Penjara Cinta

Penjara Cinta
Kakak Sepupu Naya


__ADS_3

63


“Kamu siapa?” Suara tegas penuh penekanan yang keluar dari mulut Hengky membuatku merinding.


“Perkenalkan, saya Yusuf, Kakak Sepupu Naya,” jawab Yusuf sambil tersenyum mengulurkan tangannya.


Hengky mengangkat sebelah alisnya, sedikit ragu ia menerima uluran tangan dari Yusuf. Dari gesture nya, jelas ia mengetahui ada sesuatu yang pernah terjadi antara kami.


“Hengky Widiyanto.”


“Teman atau...?” Yusuf sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Segitu penasarannya ya sampai bertanya berulang kali?” Nada suara Hengky tetap tegas seperti awal. Kali ini ia bahkan mengencangkan genggaman tangannya padaku. Entah apa maksudnya namun jelas ini membuatku makin panik.


Aku mematung, kebingungan harus bersikap apa. Jika aku mengakui bahwa Hengky adalah pacarku itu sama saja dengan bunuh diri, namun tidak mengakuinya sebagai kekasihku juga bukan pilihan yang tepat.


Ah, kenapa aku belum juga cerita padanya bahwa aku tidak diperbolehkan berpacaran oleh Abah. Bahkan penampilanku ini... andai Abah lihat, aku pasti dimarahi habis-habisan.


“Baik, Kakak sepupu Naya dan Hengky Widiyanto. Bagaimana kalau kita melanjutkan obrolan di Kantin saja? Duh sumpah deh, laper banget gue!” Alfian mengusap perutnya. Ia meringis menatap Hengky memohon agar kami menyudahi obrolan yang menurutnya tidak penting ini.


“Ide bagus. Kita sudah lama gak ketemu kan, Naya? Ngobrol sambil makan kayaknya asyik.” Yusuf tersenyum lebar.


“Syukurlaaah! Lima menit lagi disini gue bisa pingsan kelaperan!”


Alfian tertawa lalu berjalan mendahului kami di ikuti oleh Yusuf yang mencoba mengajaknya berbicara.


Aku menatap Hengky, meminta persetujuan darinya, “Sayang, kalau kamu gak suka....”


“Ayo, Naya. Gak sopan kalau kita membiarkan Kakak Sepupu kamu menunggu lama di sana.”


Entah mengapa aku merasa Hengky mengucapkan kata kakak sepupu dengan nada dan penekanan yang berbeda.


Aku menghela nafas panjang. Hidup ini sering terasa seperti sebuah acara televisi yang sangat panjang namun tanpa remote control. Andai dapat di potong di beberapa adegan tertentu, tentu aku ingin sekali memotong bagian dimana yusuf tiba-tiba kembali hadir dalam hidupku.


-----------------------------------

__ADS_1


“Adik Cantik...”


Dulu Yusuf sering sekali memanggilku seperti itu. Entah karena ucapannya yang sering kali membuatku malu atau tentang paras tampannya yang membuat mataku seperti tersihir, yang jelas, perlu waktu yang sangat lama hingga benar-benar bisa melepaskannya dari ingatanku.


Yusuf Al-Qathiri. Saat aku duduk di sekolah dasar kelas lima sampai aku kuliah semester dua, nama itu membuat hatiku bergetar. Hanya mendengar namanya disebut dapat membuatku seketika salah tingkah. Bayangkan bagaimana reaksiku ketika ia beberapa kali ‘terlihat’ mengistimewakan diriku dibandingkan saudara sepupuku yang lain. Setidaknya itulah yang ku rasakan saat itu.


Ini terdengar gila, bukan? Kami saudara sepupu dan aku bahkan tergila-gila dengannya dahulu.


Sebenarnya, kami saudara jauh, tidak ada pertalian darah sama sekali. Adik dari Abah menikah dengan seorang wanita yang mempunyai Kakak laki-laki. Ya, Yusuf adalah anak pertama dari Kakak yang adiknya dinikahi oleh pamanku.


Kami saudara jauh, tidak apa-apa menyukainya seperti ini.


Itu yang selalu aku tanamkan dalam hati tiap menulis surat untuknya dahulu. Bahkan saat aku masih sekolah di Pondok Pesantren, aku selalu rajin mengirimkannya surat. Hanya sekedar bercerita, bertanya kabar, menafikkan perasaan yang semakin meredup tiap kali suratku berakhir tanpa balasan darinya.


Aku hampir berhasil melupakannya saat kemudian menjelang SMA aku keluar dari Pondok Pesantren dan sekolah di SMA Negeri yang sialnya, ya... ini adalah sebuah kesialan, aku satu SMA dengannya.


Dia kakak kelas sekaligus penyemangat, menambah kuota perasaan yang makin bertambah tiap kali ia menyapa atau tersenyum ramah padaku. Berawal dari senyuman, sapaan ringan bahkan akhirnya kami mulai saling berkirim pesan.


Mengobrol lewat telepon hingga larut malam, berkirim pesan sampai selalu saja aku rela tidak jajan hanya agar dapat membeli pulsa agar dapat mengobrol dengannya. Lucunya, saat kami bertemu di sekolah keesokan harinya, kami seolah amnesia tentang apa yang telah kami lakukan tadi malam. Seolah tidak terjadi apa-apa, seolah hubungan kami hanya sebatas Kakak dan Adik Sepupu biasa.


Dia tidak terlalu tinggi, tingginya mungkin hanya 170 cm. Tubuhnya agak berisi. Rambutnya terlihat lebat hingga saat ia berjalan, rambut pendek namun lebat miliknya mengikuti arah tubuhnya. Sangat menggemaskan dan tampan di mataku.


Hubungan kami terus berlanjut seperti itu sampai ketika menjelang kelulusannya, aku yang masih duduk di kelas dua SMA mendapati gosip bahwa ia berpacaran dengan salah satu temannya.


Itu adalah patah hati pertamaku. Aku ingin marah padanya namun jelas aku tidak mempunyai hak apapun untuk marah padanya. Namun saat mengingat perlakuan istimewanya, senyum dan tatapan matanya, ah... rasanya aku ingin datang ke rumahnya saat itu juga dan meminta pertanggungjawabannya atas hancurnya ekspektasi yang kubangun tentang hubungan kami.


Susah payah aku menata hati. Ditambah dengan nomor handphone nya yang tiba-tiba berganti tanpa memberi tahuku menambah alasan makin panjang mengapa aku harus membuang jauh-jauh perasaanku.


Hingga hari ini aku tidak mengerti, mengapa aku sangat menyukainya waktu itu. Padahal sebaik apapun aku memancing ingatanku, aku tidak menemukan perlakuannya yang manis secara langsung atau perhatian yang membuatku meleleh atau tatapan mata yang membuat lututku lemas.


“Jadi, Kakak ini kuliah disini juga?”


Suara Alfian yang setengah berteriak membuat kesadaranku kembali menyeretku pada kenyataan bahwa saat ini cinta pertamaku sedang duduk berdampingan dengan kekasihku.


Aku mengangkat wajah menatap Hengky di depanku. Saat pandangan kami bertemu, ia tersenyum manis sambil berbisik pelan memintaku meneruskan makan.

__ADS_1


Ah, ternyata dari tadi ia mengamati diriku. Jangan-jangan dia tahu bahwa jiwaku seperti tertarik pada masa lima tahun kebelakang?


“Bukan, saya kuliah di Bandung di salah satu Universitas Negeri disana,” Yusuf menjawab pertanyaan Alfian singkat. Pandangan matanya berulang kali mengarah padaku namun kutahan sekuat yang aku bisa agar tidak membalas tatapan matanya.


“Yusuf??” Suara yang tidak asing di telingaku membuatku mendongak menemukan sosok yang amat ku kenal sedang tertawa dengan ekspresi wajah terkejut.


“Bro Andy? Astagaa...! Gue lupaa, lu kuliah disini?”


Aku merasa kakiku melemas. Lengkap sudah. Kacau, semua semakin tidak terkendali.


Andy menjabat tangan Yusuf lalu duduk di samping Hengky. Ia masih tersenyum lebar sambil merangkul pundak Hengky, “Kenapa bisa sama adik gue disini?”


“Adik? Eh, yang mana adik lu?”


“Menurut Kakak, dari wajah saya ini adakah yang menunjukkan keturunan sultan seperti mereka?” timpal Alfian membuat suara tawa terdengar hampir bersamaan.


“Ini yang wajahnya sinis dari tadi ini adik lu, Bro?”


“Tunggu... tunggu... lu gak buat orang ini emosi kan? Atau lu mencoba menggoda wanita di depannya itu?” Andy mengedipkan matanya padaku.


“Emang dia siapa?” Pandangan Yusuf mengarah padaku. Jelas ia memancing agar ada seseorang yang menjawab pertanyaannya yang dari awal tadi belum terjawab.


Aku menatap Hengky. Meminta pertolongan.


Tidak, jangan sekarang, jangan katakan apapun sekarang. Kumohon.


“Naya idola kampus kami. Laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita secantik Naya?” Hengky tersenyum padaku. Pandangan matanya seolah mengatakan, ‘Aku tahu, tanpa kamu mengatakan apapun, aku mengerti.’


Aku baru saja bernafas lega saat Andy memiringkan sedikit kepalanya sambil menatap Yusuf, ”Kenapa, Bro? Kamu jangan-jangan mulai menaruh perasaan pada Idola kampus kami ini...” tanyanya santai sambil tertawa.


“Sejak kecil, aku sudah menyukainya. Sebelum kalian mengenalnya, aku sudah terlebih dahulu bertemu dengannya.”


Suara tawa Andy terhenti. Seluruh pandangan mata mengarah pada Yusuf. Aku menelan ludah, pandangan mataku justru tetap pada Hengky.


Sayang, lihat aku. Aku jelaskan nanti ya. Ayolah, itu hanya masa lalu.

__ADS_1


Saat Hengky akan membuka mulutnya, Yusuf buru-buru menoleh ke arah Hengky, “Apa kamu tahu? Naya juga sangat menyukaiku. Bagaimana ini? sepertinya aku akan mencuri idola kampus kalian?”


__ADS_2