Penjara Cinta

Penjara Cinta
Menunggu


__ADS_3

81


Tanpa menunggu lama, malam harinya aku langsung menelpon Hengky. Ia yang saat itu sedang berada di luar kota untuk mengurus pembukaan cabang keenam restoran miliknya nampak tidak begitu jelas mendengar perkataanku.


Aku yang awalnya sudah sangat bersemangat tiba-tiba menciut. Kalimat kejutan yang sudah di ujung mulut tidak sanggup ku keluarkan.


“Maaf yaa, Sayang. Lagi sibuk banget disini. Nanti aku telpon lagi ya...”


Mau gimana lagi? Aku tidak mungkin marah-marah padanya padahal ini terkait dengan pekerjaannya.


Obrolan kami berakhir dengan ending yang tidak kubayangkan sebelumnya. Aku bahkan sudah jauh membayangkan bahwa akhirnya aku bisa bertemu Hengky setelah lebih dari tiga tahun tidak bertemu dengannya.


Namun, tentu saja aku tidak punya kuasa untuk mengatur segala hal sesuai dengan yang ku mau, bukan?


Hengky bilang akan menelponku kembali, hingga dua bulan berlalu, tidak ada kabar darinya. Aku yang terlanjur kesal merasa gengsi menghubunginya lebih dulu.


Bukankah dia bilang bahwa dia yang akan menghubungiku?


Susah payah aku melupakan mimpi yang sudah terlalu jauh ku bayangkan ketika melihat lampu hijau yang Abah nyalakan. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana konsep pernikahan kami nanti. Ya, nampak memalukan, bukan? Aku sangat berharap hubungan kami akan sampai pada jenjang final, yaitu pernikahan.


Perlahan aku mulai berfikir, apakah mungkin hanya aku yang membangun mimpi ini?


Jika Hengky mungkin berpikir aku akan merepotkannya seperti dulu, aku ingin sekali dengan bangga memberitahukan bahwa aku sudah jauh lebih mandiri sekarang.


Aku sudah membeli mobil pribadi sendiri, yang walau tentu saja tidak semewah miliknya namun sukses membuat Abah dan Ibu bangga. Aku juga sudah mulai menabung untuk terus membangun brand abaya ku menjadi lebih besar lagi.


Mimpiku bukan hanya tentang pernikahan dengannya, ada mimpi melihat senyuman Abah dan Ibu yang berhasil ku berangkatkan haji disana, ada  mimpi brand abaya ku bisa terkenal bahkan pada tingkat internasional, ada mimpi aku mampu menyekolahkan adik-adikku sampai di tingkat setinggi apapun yang mereka mau.


Mimpiku bukan hanya tentang kamu, Hengky! Jadi jangan terlalu berbangga diri.


Lain hari aku dengan jumawa menyebutkan kalimat itu, di hari lainnya aku justru mendapati ide ku mentok, suasana hati kacau dan list pekerjaan terbengkalai karena melihat handphone yang tidak kunjung menampilkan notifikasi pesan atau telpon darinya.


Berharap pada manusia menyakitkan ya? Namun jangan lupa, rasa sakit ini kita yang menciptakannya sendiri. Bukan dia yang memberi harapan, tapi diri kita sendiri yang menciptakan harapan itu hingga sakit dan kecewa.

__ADS_1


Harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati.


Hingga delapan bulan berlalu, aku yang  hampir bangkit dari rasa kecewa hingga kemudian melihat postingan salah satu temanku yang menjadi selebgram, mereka menyebutkan bahwa Resto White Cat akan segera membuka cabang di Kota ku.


White Cat Resto, restoran ala eropa milik Hengky. Resto yang akhir-akhir ini sering tampil di beranda media sosialku karena sering menjadi destinasi kuliner anak muda sekarang.


Rasanya sangat sedih ketika melihat orang asing sudah berkunjung ke resto miliknya sedangkan aku hanya melihatnya lewat postingan orang lain.


Resto miliknya dengan sentuhan desain resto yang ala Hengky banget.


Nuansa putih, klasik namun mewah. Yang membuatnya ramai dikunjungi adalah walau dengan menu ala eropa namun harganya bisa dijangkau oleh dompet mahasiswa atau anak sekolahan biasa.


Uniknya, sesuai dengan namanya, resto ini dipenuhi dengan kucing putih berjenis persia yang sangat menggemaskan. Entah bagaimana mereka melatihnya, yang jelas kucing-kucing itu terlihat sangat manja setiap kali para pengunjung mendekati mereka.


Setiap malam minggu selalu menghadirkan live musik. Bahkan saking ramainya, kita harus membooking seat dulu untuk bisa mengunjungi resto miliknya.


Aku tidak pernah melihat Hengky di postingan akun resmi White Cat Resto. Selalu wajah Andy yang muncul. Saat grand opening, selalu wajah Andy yang tertangkap kamera atau yang menggunting pita tanda pembukaan resmi cabang terbaru.


Padahal aku sangat merindukannya, aku ingin sekali melihat fotonya.


Pandanganku kembali beralih pada keterangan di postingan akun resmi White Cat Resto. Besok adalah pembukaannya. Kulihat alamat lengkap resto, mataku langsung berbinar saat tahu bahwa jaraknya sangat dekat dengan rumahku.


Kilirik jam dinding, ah, baru pukul delapan malam.


Aku menepuk pundak Resti, admin pertama brand abaya ku, “Mbak keluar sebentar ya.”


“Mbaa... sebentar lagi kita live!” wajah Resti tampak khawatir. Dari awal ia memang tidak pernah mau tampil di kamera.


“Latihan live sendiri dongg tanpa Mbak Naya, Resti!” Gunawan, karyawan bagian pengemasan yang sedang packing paket berteriak sambil cekikikan meledek Resti.


“Bisa aku tinggal sebentar kan ya?” tanyaku berbasa-basi.


“Iya, Mbak. Amaaan..!” Anita, admin kedua yang lebih supel dan ceria memberi angin segar untukku.

__ADS_1


“Gak lama, kok!” teriakku sambil keluar pintu.


Okey, hanya berjarak 1 km dari rumah, jika naik motor hanya perlu waktu dua menit. Sebaiknya aku naik motor saja.


Tidak sulit mencari bangunan white cat resto yang akan secara resmi buka besok pagi. Bangunannya yang nampak mencolok membuatku sangat mudah menemukan lokasinya.


Saat hampir sampai, aku segera menghentikan laju motor. Namun seketika aku kebingungan, apakah aku harus masuk kedalam? Atau hanya mengamati dari sini saja?


Jika masuk ke dalam, apa yang harus ku katakan? Jika Andy dan Hengky ada didalam, mungkin aku tidak akan terlalu malu. Namun jika mereka tidak ada disini, harus ditaruh dimana wajahku nanti?


Aku memutuskan untuk pulang. Entah apa yang merasukiku hingga aku bersikap nekat seperti ini.


Namun saat aku hendak menyalakan motor, seorang laki-laki yang sangat ku kenal keluar dari mobil sedan hitam new mercy keluaran terbaru.


Mataku terbelalak. Entah senang atau terkejut. I-itu... itu Hengky!


Buru-buru aku memakai masker wajah dan memakai kaca mata hitam. Tidak, aku tidak ingin dia melihatku yang sedang nampak sangat bodoh saat ini.


Lihatlah ia sekarang, tidak banyak yang berubah. Ia tetap tampan dan mempesona. Hanya saja sekilas tadi aku melihat janggut tipis di dagunya dan wajahnya yang nampak sangat teduh. Kharismanya luar biasa.


Ia tersenyum ramah sambil merangkul beberapa orang yang menyambutnya. Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan namun tentu saja mereka sedang membicarakan terkait grand opening besok pagi.


Ah,aku iri pada mereka. Aku juga ingin sedekat itu dengan Hengky.


Tidak, Naya! Istighfar! Apa yang sedang kamu pikirkan?


Aku buru-buru menggelengkan kepala sambil beristighfar pelan. Ku putar kunci lalu menekan tombol start untuk menyalakan motor. Sebaiknya aku pulang sekarang.


Saat akan menarik pedal gas, suara laki-laki yang tidak asing di telingaku terdengar dari arah belakang,


“Naya??!”


Aku buru-buru menoleh kebelakang. Pupil mataku membesar saat melihat Andy yang sedang tersenyum lebar sambil menuding jari telunjuknya ke arahku,

__ADS_1


“Naya?? Masya Allah… Apa kabaarr, dek??”


__ADS_2