Penjara Cinta

Penjara Cinta
Radar Cinta


__ADS_3

#8


Shinta benar, masalah hanya akan terasa berat saat dijalani, namun setelah kita berhasil melewatinya, kita akan merasa bangga setengah mati pada diri sendiri.


Seperti diriku saat ini.


Aku cerita dengan bangganya pada Shinta tentang kejadian kemarin sore. Menyombongkan diriku yang berhasil mencampakkan Andy dua kali.


Ya. Dua kali. Ah, luar biasaa rasanya.


Rasanya puas sekali melihat wajah bingungnya saat kutinggalkan bungkusan besar itu di tangannya. Tanpa penolakan, tanpa perlawanan.


Skak mat!


"Uuuhhh... sahabat akuu memangg hebaattt....” Shinta mengelus kepalaku.


“Bangga gak punya sahabat kayak aku?”


“Dih, nyusahih mah iyaa...!”


Aku menepuk pundak Shinta keras, “Ih kamu maah...!”


Shinta tertawa. Ia menarik kepalaku lalu di tarik ke arah ketiaknya. Semakin aku berteriak, ia semakin tertawa.


“Kayaknya aku mau stop dulu pacaran deh...”


Shinta mencibir lalu mengendurkan tarikannya, “Halaahh...! Yaakiiiinnn...??”


Aku menarik tubuhku kembali lalu menaruh kepalaku di atas meja, memposisikan wajahku ke arah Shinta,


“Susah mau percaya lagi sama laki-laki, Ta. Kayaknya semua laki-laki sama deh..”


“Eh, siapa bilang samaa? Aku gak samaa...!”


Hengky tiba-tiba sudah duduk disebelahku, “Nayaa....Naya Cantikkkk...”


“Hummm.....”


Mungkin karena sudah biasa, aku bahkan tidak perlu repot-repot menengok ke arahnya. Aku sudah hafal diluar kepala. Pasti saat ini dia sedang menatapku sambil tersenyum dan juga matanya... ya, mata sipitnya di kedipkan berulang kali.


“Liat sini doongg, Nayaaa....”


“Apa siiih, Ky...” jawabku ogah-ogahan.


"Siniii.... liat siniii...”


Setengah terpaksa aku menoleh. Ternyata aku salah, ia tidak sedang mengedipkan matanya. Matanya menuntunku ke arah tulisan dikertas yang sedang dipegangnya,


...PACARAN YUK?...


“Males, ah!”


Shinta tertawa keras. Ia menggelengkan kepalanya keheranan, “Move On, Ky! Gilaa udah dari semester satuu kamu nembak Naya tapi di tolak teruuss. Gak kapok-kapok ya?”


Wajah Hengky memerah malu. Kulit putihnya kesusahan menyembunyikan rona merah di pipinya.


“Yaa... namanya juga usahaa, Taa...”


Beberapa teman di sekitarku ikut tertawa. Bersorak menggoda Hengky yang makin membuat wajahnya memerah.


Aku tersenyum. Dia lucu.


"Oppaaa.... siniiii sama aku ajaaa....!” Alfian berteriak dari pojok kelas.


“Ayok lah gasss!!”


Hengky langsung berlari ke arah Alfian lalu berusaha memeluknya. Alfian menjerit histeris. Ia berteriak menyuruh Hengky menjauh dari badannya.


Kelas dipenuhi suara gelak tawa.


Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa pelan.


Bukannya aku tidak menyukai Hengky.


Tapi rasanya aneh sekali kalau berpacaran dengan teman satu kelas. Rasanya seperti tidak ada privacy. Tidak ada yang bisa kusembunyikan.

__ADS_1


Hengky sering di panggil Oppa oleh teman-teman. Perawakannya yang putih, tinggi, mata sipit namun terlihat tegas, dan juga potongan rambut curtain cut ala korea makin mempertegas panggilannya.


Berbanding terbalik dengan Andy yang terlihat cool dan kharismatik, Hengky lebih humoris dan blak-blakan.


Entah sudah berapa teman wanita yang salah sangka dengannya. Karena Hengky mudah dekat dan akrab, banyak yang sudah terlanjur jatuh hati namun berakhir kecewa.


Tiba-tiba aku berfikir, apakah sebenarnya aku beruntung bisa di sukai olehnya?


“Naya...NO! aku tahu yang lagi kamu fikirkan! NO Nayaaa... BIG NO!!!”


Shinta sudah menyenggol pundakku, tatapannya penuh intimidasi.


Susah sekali menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Aku tertawa lalu membalas menyenggol pundaknya,


“Kamu buka stand depan gedung kampus gih! Cocok deh jadi cenayang!”


...-----------------------------------------------------...


“Kenapa sih kamu gak ngizinin aku sama Hengky?” tanyaku tanpa menoleh ke arah Shinta yang sedang mengendarai mobil.


Rencana kami akan pergi ke Perpustakaan Daerah. Ada tugas dari dosen yang mengharuskan kami mencari beberapa buku.


Shinta menarik sudut bibirnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kemudi, ia mengangkat bahunya santai, “Gak tau. Yaaa... feeling aja siiih...”


“Shintaa... serius doonggg”


Shinta tertawa pelan, ia menoleh lalu mengeluarkan lidahnya, menggodaku.


“Hengky lucu loh padahal...” Aku menurunkan intonasi suara, berharap Naya tidak mendengar perkataanku.


“Jangan tertipu dengan cowok humoris, Nay. Mereka lebih psikopat dari yang kamu kira!”


Indra pendengar Shinta sungguh luar bisa. Aku tidak menduga dia mendengar jelas perkataanku.


“Sama kayak kita lagi mau makan, Ta. Kita gak bakal tahu makanan itu enak apa enggak kalo gak kita coba. Begitu pun dengan memulai suatu hubungan, kita...”


“IYAAA, GIMANA RASANYA COBA-COBA SAMA ANDY, ENAAKK?!”


Shinta memotong kalimatku. Intonasi suaranya jelas menandakan bahwa ia tidak setuju dengan perkataanku.


Aku terdiam. Shinta benar. Aku menanggung akibat yang luar biasa dari hanya sekedar coba-coba.


Kalimat Shinta selalu membuatku terdiam. Mungkin karena dia Mahasiswa dengan IPK tertinggi di jurusan kami, kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu tepat sasaran dan membungkam lawan bicaranya.


“Aku sudah ngingetin ya, Nay. Jangan tertipu sama Hengky...”


“Iya...iyaaa....”


“Jangan cuman iya-iya dooanggg! Diresapi kalimatku! Di tempel baik-baik di dalam ingatan kamu!”


"Iya, Bawelll! Iyaaa...!”


Shinta tertawa. Ia menoleh padaku lalu mengedipkan mata kanannya.


Aku tahu tidak ada yang salah dalam perkataan Shinta. Tapi entah kenapa, dari tadi selalu terbayang wajah Hengky. Sesuatu yang tidak biasa.


Padahal selama lebih dari dua tahun, hatiku kebal menanggapi rayuannya.


Tapi kenapa sekarang terasa berbeda?


...------------------------------------...


Sesampai nya di perpustakaan, kami berpisah. Ini adalah tempat favorit kami.


Aku dan Shinta bisa menghabiskan waktu sampai tiga jam tanpa kami sadari.


Hobi yang sama benar-benar menyatukan kami.


Kami sama-sama suka menulis. Aku hobi menulis novel sedangkan Shinta hobi menulis puisi. Terkadang kami bertukar hasil tulisan dan hasilnya membuat kami sama-sama tercengang.


Aku tercengang bagaimana bisa ia menulis makna yang luar bisa hanya dalam beberapa kata saja, sedangkan ia tercengang bagaimana bisa aku mampu menulis banyak kata berlembar-lembar seperti itu.


Dengan selera baju yang sama, selera musik yang sama, selera makanan yang sama, bahkan selera make up yang sama, tidak jarang banyak orang yang menyangka aku dan Shinta kakak beradik.


Meskipun setelah mendengar perkataan seperti itu, dia akan mengomel berkata tidak sudi di miripkan dengan ku.

__ADS_1


Aku tahu ia bercanda dan aku sangat menyayanginya.


Aku sedang hanyut dengan buku yang sedang kubaca saat tiba-tiba samar kudengar suara ketukan di kaca jendela Perpustakaan.


Awalnya tidak ku hiraukan, namun kenapa suaranya makin jelas terdengar?


Mau tidak mau aku menoleh ke arah sumber suara, mataku terbelalak kaget saat melihat Hengky sedang menempelkan wajahnya di Kaca, membentuk bentuk wajah yang aneh. Tapi lucu.


Aku tertawa namun buru-buru kutahan suara tawaku dengan menutup mulut.


"Hey, ngapain disitu?” tanyaku tanpa mengeluarkan suara.


Hengky tersenyum lebar, ia menunjuk ke arah pintu, “Aku kesana ya?”


Aku menjawab dengan anggukan pelan, mataku sibuk mencari keberadaan Shinta. Saat Shinta tidak berhasil kutemukan, aku menarik nafas lega.


“Kenapa kamu bisa ada disini?” tanyaku saat Hengky sudah berada di sebelahku.


"Radarku mengatakan kalau kamu ada disini”


“Radar apaan??”


“Radar cintakuuuu...” jawabnya sambil cekikikan.


Aku memiringkan kepalaku, menatapnya sambil memberikan arti bahwa itu tidak lucu.


“Aku lagi nyari buku, Nay...” Hengky menatap ke arah buku-buku yang tersusun rapih, tangannya seolah sibuk memilih.


"O ya? Buku apa?”


"Buku panduan untuk membuka hati kamu untuk aku”


"Hengky! Serius deh....”


Ia tertawa pelan lalu membalikkan badannya ke arahku, “Aku serius, Naya...”


Matanya menatapku, tatapan serius sesuai dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.


“Kita ngobrol lain kali deh yaa... Aku lagi gak mood ngomongin masalah kayak gini...”


“Lain kali kamu tuh sudah lebih dari sekali, Nayaa. Kalau dijumlahkan, sudah seratus sembilan puluh empat kali kamu ngomong kayak gitu”


Aku mengernyitkan dahi, “Kamu ngitung??”


“Iya doongg!!”


"SSTTT!!” beberapa pengunjung memberikan kode pada Hengky untuk diam, pandangan matanya kesal, merasa terganggu.


Hengky merapatkan ujung jari telunjuk dan jempolnya, memberikan arti kata ‘Okey’ lalu tersenyum pada orang yang menegurnya.


“Kasih aku kesempatan, Naya... Aku tahu Shinta gak setuju kalau kamu deket sama aku tapi Please... Please kasih aku kesempatan....”


Aku terdiam. Dua pendapat sedang beradu di dalam fikiranku. Sebagian menolak dengan keras, sebagian mendukung.


“Ya? Ya, Nay, ya? Please....” Hengky mengatupkan kedua tangannya, memohon.


“Aku cuman ngasih kamu kesempatan membuktikan yaa? Bukan kesempatan buat kita Pacaran. Tugas kamu hanya membuktikan, hasil akhirnya biar aku yang menentukan”


“YES!!!” Hengky menjerit senang.


“Sssssttttt...!!!” suara teguran kali ini lebih keras.


Seorang satpam tampak berjalan ke arah kami, aku mendadak panik, meminta Hengky pergi.


“Perkataan kamu tadi gak boleh kamu cabut ya, Nay...!” sempat-sempatnya Hengky berbisik ke arahku sebelum Satpam menghampirnya.


Bahkan saat ia berjalan ke arah pintu ditemani satpam, ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke padaku,


“NAYAAA!! AKU SAYANG SAMA KAMUUU!!!”


Hengky berteriak dengan lantang. Meninggalkanku membeku sendirian, tidak percaya atas apa yang aku lihat.


Semua mata memandang ke arahku, dari jauh aku melihat Shinta berjalan cepat ke arahku, dari pandangan matanya sudah jelas ia marah.


Oke.

__ADS_1


Saat nya mendengar omelan Shinta kembali.


...----------------------------------------------------------...


__ADS_2