
#26
Memasuki minggu ke lima sejak Shinta dirawat di Rumah Sakit Swasta dekat rumahnya. Kondisi nya membaik dengan cepat, menurut Dokter, ia akan bisa pulang hari ini.
Aku mengesampingkan rasa sakit dan kecewaku pada Shinta. Yang kutahu, beberapa hari belakangan ia membutuhkanku dan aku tidak boleh meninggalkannya begitu saja.
Setidaknya, apa yang kulakukan karena Shinta masih berhutang penjelasan kepadaku dan untuk itu aku harus merawatnya dengan baik. Lebih cepat ia keluar dari Rumah Sakit, lebih cepat pula ia akan menjawab segala pertanyaan yang membuatku sesak.
Beruntung, Kepolisian pun sudah mengabari Orang Tua Shinta bahwa Fahri telah berhasil di amankan. Walau Shinta berulang kali menekankan bahwa Ia tidak ingin membawa masalah ini ke pengadilan namun tentu saja Orang Tuanya memaksa.
Orang Tua mana yang tidak sakit hati jika anak semata wayangnya, yang diperlakukan dengan sangat baik oleh orang tuanya namun diperlakukan seperti sampah oleh kekasihnya?
Proses kepulangan Shinta berlangsung cepat. Wajah Shinta pun sudah mulai pulih. Hanya tersisa perban kecil di atas pelipisnya. Namun, ia sudah bisa tertawa, mengobrol dengan keras bahkan merajuk kepada Orang Tuanya.
Shinta beruntung. Orang Tuanya tidak sedikitpun menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Ayahnya bahkan menyalahkan dirinya sendiri mengapa hari itu ia sangat emosi hingga Shinta pergi keluar rumah tanpa sepengetahuan dirinya atau istrinya.
Jika aku yang berada di posisi Shinta. Ah, entahlah... entah apa yang akan Abah dan Ibu katakan padaku. Atau mungkin saja mereka akan mengabaikanku karena menurut mereka hal ini terjadi atas ulahku sendiri.
Dari kecil, efek jera yang di terapkan oleh Abah dan Ibu selalu sama. Jika aku atau adik-adikku tidak menurut, maka terima sendiri konsekuensinya.
Adikku yang terakhir bahkan pernah menahan darah yang keluar dari kepalanya hanya dengan tangannya lalu pergi sendiri ke rumah sakit. Ia kecelakaan motor. Padahal Abah dan Ibu sudah melarangnya pergi dan ia melawan.
Benar saja. Abah dan Ibu hanya datang sekali menengok adik. Sisanya, aku yang mengurus semuanya.
Sungguh luar biasa, bukan?
Dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit, Pihak Kepolisian menelfon Ayah Shinta. Meminta dengan sopan, jika keadaan sudah memungkinkan, mereka meminta kedatangan kami ke Kantor Polisi sebagai saksi.
Aku buru-buru menelfon Hengky, meminta kedatangannya ke Kantor Polisi. Ia menyanggupi bahkan ia bilang nanti akan mengabari Andy agar ikut datang juga sebagai saksi.
Di tengah gelak tawa Orang tua Shinta yang menggoda anaknya, aku hanya tersenyum tipis. Mobil ini rasanya sangat sesak. Entah mengapa aku merasa kesulitan menarik nafas.
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku tapi aku merasa tubuhku sangat aneh. Keringat dingin mengucur deras membasahi baju, tubuhku gemetar dan terasa hawa dingin begitu cepat menjalar melewati aliran darah.
Ya Tuhan... ada apa ini?
Mengapa nafasku rasanya sesak sekali?
Anehnya, tiap kali akan bertemu Andy tanpa Hengky, membuatku selalu merasa seperti ini.
Apakah ini serangan panik?
Apakah trauma yang kurasakan separah ini?
“Gimana kuliah tanpa aku, Nay? Sepi ya?” Shinta menyenggol tanganku, ia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ah, yaa-- Ha--ha---yaa---sepi.”
Hey, apa yang sedang kamu lakukan, Naya? Ber-acting-lah dengan baik!!
Aku buru-buru merubah posisi dudukku, berdehem pelan lalu memasang senyum di bibir,
“Kelas selalu sepi tanpa Shinta. Om Tante tahu? Dia sangat menakutkan saat kelompok lain sedang presentasi di depan kelas. Pertanyaannya selalu menyebalkan. Tidak ada yang meragukan otak encernya, jadi teman-teman berfikir, untuk apa dia bertanya pertanyaan yang sulit untuk dijawab bahkan oleh Dosen kami? Tidak ada yang perlu ia buktikan. Shinta... seorang mahasiswa dengan IPK tertinggi di jurusan kami.
Kamu ingat ekspresi wajah Pak Suyatman saat Ia kesulitan menjawab pertanyaanmu tentang ’Jika Laki-laki dan Perempuan hidup di planet yang terpisah, apa yang akan terjadi pada kedua planet tersebut?’,
__ADS_1
Oh My God... Om dan tante juga harusnya lihat gimana ekspresi Pak Suyatman saat itu...
Dia berusaha menjawab fair tanpa mendukung gender tertentu tapi oh tidaak... dia tidak bisa menyembunyikan luka sakit hatinya pada istrinya yang baru saja berselingkuh bulan lalu, dan dia.. dia...”
Oh, tidak... Aku mengacau! Mengapa aku se-panik ini?
Ibu Shinta memandangi wajahku dengan tatapan yang sulit ku mengerti, Tatapan yang jelas meyakini ada yang tidak beres dengan wajahku beserta senyum kaku yang terukir sempurna di bibirku saat ini.
“Kamu baik-baik saja, Naya?” Ayah Shinta bertanya padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kemudi.
Shinta menggenggam tanganku, ia menatapku lalu berbisik pelan, “I’m so sorry, Naya... I’m sorry..”
Aku refleks melepaskan tangannya, “Hey, I’m okay... Everything's okay...”
Senyum palsu yang terukir sempurna di wajahku dengan tegas menolak perkataan yang baru saja ku katakan.
Siapa yang akan percaya aku baik-baik saja jika melihat wajahku pucat, tanganku saling meremas, kalimat yang diucapkan secara terburu-buru, dan pelipis yang basah oleh keringat.
Ya. I’m not okay. Aku sedang berusaha mengatasi rasa panik dengan caraku. Sayangnya, aku malah mengacau.
“Naya capek, Yah... Mungkin dia butuh istirahat... bisa tolong kecilin suara musiknya, Yah?” Shinta merangkul pundakku lalu di usapnya lembut,
“Istirahat, Naya... Kamu kecapean...”
“Sebentar lagi kita sampai, gimana caranya aku istirahat? Menutup mata sambil menerka sudah sampai dimana atau menutup telinga sambil mata terbuka?”
Sebelum kalimatku selesai, aku segera tersadar, Ah, Sial! Aku mengacau lagi.
...---------------------------------------------------------------...
Hengky sudah sampai terlebih dahulu lalu diikuti oleh Andy. Entah Hengky membawa mobil dengan sangat cepat atau Ayah Shinta yang membawa mobil terlalu lambat.
“Ya Tuhan, I’m okay! Kenapa semua orang harus mengajukan pertanyaan itu?!”
Tidak.. tidak... tidak seharusnya aku marah. Aku.. hey, kenapa aku malah marah?
Aku menatap mata Hengky, meminta pertolongan.
Hengky menghela nafas lalu menarikku ke dalam pelukannya, “Minggu yang berat ya, Nay?”
Aku tidak menjawab. Tubuhku merespon dengan baik pelukan Hengky. Perlahan rasa panik menghilang. Seluruh tubuhku yang terasa kedinginan kembali hangat. Aku bahkan bisa merasakan kembali aliran darah mengalir ke kaki dan tanganku. Hangat.
“Kamu mau disini dulu atau kita ikut masuk ke dalam?”
Aku melepaskan pelukan Hengky, “Kita masuk. Aku pengen melihat wajah Fahri...”
"Kamu bakal kaget melihat Fahri, Nay. Aku kasih tahu sekarang biar kamu gak terlalu kaget...”
“Kenapa? Apa dia lebih tampan daripada kamu, Sayang?”
Hengky tertawa. Ia mengacak jilbabku, “Hey, apa ada laki-laki yang lebih tampan selain aku?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala, “You are the one.”
“Haruss... ! Haruss akuu...!” Hengky tertawa lagi lalu menggenggam tanganku, “Yuk, kita masuk.”
__ADS_1
Sesampainya di dalam, kami disambut suara teriakan dan makian dari Ayah Shinta.
Aku dan Hengky menoleh bersamaan, saling memandang, saling menebak apa yang sedang terjadi di dalam.
“Kurang Ajar!!! Kamu malah menuduh anakku yang menggoda mu??!! Kamu gila, HAH?!!”
Wajah Ayah Shinta memerah. Tubuh kekarnya nampak kesulitan di atasi oleh beberapa orang polisi di samping kami.
Saat aku melihat lebih dekat, mataku membulat tidak percaya.
Astaga... Fahri...
"Ya. Dia seperti kembaran Andy, bukan? Walau ku kui Andy lebih tampan dari dirinya...” Hengky menatapku, ia benar-benar pintar membaca isi fikiranku.
“Tapi... tapi bagaimana bisa semirip itu?”
Hengky tertawa pelan, ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik pelan,
“Orang-orang sering mengira mereka saudara kandung. Fahri anak yatim piatu sejak kecil. Ia sudah lama ikut bekerja dirumah Andy. Karena usia mereka hanya terpaut dua tahun, Andy sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Tapi, sejak lima tahun lalu Andy memutuskan kontak dengan Fahri.”
“Kenapa?”
“Drugs. Sebenarnya ia kecanduan obat sejak SMP. Om Edy bahkan hampir bangkrut karena Andy diam-diam menjual hampir sebagian aset kekayaan untuk mengobati kecanduan dan biaya Fahri yang sering keluar masuk penjara. But, as you see.... dia gak berubah sama sekali.”
Di pojok ruangan, seorang laki-laki yang sangat kurus, dengan wajah yang sebenarnya tampan namun matanya terlihat cekung, bibir pecah-pecah, dan rambut gondrong menatap sayu ke arah kami.
Bibirnya terus tertawa sinis melihat Ayah Shinta yang mati-matian menahan emosinya.
“Katakan pada kami, apa yang sudah kamu lakukan pada Anak Saya?!!” jari telunjuk Ayah Shinta mengarah kepada Fahri. Matanya berkilat marah.
“Apa yang sudah terjadi? Seharusnya Anda tanyakan dulu kepada anak perempuan Anda... apa yang sudah kami lakukan selama ini...”
“Brengsekk!! Anakku tidak akan seperti ini jika tidak dekat denganmu!!!”
"Hey!!! Dia sudah memfitnah Kakak ku!! Anda fikir aku mau dekat dengan anak Anda kalau dia tidak mengejarku seperti dia mengejar Kakakku!! Dia sangat terobsesi kepada Kakak kuu!! Aku... Aku hanya menyelamatkan kakaaakk...!!”
Andy yang sedari tadi tampak menahan emosi segera melompat ke arah Fahri lalu menarik tangannya, “Pak.. tolong kembalikan anak ini ke sel! Dia mengacau! Mungkin dia masih dalam pengaruh obat-obatan.”
“Maaf, tapi saudara Fahri bersih, Pak. Kami sudah melakukan tes tadi malam dan hasilnya bersih. Dia tidak dalam pengaruh obat terlarang.”
Seorang polisi menghampiri Andy. Ia membawa secarik kertas sebagai bukti hasil tes.
Fahri tertawa keras, Ia mengumpat lalu secara tiba-tiba meninju wajah Andy dengan keras.
Dipukul tanpa persiapan membuat Andy terhuyung kebelakang. Ia memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
“KENAPA KAKAK HARUS MERELAKAN NAMA BAIK KAKAK HANCUR HANYA UNTUK WANITA SIALAN ITU, KAAAKK?!!”
Andy terdiam. Ia bangkit lalu mengusap darah dari bibirnya. Saat akan mendekat ke arah Fahri, langkahnya tiba-tiba terhenti, matanya seolah mencari seseorang,
“Kemana Shinta??”
Aku dan semua orang di ruangan refleks saling menoleh. Dan kami baru menyadari, Shinta menghilang.
Sementara Ayah dan Ibu Shinta panik mencari, Suara tawa Fahri memekakkan telinga.
__ADS_1
“I TOLD YOU, BROTHER! I TOLD YOU! BUT YOU NEVER LISTEN TO ME!”
...--------------------------------------------------------...