
72
Dampak positif dari aku yang bersedia menerima ‘tawaran’ Abah dan Ibu adalah mereka tetap membiarkanku memegang handphone. Mereka tidak menarik kembali handphone yang mereka beri. Aku yang sudah tidak sabar menunggu malam tiba, segera menekan nomor yang sudah hafal diluar kepala.
Saat panggilan diangkat, terdengar suara yang sangat kurindukan diluar sana, aku hampir menjerit kegirangan jika tidak sadar bahwa aku masih berada di rumah.
“Naya??” tanya Hengky sambil tertawa, “Ya Tuhan, ini bener Naya?”
“Surprise...!” Jawabku sambil tersenyum lebar.
Suara Hengky terdengar berteriak senang di seberang sana, “Wait, wait… Sebentar ya, Sayang...”
Terdengar sangat berisik di seberang sana. Kulirik jam dinding dikamar, sudah jam sebelas malam, Hengky sedang ada dimana selarut ini?
“Maaf, Sayang... Resto masih ramai, ini aku sudah di ruangan VIP. Kebetulan baru aja keluar pengunjungnya.”
“Masya Allah... usaha kamu lancar, Sayang?” mataku berbinar.
“Alhamdulillah... aku lagi berencana sama Kak Andy mau buka cabang di kota lain. Oh iya, aku belum cerita ya kalau aku membangun bisnis ini berdua sama Kak Andy?”
Aku menggeleng, “Katanya Kak Andy mau nerusin usaha peternakan sapi milik Ayahnya?”
Suara tawa Hengky terdengar keras, “Labil tuh si Andy! Katanya bakal lebih enak kalo bikin usaha sendiri. Jadi waktu aku cerita mau bikin resto sendiri, dia berniat ikut investasi sekaligus mengurus resto bareng aku. Kenalannya yang ada dimana-mana sekaligus kemampuan bersosialisasinya sangat membantuku. Kalau kamu berkunjung kesini, kamu bakalan suka konsep resto aku, Sayang.”
Senyumku semakin melebar. Rasanya senang mendengar bahwa Hengky baik-baik saja disana.
“Eh, kamu kok bisa nelpon aku, Sayang?”
“Mmmh... Abah dan Ibu kembali mengizinkanku memegang handphone.”
“Alhamdulillah... Alhamdulillah, Ya Allah...! Seneng banget aku dengernya, Sayang!” suara tawa Hengky terdengar kembali,”Kalau gitu aku bisa ngirim foto resto aku dong, sayang?”
“Sayang, aku...” hatiku mendadak nyeri, bibirku terasa sangat berat memberitahunya tentang proses ta’aruf yang akan kujalani.
“Iya, Sayang... kenapa?”
“Aku disuruh kenalan dengan laki-laki lain oleh Abah.”
Terdengar hening. Hanya terdengar suara helaan nafas Hengky.
“Sayang...” suaraku terdengar lirih, “Demi Allah aku juga gak mau...”
“Lakukan saja, Sayang.”
“Apa?” keningku berkerut heran, “Kamu serius?”
“Aku yakin, kemanapun kamu pergi, aku adalah tempatmu untuk kembali.”
“Sayang... ini gak segampang...”
“Kamu suka sama dia?” Hengky memotong kalimatku cepat.
__ADS_1
“Ya enggak lah! Gila apa aku...” jawabku cepat. Entah mengapa pertanyaan sesingkat itu dapat menyulut emosiku.
Hengky tertawa pelan, “Itu yang membuatku tenang. Laki-laki manapun yang dikenalkan padamu, jika kamu menutup seluruh akses hati, mereka akan tertolak dengan sendirinya.”
Aku menarik nafas masygul. Sejujurnya aku tidak yakin apakah kedepannya akan berjalan sesuai dengan yang aku mau.
“Sayang, aku cuman pengen kamu tahu, disini aku bukan hanya membangun bisnisku, aku juga mmbangun kepercayaan diriku agar bisa sepadan dengan yang keluarga kamu mau. Mungkin aku tidak bisa menjadi sosok pengganti Abah untuk mengisi ceramah disana dan disini, tapi akan ku pastikan nantinya mereka akan sangat bangga menyebutku sebagai anak mereka.”
“Hengky, itu ada customer yang pengen ketemu sama lu...” suara yang sangat ku kenal terdengar di seberang sana, “Eh, itu siapa? Naya?”
“Berisik lu,ah! Pergi duluu ntar gue kesana!” Hengky menjawab asal sambil tertawa
“Nayaaa! Apa kabaarrr, Adikkuuu??”
Aku tertawa pelan, “Kabar baik, Kak Andy. Kakak apa kabar?”
Suara terdengar menggema, sepertinya mode speaker diubah loudspeaker oleh Hengky, “Gue dijadiin babu terus nih sama pacar kamu, Naya!”
“Eh, sembarangan! Yang ada gue yang kerja rodi 24 jam!” sanggah Hengky tidak terima.
“Yaudah deh, kita berdua sama-sama jadi babu...”
Suara tawaku makin keras. Rasa rindu pada masa-masa dulu semakin membuatku tenggelam.
“Naya, kamu tahu gak, Hengky jadi suka ikut kajian semenjak lost contact sama ka...”
“Sayang, udah dulu ya. Nanti lain kali kita sambung lagi,” sahut Hengky terburu-buru, menghentikan kalimat Andy yang justru membuatku semakin penasaran.
“Love you, Sayang. Assalamualaikum....”
Panggilan telepon dimatikan.
Aku memiringkan sedikit kepalaku, alisku bertaut tanda sedang mencerna segala informasi baru yang baru saja ku dengar. Tapi hebatnya, semua informasi itu semakin membuatku percaya diri.
Kebahagiaan yang sedang kurajut, sudah terlihat dimana garis finish nya.
--------------------------------------------
Ada beberapa tahapan dalam menjalankan proses ta’aruf yang benar. Tahap pertama, secara resmi mendatangi kedua orang tua calon pasangan.
Datang kepada orang tuanya, bukan kepada calon pasangannya. Agama Islam mengajarkan kepada setiap pria untuk langsung mendatangi kedua orang tua wanita. Kemudian, mengutarakan niat baiknya untuk menikah.
Pastikan bahwa niatnya tulus karena Allah semata. Bukan karena paras cantiknya, bukan karena kekayaan atau kecerdasan apalagi karena lekuk tubuhnya.
Dan hari ini adalah hari dimana tahap pertama itu tiba. Hanya selang seminggu dari hari dimana Abah dan Ibu memberitahukanku tentang proses ta’aruf ini.
Dari subuh Ibu sudah sibuk memerintah kedua asisten rumah tangga untuk bebersih seperti hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Rumah di tata dengan baik, pewangi ruangan diganti, bunga segar di ganti. Belum lagi pesanan kue kering dan basah yang dari tadi bergantian datang.
Aku menggelengkan kepala heran, aku bukannya hendak dilamar, kami bahkan tidak secara langsung bertemu. Lagi pula, aku juga berada di ruang tengah, hanya dibiarkan mengintip diam-diam sementara laki-laki itu bertemu dengan Abah dan Ibu.
Saat aku mengajukan pertanyaan pada Ibu, Ibu hanya tersenyum sambil menjawab, “Bukankah kita harus menyambut tamu kita dengan baik. Ini sunnah, bukan?”
__ADS_1
Aku memajukan bibirku tanda tidak setuju. Memuliakan tamu katanya? Hengky waktu itu datang sebagai tamu, diajak secara resmi untuk bergabung langsung oleh Abah dan Ibu tapi malah dipermalukan oleh mereka.
Ah, mengingat kejadian siang itu membuat suasana hatiku memburuk. Aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan. Kuulangi sampai tiga kali hingga aku merasa dadaku tidak terasa sesak lagi.
Saat semua persiapan sudah selesai. Saat aku sudah duduk ditemani kedua asisten rumah tangga yang sedari tadi menggodaku, sebuah mobil taxi bandara terlihat memasuki gerbang depan.
Aku buru-buru berlari ke arah jendela, mengamati seorang laki-laki berwajah khas timur tengah yang keluar dari samping tempat duduk kemudi. Dengan kemeja hitam lengan panjang, celana panjang chinos berwarna krem dan sepatu sneaker berwarna serupa dengan celananya.
Kedua asisten rumah tangga Ibu, yang berusia seumuran denganku menutup mulut mereka sambil memukul pundakku. Mereka tertawa menggodaku sambil berbisik,
“Gila, Mbaak! Ganteng banget!”
Aku tersenyum tipis,
Ini gimana kalau mereka melihat Andy ya?
Ketampanan Fatih masih berada di bawah Andy. Aku bahkan mengira saat baru pertama kali melihat Andy bahwa dia adalah seorang model majalah terkenal atau artis yang belum ku ketahui namanya.
Menurut pengakuan Andy, sudah beberapa kali ia menerima tawaran casting iklan atau syuting FTV tapi selalu di tolaknya. Alasannya? menggelikan. Ia bilang, “Gak jadi artis aja fans aku udah dimana-mana, Nay. Apalagi kalo jadi artis.”
Sungguh aku sangat menyesal mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu padanya dulu.
“Masuk, Naya.” Sahut Abah tegas.
Aku tergagap. Lagi-lagi aku malah melamun. Dengan terburu-buru aku berlari ke ruangan tengah diikuti oleh Gina dan Sari, asisten rumah tangga Ibu.
Saat suara salamnya terdengar memasuki ruang tamu, Gina mencolek pundakku, “Mbak, suaranya aja seksi gitu lo.”
Aku menahan tawa, membulatkan mata, meminta mereka diam.
Sari menyenggol pundak Gina memintanya diam. Gina mengangkat bahu pertanda tidak mengerti mengapa ia dimarahi.
Fatih menyerahkan sebuah parcel besar berisi buah-buahan, ia tersenyum lebar sambil mengatakan, “Rasanya tidak elok jika datang dengan tangan kosong.”
Selanjutnya terdengar obrolan basa-basi hingga akhirnya laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai Fatih Farhat, seorang laki-laki single berusia 28 tahun yang ingin berta’aruf dengan ku.
“Untuk saat ini, Abah dan Ibu menyetujui dan menerima niat baik Nak Fatih. Namun, Ibu dan Abah hanya sebagai perantara kalian. Semua keputusan akhir tetap berada pada Naya.”
Aku mengintip dari celah kecil di balik gorden tirai pembatas ruangan, Fatih nampak tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya, “In syaa Allah Fatih faham, Abah.”
“Nak Fatih bawa biodata atau CV untuk diberikan pada Naya?” tanya Ibu lembut.
Fatih mengangguk. Ia menyerahkan sebuah map berwarna biru, “Semoga kata-kata di dalam CV Fatih bisa dimengerti dan ditanggapi dengan baik oleh Naya...”
“Oh, tenang saja. Anak perempuan Abah sangat cerdas dalam memahami sesuatu,” tanggap Abah sambil tertawa.
“Niat Fatih baik, In syaa Allah tulus karena Allah. Karena Fatih tidak tahu cara mendekati Naya kecuali mendekat kepada Rabbnya.”
Suara tawa Abah dan Ibu terdengar kembali. Tawa berbasa-basi. Abah terlihat mengangguk tanda setuju.
Ibu menyerahkan map biru muda, “dan ini CV nya Naya. Nak Fatih bisa membacanya nanti. Tapi mohon maaf, Naya menolak menyertakan fotonya disitu.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Bu. Segala sesuatu menjadi indah karena awalnya telah terjaga. Peliharalah hati ini, hingga nantinya tiba masanya, kita persembahkan untuk sebuah jiwa yang juga menjaga, lagi di ridhoi olehNya.”