
#10
Ternyata aku hanya sakit demam biasa.
Dokter bilang aku kelelahan dan tenaga yang ku keluarkan tidak sebanding dengan energi yang masuk.
Aku memang sedang di sibukkan dengan banyak tugas kuliah. Belum lagi dengan persiapan menuju KKN yang menguras waktu dan tenaga. Rupanya aku kurang memberikan hak istirahat dan makan yang tepat waktu untuk tubuhku.
Pagi itu, setelah Hengky pulang sebentar untuk mandi, ia kembali lagi ke Kosan sambil membawa sarapan. Shinta yang pagi itu juga langsung datang setelah membaca pesan teks dariku melotot melihat kehadiran Hengky.
Namun karena melihatku yang sedang sakit, Shinta tidak memperpanjang masalah. Ia hanya berkata bahwa nanti ia yang akan mengantarkanku ke dokter.
Saat aku bertanya, bagaimana dengan resepsi Sepupunya disana, Hengky menjawab dengan entengnya,
"Kamu lebih penting dari dia....”
Shinta yang sedang minum hampir tersedak saat mendengar jawaban Hengky.
Melihatku yang malah tersenyum bukannya mengomel membuatnya menghela nafas panjang, tidak mungkin orang sepintar dirinya tidak mengerti situasi yang terjadi dia antara kami.
Dan saat ini, Setelah Shinta pulang, Hengky kembali menemaniku di Kosan.
Seperti tadi malam, dia di mobilnya, sedangkan aku di dalam kamar.
Perasaan berkecamuk di dalam fikiranku.
Akankah aku terus membiarkan Hengky dalam hubungan seperti ini?
Atau haruskah aku maju membalas uluran tangannya?
Perasaan ragu menguasai diri.
Bayang-bayang kekerasan yang telah Andy lakukan menghantui diriku.
Sejujurnya aku trauma memulai hubungan lagi. Hengky hanya tahu yang Andy katakan adalah fitnah.
Akankah ia akan tetap memperlakukan ku sama setelah mengetahui fakta sebenarnya?
“Naya....”
__ADS_1
Aku dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
Sedari tadi aku belum membuka jilbabku.
Aku hanya berjaga-jaga jika Hengky tiba-tiba melongok ke arah jendela kamar, walau aku yakin dia tidak akan berlaku seperti itu tapi rasa trauma membuatku lebih waspada.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Sudah lebih baik?” Tanya Hengky setelah aku membuka pintu.
“Alhamdulillah... sudah lebih baik...” Aku berusaha tersenyum.
Hengky menarik nafas lega. Ia membalas senyumanku, “Kamu lagi sakit gini aja masih tetep cantik ya, Nay...”
“Gak usah ngegombal. Siapa juga yang bakalan tetep cantik kalau belum mandi dari tadi pagi...”
“Eh, tadi pagi kamu gak mandi?”
Aku menggeleng.
“Kok gak keliatan kalo belum mandi?”
Aku tertawa pelan. Aku tahu ia bercanda. Hanya orang gila saja yang mungkin mengatakan aku tetap cantik di saat seperti ini. Atau, memang dia sudah gila makanya bisa menyukaiku selama bertahun-tahun seperti ini?
"Mm... tentang yang waktu itu kamu bilang sama aku....”
"Aku gak maksa kamu, Naya. Aku tau kamu masih trauma. Jangan dipaksa, aku masih bisa kok menunggu lebih lama...”
Hengky memotong kalimatku. Ia terlihat bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
"Tapi aku gak pengen biarin kamu menunggu lebih lama lagi...”
“Kamu mau aku berhenti?”
“Ya.”
Hengky tertunduk lalu menghela nafas, “Aku memang sudah tahu akhirnya akan seperti ini....”
“Maafin aku ya...”
Hengky terdiam.
__ADS_1
Ia menarik nafas panjang lalu mengangkat kepalanya, mencoba tersenyum, “Maaf buat apa? Kamu gak salah apa-apa kok...”
“Maaf karena butuh hampir tiga tahun buat aku nerima perasaan kamu...”
“Iyaa....gak papa....” Hengky menjawab pelan, namun tiba-tiba matanya mendadak membulat lalu tertawa tidak percaya, “Eh, apa? Apa tadi yang kamu bilang?”
Sepertinya otak dan indra pendengarnya saat ini sedang tidak dapat bekerja dengan baik.
“Aku mau jadi pacar kamu”
"Apa? Aku gak bisa denger suara kamu, Nayaa...”
Hengky tersenyum lebar, ia melirik ke arahku sambil memainkan matanya, menggodaku.
“Aku cabut lagi yaa ucapanku tadi?”
“Eh, jangan doongg...!”
Hengky menatap ke arah tanganku, memberikanku kode apakah dia boleh memegang tanganku, aku mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasiihh, Sayang...” ujarnya malu-malu sambil menggenggam tanganku.
Aku tertawa melihat wajahnya yang memerah. Wajahnya benar-benar tidak dapat diajak kerja sama jika berurusan dengan isi hatinya.
“Tapi kalau mau pacaran sama aku....”
“No kiss, No hug, right??” Hengky memotong kalimatku cepat.
Aku tertawa lalu membelai rambutnya, “Anak pintar...”
"Aaaaak......” Tubuh Hengky melemas, “Aku meleleh, Nayaaa......”
Buru-buru kupegang tangannya lalu memerosotkan badanku ke bawah, ia menoleh lalu membulatkan mata sipitnya, “Kenapa?”
“Kita meleleh bersama...”
Wajah Hengky semakin memerah.
...----------------------------------------------------...
__ADS_1