
62
“Gue kalah cepet, Nay.”
Aku mengernyitkan dahi, “Emangnya Lu ikut lomba apaan?”
Alfian menghela nafas berat, “Nisa...”
Nampaknya aku mulai tahu arah pembicaraan Afian. Sambil tersenyum aku membenarkan posisi dudukku, “Nisa kenapa?” tanyaku pura-pura.
Bagaimana tidak berpura-pura, baru kemarin malam Nisa tiba-tiba datang ke kosanku bersama seorang laki-laki yang membuat mataku sukses melotot kaget.
Sebelum wajahku menunjukkan versi ter bodohnya, Nisa menarikku masuk kedalam kamar lalu berbisik keras, “Jangan gitu dong wajah kamu, Nay...! You are a smart cookie, are you?!”
“Jangan gitu gimana?! Kamu tiba-tiba dateng terus sambil bawa laki-laki...”
“Farhan, Naya! Jangan pura-pura gak kenal deh!” Nisa memotong kalimatku kesal. Ia berjalan gontai ke arah tempat tidurku, “He is a good man, Naya...” sambungnya sambil duduk.
“Iya aku tahu. Tapi kok tiba-tiba Farhan...? Gak ada angin, gak ada hujan...”
“Apa hubungannya hubungan aku sama Farhan dengan prediksi cuaca angin dan hujan?” sungut Nisa. Ia masih kesal karena ekspresi awalku tadi sewaktu melihat mereka.
“Okay, sekarang bisa ceritain sama aku pelan-pelan kenapa Farhan, bukan Alfian atau laki-laki lain?”
“Alfian? Are you losing your mind?! Mana mau aku sama diaa, Naya!”
“Kenapa? Alfian baik kok...”
Nisa merebahkan tubuhnya, ia menarik nafas panjang, “Kamu tahu gimana posisiku, Naya. Aku yakin kamu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku sama Gilang. Menjalin hubungan dengan laki-laki seperti Alfian hanya membuat masalahku lebih runyam. Syukurlah kalian tidak membawa Gilang ke ranah hukum, kalau sampai terjadi, I have no idea harus ngomong apa sama Abi dan Ummi di Kampung.”
“Apa bedanya Alfian dengan Farhan?” tanyaku bingung sambil ikut merebahkan diri di samping Nisa.
“Alfian orangnya terlalu gamblang, Nay. Emosinya meledak-ledak dan entah apa ekspektasi yang selama ini dia bangun tentang aku, yang jelas, aku gak bisa memenuhi ekspektasi dia. Sedangkan Farhan, ia berbeda. Mungkin kamu dan orang lain melihat Farhan kayak laki-laki freak kali ya. Dilihat sekilas, gak ada bagus-bagusnya. Fisikly, dia gak mendukung. But... his heart.... Oh My, Naya... Aku belum pernah di perlakukan seperti ratu sebelumnya oleh laki-laki lain,”
“He knows exactly kapan dia harus diam, kapan dia harus bertindak, kapan dia harus tersenyum, kapan dia harus memberikan masukan. He knows everything about what I need!”
“So, ini tentang action? Love language dia yang ngebuat kamu jatuh cinta?”
“Exactly!” jawab Nisa sambil tersenyum. Ia menoleh ke arahku, menunjukkan matanya yang berbinar.
Oh My... dia benar-benar sedang jatuh cinta.
“Kalo gak salah dia belum pernah pacaran kan, ya? Gosipnya sih gitu. Dia selalu ditolak tiap nembak cewek, baru tahap pendekatan udah langsung ditolak...”
__ADS_1
“Yes! Good for me. Karena mereka menolak laki-laki sebaik Farhan, now he is mine!”
“Hampir mirip sama Hengky yaa...”
Nisa mendengus kesal sambil berusaha berdiri, “I’m not sure. It’s like comparing apples and orange! Please, Naya... semua orang tahu Hengky itu laki-laki yang tidak dapat dijangkau oleh wanita biasa seperti kami, bukan karena dia yang ditolak oleh banyak wanita kayak my Farhan! Duh, ngomong sama kamu ngebuat mood jadi berantakan deh!”
Aku tertawa, “Teruuss menurut kamu, aku wanita luar biasa gitu?”
“Everybody knew you’re a queen, Naya! Hidupmu sempurna dan kamu nyaris tanpa cela.”
“Ah, ya Tuhan... kalian berlebihan.”
Mendengar kalimat Nisa membuatku seperti tersindir. Andai mereka tahu segala aibku, mereka pasti akan segera membalikkan badan, meludah ke arahku sangking menjijikkannya fakta akan diriku.
“Apa yang kurang dari kamu, Naya... kamu...”
“Hey, sampai kapan kamu mau membiarkan Farhan nunggu di depan sendirian?” potongku cepat sambil berpura-pura tersenyum. Aku sudah tidak tahan mendengar pujian yang aku tahu bukan untuk diriku.
“NAYAA!!”
“Eh, Iya?”
Ya Tuhan, sejak kapan aku malah melamun sendiri?
“Ah, iya... maaf-maaf... tadi tiba-tiba keinget sesuatu yang lain...”
“Tapi setidaknya lu bersyukur gak jadian sama Nisa, Alfian...!” Hengky sudah duduk di sebelahku. Ia mengedipkan mata sebelah kirinya ke arahku.
Aku mengangkat kedua alis tanda tidak mengerti.
Hengky menahan tawa, “Coba kamu bayangin kalau Alfian jadian sama Nisa, Sayang. Yang ada Alfian banyak bengongnya nanti. Si Nisa nyerocos ngomong bahasa indo campur Inggris dan si Alfian masih sibuk ngebuka kamus buat nyari arti dari omongan Nisa.”
Ya, Tuhan... aku tidak dapat menyembunyikan tawa. Suara tawa kami meledak berbarengan diikuti helaan nafas dari Alfian.
“Ah gak asik nih becandanya...” Alfian menaruh kedua tangan menopang pipi bulatnya.
Alfian mempunyai karakter yang unik memang. Blak-blakan, emosi yang suka meledak-ledak namun bisa diredam dengan mudah, ego yang luar biasa membuatnya justru sering bersikap kasar pada Nisa bukannya malah menunjukkan perhatian tanda ia menyukai seseorang.
Dari segi fisik, He is personable. Tinggi badan 178 cm, kulit sawo matang, mata bulat dan didukung pula oleh pipinya yang bulat. Sejujurnya, dia menggemaskan. Itulah sebabnya ia bisa bergonta-ganti pacar namun tetap saja selalu berujung penasaran pada Nisa.
“Gue gak ngerti, kenapa Nisa lebih milih Farhan dibanding gue? Hey, kalian tahu, Farhan gak ada bagus-bagusnya di bandingin gue.”
“Nah, ini nilai minus lu, Fi.” Hengky menatap Alfian, tatapan matanya tajam, ciri khas Hengky jika ia mulai jengah terhadap seseorang.
__ADS_1
“Lu selalu mudah menilai dan menuduh seseorang. Lu tau gak, cewek paling gak suka sama laki-laki yang mulutnya gampang banget nge-judge orang lain. Kalau sama orang lain yang gak dia kenal deket aja dinyinyirin, gimana dengan mereka nantinya yang bakal show up everything tentang hidupnya sama lu nanti?”
Aku buru-buru mengangguk membenarkan, “Poin plus untuk pacar aku.”
“Secara fisik loh gue jauh lebih menaangg!” Alfian masih belum mau kalah.
“Secara fisik Andy bahkan lebih ganteng dari gue tapi Naya lebih milih gue daripada Andy.”
“Yaaa kalo gue juga disuruh milih antara lu sama Andy, gue mah gak bakal rugi walau salah milih, Oppaa Hengky!” sungut Alfian kesal. Ia melipat tangannya ke depan dada.
“Kita ke Kantin yuk, Sayang. Ini ngomong lagi situasi kayak gini gak bakal nemu ujungnya.” Aku menggamit lengan Hengky, mengajaknya pergi.
Berbicara dengan seseorang yang menutup ruang hatinya untuk menerima perkataan lawan bicaranya sama saja dengan melakukan hal yang sia-sia. Sekeras apapun kita mencoba meminta bergeser, ia akan tetap berpegang kuat pada pijakannya.
Hengky mengangguk, ia menarik tas punggungnya lalu menepuk pundak Alfian, “Daripada mikirin Nisa mulu, mendingan selesein tuh skripsi lu!”
“Berisik lu ah! Udah sana buruan pergi!”
Suara tawa kami terdengar hampir bersamaan. Sambil menggelayut di tangan Hengky aku terus fokus menanggapi ucapan Hengky sampai tidak menyedari seseorang baru saja melewati kami hingga orang itu membalikkan badan dan menyusul kami.
“Naya? Kamu Naya, kan?”
Langkah kami terhenti. Aku menyipitkan mata hingga butuh waktu tidak kurang dari dua detik untuk menyadari siapa orang di depan ku saat ini.
“Masih inget Kakak, kan? Ini Kak Yusuf.”
Tentu saja aku ingat. Dia adalah Kakak Sepupuku. Dan bagaimana aku bisa lupa, memangnya ada yang bisa melupakan cinta pertama mereka?
Entah mengapa sisi hatiku yang lain merasa senang bisa bertemu dengannya lagi setelah hampir lima tahun tidak mendengar kabarnya. Namun aku segera tersadar, seperti apa penampilanku saat ini.
Tidak. Bagaimana kalau dia mengadu pada Abah dan Ibu tentang celana panjang dan hijab pendekku?
Ah, ya! Jika aku berpura-pura bahwa aku bukan Naya, dia pasti akan percaya, bukan?
Ya! Dia pasti tidak akan begitu mengenaliku dengan penampilanku yang seperti ini!
“Ah, maaf... Anda sa...”
“Nayaa!! Hengky!! Tungguin gue doong! Gue juga laper kali!”
Suara teriakan Alfian membuatku mati kutu. Aku masih kebingungan mencari kata-kata sampai kemudian Yusuf bertanya,
“Laki-laki ini siapa? Pacar kamu, Naya?”
__ADS_1