
79
Seharusnya dari awal aku menghubungi Hengky. Seharusnya dari awal aku ‘menenggak’ ramuan ajaib berisi kata-kata yang selalu berhasil membuatku tenang.
Hengky benar, apa yang harus ku khawatirkan? Jika aku panik, logika akan mati dan aku akan semakin tersudut. Sekali lagi, aku harus menampar diriku dengan kenyataan bahwa hanya aku yang dapat menolong diriku sendiri.
Setelah mandi, mengambil air wudhu dan sholat dua rakaat, seperti magic, hati langsung menjadi lebih tenang. Aku bahkan bisa sambil memilih baju, sambil bersenandung riang. Ibu yang melongokkan kepalanya lewat pintu mengerutkan kening, mungkin ia heran, mengapa aku bisa bernyanyi namun dengan mata yang terlihat sembab?
Keahlian make up sangat berguna untuk menutupi sembab di mata. Aku mengoles make up natural lalu memakai abaya hitam dan pashmina syar’i berwarna senada dengan abaya. Aku sudah siap, apapun yang akan terjadi, tidak ada yang bisa mengatur masa depanku kecuali diriku sendiri. Apalagi untuk masalah pernikahanku.
Saat keluar kamar, semuanya sudah beres. Rumah seperti biasa selalu rapih, makanan cemilan sudah tersedia di meja ruang tamu. Hanya tinggal menunggu kedatangan Fatih. Abah sudah duduk di sofa ruang tamu, asyik membaca buku. Ibu yang duduk di sebelah Abah sedang asyik mengirimkan pesan dalam grup keluarga.
Entah apa yang dibicarakan mereka di dalam grup.
Tepat pukul sebelas siang, Fatih datang. Wajahnya terlihat lelah. Sepertinya ia tidak pandai berpura-pura sepertiku. Emosi dan kekesalan terlihat jelas dari raut wajahnya.
Fatih memakai kemeja warna olive dan celana panjang warna krem. Secara objektif, pakaian yang ia pakai selalu bisa menopang ketampanannya dengan baik namun tetap saja, tidak bisa membantu hatiku bergeming. Setampan apapun dia, dia bukanlah Hengky. Dia bukanlah laki-laki yang bertahun-tahun menemaniku melewati masa krisis paling menyakitkan sepanjang hidup.
Setelah hampir sepuluh menit Abah dan Fatih mengobrol di ruang tamu, Ibu mengajakku keluar. Dengan tenang aku keluar dan duduk di samping Ibu, persis berhadapan dengannya.
“Abah, Ibu, sebelum saya ingin bertanya tentang bagaimana jawaban Naya, tentang apakah ia mau melanjutkan proses ta’aruf kami, saya ingin memberitahu sesuatu yang mungkin tidak Abah dan Ibu ketahui tentang Naya.”
Aku yang awalnya menundukkan kepala sontak terkejut dan menatap lurus ke arah matanya. Detak jantungku seketika memburu,
Tidak, ia tidak bermaksud untuk mengadukan perihal ucapanku tadi, bukan?
Fatih tidak menggubris tatapanku. Seolah menganggapku tidak ada, ia hanya fokus bergantian membuat kontak mata dengan Abah dan Ibu,
“Dalam perjalanan saya kesini tadi, Naya menghubungi saya. Dia memberitahukan sesuatu yang membuat saya sangat terkejut,” Fatih menunda kalimatnya, pandangan matanya lalu di arahkan padaku, bibirnya menyeringai,”Naya....ingin...menghentikan...proses ta’aruf kami.”
__ADS_1
Sialan! Laki-laki ini benar-benar kurang ajar!
Fatih sengaja menekankan kata-kata terakhirnya dengan penekanan yang berbeda. Membuat suasana yang tadinya penuh senyuman seketika berganti dengan tatapan penghakiman ke arahku,membuat suasana terasa tegang.
Fatih mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti. Senyumannya seolah mengatakan padaku, “Lihat, kamu tidak bisa melakukan apa-apa sekarang!”
Namun Fatih tidak mengetahui sesuatu tentangku, dia sudah bermain-main dengan wanita yang salah. Bulu kudukku merinding membayangkan belum menjadi pasangannya saja, dia sudah memanipulasi kedua orangtuaku dan merendahkanku lewat gestur tubuh dan tatapan matanya.
Maaf Fatih, tidak ada yang bisa merendahkan Naya Khairunnisa!
Secara ajaib, diluar dugaan, aku tidak merasakan ketakutan atau kekhawatiran. Yang aku rasakan adalah emosi yang memuncak dan perasaan jijik yang menyeruak. Memaksa mataku untuk tidak mengalihkan tatapan darinya, menekan tiap pergerakannya dengan bibirku yang menyeringai.
Sudah kuduga, insting wanita tidak pernah salah.
Laki-laki yang terlalu sempurna selalu menyimpan plot twist yang tidak terduga.
“Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa Naya nekat menghubungi saya hanya untuk memberi tahu bahwa ia tidak menyukai saya dan tidak bisa melanjutkan proses taaruf kami hanya berdasarkan perasaan semata. Belum lagi katanya, dia sudah punya laki-laki lain yang dia tunggu. Ya Allah, alasan macam apa itu?”
“Maaf Abah, Ibu, saya bolak-balik Depok-Lampung ini tidak dekat, loh. Ada banyak agenda yang harus saya pending, menghabiskan banyak waktu dan materi. Lalu tiba-tiba berakhir hanya seperti ini? Pengorbanan yang saya lakukan berakhir sia-sia.”
Abah menghela nafas berat. Sambil memijat kening, Abah menoleh ke arahku, “Apa benar yang disampaikan Fatih, Nak?”
Inilah saat yang ku tunggu-tunggu!
Aku sedikit memiringkan kepala, menatap lurus ke arah Fatih, “Sejujurnya ini adalah hal yang aku takutkan terjadi. Bahkan, aku berharap hal ini tidak pernah terjadi. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa Kakak akan melakukan perbuatan serendah ini.”
“Apa?! Kamu yang jelas-jelas membatalkan semuanya lalu menyalahkan saya?!” Mata Fatih melotot marah, tangannya mengepal menahan emosi.
Aku tersenyum, dengan santai, jariku memainkan gagang cangkir teh di atas meja, “Lihatlah Abah, Ibu, Bagaimana bisa seorang laki-laki disebut sebagai suami yang baik jika di depan orang tuanya saja dia berani membentak seorang wanita?”
__ADS_1
Wajah Fatih mendadak pucat, ia menelan ludah lalu bergantian menatap Abah dan Ibu, “Ti-tidak, bukan itu maksud saya...”
“Bahkan sekarang Kakak tidak memberikan waktu untukku bicara? Mengapa Kakak selalu menyela ucapanku?” aku mengangkat wajah, tersenyum menatap matanya yang langsung menghindar saat pandangan kami bertemu.
Fatih terdiam. Bahunya mendadak lemas.
“Abah, Ibu, sebenarnya Naya menghubungi Fatih tadi pagi hanya untuk mengetes apakah kelak Fatih bisa menjadi suami yang amanah dalam menutup setiap detail kecil keburukan istrinya? Sudah Naya sampaikan padanya, tolong jangan beritahu Abah dan Ibu, namun nyatanya, dengan sombongnya ia mengangkat kepala sambil membeberkan sesuatu yang seharusnya ia simpan rapat-rapat,”
“Bukankah Allah menggambarkan pasangan suami dan istri sebagai pakaian? Allah bahkan berkata dalam Al-Qur’an di surat Al-baqarah ayat 187, ‘Para istri, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka’,Hal ini jelas menggambarkan pernikahan serta hubungan interelasi antara suami dan istri sebagai pakaian,”
“Pertama, pakaian sebagai suatu kebutuhan. Pernikahan adalah suatu hubungan yang saling membutuhkan antara suami dan istri. Tidak ada posisi yang paling tinggi dan rendah, sementara saling membutuhkan, bukankah posisi kita menjadi setara? Walau jelas posisi suami sebagai imam yang wajib diikuti oleh istri sebagai seorang makmum. Tapi tetap tidak bisa membuat seorang pemimpin bertindak semaunya dan seorang makmum yang melangkahi posisi seorang imam,”
“Kedua, pakaian berfungsi untuk menutupi aurat sekaligus melindungi tubuh dari berbagai cuaca. Demikian pula dengan fungsi dan kedudukan suami istri. Masing-masing harus bisa menutupi dan melindungi pasangannya. Suami harus bisa menutupi rahasia dan aib istri, begitupun sebaliknya,”
“Sampai disini, bukankah jelas Kakak sudah tidak memenuhi syarat sebagai calon suami yang baik? Bagaimana bisa kakak mengorbankan keburukan yang sudah jelas-jelas ku katakan, ‘jangan beritahu Abah dan Ibu’, sebagai keuntungan untuk pribadi kakak sendiri?”
“Tentang pengorbanan yang kakak bilang tadi. Maaf, kak, jika hanya tentang perjalanan Depok-Lampung yang baru tiga kali Kakak lakukan sudah membuat Kakak pongah, lalu bagaimana jika kelak kita menikah dan membuat kita harus bolak-balik seumur hidup kita?”
Aku menyudahi kalimatku dengan tidak melepaskan tatapan mataku pada Fatih. Semakin banyak kata-kata yang keluar dari mulutku semakin membuatnya tertunduk. Saat kalimatku selesai, ia menghela nafas berat.
“Ini baru anak Abah!”
Sontak aku menoleh ke arah Abah, setengah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja Abah katakan.
Abah tersenyum padaku, tatapan matanya penuh kebanggaan. Sambil mengangguk ia menepuk pundak Ibu,
“Lihatlah, Bu... kita sudah berhasil membesarkan seorang wanita tangguh yang dapat membela harga dirinya sendiri di depan orang lain.”
Ibu mengangguk, sambil tersenyum ia menoleh ke arahku, “Kerja bagus, Naya. Dan untuk kamu, Fatih, “ Ibu mengalihkan tatapan matanya ke arah Fatih, “Maaf kami menolak melanjutkan proses ta’aruf ini.”
__ADS_1