Penjara Cinta

Penjara Cinta
Lima hari


__ADS_3

#20


Setelah obrolan di ruang makan, Hengky memintaku segera kembali ke Kamar dan meninggalkanku sendirian disini.


Ia tidak menjawab perkataanku tadi. Ia hanya diam menghabiskan makanannya dan menarik tanganku kembali ke kamarnya.


Aku yang terus berteriak ingin pulang tidak Ia hiraukan. Ia sibuk mempertahankan ego, harga diri dan pendapat satu pihak yang selalu Ia yakini.


Sampai saat ini, ia tidak berfikir apa yang ia lakukan tadi malam adalah sebuah kesalahan. Menurutnya itu adalah sesuatu yang memang harus ia lakukan. Bukan karena ingin, tapi ia harus melakukan itu.


Aku sudah lelah dengan fikiran dan tubuhku. Aku lelah menata kembali hati dan fikiranku agar tetap waras.


Tubuhku terasa kaku dan ngilu.


Ah, lengkap sudah segalanya.


Naya, seorang wanita yang selalu menyombongkan diri bisa menjaga dirinya sendiri bisa ditiduri laki-laki hingga dua kali!


Aku tertawa pelan.


Apa-apaan ini? Sungguh bukan ini yang kuinginkan terjadi!


Tiba-tiba ingatanku kembali kepada perkataan Andy tempo hari,


“Saat kamu menceritakannya semuanya pada Hengky, Pada saat itulah kamu benar-benar tahu apakah dia benar-benar mencintaimu atau hanya sedang bermain-main denganmu...”


Dan setelah kejadian tadi malam, ini amat sangat cukup menjadi bukti bahwa Hengky tidak benar-benar mencintaiku.


Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupku kedepannya.


Mungkin aku tidak akan menikah, karena jika Hengky, seorang laki-laki sempurna di mataku, tidak menerima dengan baik keadaanku, lalu bagaimana dengan yang lain?


Aku menghela nafas lalu berusaha memejamkan mata. Mataku memang terpejam tapi fikiranku terus membunuh harga diri dan kepercayaanku.


Naya Bodoh!


Naya Murahan!


Naya Wanita Gampangan!


Ya Tuhan... bagaimana aku sanggup menjalani hari jika cobaanMu seberat ini?


Hampir lewat jam empat sore saat Hengky membuka pintu lalu kembali menemuiku. Wajahnya terlihat kacau, rambutnya terlihat acak-acakan.


Aku yang memang tidak tertidur segera bangun dan berjalan menghampirinya.


Ber jam-jam ditinggalkan olehnya membuatku tidak menemui solusi apapun kecuali pergi sesegera mungkin dari sini.


Pergi dari rumahnya dan pergi dari kehidupannya.


"Gimana keadaan diluar sana? Apakah dunia tetap sama?” Tanyaku sambil mengambil tangannya lalu menariknya duduk di sofa.


"Apa kita sudah bisa bicara dengan baik sekarang?” Suara Hengky parau.


Refleks aku melihat ke arah matanya dan menyadari bahwa matanya terlihat sembab. Entah sudah berapa lama ia menangis sampai mata sipitnya terlihat semakin kecil.


Aku mengangguk lalu mencoba tersenyum.

__ADS_1


Hengky memegang tanganku lalu di letakkannya di pipinya, ia tertunduk lama, punggungnya terlihat naik turun, tanganku terasa basah oleh air matanya.


“Hengky?”


Aku mengangkat wajahnya, mencoba tersenyum sambil berusaha membuat kontak mata dengannya.


“Aku salah, Naya... Entah setan apa yang merasukiku tadi malam... Ya Tuhan... maaf, Naya... Maafin aku...”


Hengky terisak, kata-katanya terdengar tersendat karena tangisannya.


Aku menghela nafas, akhirnya... akhirnya ia menyadari kesalahannya.


“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan untukku?


Kenyataan bahwa kamu, laki-laki yang paling ku percaya, tega menyakitiku dengan cara yang lebih menyiksa daripada yang sebelumnya..


Kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu yang melakukannya?


Jika kamu saja bisa melakukannya, lalu bagaimana caranya aku dapat melanjutkan hidupku?”


Tangis Hengky makin keras.


Ia merubah posisinya, duduk di bawah ku, memegang kakiku, menelengkupkan wajahnya di dekat telapak kakiku,


“Maafin aku, Naya... Aku mohon... maafin akuu...”


Melihatnya tertunduk memohon dibawah kakiku membuat luka di hati makin terasa perih,


Maaf katanya?


Setelah tadi malam aku berteriak memohon penuh harap belas kasihan tidak ia perdulikan?


“Enggak, Naya. Aku bakal terus seperti ini sampai kamu menerima permintaan maafku”


Aku menarik pundaknya, memaksanya untuk bangun, “Aku gak bisa bicara kalau kamu seperti ini”


Hengky menurut. Ia bangun lalu kembali duduk di sampingku.


“Apa solusi yang bisa kamu tawarkan padaku saat ini?” tanyaku setelah memastikan Hengky sudah lebih tenang.


Tidak ada jawaban. Hengky makin tertunduk, suara tangisnya makin terdengar.


“Aku mau kita putus, Ky”


Dengan cepat Hengky mengangkat wajahnya, “Enggak, Naya. Bukan itu solusinya...”


"Setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku gak yakin bisa melanjutkan hari dengan terus menggenggam tanganmu”


“Aku yang akan meyakinkanmu kembali. Aku tahu ini sulit untukmu, tapi...kasih aku kesempatan...”


“Aku sudah memberimu kesempatan tadi malam, tapi kamu menolak kesempatan itu”


Hengky menghela nafas. Ia terdiam.


“Tidak ada lagi harapan untuk kita, Ky. Kamu juga pasti sangat tahu gimana perasaanku saat ini. Aku gak bisa dan aku gak mau meneruskan semua kepalsuan ini”


“Tapi semua yang aku beri itu nyata, Naya! Aku gak pernah memalsukan senyum, perhatian bahkan cinta untukmu”

__ADS_1


“Ya, kamu benar. Dan seharusnya juga kamu gak perlu melakukan hal serendah itu tadi malam, bukan?”


“Tidak bisakah kita berhenti membahas kejadian tadi malam, Naya?” Hengky memelas.


Aku tertawa sinis,


“Bagaimana mungkin aku bisa lupa, Hengky! Kejadian itu baru tadi malam! Bahkan sampai waktu berlalu, sampai kamu sudah melupakan semua itu, ingatan tentang kejadian tadi malam akan terus melekat dalam memori otakku! Sampai aku mati, semuanya akan aku ingat sampai aku mati!


Apa sampai saat ini kamu belum juga mengerti?


Kejadian sama Andy yang sudah 8 bulan berlalu, sampai sekarang masih meninggalkan trauma yang luar biasaa, Ky!


Kamu fikir aku menikmati memori itu?! Kamu fikir aku sampai menggila bulan itu karena aku menikmati memori itu?! Kamu juga berfikir aku serendah itu??!


Dan sekarang, kamu, laki-laki yang aku percaya, yang mulai membuatku berfikir positif akan dunia, tega melakukan hal yang sama?! Bahkan caramu, kamu bahkan lebih menyakitiku daripada Andy!”


Dengan penuh emosi aku berdiri lalu berjalan ke arah pintu,


“Antarkan aku pulang sekarang.”


Hengky menggelengkan kepalanya, “Enggak, Naya. Kamu gak akan pergi kemana-mana”


“Apa?!”


"Aku kasih kamu waktu lima hari untuk bisa menenangkan diri lalu kembali padaku”


Aku membelalakkan mata tanda tidak percaya atas apa yang ku dengar, “Kamu gila, Hengky?! Lima hari? Dan kamu meminta aku selama lima hari itu berada disini?!”


“Tidak sulit, bukan?” Hengky tersenyum lalu berjalan menghampiriku.


"Kamu gilaa! Aku punya kehidupanku sendiri! Aku punya orang tua yang harus aku kabari. Mereka akan mencariku jika aku tidak mengangkat telfon mereka lebih dari setengah hari”


“Ah, begitu? Baguslah... memang itu yang aku inginkan”


Aku mendorong tubuh Hengky yang sudah mendekat ke arahku, “Kamu gak tahu gimana orang tua-ku! Mereka akan menyiksaku habis-habisan kalau tahu aku ada disini!”


“Hey, kita akan menikah. Masalah selesai, bukan? Aku amat sangat mampu mencukupi seluruh kebutuhanmu, Naya! Kamu adalah kehidupanku, aku gak bisa begitu saja menyaksikan kamu berjalan pergi dari hidupku!”


"AKU GAK MAU NIKAH SAMA KAMU!!”


Hengky tersenyum. Ia mengangkat tubuhku lalu membawaku ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhku, “Lalu siapa yang akan mau menikahimu jika bukan aku?”


“Apa?!”


Suara tawa terdengar keras dari mulutnya. Dengan santai ia bangun lalu menyalakan TV,


“Kamu bisa pilih film apapun se-sukamu. Aku akan pergi sebentar”


Tanpa memperdulikan teriakanku, Hengky terus berjalan ke arah pintu lalu mengunci pintu dari luar. Meninggalkanku bersama kewarasan yang hampir menghilang.


Apa-apaan ini? Apa yang baru saja terjadi?


Aku masih ingat dengan jelas, tadi ia bersimpuh memohon maaf di kaki ku, menangis memohon permintaan maafku, tapi dalam sekejap berubah menjadi sosok laki-laki kasar dan tanpa emosi?


Bagaimana mungkin seorang manusia normal bisa berganti kepribadian secepat itu?


Aku segera bangun dari tempat tidurku. Setidaknya sebelum aku pergi, aku harus mencari tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang membuatnya seperti ini.

__ADS_1


...-----------------------------------------------------------------------------...


__ADS_2