
#39
Entah karena masih kepikiran kejadian teror kemarin atau karena hal lain, Abah terus memaksa untuk mengantarkan ku kembali ke Kosan. Walau sudah ku bilang bahwa aku tidak mau merepotkan, tapi Abah terus memaksa.
Sejujurnya aku tidak tega. Perjalanan dari rumah ke Kosan memakan waktu sekitar tiga jam. Namun melihat Abah yang antusias mengangkat tas ku ke dalam mobil membuatku kehilangan kata-kata.
Tidak ada yang dapat membantah Abah jika ia sudah meniatkan sesuatu.
Tadi malam aku memang sudah memberitahu Hengky bahwa aku akan pulang ke Kosan. Tapi aku tidak memberitahunya bahwa aku akan diantar Abah siang ini.
Tidak apa-apa, kan?
Hengky tidak mungkin menunggu ku di pintu kosan, bukan?
“Kamu semester berapa sekarang, Nay?” Abah memecah keheningan di antara kami.
Aku yang sedari tadi hanya memandang keluar jendela segera merubah posisi dudukku, “Tahun depan semester tujuh, Bah...”
“Sebentar lagi PPL ya?”
“Iya, Bah...”
“Ada laki-laki yang mendekati kamu di Kampus?”
Aku refleks memundurkan kepala kebelakang, keningku berkerut, “Eh? Tumben Abah nanya kayak gini...”
Abah tertawa pelan, pandangan matanya tetap ke layar kemudi, “Kenapa? Memangnya aneh Abah nanya kayak gini ke anak Abah?”
__ADS_1
“Ya enggak siih...”
“Kamu mau tahu, Naya? Bagi seorang ayah yang semakin menua, tidak ada yang lebih berharga selain dari anak perempuannya. Abah masih ingat sekali, saat kamu lahir itu adalah salah satu moment paling bahagia dalam hidup Abah.
Pekerjaan seorang ayah bukanlah mengajarkan puterinya bagaimana menjadi seorang wanita. Ayah ada untuk mengajari bagaimana seorang wanita seharusnya di perlakukan.
Ingat, Nak. Jodoh itu akan mendatangimu sendiri tanpa harus kamu bersusah payah mencari. Ia akan datang dari arah yang tidak di sangka-sangka. Sibukkan dirimu dengan takwa, hiasi tiaramu dengan akhlak yang mulia, biarkan Allah menunaikan apa yang telah menjadi janjiNya.”
Mendengar nasihat Abah membuat hati ku seperti teriris.
Sakit sekali mendengar betapa Abah sangat mempercayaiku.
Betapa aku sudah sangat lancang mengingkari perkataannya.
Aku tidak berani menjawab apapun. Lidahku terasa kelu dan aku pun tidak berani menyanggupi nasihat Abah.
Tidak akan ada laki-laki bodoh yang mau menerima permen yang sudah di rubungi semut dan terlepas dari bungkusnya.
Ya. Sebuah analogi yang tepat.
Aku bagaikan sebuah permen yang sudah terlepas dari bungkusnya, dirubungi semut dan terlihat tertutupi tanah serta debu.
Tidak akan ada yang mau menyentuh apalagi memakannya.
Maafkan Naya, Abah... Naya sepertinya tidak akan bisa menikah...
“Bagaimana kabar Shinta, Nay? Sudah lama Abah tidak bertemu dengan Shinta.”
__ADS_1
Aku menghela nafas lalu mengatur bibirku untuk membentuk senyuman, “Shinta sehat, Bah... Alhamdulillah.”
“Nanti hubungi saja Shinta, kita makan bersama.”
“Eh? Mmm... Anu, Shinta lagi...lagi liburan sekeluarga ke Bali, Bah.”
“Loh, bukannya besok sudah mau ujian semester?”
Aku makin tergagap.
Duh, harus jawab apa ini.
“Ooh... mungkin Shinta besok pagi pulangnya ya, Nay. Sayang sekali Abah tidak bisa bertemu dengannya kali ini.
Dijaga persahabatan kalian, Naya.
Mencari sahabat sejati itu sulit.
Tidak akan ada orang yang membagikan keluh kesahnya di media sosial jika ia mempunyai tempat untuk bercerita atau bahu untuk bersandar, manusia juga tidak akan menciptakan buku diary untuk menuliskan cerita hidupnya jika ada telinga seorang sahabat yang mau mendengar keluh kesahnya.”
Abah menoleh ke arahku lalu tersenyum.
Aku membalas senyuman Abah dengan kaku. Jika Abah melihat lebih lama, tentu ia akan tahu bahwa senyuman ku saat ini adalah palsu.
Sambil menghela nafas aku mencoba memejamkan mata.
Ternyata rasa sakit dan kecewa itu masih ada.
__ADS_1