohkan dia dengan adikku. Sayangnya aku menjadi anak tunggal setelah Kakak perempuanku meninggal di usia 4 tahun karena penyakit DBD.


***


Keesokan harinya. Saat jam istirahat kantor, aku gunakan waktu ku untuk bertemu pengacaraku Pak Sandi. Besok sidang ke dua perceraian ku akan di gelar, Pak Sandi harus tahu kalau Mas Heru sudah menjatuhkan talak padaku.


Rumah makan padang menjadi tempat bertemu kami sekalian menikmati makan siang. Aku di temani Rara agar tidak timbul fitnah bila ada yang melihat kami hanya berdua saja.


"Saya sudah di talak 3 oleh Mas Heru Pak." Kataku membuka obrolan serius setelah sebelumnya kami ngobrol santai bertukar kabar.


"Itu bagus. Proses perceraian akan lebih mudah dan cepat. Apa ada saksi yang melihat atau mendengar?"


"Ada. Jihan anak kos yang tinggal satu atap dengan saya, juga tentunya keluarga Mas Heru yang saat itu bertemu kami di plaza." Kataku menjelaskan.


"Besok kita bisa menghadirkannya sebagai saksi yang mendengar ucapan talak itu. Ini sekadar saran dari saya, kenapa Bu Indah tidak melaporkan saja pernikahan suami Ibu pada kantor dinas terkait? Dia bisa kena sanksi atau malah di copot dari jabatan. Dan terburuknya, bisa di pecat dari pekerjaan."


Aku menggeleng.


"Saya pernah berpikir untuk melaporkannya Pak. Tapi saya urungkan, karena Mas Heru adalah tulang punggung keluarganya. Apalagi akan ada calon anak yang nantinya akan dia nafkahi. Saya tidak ingin karena saya, hidup anak itu menjadi susah. Dengan menuntut gono gini, saya rasa itu sudah cukup. Karena disana banyak hak saya yang di ambil Mas Heru.


Pak Sandi menghela napas mendengar keputusanku.


"Terlalu baik kamu In. Ih aku gregetan sama Heru itu!"


Tentu saja aku pun sama seperti Rara. Tapi aku juga tidak bisa egois memikirkan kepentinganku sendiri. Ada anak yang tidak berdosa yang tidak perlu ikut menanggung beban hidup orang tuanya.


"Baiklah besok Bu Indah tinggal menunggu kabar saja dari saya."


"Baik Pak."


"Loh Pak Sandi?!"


Tiba-tiba saja ada yang menegur Pak Sandi, dan orang itu adalah Pak Dahlan atasanku bagian divisi lapangan.


"Oh, Pak Dahlan!"


Kedua pria seumuran itu saling berjabat tangan.


"Ada apa ini? Kenapa bisa sama Indah?"


Pak Dahlan menatapku genit. Masih saja lelaki tua itu tidak ingat sama umur dan anak istri di rumah.


"Oh, Bu Indah klien saya."


"Oh begitu. Saya kira ada urusan lain. Hahaha..."

__ADS_1


Memang Pak Dahlan ini kalau bicara ceplas ceplos. Aku tahu arah pembicaraan pria itu kemana. Bisa-bisanya semua lelaki ia samakan seperti dirinya.


"Kebetulan Bu Indah sedang menghadapi masalah, dan membutuhkan bantuan saya." Jelas Pak Sandi.


"Kenapa kamu tidak minta bantuan saya juga Indah? Saya bisa kok."


Pak Dahan seolah-olah mencoba merayuku.


"Tidak Pak. Sepertinya cukup Pak Sandi saja, karena beliau ahlinya." Jawabku sedikit menahan kesal.


"Ada permasalahan apa sih?" Tanya Pak Dahlan dan malah menarik kursi di meja lain untuk bergabung dengan kami.


Rara meremas tangan ku yang kebetulan ada di bawah meja. Sahabat ku itu tampak geram dengan prilaku Pak Dahlan.


"Bukan masalah berat Pak, Bu Indah hanya sedang konsultasi proses perceraian terhadap suaminya." Jelas Pak Sandi yang mungkin juga merasa tidak nyaman dengan Pak Dahlan dan juga diriku.


"Kamu cerai Indah? Cerai?! Hahaha... Indah, Indah... Aku sudah curiga kalau hubungan LDR itu ya pasti buntut-buntutnya ya begini."


Ya Tuhan, ingin sekali ku sumpel mulut lelaki yang asal bicara ini. Kalau tidak mikir dia atasanku dan ada Pak Sandi disini, sudah pasti akan ku balas kata-katanya itu.


"Tidak ada hubungannya mau LDR atau tidak Pak. Mungkin ini ujian dalam kehidupan rumah tangga saya." kataku menjawab cibiran Pak Dahlan.


"Berarti kamu sekarang calon janda Indah?" Tanya Pak Dahlan penuh semangat.


Apa yang harus aku jawab terhadap lelaki tua hidung belang ini. Jika aku menyangkal, bukti sudah mengarah ke sana. Jika aku iyakan, seolah-olah aku memberi peluang padanya untuk mendekat.


"Coba sesekali di ajak Pak istrinya makan bersama kita, biar rame gitu. Saya pengen kenalan loh sama anak Bapak, katanya ganteng mirip Ibunya."


Tiba-tiba Rara berbicara dan sungguh membuatku terkesiap mendengar ucapannya.


Alhasil, Pak Dahlan terdiam dengan raut wajah yang berubah tidak nyaman.


"Baiklah Pak, mengenai urusan besok saya serahkan sepenuhnya kepada Bapak. Saya rasa konsultasi hari ini sudah beres."


Tidak ingin berada lebih lama dalam keadaan ini, aku memutuskan mengakhiri konsultasi hari ini sampai disini.


"Baik Bu Indah. Saya akan berusaha memberikan bantuan yang terbaik buat Ibu."


Sepertinya Pak Sandi cukup menyadari maksudku. Ia pun setuju untuk mengakhiri konsultasi hari ini.


"Loh, sudah kelar toh?!" Tanya Pak Dahlan memotong pembicaraan aku dan Pak Sandi.


"Iya Pak, mohon maaf saya mau permisi duluan biar tidak terlambat kembali ke kantor." Ujar ku beralasan.


Aku kemudian berdiri menyalami Pak Sandi dan Pak Dahlan di ikuti oleh Rara.


Saat sedang berjabat tangan, bisa-bisanya Pak Dahlan mencuri kesempatan mengelus tanganku dengan jari jempolnya. Belum lagi senyum nakal dan tatapan genitnya yang benar-benar ingin mengeluarkan makanan yang baru saja bertahan di perutku.


Bersambung...


*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **

__ADS_1


Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏


Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊


__ADS_2