
86
“Namun, mohon maaf Abah, Ibu, sebelum kita membahas tanggal pernikahan. Izinkan Hengky membahas beberapa konsep terkait pernikahan yang akan kami jalani. Mungkin akan sedikit terdengar tidak nyaman karena selanjutnya Hengky akan menanyakan dan menyamakan beberapa pendapat bersama Naya,”
Abah mengangkat tangannya sebagai tanda setuju, “Tidak ada masalah, Nak. Silahkan dilanjutkan. Bagaimana semuanya, tidak ada yang keberatan, bukan?” Abah bertanya pada semua saudara yang hadir.
Semua secara serempak menganggukkan kepala.
“Silahkan, Nak. Lanjutkan...” Abah mempersilahkan Hengky melanjutkan kalimatnya.
Aku memusatkan perhatian ke arah Hengky. Aku tidak tahu apa yang akan ia sampaikan, tapi entah mengapa dadaku terasa berdebar.
Apa aku telah melakukan kesalahan tanpa aku sadari?
“Naya, Calon Istriku,” Hengky terdiam sesaat lalu tersenyum, “Ah, maaf. Ya Allah, sampai saat ini aku masih gak percaya kuasa Allah yang mempertemukan keluarga kita dengan baik dan mempertemukan kita berdua untuk membahas masalah pernikahan. Bagaimana perasaan kamu sekarang, Naya?”
Seketika wajahku terasa hangat namun kaki dan tanganku terasa dingin. Detak jantungku masih memburu. Ah, bahkan hanya untuk memandang wajah Hengky saja rasanya malu sekali. Aku malu mengakui bahwa aku tersipu mendengar ia memanggilku ‘Naya, calon istriku’.
“Naya, jawab, Sayang. Kasihan Hengky menunggu jawaban dari kamu dari tadi.”
Celetukan Ibu membuatku semakin tertunduk. Ya Allah, mengapa tanganku jadi gemetar seperti ini?
“Alhamdulillah... wa syukurillah, moment seperti ini akhirnya tidak hanya menetap dalam mimpi. Jangan tanya bagaimana perasaanku, tentu sudah bisa dilihat dari ekspresi wajahku sekarang...”
Suara tawa seketika memenuhi ruangan. Aku sudah tidak memperdulikan celetukan dan tatapan menggoda ke arahku. Aku tahu, mengucapkan kalimat seperti ini tentu saja memalukan, apalagi di hadapan banyak orang.
“Naya, aku ingin bertanya. Bagaimana menurutmu jika kita melangsungkan pernikahan hanya di KUA saja?”
Aku mengangkat wajah, menatap Hengky, memastikan kalimatnya.
Apa dia salah bicara?
Melihat senyumannya, seketika aku faham. Dengan tegas aku menjawab, “Aku setuju dan aku tahu, ketika Hengky memutuskan sesuatu, pasti ada alasan yang sangat kuat dibalik itu. In syaa Allah aku faham dan aku ta’at selama itu demi kebaikan.”
Hengky seketika tertunduk, ia menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Aku tidak mengerti mengapa kalimat singkat yang aku ucapkan tadi membuatnya salah tingkah.
“Alhamdulillah… Alhamdulillah. Rasanya lega sekali. Menyenangkan sekali saat aku tahu bahwa aku tidak salah memilih. Padahal Naya bisa saja menyangkal. Apalagi kodrat seorang wanita yang menginginkan kemewahan dan pujian, tentu kamu mengharapkan pesta pernikahan mewah yang tidak akan dilupakan oleh semua orang. Namun, kamu menekan keinginan itu dan memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan,”
__ADS_1
Hengky mengalihkan tatapan matanya ke arah Ibu, “Terima kasih sudah melahirkan sosok wanita yang luar biasa seperti Naya, Bu...”
Ibu tertawa pelan, ia mengayunkan tangannya, “Ah, Nak Hengky bisa saja...”
“Jangan lupakan Abah yang mendidiknya menjadi luar biasa.”
Celetukan Abah dibalas gelak tawa yang memenuhi ruangan. Abah mengangkat tangannya, bertanya apakah kalimat yang ia katakan salah?
Hengky yang ikut tertawa segera menggelengkan kepalanya, menjawab bahwa tidak ada yang salah dengan perkataan Abah.
“Sebenarnya, aku memimpikan pesta pernikahan yang sangat sederhana. Kami hanya menikah di KUA, mengundang anak yatim di panti asuhan untuk makan bersama. Masih dalam rencana, nantinya kita akan mengundang mereka dan para saudara untuk makan bersama di Giant Tree.”
Sontak aku dan Andy saling pandang. Mengundang mereka ke mansion mewah yang bahkan belum pernah seumur hidup dikunjungi mereka, disebut Hengky sebagai acara yang sederhana??
“Giant Tree?” Papi sedikit memundurkan kepalanya, “What giant tree?”
“Your mansion, Sir,” jawab Andy menahan senyumnya agar tidak berkembang menjadi tawa.
“Astaga...!” Papi tidak bisa menahan tawanya.
“Ah, maaf,” Papi menghentikan tawanya, “Saya tidak mengerti letak kesederhanaan yang Hengky maksud. But, Son...” Papi menoleh ke arah Hengky, “If you want to celebrate your wedding in that place, that place is probably not real supportive of the idea.”
Wajah Hengky nampak tidak mengerti dengan alasan yang Papi katakan. Ia lantas menoleh ke arahku, meminta dukungan. Tatapannya seolah mengatakan, “Aku tidak mengerti, bukankah aku bilang hanya acara makan-makan biasa? Mengapa Papi bilang tempatnya gak cocok?”
Aku tersenyum simpul. Maksud Papi bukan tentang acaranya, tapi tempatnya yang jauh dari kesan sederhana. Namun aku maklum. Mungkin wajar untuknya menganggap acara di mansion itu sebagai acara yang sederhana. Dari kecil, mansion itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Kemewahan hidup sudah biasa baginya. Jadi wajar baginya menganggap jamuan makan di mansion itu sebagai acara yang sederhana.
“Naya, bisa kamu jelaskan apa yang sedang terjadi, Nak?” Abah memandangku menuntut penjelasan.
“Begini, Abah. Hengky ingin nanti setelah acara pernikahan, kita diundang ke rumahnya untuk acara jamuan makan,” jawabku mengoreksi Hengky.
“Naya...” Hengky menatapku sambil mengangkat kedua alisnya. Ia tersenyum dengan makna yang hanya bisa diartikan olehku.
“Bukankah lebih baik jika kita menyiapkan jamuan makan dan pesta kecil di rumah yang baru saja Hengky beli?”
“Ah, tapi...”
“Ya! Mami setuju. Ide bagus, Naya...” Mami segera memotong kalimat Hengky.
__ADS_1
Hengky terdiam. Ia masih terlihat kurang setuju dengan pemutusan pendapat sepihak dariku.
Maaf, Sayang. Aku tidak mungkin mengajak mereka ke mansion semewah itu.
Bukan apa-apa, aku tidak ingin mereka menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada pernikahan kita nanti.
“Tentang pernikahan hanya di KUA, apa kamu serius, Nak?” tanya Abah sambil menegaskan pandangan matanya ke arah Hengky.
“Iya, Abah. Ada banyak dana yang bisa kita arahkan ke tempat yang lebih baik daripada di habiskan percuma hanya untuk pesta satu hari,” Hengky menatap Abah dengan lembut. Tiap kata yang keluar dari bibirnya mengandung kepercayaan diri yang sangat kuat.
Abah terdiam, begitu pula Ibu.
“Tapi di tempat kami pesta pernikahan tidak bisa sesederhana itu, Nak,” Ibu mulai membuka suara. Sorotan matanya nampak dipenuhi penolakan, “Apalagi Naya adalah anak pertama dan satu-satunya anak perempuan kami. Tentu kami mengharapkan pesta pernikahan yang tidak akan dapat kami lupakan. Ya, karena ini adalah acara sekali seumur hidup, bukan?”
“Hengky paham sekali maksud Ibu. Jika boleh jujur, Hengky bisa mewujudkan pesta pernikahan sesuai dengan yang Ibu mau. Tapi, Hengky sudah sepakat dengan Papi, Mami dan juga Naya bahwa kami akan mengarahkan uang itu ke tempat yang lebih baik.”
“Tempat lebih baik? Dimana?” tanya Abah cepat. Terlihat sekali Abah juga tidak menyetujui usul Hengky.
“Tiket Umroh plus untuk Nenek, Abah dan Ibu, tiket liburan selama tujuh hari ke berbagai negara di Eropa untuk Papi dan Mami, juga beasiswa pendidikan penuh untuk anak-anak di Panti Asuhan dekat rumah Hengky.”
Wajah Hengky yang nampak tenang sangat kontras dengan tatapan kekaguman sekaligus takjub semua saudaraku yang hadir. Suara kasak-kusuk terdengar nyaring di telingaku.
Aku menatap Hengky, memberikan kode agar ia melihat tatapan mataku ke arah Uwak dan saudara yang lain.
Bagaimana dengan mereka, Sayang? Jangan lupakan mereka!
“Juga untuk Uwak Ajo dan Uwak Ibu, Paman Kasim, dan saudara-saudara sekalian, silahkan datang ke White Resto secara gratis. Berlaku untuk tujuh kali kedatangan, tanpa jumlah maksimum pesanan. Artinya, nanti boleh pesan apapun yang saudara-saudara mau tanpa batas.”
-----------------------------------------
Hai pembaca setiakuu...
Mendekati akhir cerita, bolehkah aku meminta pendapat pembaca tentang jalan cerita Naya?
Bagaimana jika aku buat menjadi sekuel? Setuju kah?
Tinggalkan pendapat di komentar yah... ^^
__ADS_1