
52
Saat Gilang dibawa paksa oleh dua orang laki-laki tegap, aku masih terdiam kaku di tempatku. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ada manusia sebejat dan sekejam itu. Berlindung dibalik kepolosan, menyalahkan dunia di balik segala kejahatannya lalu dengan bangganya memanfaatkan rasa iba seseorang untuk mengambil keuntungan darinya.
Tidak ada manusia yang bisa dipercaya. Ini makin membuatku yakin bahwa penampilan dan perkataan yang keluar dari mulut seseorang tidak bisa menjadi tolak ukur kepribadian.
Apa yang kurang dari Gilang? Ia terlihat sebagai laki-laki baik, pendiam, dan cenderung ‘jinak’. Ia tidak pernah membalas sindiran, ejekan atau bahkan candaan dari teman-teman lain. Ia hanya terlihat sibuk dengan dunianya.
Siapa yang menyangka ternyata dibaliknya ia menyimpan kepribadian yang sangat menakutkan, pola pikir yang kacau dan sudut mata yang sibuk mencela sambil mencari mangsa?
Bagaimana bisa ia menjebak seorang wanita dengan berpura-pura sakit, berpura-pura mengambil sesuatu di kosannya, berpura-pura akan membantu mengerjakan tugas kuliah yang sulit dan berbagai macam alasan lain untuk mengajak seorang wanita ke kosan, merekam kejadian pelecehan lalu menjadikannya sebagai alat untuk mengikat leher seorang wanita?
Yang membuatku makin bergidik, ia tidak menyadari itu sebagai sebuah kesalahan. Dengan sombongnya ia bahkan menyalahkan korbannya. Menuduh mereka sebagai alasan kejahatan yang telah berkali-kali ia lakukan.
Mungkin inilah alasan mengapa Hengky memintaku untuk tetap di ruangan ini tadi. Karena jika aku ada diruangan yang sama, aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan.
Wanita tercipta hanya sebagai objek katanya? Hah?!
Apakah ia tidak berpikir bahwa ia terlahir dari rahim seorang wanita? Tidak menyadari bahwa ia lahir menangis tanpa daya lalu diberi sumber penghidupan pertama dari tubuh seorang wanita?
Argh! Rasanya emosiku sudah di ubun-ubun!
Saat Hengky membua pintu dan menghampiriku, aku hanya menyapanya pelan sambil tersenyum tipis. Kebingungan mencari kata yang tepat setelah hati dan pikiranku ku di bombardir seperti itu.
“Kamu mau menemui Shinta?” Hengky menunjuk keluar pintu.
“Dia masih disini?”
Hengky menjawab kalimatku dengan anggukan kecil, “Setidaknya sebelum ia dijemput oleh polisi.”
“Polisi?”
Ah, sepertinya kinerja otak ku belum bekerja dengan baik. Aku terus saja bertanya hal yang tidak penting pada Hengky.
“Sudah saatnya Shinta belajar bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan..”
Hengky menjulurkan tangannya, mengajakku keluar.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan, ku ulangi sampai tiga kali hingga perasaanku mulai tenang kembali. Aku tidak ingin memperlihatkan emosi dan kemarahanku di depan Shinta.
Sambil tersenyum aku menerima uluran tangan Hengky.
Shinta masih duduk di sofa ruang tunggu saat aku dan Hengky muncul. Pandangan matanya mengarah ke tangan kami yang saling menggenggam, ia tersenyum getir sambil menghela nafas panjang,
“Hai, Naya,” sapanya pelan.
Aku berusaha tersenyum, “Apa kabar, Ta?”
Shinta tersenyum kecut, “As you see...” ia menunduk menatap tubuhnya sendiri lalu kembali tersenyum, “Menurutmu bagaimana?”
Aku melepaskan genggaman tangan Hengky lalu menoleh ke arahnya, “Sayang, aku sama Shinta mau ngobrol sebentar, boleh?”
Hengky mengerutkan kening, “Kamu yakin?”
Aku menjawab pertanyaan dengan anggukan dan senyuman kecil. Ia nampak ragu meninggalkanku namun kudorong pinggangnya pelan, memaksanya untuk pergi.
“Okey, aku di ruangan Om Hari ya.”
Aku mengibaskan tangan, memintanya segera pergi.
“Sama seperti mu dulu,” jawabku singkat.
Shinta kembali tersenyum. Senyuman penuh kesedihan. Lengkungan bibirnya datar dan lebar tanpa disertai dengan kontak mata. Senyumannya sangat mewakili perasaanya saat ini, hancur dan rapuh.
“Aku gak pernah tahu kamu dekat dengan Gilang.”
“Aku malu, Naya.” Shinta menundukkan kepalanya, “Seharusnya aku tidak boleh seperti itu padanya, bukan?”
Aku menggigit bibir. Melihatnya sangat patah hati membuatku sangat cemburu. Perkataannya waktu itu sepertinya benar, persahabatan kami tidak berarti baginya. Ia sama sekali tidak terlihat sedih saat mengkhianati dan menyakitiku.
Namun lihatlah sekarang, ia menangis hingga matanya sembab, rambutnya terlihat kacau dan pandangan matanya kosong.
“Bagiku, pengkhianatan adalah hal yang lebih buruk daripada kematian. Kamu tahu, aku bisa memahami kematian, tapi aku tidak bisa membayangkan pengkhianatan. Karena, agar ada pengkhianatan, harus ada kepercayaan terlebih dahulu. Itulah sebabnya, lebih mudah memaafkan musuh daripada memaafkan teman. Rasanya pun lebih sakit, bukan?”
Shinta menghela nafas panjang. Ia menggelengkan kepalanya lemah, “Bagaimana kamu bisa bertahan setelah apa yang kulakukan padamu, Naya?”
__ADS_1
Aku tersenyum sambil merebahkan kepalaku di punggung sofa, “Terkadang tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali bertahan.”
“Kamu tidak marah padaku?”
“Banyak kerugian yang terjadi akibat ulah orang yang tidak bisa mengontrol diri. Apapun yang dimulai dari kemarahan akan berakhir memalukan. Bukankah kamu sudah merasakannya?”
Suara tawa lemah keluar dari mulut Shinta, ia ikut merebahkan kepalanya di punggung sofa lalu menoleh ke arahku, “Bagaimana kabar Abah dan Ibu?”
“Ah, Abah titip salam untukmu.”
“Bagaimana reaksi mereka saat membaca pesan dariku?”
Aku menyembunyikan keterkejutanku. Ternyata bukan Gilang yang meneror Abah tetapi Shinta.
Amarahku terpancing, aku melirik Hengky yang sedang melihatku dari jauh. Saat pandangan kami bertemu, ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
Hal itu sukses membuat amarahku reda.
Shinta benar, aku beruntung. Untuk apa aku marah jika aku sudah menang telak darinya?
Sambil tersenyum aku menoleh ke arah Shinta, “Kamu tahu, pesan dari mu justru membuat segala ketakutanku lenyap. Aku tidak lagi takut suatu saat Abah dan Ibu mendengar kabar miring tentang ku. Karena sekarang aku sudah tahu, apapun yang orang lain katakan, mereka akan lebih mempercayaiku.
Oh ya, bahkan karena ulahmu, Abah mengantarkan ku ke kosan dan bertemu dengan Hengky.”
Shinta tersenyum tipis, ia menunduk, “Apapun yang ku lakukan justru malah membuatmu makin dicintai oleh semua orang ya?”
“Bukankah tadi aku sudah bilang, tindakan apapun yang dilatar belakangi kemarahan maka akan berakhir memalukan.”
Suara tawa lemah terdengar dari mulutnya. Ia kembali menghela nafas panjang, “O ya, Bagaimana reaksi Abah saat bertemu Hengky?”
“Bagus. Hengky malah diminta melamar saat kami sudah siap untuk menikah.”
Aku sengaja memelintir cerita. Namun tidak sepenuhnya perkataanku adalah dusta, bukan? Abah memang meminta Hengky datang saat kami benar-benar siap. Meskipun kata Abah, ia belum tentu menerima Hengky.
“Aku iri padamu, Naya. Kamu punya banyak hal yang gak aku punya.”
“Kamu tahu, musuh utama persahabatan adalah iri hati dan mementingkan diri sendiri. Kamu mempunyai lebih dari apa yang ku miliki, Ta. Namun iri hati dan sifat dengki mu menutup semua kelebihan yang kamu punya. Kamu hanya fokus padaku, fokus mengalahkan aku, fokus membuatku hancur.”
__ADS_1
Shinta terdiam. Ia memejamkan mata, membuat air matanya mengalir, “Bagaimana bisa aku mengkhianati sahabat sebaik kamu, Naya?” ucapnya perih.