
83
Akhirnya aku memutuskan untuk hadir di acara grand opening White Cat Resto. Mau tidak mau, harus ku akui ternyata rasa di hati lebih kuat dari rasa gengsi. Haha… payah ya aku?
Namun aku tidak sendiri, aku sengaja mengajak Ibu bersamaku. Setidaknya untuk menyamarkan maksud kedatanganku yang sangat amat ingin melihat wajah Hengky dari dekat setelah empat tahun lamanya.
Saat aku ajak tadi, tentu saja awalnya Ibu menolak. Egonya yang luar biasa membuat aku harus mengeluarkan jurus kata-kata terbaik agar bisa membuatnya luluh. Kejadian awkward tadi pagi justru menguntungkan bagiku. Tautan hati kami sedang menyatu, membuat aku yang sedari turun dari mobil tadi terus bergelayut manja di lengan Ibu.
Ah, inikah rasanya menjadi dekat dengan Ibu sendiri?
Saat memasuki area resto, ternyata acaranya berada di halaman belakang Resto. Terlihat sangat menawan dengan sentuhan ala pesta kebun. Nuansa bunga berbagai jenis berwarna putih terlihat sebagai dekor utama. Semua kursi kayu dan meja kayu yang sangat panjang di lapisi kain berwarna putih. Posisi kursi yang saling berhadapan membuat suasana grand opening menjadi lebih intim.
Aku melihat dua meja panjang dan kursi kayu yang terlihat lebih eksklusif di bagian dekat dengan panggung kecil di mana alat musik dan stand microphone berada.
“Maaf, atas nama siapa, Bu?” Seorang pelayan bertanya padaku di meja penyambut tamu.
“Naya. Naya Khairunnisa,” jawabku singkat.
Ia terlihat lama mencari di daftar tamu. Hingga tiga kali ia mengulang namun tidak menemukan namaku, “Maaf, Bu. Bisa lihat undangannya?”
Aku menoleh ke arah Ibu, “kita bawa undangannya gak, Bu?”
Wajah Ibu memucat, “Apa?”
Oh, tidak.
“Mas, bisa tolong dilihat lagi gak daftar tamunya? Undangan saya ketinggalan di rumah,” aku mencoba tenang. Berusaha semaksimal mungkin tidak terintimidasi oleh antrian yang semakin memanjang di belakangku.
“Ada yang bisa saya bantu, Ibu?” seorang laki-laki berpostur tegap menghampiri kami, ia tersenyum ramah sambil menundukkan sedikit kepalanya.
“Ah, undangan saya tertinggal di rumah. Sedangkan kata Mamas ini barusan katanya nama saya gak ada di daftar tamu,” jelasku sambil tersenyum, menyamarkan rasa cemas dan malu yang bersamaan hadir.
“Maaf, atas nama siapa, Ibu?”
“Naya Khairunnisa.”
Pria itu nampak terkejut, ia menarik daftar tamu lalu membalikkan kertas di halaman berikutnya, jari telunjuknya menuding namaku yang jelas berada di urutan pertama kepada lelaki penerima tamu tersebut di daftar tulisan tamu VIP.
Saat menemukan namaku di urutan pertama, wajah laki-laki itu tampak pucat. Ia segera keluar dari balik meja lalu berjalan ke depan, berhadapan dengan aku dan Ibu,
“Maaf, maafkan saya. Ini murni kesalahan saya,” ia menundukkan badannya berulang kali.
__ADS_1
“Hey, it’s okay...” aku tersenyum memaklumi. Lega rasa hati sekaligus merasa tersanjung, Hengky menjadikan aku sebagai tamu VIP.
“Sekali lagi maafkan kami, Bu Naya,” Pria tegap yang memakai headset hitam di telinganya menundukkan kepalanya, “Mari saya antar Ibu ke meja VIP.”
Aku mengikuti langkah pria berjas hitam tersebut. Postur tubuhnya persis dua bodyguard Hengky dulu.
Meja VIP ternyata adalah meja yang kusebutkan berada di dekat panggung tadi. Meja ini di naungi tenda putih di atasnya. Hanya tenda putih ini yang membedakan bahwa ini adalah meja VIP. Ah, mungkin aku salah, kursi dan mejanya juga terlihat lebih mewah.
“Silahkan menunggu disini sebentar sebelum acara dimulai, Bu. Kami akan memberitahukan owner bahwa Ibu sudah datang.”
“Eh, owner?” seketika detak jantungku menjadi tidak karuan.
“Pak Hengky dan Andy berpesan jika Ibu Naya sudah datang, segera kabari mereka,” wajah pria tersebut menjelaskan dengan tenang, sangat kontras dengan kaki dan tanganku yang berkeringat dingin.
“Nanti akan ada beberapa pelayan yang akan mengantarkan morning coffee. Saya permisi dulu ya, Bu.” Pria itu tersenyum singkat sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan kami.
“Tetap tenang, Naya,” bisik Ibu sambil merangkul pundakku.
Aku mencoba tertawa. Berharap tawa yang keluar dari bibirku akan mampu menyamarkan detak jantung yang makin tidak beraturan.
Belum sempat aku menenangkan diri, sudut mataku yang menangkap kehadiran Hengky dan Andy membuatku terasa mau pingsan.
Aku harus bagaimana?
Makeup ku tidak berlebihan, bukan?
Ah, tidaakkk! Mengapa Hengky bertambah tampan seperti ituu???!
Dan jantungku terasa mau lepas saat Hengky menghampiri kami sambil tersenyum, “Assalamualaikum, Ibu, Naya...”
Ditambah dengan Andy yang melihatku dengan memicingkan matanya, jarinya ditodongkan ke arahku, “Gak salah lagi. Kamu kan yang di depan resto tadi malam?”
“E-eh? Apa?” mulutku menganga dengan bodohnya.
Andy tertawa keras. Ia menggelengkan kepalanya, sorot wajahnya tampak berbeda, lebih tenang dan teduh dipandang mata.
“Waalaikum salam... Apa kabar, Nak Hengky? Andy?” Ibu yang tanggap dengan aku yang membeku segera menjawab salam mereka sambil tersenyum.
“Alhamdulillah baik, Ibu. Mohon maaf tadi terjadi kejadian yang kurang mengenakkan ya, Bu. Resepsionis yang didepan kurang paham dengan arahan.”
Ibu tertawa pelan, “Ah, tidak apa-apa. Itu hal biasa...”
__ADS_1
Sementara Ibu dan Hengky saling berbicara basa-basi, aku justru masih sibuk mengendalikan pikiran yang menjadi tidak terkendali.
Kenapa Hengky harus setampan ini?
Mengapa ia justru bertambah tampan selama kami berjauhan??
Hengky memakai kemeja putih dengan blazer berwarna krem dan celana cropped berwarna senada dengan blazer. Ia memakai sepatu slip on berwarna coklat tua. Aku tidak tahu apa yang berubah dari wajahnya selain dengan tambahan janggut tipis di dagunya. Yang jelas di mataku, ia terlihat sangat tampan.
Sedangkan Andy terlihat lebih santai dengan memakai kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana chinos berwarna hitam. Ia memakai sneaker berwarna senada dengan warna kemejanya. Dan ternyata setelah kusadari, ada janggut tipis di dagunya.
Ada apa ini? Mengapa mereka secara serentak memelihara janggut?
Suara batuk Andy membuatku terkejut. Ia tertawa sambil menepuk pundak Hengky, “Kamu apa kabar, Naya?” ia menoleh ke arah Hengky, “Seharusnya itu yang kamu tanyakan, bukan?”
Hengky tersenyum, menyembunyikan rona merah di wajahnya dengan menundukkan kepalanya.
Ibu yang sedari tadi sudah paham bahwa aku dan Hengky sama-sama bingung harus mengatakan apa ikut tertawa mengikuti Andy yang menepuk pundak Hengky berulang kali.
“Tahu gak, Nay? Karena Hengky sangat menjaga perasaan kamu, dia sengaja gak pernah mau tampil di publik. Dia selalu mewanti-wanti photographer agar tidak mengambil fotonya. Bisa kamu lihat, di akun resmi white cat resto, gak ada satupun fotonya. Orang-orang bahkan mengira white cat ini punya aku doang. Yaa... walaupun aku juga termasuk founder siih...” Tawa Andy kembali terdengar.
Namun seketika tawa Andy terhenti. Ia menoleh ke arah Ibu lalu tersenyum, “Adik saya ini sangat mencintai anak perempuan Ibu jauh melebihi yang ia tahu.”
“Kakak mulai berlebihan,” Hengky mengalihkan tatapannya ke arah Ibu, “Maaf ya, Bu. Kakak saya memang suka lugas seperti ini. Terkadang bicara seperti tidak mengenal sikon.”
Ibu tertawa, ia mengambil tanganku lalu digenggamnya lembut, “Tidak apa-apa. Justru perkataan Andy yang membuat tangan anak perempuan ibu ini menjadi tidak sedingin tadi. Kamu tahu, Nak. Demi bertemu denganmu, entah sudah berapa gaun yang ia coba pagi ini.”
Perkataan Ibu sukses membuatku semakin tertunduk. Aku tidak berani mengangkat wajahku sampai mendengar Hengky mengatakan,
“Padahal apapun yang Naya pakai, tidak akan mampu menyembunyikan kecantikannya. Ah, apa mungkin Naya mau mulai berpikir untuk pakai cadar?”
“Eh? cadar?” aku langsung mengangkat wajahku.
“Ya… untuk menutupi kecantikan Naya yang tidak wajar ini.”
Wajahku memanas, pandangan kami langsung bertemu. Senyuman Hengky membuat pandanganku terpaku, enggan beralih bahkan sedetik pun.
Hengky sedikit memiringkan kepalanya, sambil tersenyum ia menatap mataku lembut, “Apa kabar, Naya? Sudah siap untuk pulang?”
*Hai pembaca kesayangan, mohon maaf sudah absent dua hari ya. Karena ada beberapa acara jadi berhalangan untuk up.
sebagai gantinya, author langsung up tiga chapter hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komen yaa. Dukungan sekecil apapun berarti banget buat author.
**Terima kasiihhh… ^^ ***