Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 108 Informasi


__ADS_3

Bab 108


Informasi


(POV Author)


Arjuna berjalan cepat ketika memasuki kelasnya. Hari ini ia akan mengikuti dua mata kuliah saja. Hatinya sejak kemarin merasa was-was. Seperti ada seseorang yang terus mengikutinya. Arjuna melihat kesana kesana kemari memastikan keadaan aman sebelum masuk ke kelasnya.


"Haaah!"


Arjuna me*nde*sah keras saat telah duduk di kursinya. Ia mengusap wajah dan mengusap belakang kepalanya secara kasar.


"Lo kenapa sih Juna?" Tanya Mia yang duduk tidak jauh dari Juna.


Wanita itu sedari memperhatikan sikap Arjuna yang tidak seperti biasanya.


"Gue ngerasa beberapa hari ini ada orang yang ngikutin Gue." Ungkap Juna masih dalam keadaan sedikit cemas dan memeriksa keadaan sekitar lewat ekor matanya.


Wanita yang berbicara dengan Arjuna pun ikut melihat kesana kemari.


"Siapa? Lo kenal?"


"Ya gak lah. Gue gak mungkin sepanik ini kalau kenal." Gerutu Juna.


"Lo punya utang atau Lo sedang berbuat kejahatan? Ih kok serem!" Kata wanita bernama Mia itu sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Lo pikir tampang Gue ini terlibat utang? Mana pernah Gue berbuat kejahatan. Gue anak baik-baik ya, ramah terhadap semua orang dan tidak sombong." Narsis Juna.


"Lu bukannya ramah, tapi celamitan sama cewek-cewek." Jawab Mia kesal memperbaiki ucapan Arjuna.


"Hehehe sebelas dua belas lah. Siska gak masuk lagi hari ini?" Tanya Juna sambil memperhatikan sekitar dalam kelas.


"Lo coba samperin deh. Lo kan dekat. Aku juga heran, gak pernah-pernahnya begini, sampai berhari-hari gak masuk kuliah. Apalagi sakit ya?"


"Rumah yang mana? Rumah ibunya apa rumah suaminya?" Tanya Juna penasaran dimana Siska tinggal setelah menikah.


"Loh, Lo gak tahu dia batal nikah?!"


"Hah, serius?! Yang di awal pas lihat dia pakai baju pengantin cakep banget Gue lihat. Terus Gue pulang sebelum Ijab Kabul dimulai.


"Pantes Lo gak tahu dia gak jadi nikah."


Arjuna tampak berpikir setelah mendengar ucapan dari sahabatnya. Kemudian mereka mulai belajar setelah Dosen memasuki ruangan.


Selama pelajaran berlangsung, Arjuna tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan siapa gerangan yang terus mengikutinya dan apa motif orang itu. Belum lagi Siska yang ternyata tidak jadi menikah, membuat Arjuna berpikir keras ada apa sebenarnya.


Sementara itu orang yang mengikuti Arjuna tersenyum di luar kampus. Ia merasa informasi yang ia kumpulkan sudah cukup untuk diserahkan kepada kliennya.


"Bisa kita bertemu Pak?" Tanya seorang pria yang sedang menelpon kliennya.


"Datang saja ke kantor langsung ke lantai atas." Jawab Pria di seberang sana.

__ADS_1


"Baik Pak. 30 menit lagi saya akan sampai di sana."


Panggilan singkat itu pun di akhiri.


Sesuai janji yang diucapkan, seorang pria datang menemui Fandi di kantornya. Ia memberikan satu map coklat berisi informasi yang ia selidik selama 3 hari belakang ini.


Fandi tersenyum membaca informasi yang di berikan padanya. Ia cukup puas dengan hasil kerja pria di depannya.


Gambar Arjuna terpampang jelas di sebuah kertas HVS. Alamat kostan, apartemen bahkan rumah orang tuanya, tertulis jelas di lembaran kertas berikutnya. Lalu sederet nama sahabat-sahabat dan orang-orang yang selalu berada di sekitarnya pun tersusun rapi.


"Aku akan langsung mentransfer ke rekening mu." Ujar Fandi meraih benda pipih di atas meja kerjanya lalu mengetik sesuatu di sana.


"Ting!"


Sebuah notif pesan dari gawai milik pria yang berada di depan Fandi, berbunyi.


Ia pun melihat isi pesan itu dan tersenyum. Lalu ia mengulurkan tangannya kepada Fandi.


"Senang bekerja sama dengan Bapak. Saya langsung permisi saja. Jika membutuhkan saya lagi, telpon saja." Ujar Pria itu seraya berdiri.


"Tentu. Terima kasih." Jawab Fandi.


Pria itu pun keluar dari ruangan Fandi berpapasan dengan Roy yang hendak masuk ke ruangan itu. Mereka hanya saling tatap dan mengangguk sekilas tanpa berbicara.


"Itu informan mu?" Tanya Roy ingin tahu ketika sudah duduk di kursi depan meja kerja Fandi.


"Lihatlah..." Ujar Fandi memberikan amplop yang ia baca sebelumnya.


Roy menerima amplop itu dan membaca isinya.


"Kamu cukup menonton saja. Biar aku yang menyeretnya."


"Oke."


***


Di rumah Roy


Umi memiliki mainan baru sekarang. Wanita paruh baya itu sibuk mengasuh cucunya yang baru dua hari ini bertemu dengannya.


Perjanjian hitam di atas putih dilakukan oleh Roy dan Sintia disaksikan oleh Umi, Abi, Indah serta seorang pengacara. Roy harus memperjelas segalanya agar di kemudian hari tidak terjadi masalah yang menyusahkan dirinya dan keluarganya.


Anak kecil itu bernama Aditya Pramana. Bocah kecil itu jarang sekali berbicara bahkan belum terdengar suaranya. Ia hanya sering mengamati dan sesekali mengangguk jika menjawab pertanyaan.


Wajahnya memang mirip dengan Ray maupun Roy. Bahkan bisa di bilang Ray atau Roy semasa kecil. Anak sekecil itu memang kasihan jika dipisahkan dari ibunya. Tapi ibunya yang lebih ingin memulai hidup baru tidak ingin terbebani oleh anak itu.


"Sini sayang, sama Oma." Ujar Umi memanggil cucunya agar mendekat padanya.


Bocah kecil itu mendekat bahkan menempel memeluk kaki Umi.


"Laper tidak?" Tanya Umi lagi.

__ADS_1


Bocah kecil itu menggeleng menjawab pertanyaan Omanya.


"Oma ada masak bubur ayam. Oma suapin ya, mau kan?"


Bocah kecil itu mengangguk pelan.


"Lah kalau begitu kamu lapar dong berarti, gimana sih?" Ujar Umi sambil mencubit pelan hidung cucunya karena gemas.


Dengan telaten Umi menyuapi Aditya. Saat sedang memberi makan sang cucu, smartphone Umi bergetar dan tertera nama Teguh di layar hapenya.


"Assalamualaikum, ada apa Guh?"


"Waalaikumsalam, Umi. Masa aku disuruh lihatin telinganya Umi doang?" Protes Teguh yang ternyata melakukan panggilan video.


"Lah video call toh?"


Umi lalu mengubah jenis panggil.


"Kamu jam segini nelpon Umi apa tidak kuliah kamu?" Sewot Umi.


Bukannya bertanya kabar anaknya lebih dulu, Umi sudah bersiap mengomeli Teguh jika ternyata lelaki itu membolos kuliah.


"Ini lagi di kampus Mi. Umi lagi makan?" Tanya teguh ketika melihat Uminya meniup bujur di sendok makan nya.


"Umi lagi nyuapin Adit."


"Adit? Siapa Adit?"


Umi lupa Teguh belum tahu perihal Aditya. Wanita paruh baya itu lalu mengarahkan kamera handphonenya pada Adit yang sedang mengunyah suwiran ayam dalam bubur tadi.


"Lah ada bocil, anak siapa Mi? Umi nikah lagi? Umi duain Abi? Aku gak disayang lagi dong ini." Tanya Teguh frustasi


"Sembarangan kamu kalau ngomong!"


"Lah terus anak siapa dong Mi?"


"Anak almarhum abang mu Ray. Ternyata waktu pacaran, pacarnya hamil tapi milih pergi sama pria lain. Lalu datang lagi kembali nyariin abangmu."


"Suruh susul aja Mi, gara-gara dia abang begitu."


"Huss, sembarangan! Dosa kamu nyuruh orang mati."


"Terus kenapa tuh Bocil bisa sama Umi sekarang?"


"Ibunya nyerahin anaknya ke sini. Dia mau hidup yang baru. Abang mu Roy sudah mengurusnya Jadi sekarang Umi yang besarin cucu Umi."


"Ck nambah saingan aja." Ucap Teguh berkata sendiri namun terdengar oleh Umi walau pelan.


"Sana kuliah, Umi mau buatin Adit susu dulu." Usir Umi agar Teguh mematikan panggilannya.


"Dih Umi. Aku dibuang."

__ADS_1


Panggilan pun berakhir mengenaskan dengan bibir Teguh yang manyun 10 centi.


Bersambung...


__ADS_2