
70
Sesuai dengan yang Abah dan Ibu inginkan, aku ikut membantu Ibu di Yayasan sebagai asisten pribadi beliau. Pekerjaan yang menumpuk sedikit membuatku bisa mengalihkan perasaan rindu yang nyaris membuatku kehilangan akal sehat.
Situasi yang kontras antara dulu yang hampir setiap hari selalu bertemu dan melihat senyum Hengky dan sekarang mengirimkan pesan kepadanya saja tidak bisa, boro-boro bisa melihat atau mendengar suaranya. Itu yang membuatku nyaris nekat pergi dari rumah.
Terdengar sangat kekanakan-kanakan ya? Namun rasa cinta terkadang dapat mematikan logika. Aku sudah selesai memasukkan beberapa baju ke dalam tas hingga menunggu sampai orang di rumah lengah. Saat kesempatan itu tiba, mendadak aku tersadar, cara ini hanya akan membuat hubungan kami makin berantakan.
Aku berteriak sekuat tenaga di balik bantal, menangis hampir seharian hingga kemudian tertidur karena kelelahan. Tiap hari yang ku lalui bagai neraka dunia. No handphone, no friends, no life.
Apakah bisa disebut hidup jika tiap detail yang aku lakukan hanyalah bagai boneka yang digerakkan oleh perkataan Abah dan Ibu?
“Naya, pergi ke Pengajian jam dua siang nanti. Kamu harus hadir biar pikiran kamu kebuka.”
“Naya, kerjakan salinan dokumen yang Abah taruh di atas kasur kamu.”
“Naya, pakai baju ini besok. Ingat, harus gamis dan jilbab yang ini.”
Dan lebih banyak lagi perintah yang tidak ada pilihan selain mengikutinya. Semua baju dan pashmina yang biasa aku pakai di kosan sudah di bakar oleh Ibu di depan mataku. Melihat beberapa pakaian yang dibelikan oleh Hengky ikut dibakar lagi-lagi membuat wajahku basah oleh air mata.
Melelahkan ya mendengar ceritaku? Tiga bulan yang penuh dengan air mata.
Di Yayasan, jumlah seluruh guru dari TK sampai SMA beserta staf yayasan yang hampir dua ratus orang tidak membuatku merasa mempunyai teman. Mereka hanya menyapaku sekedar berbasa-basi, kebanyakan bahkan menundukkan kepala. Sangat terlihat dari gesture mereka bahwa mereka sangat segan padaku.
Padahal, aku ingin mereka menegurku sama seperti mereka menegur staf atau dewan guru yang lain. Aku ingin mempunyai teman, aku ingin ada orang yang selalu bisa mendengar ceritaku, seperti Hengky dulu. Namun perlahan aku sadar, aku tidak akan bisa mendapatkan teman yang dapat menjadikan diriku sebagai Naya Khairunnisa yang aku mau disini.
Dengan reputasi Abah dan Ibu yang nyaris sempurna, aku tidak mungkin merusak nama baik mereka dengan menunjukkan diriku yang sebenarnya.
Tiga bulan berlalu. Tiap detik yang kulewati bagai berjalan di atas jalan yang penuh dengan pecahan kaca. Harus pandai memilah, pandai mengamati sesuatu karena jika tidak, akan berakhir penuh luka.
Hingga tiba-tiba siang ini, saat aku hendak berjalan ke arah tempat parkir, seorang wanita berteriak memanggil namaku. Suara yang kuhapal diluar kepala.
Aku sontak menoleh dan berseru kaget campur bahagia, “Nisaa??!”
Nisa tertawa lebar, ia langsung memelukku erat, “Apa kabaarrr, Nayaa??”
Aku melepaskan pelukan Nisa, “Baik, Alhamdulillah. Ya ampun kok kamu bisa disini??”
__ADS_1
“Kamu tetap cantik pake baju kayak gini, Naya...” Mata Nisa melihatku yang memakai abaya lebar warna navy dan french khimar warna hitam dengan tatapan penuh kekaguman.
“Ih, kamu mah, ditanya apa, dijawab apa...” gerutuku malu.
Ia tertawa lebar namun seketika raut wajahnya mendadak serius, “Naya, We can talk for a while, can’t we?”
“Sekarang? Duh... kayaknya gak bisa, bentar lagi Ibu pulang dan aku gak dibolehin kemana-mana.”
Nisa menghela nafas kecewa, ia mengeluarkan kertas yang dilipat dari balik tasnya, ”Put it in your bag!”
‘Eh, ini apa?”
“Buka kertas ini di kamar, ya. Don’t forget to lock your door!”
Walau belum mengerti apa maksud Nisa, aku mengangguk cepat. Beberapa kali aku sibuk menoleh ke arah pintu gerbang Kantor Yayasan karena khawatir Ibu melihat aku bersama Nisa disini.
“Aku pamit ya, Naya. Aku tahu kalau makin lama aku disini malah gak baik untuk kamu,” Nisa menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya.
Entah mengapa tiba-tiba aku langsung menangis. Rasanya aku rindu sekali kehidupan lamaku. Aku rindu teman-temanku, aku rindu kosanku dan aku sangat merindukan Hengky.
Aku mengangguk pelan. Perkataan Nisa tidak begitu aku dengar karena aku sedang sibuk menahan air mataku mengalir lebih deras.
“Aku pamit ya, Naya Cantik...” Nisa memelukku cepat. Ia buru-buru melepaskan pelukannya saat melihat beberapa staff yayasan keluar dari gerbang.
Saat aku mengamati Nisa yang masuk ke dalam mobil, saat itu rasanya aku ingin berlari mengejar mobil itu. Hengky, aku melihat Hengky berada di balik kemudi.
Ya Tuhan... Ya Tuhan....
Mati-matian aku menahan laju air mata yang berdesakan ingin keluar. Aku berlari ke arah motorku, tanganku gemetar menghidupkan mesin motor lalu terburu-buru memutar pedal gas, berusaha mengejar laju mobil namun seketika aku menarik tuas rem.
Apa yang kulakukan? Apa aku ingin segalanya menjadi lebih kacau?
Buru-buru aku menghapus air mata lalu menarik nafas panjang.
Tarik nafas panjang, lalu hembuskan perlahan.
Ku Ulangi sampai aku merasa dadaku tidak terlalu sesak lagi. Saat Ibu tiba-tiba berdiri di belakangku, saat itu bibirku langsung otomatis mengeluarkan senyum, senyuman yang hanya terukir di bibir.
__ADS_1
“Ibu sudah mau pulang?”
-------------------------
Setelah sampai di rumah, setengah berlari aku masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar. Dengan gemetar tanganku meraih lipatan kertas yang diberikan oleh Nisa tadi.
Saat aku membuka surat itu, dengan bodohnya air mataku kembali keluar. Aku melihat tulisan tangan yang sangat kuhafal.
Hai, Sayang.
Rasanya kita seperti kembali ke zaman seperti Ibu kita dulu ya? Tanpa gadget, tanpa internet, hanya bermodalkan surat.
Namun bukankah dengan cara ini membuat suasana menjadi lebih romantis?
Aku sengaja mengajak Nisa dan Alfian untuk pergi mengantarkan surat ini langsung kepadamu.
Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Ingin rasanya turun dari mobil lalu berlari memelukmu.
Tapi aku tahu, aku tidak mungkin bersikap bodoh dengan hanya mengikuti kemauanku.
Maaf aku hanya bisa melihatmu dari jauh, maaf aku tidak bisa memelukmu disaat kamu membutuhkan aku.
Andai aku tidak memikirkan perasaan Abah dan Ibu, rasanya aku ingin datang ke tempatmu lalu menculikmu kabur dari sana!
Tapi, apa untungnya untuk kita?
Cinta yang kita jaga mati-matian hanya akan berakhir dan dilabeli sebagai bentuk pemberontakan.
Tidak, aku tidak akan melakukan sesuatu yang hanya akan membuatmu tersiksa.
Aku ingin kamu tahu, aku sedang membangun bisnis sendiri. Dulu sudah pernah aku ceritakan bahwa aku ingin mendirikan restoran ku sendiri, bukan?
Aku ingin memulai segalanya dari nol. Aku tidak ingin berada di bawah kendali papi dan mami yang nantinya hanya akan memberi celah untuk mereka mengatur hidup kita.
Tunggu aku ya, sayang. Tolong bersabar.
Aku pasti akan pulang. Kupastikan kamu adalah tempatku pulang.
__ADS_1