Penjara Cinta

Penjara Cinta
Tanpa Baju


__ADS_3

#58


Memasuki hari keempat, akhirnya Hengky memperbolehkan ku pulang ke kosan. Aku menarik nafas lega, syukurlah... akhir-akhir ini terus berada di dekat Hengky bisa membuatku gila. Perasaan aneh yang tiba-tiba datang setiap kali ia tersenyum atau bahkan hanya sekedar duduk di samping ku membuatku merasa menjadi sosok lain, seperti bukan diriku yang aku kenal.


Ternyata butuh hampir satu tahun hingga akhirnya aku mulai merasakan tubuhku tertarik terhadap segala hal tentangnya. Dulu aku merasa biasa saja walau ia mengatupkan kedua tangannya pada pipiku, mendekatkan wajahnya dengan sangat dekat denganku, bahkan pelukannya terasa sangat nyaman. Benar-benar hanya rasa nyaman, bukan merasa aneh seperti ini. Tidak ada desiran yang membuat perutku terasa geli apalagi detak jantung yang tiba-tiba memburu.


Namun kali ini, setiap kali melihat Hengky tersenyum, pandangan mataku selalu beralih pada bibir merahnya. Bahkan lebih parahnya lagi, hanya melihat punggung nya dari belakang, sudah membuatku menelan ludah.


*Ada apa denganku? Mengapa aku merasakan hal seperti ini?   *


Saat bersama Andy dulu, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Aku selalu bisa mengontrol diri, tidak pernah kelepasan memikirkan hal yang tidak seharusnya ku pikirkan. Bahkan saat terakhir kali bersama berdua di kosan sore itu (sore yang sangat kelam), yang kupikirkan hanyalah aku tidak ingin berada disini.


Lalu mengapa perasaan aneh ini tiba-tiba datang?


Apakah karena Hengky yang membuat ku semakin nyaman?


Atau mungkin karena tubuhku yang mulai lancang menginginkan lebih?


Ah, tidak! Aku benar-benar  tidak menginginkan perasaan ini!


Harusnya kejadian malam itu saat ia memaksa mengendalikan dan memasuki diriku dengan paksa sudah sangat cukup sebagai alasan untukku menghentikan pemikiran gila ini.


Tapi, Hengky kan sedang emosi saat itu.Jika melakukannya lagi, ia tidak akan seperti itu...


Refleks aku menampar pipiku sendiri. memaksaku menyadari bahwa rasa sakit di pipi ini tidak akan sebanding dengan siksaan batin dan efek jangka panjang yang akan kami rasakan nantinya.


Aku berusaha bernyanyi dalam hati, berusaha menyibukkan pikiranku sambil memasukkan baju kedalam tas yang sudah disiapkan Hengky. Sama seperti waktu itu, tiga hari disini, tiga hari juga Hengky membeli banyak baju untukku. Setelahnya, ia meminta pertanggung jawabanku untuk membawa seluruh baju-baju ini pulang.

__ADS_1


Tok! Tok!


“Naya, kamu di dalam?”


Tuh kan, perasaan ini lagi. Ayolah... ini hanya suara Hengky. Mengapa hatiku tiba-tiba tidak karuan seperti ini?


“Ada apa?” teriakku dari dalam kamar.


“Bisa kita bicara sebentar? Di kamarku?”


Deg!


Tidak akan ku biarkan. Mengontrol diri di ruang terbuka saja sudah sangat sulit, apalagi berdua di kamar. Aku yakin tubuhku nanti akan mempermalukan dirinya sendiri.


Aku berjalan ke arah pintu, membuka gagang pintu lalu melongokkan wajah. Bibirku hampir terbuka, kata-kata sudah di ujung lidah  namun kemudian mataku terbelalak. Buru buru aku menutup mata dengan panik,


“Ya Tuhaan, kemana bajumu?! Ngapain dateng kesini cuman pake celana training gitu?”


Seketika aku tersadar. Hengky benar, aku bahkan sudah biasa melihatnya berenang hanya memakai celana yang sangat pendek, aku juga biasa melihatnya bertelanjang dada, sebelumnya biasa-biasa saja. Mengapa sekarang aku menjadi seperti ini?


“Pakai bajumu! Mulai sekarang, gak boleh seperti ini lagi di depanku, apalagi di depan orang lain!”


“Yaudah aku pakai baju dulu. Aku tunggu di kamar ya.” Hengky melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah kamar.


“Enggak. Jangan dikamar.”


Langkah kaki Hengky terhenti, “Eh? Kenapa?”

__ADS_1


“P-pokoknya gak boleh di kamar!” seruku belepotan. Dengan menutup mata seperti ini konsentrasi ku malah lebih kacau.


Ah, sial! Aku bahkan mulai membayangkan hal-hal aneh.


“Tapi ini hal yang sangat serius, Naya. Aku gak bisa membicarakannya dengan resiko orang lain mendengar pembicaraan kita.”


“Jangan bohong! Tadi malam kamu cerita masalah itu di dekat kolam renang. Ada banyak resiko orang lain mendengar.”


Hengky tertawa, ia berjalan mendekat ke arahku, “Kamu kenapa sih, Sayang?”


Ia menarik tanganku, memaksaku membuka mata, “Buka dulu ini tangannya kenapa sih?”


“Gak papaaa. Duh, yaudah yaudah! Aku tunggu di rooftop ya. Ingat, pakai dulu baju baru menyusul ku!”


“Kalau aku gak mau?” Hengky tersenyum iseng. Ia malah dengan sengaja semakin mendekat ke arahku.


“J-jangan coba-coba!!” teriakku panik. Refleks aku memajukan tangan sebagai kode untuk memintanya berhenti.


Hengky tertawa keras. Ia mengusap kepalaku lalu tersenyum, “Oke, tunggu aku di rooftop ya. Aku mau mandi dulu sekalian pakai baju.”


Naya, Hengky mau mandi... Hengky mau man...di.


Astagaa! Pikiran gila ini lagi!


Buru-buru aku berjalan melewatinya, menuju ke arah lift menuju lantai lima. Sejujurnya aku menahan sekuat mungkin untuk tidak menoleh ke arah Hengky.


Ah, kenapa sih dia harus bertelanjang dada seperti itu? jika aku saja sampai seperti ini melihatnya lalu bagaimana orang lain?

__ADS_1


Kenapa? Dia mau memamerkan tubuh berototnya? Atau dada bidangnya? Atau bentuk punggungnya yang kokoh?


Tidak perluu, Hengky Widiyanto! Aku sudah hafal diluar kepala!


__ADS_2