
60
Aku tertunduk, lidahku kelu dan aku tidak punya kalimat yang pas untuk membantah ucapannya. Aku sadar, bahwa apa yang Hengky katakan semuanya benar. Sejujurnya aku pun tahu, jika membiarkan luka ini berlarut-larut maka aku hanya akan menyebarkan rasa sakit yang sama pada orang di sekitarku. Bukan hanya aku yang akan merasakan luka, namun juga mereka yang berada di dekatku.
Bagaimana bisa aku bersikap sangat egois selama ini? Aku selalu memposisikan diriku paling menderita, selalu tidak menganggap kehadiran Hengky, dan hidupku seperti terhenti pada kejadian sore itu bersama Andy.
Tanpa aku sadari, luka yang kurasakan justru lebih menyakitkan untuk pasanganku, untuk seseorang yang benar-benar mencintaiku.
Hengky menghela nafas panjang, “Aku tahu kamu trauma, Sayang. Aku tahu rasa sakit yang disebabkan luka itu belum pulih, tapi tolong, mulai hari ini jangan pernah mengungkit masa lalu. Semua itu sudah berlalu, Naya. Kamu lihat aku, akulah masa depanmu. Aku yang selalu ada untukmu.”
“Maaf... maafkan aku...” ucapku pelan sambil tertunduk.
Hengky mendekat ke arahku lalu memelukku lembut, “Janji ya, jangan pernah ungkit masalah itu lagi.”
Aku melepaskan pelukannya lalu mengangguk, “Aku janji.”
“Aku gak main-main dengan hubungan ini, Naya. Aku serius dan aku tidak berminat untuk hanya mencari kesenangan sesaat lewat status hubungan berpacaran. Kamu tahu, ada banyak sekali kesempatan atau celah untukku jika hanya ingin mencari wanita untuk bersenang-senang. Namun kamu sendiri lihat, apa pernah aku seperti itu?”
Aku menggeleng lemah.
“Kamu berharga, Naya. Kamu sangat amat layak dicintai dan diperlakukan dengan baik oleh seorang laki-laki. Yang kamu butuhkan hanya percaya padaku. Hanya itu. Tidak sulit, bukan?”
“Maaf, Sayang...” hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Perasaan bersalah mendominasi saat ini. Jika aku tidak memikirkan harga diri, mungkin aku sudah menangis memohon maaf darinya.
Dasar Naya tidak tahu diri! Seharusnya kamu bersyukur ada laki-laki sebaik Hengky yang mau sama kamu!
__ADS_1
Kepalaku semakin tertunduk. Mati-matian aku berusaha agar air mata tidak jatuh melewati kawahnya.
Jangan menangis... jangan menangis, Naya. Jangan membuat keadaan menjadi lebih sulit lagi.
“Kamu mau tahu gak? Tadi malam aku malah berniat melamarmu.”
Pernyataan Hengky yang tiba-tiba membuatku mengangkat kepala lalu menatap matanya tidak percaya, “Apa? Kamu bilang apa tadi, Sayang?”
“Aku yakin kamu mendengar jelas kalimatku tadi...” Hengky membunuh pertanyaanku dengan senyuman manis yang terukir sempurna.
Ya Tuhan, senyuman itu... manis sekali.
“Aku bingung, entah bagaimana konsep lamaran menurut kamu tapi yang jelas di tempatku tidak seperti itu, Sayang.”
Saat ini aku sedang menekan erat pandangan mata penuh rasa kagum ke arah Hengky. Kurasa senyumanku sudah ku atur dengan mode normal, dia tidak akan tahu hanya dari pandangan mata, bukan?
”Eh, kamu tahu?”
Dia benar-benar bisa membaca arti tatapan mata?
“Kalau aku melamarmu, apa akan kamu terima?” Hengky berjalan mendekatiku, memposisikan dirinya berdiri persis di belakangku.
“Tunggu dulu, ini kita lagi ngomongin apa sih?” tanyaku bingung sambil tetap berusaha tersenyum, mengabaikan detak jantung yang tiba-tiba memburu.
“Bisa lihat kesini, Sayang?”
Aku membalikkan badan dan seketika pupil mataku membesar. Sambil menutup mulut, aku merasa pandangan mataku tiba-tiba berkabut.
__ADS_1
Hengky tersenyum lembut sambil mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam sakunya, “Ini bukan lamaran, hanya saja aku ingin kamu selalu memakai cincin ini, sebagai tanda bahwa kamu milik aku.”
Ia memang sering menyebutku sebagai miliknya. Namun kali ini terasa berbeda. Aku memaknainya dengan arti yang berbeda. Bulu kuduk terasa merinding saat pikiranku kembali membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya aku pikirkan sekarang.
“Ini... ini terlalu mewah untuk wanita se...”
“Tuh kan, mulai lagi..” Hengky memotong kalimatku. Ia mengernyitkan dahi sambil menatap mataku berpura-pura marah. Tangannya menjulur ke arahku memberi kode untukku agar menyodorkan jari manis ke arahnya.
Setengah ragu aku menyodorkan jari. Saat Hengky memakaikan cincin putih berkilau di jariku, saat itu tiba-tiba perasaan haru semakin menyeruak menguasai diri.
Perasaan ini memang terlalu berlebihan. Aku bukannya dilamar atau sedang mendengar Hengky mengucapkan ikrar suci. Hanya saja, aku tidak menyangka dengan keadaanku yang seperti ini, Hengky tetap memperlakukanku dengan baik, tidak pernah mengungkit luka itu bahkan melarangku membicarakannya.
Ucapan Shinta saat itu kembali terngiang di telingaku, “kamu beruntung, Naya.”
Ya, Shinta benar. Hengky adalah pelangi terindah setelah badai petir menghancurkan hidupku. Untuk makhluk kecil seperti kita, luasnya dunia hanya bisa ditanggung melalui cinta. Cinta yang membuatku percaya bahwa Hengky akan terus membahagiakan aku tanpa aku harus memohon padanya.
Bukankah pernah ada yang bilang bahwa cinta itu kaya? Maka mereka yang membuatmu menjadi seperti pengemis bukanlah orang yang layak untukmu.
Aku menatap mata Hengky, mencoba memberitahunya bahwa apapun yang ia rasakan, aku pun turut serta di dalamnya.
Hengky mengecup tanganku lalu berbisik lembut, “Love you, Naya...”
Ah, aku tidak bisa menahan air mata ini lebih lama. Perasaan haru bercampur dengan bahagia membuat pipiku basah oleh air mata. Aku menutup mulut berusaha menahan agar suara tangisanku tidak terdengar keras.
Hengky tersenyum lembut lalu meraihku kedalam pelukannya. Sambil mengusap punggungku ia berkata, “Jangan pernah berpikir kamu tidak layak, Sayang. Aku mencintaimu dengan sadar dan akan terus mencintaimu dengan sabar.”
Ah, air mataku malah makin deras keluar.
__ADS_1