Penjara Cinta

Penjara Cinta
Pertemuan Pertama (2)


__ADS_3

53


“Tentang Gilang, bagaimana kamu tahu, Sayang?”


Hengky yang sedang berjalan di sampingku tersenyum lembut, jarinya menyusup kedalam jemariku, menggenggam erat, membuat rasa hangat seolah mengalir perlahan ke dalam tubuh,


“Mm... mungkin insting laki-laki?”


Aku menoleh, memandangi wajahnya yang entah mengapa saat ini terlihat lebih tampan di mataku, “Kamu hebat, Sayang.”


“Oh, aku kira kamu mau memarahiku lagi,” ujarnya sambil tersenyum iseng.


Aku menunduk malu, “Maaf... tidak seharusnya aku seperti itu tadi.”


Hengky tidak menjawab. Ia hanya tetap tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangannya.


“Apa Gilang dan Shinta benar akan dipenjara?”


Pandangan mata Hengky seperti sibuk mencari sesuatu. Saat ia menemukan yang ia cari, ia menarik tanganku, “kita duduk dulu di sana.”


Lantai sepuluh ternyata bukan hanya berisi tempat bowling tapi juga taman rooftop yang sangat indah. Matahari sore yang temaram seolah merangkul kami agar bisa duduk di bawahnya sambil menikmati senja.


Aku mengedarkan pandangan, ada beberapa tanaman tinggi di bagian pojok. Meja kecil dan kursi yang unik berjejer rapi menghadap depan gedung. Ada pula kursi dengan model panjang dilapisi dengan alas sofa yang terlihat sangat nyaman di dekat tembok. Di atasnya berjejer lampu kecil dengan warna hangat untuk mempercantik rooftop saat sinar matahari mulai temaram. Beberapa hidden lighting di dekat tanaman menambah kesan hangat dan nyaman.


“Sepertinya banyak hal yang masih mengganjal di pikiranmu.”


Aku membenarkan posisi duduk ku,


“Aku hanya berpikir, jika kasus Gilang dibawa ke kepolisian, maka orang tua Nisa juga akan ikut terlibat dan mengetahui tentang sesuatu yang aku yakin Nisa mati-matian menutupinya dari orang tuanya. Rasanya seperti de javu. Aku pernah berada di posisi itu dan aku tidak ingin Nisa mengalami hal yang sama.”


Hengky melipat tangannya di atas dada, pandangan matanya melihatku keheranan, “Kamu selalu saja sibuk memperhatikan orang lain. Rasanya baru kemarin kamu bilang bahwa kamu tidak akan melepaskan orang dibalik teror dan peretasan?”


“Ya, ini serba salah. Aku pengen Gilang dihukum tapi aku juga gak pengen Nisa dan teman-teman lainnya menderita sepertiku.”


Tatapan matanya sukses membuatku salah tingkah. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sudut mataku menangkap Hengky masih saja menatapku tanpa berkedip.


“Ayolah... katakan sesuatu...” ucapku masygul.


Tawa Hengky pecah. Ia berdiri lalu meraih kepalaku ke dalam pelukannya, membuatku merasakan otot di sekitar perutnya dan kehangatan tubuhnya,


“Kamu gemesin sih kalau lagi serba salah gitu. Kapan lagi aku bisa ngeliat Naya yang biasanya gak mau ngalah sama aku jadi penurut begini?”

__ADS_1


Aku refleks memajukan bibirku lalu melepaskan pelukannya, “Puas-puasin deh karena ini gak bakal terulang lagi..”


“O ya? Ah, harusnya ada kasus lain ya yang membuatmu makin bergantung padaku.”


“Ih, perkataan adalah doa loh!” ucap ku berpura-pura marah.


Hengky tertawa, ia kembali berjalan ke kursinya,


“Humm... Aku mulai berpikir sebaiknya Gilang memang tidak dibawa ke Polisi. Latar belakang keluarganya hampir mirip sepertiku. Dari kecil dia diurus oleh neneknya, orang tuanya sudah meninggal. Entah dia terjebak pergaulan yang salah atau kekurangan kasih sayang orang tua, yang jelas alasan apapun itu, kesalahan dia tidak bisa dimaafkan.”


“Lalu, apakah penjara adalah solusi yang tepat?”


“Entahlah. Sepertinya aku akan menyerahkannya ke Yayasan Sosial milik Mami. Disana banyak anak-anak remaja dan dewasa yang telah melakukan kejahatan sejenis dengan Gilang. Aku tidak mengerti mengapa Mami rela mengeluarkan uang cuma-cuma hanya untuk menampung dan membina mereka.


Yang jelas, banyak anak-anak setelah keluar dari sana, mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan cukup mengesankan.


Oh ya, kamu tahu adik Alfian, si Dedi?”


Aku mengangguk.


“Adiknya pernah di rawat di Yayasan milik Mami. Semenjak itu Alfian seperti merasa berhutang budi padaku.”


Aku mengerjapkan mata. Hengky bercerita tentang hal yang luar biasa dengan nada yang sangat sederhana. Membuat seolah apa yang telah dilakukan keluarganya seperti bukan apa-apa.


Dua orang pelayan laki-laki berusia sekitar dua puluhan tiba-tiba menghampiri kami, sorot mata mereka nampak khawatir, dengan sopan mereka membungkukkan badan ke arah Hengky,


“Maaf, Pak. Kami tidak tahu kalau Bapak berkunjung kesini hari ini. Bapak mau kami mengosongkan ruangan? Atau mengambilkan makanan ringan dan minuman?”


Hengky memundurkan kepalanya, keningnya berkerut keheranan, dengan santai ia mengibaskan tangannya, “Hey, relax! Jika aku membutuhkan kalian, aku yang akan datang menghampiri kalian. Gak usah repot-repot berlari kesini.”


“T-tapi, kami.... kami....” salah seorang dari mereka tertunduk, jarinya saling meremas, ia terlihat ketakutan.


“Ada apa? Kalian sangat tahu aku tidak ingin diperlakukan spesial, bukan?”


“Bagaimana mungkin calon penerus perusahaan Papi tidak diperlakukan secara spesial?”


Suara bariton yang terdengar sangat berwibawa di telingaku mengejutkan kami. Secara bersamaan kami menoleh ke arah sumber suara.


Seorang laki-laki paruh baya dengan tinggi badan 185 cm, nampak ggah memakai setelan jas berwarna gray lengkap dengan topi fedora berwarna hitam dan wajahnya yang, ya Tuhan... laki-laki ini sangat mirip dengan Hengky. Kulit putih bersih, alis hitamnya tebal teratur, mata monolid yang tajam, serta bentuk hidung dan bibir yang sering membuatku iri.


Aku selalu berkata rasanya tidak adil jika laki-laki mendapatkan warna bibir merah alami sedangkan aku harus selalu mengoleskan lipstick atau paling tidak lipgloss tipis hanya untuk membuat warna bibirku tidak terlihat pucat.

__ADS_1


Tunggu dulu, jangan bilang kalau laki-laki ini.....


“Papi?”


Oh, Tidak! Lengkaplah sudah!


Bagaimana mungkin aku menemui Ayah Hengky dengan penampilan seperti ini?


Laki-laki itu berdehem, ia menoleh pada pria berumur sekitar tiga puluhan disampingnya, “Pecat dua orang itu. Bagaimana mungkin mereka tidak mengenali anakku dari tadi?”


Wajah dua orang pelayan tadi makin pucat, mereka mengatupkan tangan, memohon belas kasihan.


Rahang Hengky mengeras, ia berjalan ke depan dua pelayan tadi lalu menoleh sedikit ke arah mereka, “Siapa yang berani memecat mereka, maka akan berhadapan denganku.”


Aku menoleh bergantian antara Hengky dan Ayahnya. Dilihat sekilas pun, aku sudah bisa mengerti bahwa hubungan mereka tidak berjalan dengan baik.


“Apakah Mami kamu tidak pernah mengajarkan sopan santun, Hengky?!” nada suara ayah Hengky meninggi. Ia membenarkan posisi topinya, menutupi rasa malu setelah dibantah begitu saja oleh anaknya.


Hengky tertawa sinis, “Berhenti bercanda, Pi. Papi ingin melanjutkan pertengkaran ini sampai pagi?”


Suara deheman terdengar keras dari Ayah Hengky. Ia berjalan mendahului kami lalu duduk di kursi taman. Dengan angkuh ia menunjuk kedua pelayan tadi, “Hey, cepat ambilkan aku minum!”


Wajah kedua laki-laki itu berubah dengan cepat. Sambil tersenyum lega mereka membungkuk hormat lalu segera setengah berlari meninggalkan kami.


Hengky menghela nafas kesal, ia berjalan cepat ke arahku lalu menarik tanganku, “Ayo, Naya. Kita pulang saja.”


“Kamu tidak mau menjelaskan siapa perempuan itu, Hengky?”


Aku menoleh ke arah Ayah Hengky, pandangan matanya membuatku sangat tidak nyaman. Ia memandangiku dari atas sampai bawah lalu tertawa mengejek.


“Jangan pernah berpikir Papi bisa menyentuh milikku.” Hengky berkata pelan namun dengan intonasi penekanan pada setiap kata-katanya.


“Sejak kapan kamu diizinkan memilih wanita sesukamu?”


Hengky membuang nafas kesal, “Kalau begitu, buang saja aku. Simple, kan?”


Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Hengky segera menarik tanganku pergi. Ia memintaku untuk jangan menoleh ke belakang. Mengabaikan teriakan dan cacian dari mulut ayahnya.


Sampai di dalam lift, aku mulai menyadari tangan Hengky terasa bergetar. Dengan cepat aku menoleh ke arahnya, menatap wajahnya dengan khawatir,


“Kamu baik-baik saja, Sayang?”

__ADS_1


“Demi Tuhan, Naya. Aku sangat ingin membunuh tua bangka itu sekarang!!”


__ADS_2