
95
Seperti perkiraanku sebelumnya, kondisi Hengky yang sangat drop saat kami sampai di rumah sakit tadi adalah karena pikirannya yang kacau dan ia shock akibat kejadian kecelakaan di saat menit-menit menjelang pernikahan.
Ketika semua berjalan lancar (walau tidak sesuai dengan yang kami rencanakan), keadaan kesehatan Hengky langsung seketika membaik. Setelah sholat dua rakaat di masjid, ia langsung bisa jalan sendiri tanpa dibantu.
Saat sampai di ruangan kembali, ia sudah mampu tertawa dan bercanda. Hanya berselang sepuluh menit, kami sudah dalam perjalanan pulang. Pulang kerumah kami.
Saat sampai di rumah, disana sudah menunggu semua saudara dari pihakku dan pihak Hengky. mereka menyambut kami bagai menyambut pangeran dan puteri.
Karpet merah di bentangkan, mereka bahkan menyiapkan mahkota untuk aku dan Hengky begitu kami keluar dari mobil. Suara petasan, alunan musik romantis, suara petasan kertas confetti popper, dan juga tepuk tangan dan teriakan sambutan dengan gelak tawa membuat suasana sangat meriah.
Hengky tidak melepaskan genggaman tangannya padaku. Padahal aku yang khawatir dengan kondisi tubuhnya yang terlihat masih lemas namun ia membuktikan bahwa ia sudah baik-baik saja dengan sengaja menggendongku ala bridal masuk ke dalam rumah.
Tentu saja aku tidak berani memandang para saudara karena malu. Aku malu tapi senang luar biasa. Aku bahkan lupa bahwa mataku masih terlihat sembab.
Saat selesai menyalami semua saudara, menerima kado pernikahan (walau sudah Hengky sampaikan ia tidak menerima kado tapi tetap saja kado pernikahan memenuhi rumah kami), dan juga mengisi perut yang dari pagi tadi belum ku isi, Hengky mendekatiku lalu berbisik lembut,
“Mau ke kamar gak?”
Mataku melotot, berpura-pura marah, “Masih banyak saudara gini...”
Ia tertawa, lalu kembali mendekatkan bibirnya di telingaku, “Ada yang mau aku tunjukin...”
“Gak bisa nanti ya, Sayang?”
Hengky menggeleng kuat, “Harus sekarang.”
Pandanganku mengitari ruangan, melihat situasi apakah bisa kami tinggal sebentar ke kamar. Jika kami pergi diam-diam maka...
“Maaf semuanya... Kami izin istirahat sebentar yaa...”
Refleks aku menoleh kaget, seketika pupil mata melebar. Jariku tanpa sadar mencubit pinggang Hengky lalu berbisik kesal, “Kenapa pake diumumin segalaaaa.....!”
Suara Hengky yang lantang dengan mudah ditangkap oleh seluruh saudara bahkan hingga ke arah belakang. Tentu saja, sesuai dengan dugaanku, kami di goda habis-habisan.
Bahkan sampai Hengky hampir menutup pintu kamar, kami masih mendengar celotehan,
“Semangaaaatt, Hengky! Tunjukkan pesonamuuuu!!”
__ADS_1
Ah, ingin rasanya ku makan bulat-bulat laki-laki yang sedang tersenyum usil di depanku saat ini.
“Kenapa kita gak pergi diem-diem aja tadi?” tanyaku sambil mengekori langkahnya ke arah ruangan di sebelah ruang tidur kami.
“Sengaja, Sayang. Biar pada tahu kalau kita ke kamar...”
“Apa??”
Seolah tidak memperdulikan aku yang berpura-pura marah, Hengky dengan santai membuka lemari pakaian. Ruangan ini adalah ruang khusus untuk aksesoris, baju-baju dan ruang makeup ku. Sangat luas, ukurannya lebih luas dari ukuran kamarku di rumah Abah. Padahal ini hanya ruang untuk menyimpan pakaian.
Ia mengeluarkan kotak kecil. Sambil tersenyum ia membuka kotak tersebut, “Rencananya ini adalah mahar kita..”
Sebuah gelang berwarna emas yang dengan butiran berlian kecil yang menghiasi sekeliling gelang. Aku tahu gelang ini, ini adalah gelang yang masih masuk ke dalam list impianku karena harganya yang justru lebih mahal dari mobilku.
Melihat aku yang malah membeku, Hengky tertawa pelan. Dengan sangat lembut ia memakaikan gelang tersebut ke pergelangan tanganku.
Ia nampak puas memandangi gelang tersebut pas dengan pergelangan tanganku. sambil tersenyum ia mendekat lalu memelukku, “Aku sayang kamu, Naya. Aku sayang banget sama kamu.”
--------------------------------------
Pesta pernikahan kecil kami dimulai sore hari setelah selesai sholat ashar. Memakai konsep pesta kebun, dekorasi pesta ini mirip sekali dengan dekorasi sewaktu grand opening cabang resto Hengky di dekat rumah Abah tempo hari.
“Aku gak sabar nunggu malam hari...”
Bisikan Hengky membuat jariku secara otomatis mencubit pinggangnya, “Istighfar ih...”
“Loh, kenapa? Pelukan sama istri sendiri malah dapet pahala loh.. sama kayak ini...” Hengky secara tiba-tiba mencium pipi kananku, “Tuh, dapet pahala lagi kita...”
Wajahku langsung tertunduk malu, rasanya dicium di tengah banyak orang seperti ini seperti menyuguhkan tontonan menarik untuk mereka.
“Pahala yang lebih besar nanti malam yaa...”
“Allahu Akbar, Sayaang...!” Kali ini aku benar-benar mencubit pinggangnya dengan keras membuat Hengky merintih sambil tertawa senang.
“Nayaa...!”
Aku segera menoleh ke sumber suara, saat menemukan Jessica, kakak sepupu Hengky yang melambaikan tangannya, senyumku langsung merekah, “Hai, Jes...!”
“Nanti malam, langsung buka kado dari gue, ya!” Teriak Jessica sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
Hengky mengerutkan keningnya namun seketika ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa kesal, “Gak usah di dengerin, Sayang. Emang rada aneh orang itu.”
“Hey! I hear you!” Jessica melotot ke arah Hengky, berpura-pura marah. Ia berjalan ke arah kami lalu saat sudah di dekatku, ia berbisik, “Gue beliin lima pasang lingerie seksi buat lo coba nanti malem!”
“Tuh, kan! Mulai aneh-aneh kan lu!” Hengky langsung menarikku ke dalam pelukannya.
“Gue ngomong serius loh! Masalah ranjang dalam pernikahan jangan dianggap remeh!”
“Iya, Kak. Tanpa kakak kasih tau, gue juga udah ngerti kok...”
Jawaban Hengky justru bagai tombol saklar yang baru saja dinyalakan olehnya. Membuat Jessica tertawa lalu berbisik kembali ke arahku, “Jangan-jangan si Hengky udah belajar banyak gaya nih, Nay! Dari Mana dia belajar ya?”
Sebisa mungkin aku ikut tertawa, walau merasa aneh dengan selera humornya yang tidak bisa masuk ke dalam seleraku. Semakin banyak ia bicara, aku semakin merasa tidak nyaman. Tatapan matanya yang terus saja ke arah Hengky membuatku akhirnya mencubit pinggang Hengky sambil menatapnya penuh arti.
“Jes, lu dipanggil Om Frans tuh!” Andy yang tiba-tiba datang bagai penyelamat untukku.
Wajah Jessica sedikit kecewa namun ia segera membalikkan badannya dan memberikan kelegaan yang luar biasa pada atmosfer di sekitarku.
“Barakallah ya, Bro, Naya. Baru sekarang aku bisa ngucapin selamatnya ya...” Andy menjabat tangan Andy lalu memeluknya singkat.
Aku tersenyum, “Makasih ya, Kak. Kakak banyak ngebantuin kita hari ini.”
“Emang sudah sewajarnya, kok...” sahut Andy, tatapan matanya seketika berhenti di pergelangan tanganku.
Menyadari tatapan matanya, aku langsung tersenyum lalu memegang gelang yang diberikan Hengky tadi, “Ah, ini dari Hengky. Gelang yang gagal dijadikan mahar,” kataku sambil tertawa pelan.
Andy mengangguk sambil tersenyum kecil, “Alhamdulillah.. terlihat cantik kamu pakai.”
Hengky menepuk pundak Andy, “Saran dari Kakak memang gak pernah gagal. Thanks ya, Kak.”
Refleks aku menoleh ke arah Hengky, sedikit kaget bahwa Andy yang memilih gelang ini untuk kupakai.
“Sebenarnya apapun yang Naya pakai, semua terlihat cocok untuknya. Belikan dia apa saja dan lihat, ia akan selalu luar biasa.” Andy menatapku lalu tersenyum lembut, membuat mataku yang entah mengapa terpaku beberapa saat.
“See? Bahkan tatapan matanya saja bisa membuatmu gila.”
-------------------------------------------
Author lagi nyiapin banyak tissue nih. Sedih sekaligus legaa akhirnya novel PEJARA CINTA Season 1 akhirnya selesai.
__ADS_1
**Terima kasih banyak untuk semua Pembaca Setia Novel PENJARA CINTA, Kak Nyimas Raudloh, Kak M. Umar Kenzie, Kak Deklami Agta Musvaria, Kak Elih Fatmawati, Kak Dfe (Makasih banyak supportnya, kak ^^), Kak Hari Yanti, Kak Pujiati, Kak Salwa, Kak Ika Lestari, Kak Aumy Re, Kak ~> Lupa Nama