
#44
“Kita mau ke kantor polisi?”
Aku yang sedari tadi terdiam mulai membuka suara. Kejadian tadi membuatku kehilangan kata-kata.
Aku sempat khawatir kalau orang-orang memperhatikan Gilang yang di bopong oleh kedua laki-laki itu. Namun Hengky bisa mengatasinya dengan baik.
Kedua laki-laki itu membaur dengan baik. Mereka berpakaian layaknya mahasiswa biasa. Usia mereka ku taksir sekitar empat puluh tahun.
Tidak terlalu tua, karena ada banyak mahasiswa S2 yang mondar-mandir di kampus ini yang usianya jauh lebih tua dari mereka.
Yang mencolok dari mereka tentu saja postur badan tinggi dan tubuh tegap. Dilihat sekilas pun, orang-orang akan tahu kemampuan seni bela diri mereka.
Saat beberapa pasang mata melihat Gilang, Hengky langsung tersenyum berbasa-basi sambil mengatakan, “Biasa... lagi masuk angin,
mabok dia!”
Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mempercayai ucapan Hengky, Gilang memang terlihat seperti sedang ‘mabok’.
“Maaf ya, Sayang. Kamu pasti kaget ya tadi?”
Hengky meraih tanganku lalu di kecupnya lembut, ia menoleh sekilas ke arahku lalu kembali fokus ke layar kemudi.
Aku menarik tanganku, “Dari mana kamu tahu pelakunya Gilang?”
“Aku gak tahu kalau pelakunya Gilang.”
“Apa?! Jadi drama yang kamu buat tadi....”
Hengky tertawa, ia mengangkat alisnya beberapa kali,
__ADS_1
“Gimana acting aku? Keren, kan?”
Aku menatapnya tidak percaya. Sambil menggelengkan kepala aku membuang pandanganku ke arah jendela,
“Kamu gila, Hengky!”
“Hey, aku perlu memancing pelakunya untuk keluar sendiri, Naya. Mana mungkin aku tahu merk seluruh handphone yang dipakai teman kita?”
“Dengan membuat drama bodoh seperti tadi??”
“Aku heran, kenapa kamu marah, Sayang? Aku hanya mengambil jalan pintas agar pelakunya mengaku sendiri tanpa kita perlu berpikir lebih keras!”
“Itu bullying, Hengky Widiyanto! Kasihan dia! Kamu dengan jelas memanfaatkan kekayaan dan kekuatanmu untuk menekan dia!”
Hengky menghela nafas kesal,
“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan apa yang sudah dia lakukan padamu dan pada Abah?”
“Tapi tetap saja, kamu sudah mempermalukan dia di depan kelas...” ujar ku pelan.
“Ya Tuhan, Naya...! Aku hanya mempermalukan dia di depan kelas, sedangkan dia mempermalukan mu di depan dunia, di depan orang-orang yang bahkan tidak mengenalmu!”
Nafas Hengky terdengar memburu, ia menoleh ke arahku sambil menggelengkan kepalanya, “Aku heran, jangan-jangan kamu suka ya sama dia?!”
“Apa? Waah... imajinasi kamu sungguh luar biasa!”
“Lalu kenapa kamu marah? Ini hal yang wajar yang harus dia dapatkan jika mengganggu milikku!”
“Aku bukan milikmu, Hengky! Bukan milik siapapun!”
Hengky membelokkan setir mobil secara tiba-tiba, membuat mobil menepi di bahu jalan. Dengan kasar ia menarik tombol rem tangan lalu menoleh ke arahku,
__ADS_1
“Apa yang kamu mau sekarang, Naya? Kamu mau aku melepaskan dia?”
“Kamu menghancurkan masa depannya, Hengky! Dia akan menjadi narapidana dan di cap buruk seumur hidupnya!”
Aku mencoba tidak goyah. Meski aku tahu bahwa aku sudah memancing kemarahan Hengky. Tapi menurutku kali ini dia sudah keterlaluan.
“Narapidana apa, Naya? Ya Tuhan, menurutmu aku benar-benar akan menyerahkannya ke kantor polisi?!”
“Bukankah kita mau ke kantor polisi sekarang?”
Hengky tertawa keras. Ia menarik kepalaku lalu di benamkan di dadanya, “Ini yang membuat kamu seperti ini? kamu takut dia dibawa ke kantor polisi?”
Aku mengangguk pelan.
“Aku gak bodoh, Naya. Aku gak mungkin melibatkan polisi yang hanya akan mempersulit keadaan, makin membuat panik Abah dan Ibu. Aku hanya ingin mengajaknya mengobrol di Kantor Pengacara Keluarga ku.
Setidaknya dia harus sedikit diberi pelajaran, bukan?”
Aku mendongak ke atas, memandangi wajah Hengky. Melihat ia menahan tawa membuat wajahku memerah tiba-tiba.
Astaga... aku sudah memarahinya tanpa alasan.
“T-tapi tetap saja yang kamu lakukan itu salah. Kalau sama Gilang yang bukan siapa-siapa saja kamu bisa berbuat sampai seperti itu, lalu bagaimana denganku? Bagaimana jika aku yang berbuat salah?”
Tanpa sadar aku malah meracau. Maksudku ingin berkelit agat menutupi rasa malu, tapi, lihatlah bibirku, ia dengan lancang berbicara tidak karuan.
Hengky melepaskan tangannya dari kepalaku, ia mengangkat bahu lalu kembali menyalakan mesin mobil.
Sambil menekan pedal gas, ia berkata,
“Maka jangan berbuat salah, Naya. Simple, kan?”
__ADS_1