Penjara Cinta

Penjara Cinta
Media Sosial


__ADS_3

75


Kejutan hari ini tidak hanya berhenti disitu. Setelah acara seminar selesai, Ibu segera menarik tanganku lalu berbisik pelan,


“Abah sudah booking restoran buat kamu ketemu sama Fatih.”


“Apa?? Mau ngapain?” protesku kesal.


Ibu membereskan beberapa kertas dan kotak pensil lalu di masukkan ke dalam tasku, “Proses ta’aruf kamu masih berjalan, Naya.”


Aku menghela nafas kesal, “Kenapa hari ini, sih?”


“Mau kapan? Kamu pikir tempat tinggal Fatih dekat sama kita jadi bisa bolak-balik Depok-Lampung sesuka hatinya?”


Suasana aula yang masih ramai membuatku langsung mengendalikan kekesalanku. Akan menjadi bahan pembicaraan yang renyah saat ada pasangan mata yang menangkap pertengkaran kecil aku dan Ibu disini.


“Abah sudah nunggu di mobil. Ayo cepat, Naya!” Ibu berjalan mendahuluiku.


“Tapi Naya harus bantu-bantu beberes dulu, Bu... Gak enak kalau...”


“Ibu-ibu Sholihah... mohon maaf kami pulang duluan ya. Ada urusan keluarga mendadak yang gak bisa ditunda,” Ibu memotong kalimatku cepat sambil berteriak ke arah panitia yang sedang membereskan aula.


Tentu saja tidak ada yang berani menyanggah ucapan Ibu Ketua Yayasan. Sambil tersenyum mereka mempersilahkan Ibu dan aku pergi dan berkata untuk jangan mengkhawatirkan keadaan disini.


Aku menatap Ibu, bagaimana mungkin Ibu bisa tidak peka dengan sorot mata mereka yang nampak curiga?


Saat ini mungkin mereka bahkan sudah tahu tentang proses ta’aruf yang sedang aku dan Fatih jalani. Atau setidaknya kecurigaan itu pasti sudah ada setelah kejadian memalukan tadi.

__ADS_1


Saat aku melewati Lathifah, ia menatapku dengan tatapan yang tidak ku mengerti. Terlihat kesal namun sudut matanya menggodaku.


Aku tersenyum padanya, ia mengucapkan sesuatu tanpa bicara, “Kamu cu...rang.”


Hal itu tidak terlalu menggangguku. Namun saat sampai di mobil, aku sudah heran mengapa Ibu membuka pintu mobil seat belakang, dan ketika aku masuk dan mendapati Abah sudah duduk di depan bersama seorang lak-laki membuatku kesal setengah mati.


Apakah Fatih tidak mengerti cara memakai aplikasi ojek online? Kenapa ia harus ikut di mobil kami?


Seolah tahu isi pikiranku, Abah menoleh kebelakang, ke arahku, “Abah sengaja ngajakin Fatih bareng. Kan tujuan kita sama. Sekalian biar Fatih tahu wilayah sini..”


Maksudku, BUAT APA??


Emang kenapa kalau dia tidak tahu wilayah sini? Ojek online akan dengan sangat senaaaaangg hati mengantarkan dia kemanapun dia mau.


Tidakkah Abah dan Ibu sadar bahwa mereka sudah berlaku tidak adil pada Hengky?


Aku tidak menjawab apapun dengan bibirku. Aku hanya berharap Abah melihat sorot kekesalanku lewat kaca cermin yang ditempatkan di tengah mobil untuk melihat kebelakang.


Saat Fatih keluar dari pintu mobil lalu berjalan berdampingan dengan Abah, baru kusadari tinggi badannya mungkin sama dengan Andy. Apakah karena mereka sama-sama berdarah timur tengah jadi tinggi badan mereka menyentuh angka 180-an? Aku tidak tahu persisnya, atau bahkan sama dengan Hengky yang 190 cm.


“Baik, ini pertemuan kedua kita secara keluarga ya, Nak Fatih?” Tanya Abah setelah kami semua duduk dan memesan menu makanan.


Fatih mengangguk. Kali ini ia bahkan sama sekali tidak melihat ke arahku.


“Sesuai dengan proses ta’aruf yang benar. Fatih dan Naya dipertemukan tidak hanya berdua saja, harus ditemani dengan mahramnya Naya yang mana dalam kesempatan kali ini ditemani oleh Abah dan Ibu. Karena terkait dengan sabda Nabi SAW, ‘Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya, karena ketiganya adalah setan’. “


Abah berdehem pelan, ia melirikku dan Fatih bergantian, “Ini adalah tahap ketiga, ya. Pertemuan secara langsung. Walau sebenarnya Fatih sudah melihat Naya dan Naya pun sudah melihat Fatih. Namun di forum kali ini, maksud dan tujuan kita bertemu tentu saja berbeda. Fatih yang ingin mengenal Naya lebih dalam dan Naya pun begitu,”

__ADS_1


“Baik, Abah mempersilahkan Fatih terlebih dahulu bicara. Jika ada yang ingin disampaikan pada Naya atau jika ada yang ingin ditanyakan.”


Fatih mengangguk singkat. Ia mengubah posisi duduknya menghadap Abah, “Assalamualaikum , Abah, Ibu, Naya. Mohon maaf  jika kedepannya ada kata-kata atau kalimat yang akan saya ucapkan terdengar tidak sopan atau tidak ramah di telinga Abah, Ibu atau Naya. Tapi, saya berlindung sepenuhnya pada Allah agar Allah berkenan membimbing lidah saya agar tidak mempermalukan diri saya seperti tadi,”


Abah dan Ibu tertawa pelan.


“Tapi sejujurnya, itu adalah resiko saat saya dengan sengaja melanggar prinsip yang telah saya jaga sedari kecil. Dari kecil, demi Allah, tidak pernah sekalipun saya menyentuh kulit seorang wanita yang haram bagi saya. Kehidupan saya yang selalu berada dalam lingkungan pondok pesantren sangat membantu saya memfilter lingkungan yang makin menggila akhir-akhir ini,”


“Sejujurnya, ini bukan proses ta’aruf pertama saya. Mohon maaf pada Abah dan Ibu jika saya belum pernah bercerita sebelumnya. Tiga kali saya menjalani proses taaruf dan gagal. Alasannya selalu karena mereka merasa saya mencari istri yang terlalu sempurna,”


“Padahal kelak, saya hanya ingin istri saya menjalani kehidupan yang layak. Tidak perlu bekerja diluar. Ia tidak perlu bersusah payah membantu perekonomian keluarga, cukup diam dirumah saja mengasuh anak kami, dan ketika saya pulang kerumah, dia ada menyambut saya,”


“Entah karena saya diasuh oleh seorang Ibu yang sangat sibuk dengan urusan umat di luar sana jadi membentuk sebuah keinginan yang kuat bahwa nanti jika setelah menikah, saya ingin istri saya bisa selalu ada untuk anak saya.”


Fatih menarik nafas panjang lalu dihembuskannya perlahan, “Maaf, apa kalimat saya terlalu cepat, Bah?”


Abah menggeleng cepat, “Jangan bertanya pada Abah, tapi tanya pada Naya. Kan yang mau Fatih ajak nikah bukan Abah,” canda Abah sambil menepuk pundak Fatih.


Fatih tersenyum sambil mengangguk ke arah Abah. Ia mengangkat wajahnya lalu menatap ke arahku singkat, “Naya? Apa Naya bisa mendengar kalimat saya dengan baik?”


Aku yang sedari tadi selalu berusaha mencari kesalahan dalam kalimat Fatih seketika tergagap. Aku baru saja berfikir, apakah sikapnya yang mengharuskan istri hanya berdiam diri dirumah bisa dijadikan alasan untuk menolak dirinya? belum selesai sisi lain otakku menjawab, Fatih seketika bertanya padaku.


“Sangat baik. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.”


“Apa Naya tidak pernah mengunggah postingan apapun ke akun media sosial?” Fatih sepertinya mulai terbiasa menatap wajahku.


Ah, ya. Setelah Abah dan Ibu mengharuskan ku pulang ke rumah. Aku memang menghapus seluruh postingan di akun media sosialku. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang sisi lain dari diriku. Tidak bagi seluruh orang-orang baru yang masuk kedalam hidupku.

__ADS_1


“Aku memang tidak begitu aktif di media sosial. Hanya cenderung sebagai pengamat saja,” jawabku mantap. Dan tentu saja, aku sedang berakting saat ini.


“Hal itulah yang membuatku semakin mantap untuk maju ke tahap selanjutnya. Apakah Naya juga berpikiran hal yang sama?”


__ADS_2