Penjara Cinta

Penjara Cinta
Aku Sang Penyelamat


__ADS_3

#24


Saat beberapa mobil Polisi berdatangan dan suara sirene mobil ambulance yang membawa Shinta perlahan menghilang, aku masih terdiam kaku di samping mobil Hengky.


Tubuhku masih gemetar. Air mata semakin deras keluar.


"Shinta baik-baik saja, Naya... kamu dengar kan tadi dia masih berusaha tersenyum saat kamu memanggil namanya?”


“Seharusnya tadi malam kita datang, Hengky... seharusnya kita datang malam itu juga...”


Hengky memelukku erat, ia mengusap kepalaku.


"Kamu lihat tubuhnya tadi? Dia babak belur, Hengky... Aku hampir tidak mengenali wajahnya... Ya Tuhan... Ya Tuhan... Dia juga berdarah, Hengky... bajunya penuh dengan darah...”


Aku kesusahan menyelesaikan kalimatku. Dengan tangisan yang tidak mau berhenti dan juga bibir yang gemetar membuat perasaanku makin tidak karuan.


Shinta... Ya Tuhan.... Bagaimana bisa manusia sekejam ituu kepadamu?


Sudah berapa hari dia disini?


Pantas saja terakhir kali dia menghubungiku tiga hari yang lalu. Pantas saja dia tidak mencari keberadaanku, dia... dia sedang terjebak disini...


“Permisi, Maaf Bapak dan Ibu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan, bisa minta waktunya sebentar?” Seorang Polisi bertubuh tidak terlalu tinggi dan sedikit gemuk tersenyum ramah kepada kami.


“Pak, maaf... ini Pacar saya sedang sangat terguncang saat ini. Bisa kita bicara nanti?” Hengky membalas senyuman Polisi itu, senyuman yang sangat dipaksakan.


“Maaf, tapi...”


"Kami yang menelfon Bapak kesini, kami yang melaporkan kejadian disini. Tidak mungkin kami akan kabur melarikan diri!” Hengky memotong kalimat Polisi itu dengan cepat. Ia terlihat mulai emosi.


“Bapak... kami hanya menjalankan sesuai dengan prosedur yang ada. Semua orang tanpa terkecuali bisa menjadi tersangka.”


“Apa??!”


Hengky yang mulai melangkah maju dengan sorot mata penuh emosi segera ditahan oleh Andy.


Aku melihatnya berlari kecil menghampiri kami. Tentu saja semua orang akan menoleh ke arah kami jika suara Hengky sekeras itu.


“Selamat malam, Bapak... Wah, Pak Andri? Luar biasaaa... bagaimana kabarnya, Pak?” Andy menjabat tangan Polisi itu sambil tersenyum lebar.


Polisi itu nampak menyipitkan matanya, mencoba menerka siapa laki-laki didepannya.


“Andy, Paak... Andy Nugroho...!” Andy mencoba membantu Polisi itu menyusun puzzle ingatannya.


Seketika Polisi itu tertawa, ia menepuk pundak Andy, “Ya Tuhan,,, Andy anaknya Pak Edy Sebastian Nugroho?? Astagaa.. kamu sudah besar sekalii... makin gagah kamu sekarang...!”


Andy tertawa, ia mengangguk beberapa kali menyimak perkataan Polisi itu.


Sambil mempertahankan intonasi tawanya ia berjalan ke arah Hengky dan merangkul pundaknya,


“Ini adik saya, Pak! Namanya Hengky. Anaknya Pak Edward Kusuma Widiyanto... Dulu pernah saya ajak kesini sewaktu dia masih segini...” Andy menaruh tangannya di sebelah pinggang, memberikan petunjuk tinggi badan Hengky saat itu.


Hengky yang merasa sangat risih dirangkul oleh Andy segera menurunkan tangan Andy dari pundaknya. Ia berusaha tersenyum sekedar berbasa-basi kepala polisi di depannya. Sepertinya hatinya masih kesal kepada Polisi itu.


“Ya Tuhaan... anaknya pak Edward Kusuma?? Ooh yaa... tentu saja saya tahu. Ah, Maaf.. maaf... semakin tua, saya semakin sulit mengenali orang akhir-akhir ini...!” Polisi itu tertawa lalu menepuk ramah pundak Hengky.


“Korban adalah sahabatnya adik saya, Pak. Mereka sangat dekat. Jadi wajar kalau saat ini dia sangat terkejut. Bisa minta tolong kasih adik saya waktu sebentar untuk menenangkan diri, Pak? Sebagai gantinya, Bapak bisa bertanya pada saya, saya juga ada di lokasi”

__ADS_1


“Ooh... tentu... tentu... Sebentar ya...”


Polisi itu nampak memanggil kedua rekannya. Tidak lama kedua rekannya datang lalu membawa tiga botol air mineral.


Ia menyerahkan botol mineral itu pada kami sambil menunjukkan ekspresi wajah prihatin,


“Silahkan diminum dulu... kalian pasti sangat terkejut...”


Hengky hampir tertawa melihat perubahan cara Polisi memperlakukan kami, namun buru-buru di senggol oleh Andy.


Sambil melangkah pergi mengikuti Polisi itu, Andy menoleh ke arahku,


“Emosi Pacarmu itu... dari dulu tidak pernah berubah. Selalu saja meledak-ledak...”


...----------------------------------------------------------------------------...


“Naya... Bangun, Sayang...”


Aku mengerjapkan mata. Sinar matahari terasa sangat silau menyambut mataku yang masih belum sepenuhnya terbuka. Ah, rasanya badanku terasa sakit semua. Tidur di dalam mobil bukan pilihan yang bagus tapi saat ini aku tidak punya pilihan lain.


“Gimana Shinta?” suaraku masih terdengar serak. Aku berusaha tersenyum ke arah Hengky.


Ia membalas senyumanku sambil mengusap kepalaku, “Kasian pacar aku tidur di mobil... Sakit ya badannya? Tadi aku ajak nginep di hotel kamu gak mau...” Alih-alih menjawab pertanyaan, Hengky malah asyik memandangi wajahku.


“Enak enak aja sih tidur di mobil, buktinya aku tidur nyenyak...”


“Jangan bilang kamu gak mau ke hotel cuman karena takut aku apa-apain...”


“Eh? Apa? Enggak kok...” Aku menjawab belepotan.


Aku menahan tawa, mengalihkan pandanganku dari wajahnya, menyembunyikan wajahku yang memerah.


“Aku kan sudah janji sama kamu. Kamu aman sama aku, Naya...” Hengky meraih tubuhku kedalam pelukannya.


“Maaf...” Aku sengaja menurunkan intonasi suaraku. Rasanya sangat aneh meminta maaf padahal aku tidak tahu apa kesalahanku.


“Kamu gak salah apa-apa, Sayang...”


Tok! Tok!


Kami dikagetkan dengan suara ketukan di jendela. Syukurlah jendela mobil Hengky dilapisi dengan Kaca Film sehingga tidak terlihat dari luar.


“Shinta sudah sadar.”


Andy mengerutkan keningnya saat melihatku membuang muka ketika jendela mobil terbuka.


“Ah, kita masuk sekarang ya?” Aku menatap wajah Hengky meminta persetujuan.


Hengky mengangguk cepat.


Aku sedikit kesulitan berjalan mengimbangi langkah kaki panjang Hengky dan Andy.


Mengapa mereka cepat sekali?


Tidak sadarkah mereka ukuran tubuhku yang mini membuat langkah kakiku tidak secepat mereka?


Langkah kaki mereka terhenti di ruang VVIP Kenanga 3.

__ADS_1


Aku tidak begitu tahu kualitas dan fasilitas yang ada di Rumah Sakit ini. Namun sejak kami datang tadi malam, pelayanan mereka lumayan cepat.


Shinta yang datang segera di tangani oleh dokter yang sedang bertugas. Dan pagi ini ia telah menjalani operasi. Aku tidak begitu jelas mengingat diagnosa dokter tadi malam karena kepanikan yang luar biasa menguasai diri.


Namun satu hal yang mengganjal untukku. Andy dan Hengky nampak sangat khawatir.


Aku tidak tahu apakah mungkin ini karena rasa kemanusiaan yang ada dalam hati mereka atau karena mereka menyadari Fahri adalah teman mereka dulu atau... alasan yang tidak ku ketahui.


Saat pintu terbuka, aku melihat kedua orang tua Shinta sudah berada di sampingnya.


Beserta Shinta yang...Ah, Ya Tuhaan...


Aku berlari memeluk Shinta. Air mata deras keluar dari pipi.


Shinta berusaha tersenyum, ia menyambut pelukanku.


“Terima kasih, Naya... Mungkin aku sudah mati jika kamu tidak datang...”


Tangisanku makin keras saat mendengar Shinta mengatakan kalimat itu. Aku menggenggam tangannya yang di penuhi perban. Wajahnya benar-benar bengkak. Mata sebelah kirinya bahkan tidak bisa dibuka karena pelipisnya luka lumayan dalam.


Seluruh tubuhnya lebam. Tanpa terkecuali. Kulit sawo matangnya bahkan tidak mampu menyembunyikan dengan baik lebam di kulitnya.


“Kata Dokter, tulung rusuk bagian tengah dada nya patah. Makanya anak Om harus segera di operasi, karena kalau tidak, dikhawatirkan ujung tulang yang tajam bisa menusuk dan mencederai paru-paru. Akibatnya bisa fatal jika tidak segera ditangani.


Oh ya, Om juga melihat baju Shinta penuh dengan darah tadi malam. Ibunya yag melihat itu luar biasa panik. Rupanya menurut kata Dokter, ia dicambuki beberapa kali mungkin dengan sesuatu yang agak tajam. Kulit punggungnya terluka lumayan parah.


Syukurlah tadi juga sudah melalui proses visum. Semoga proses hukum segera berjalan.”


Ayah Shinta sambil menahan emosi bercerita tentang kondisi anaknya. Ia mengusap air mata yang menetes di pipi. Ibu Shinta yang sedari tadi sudah menangis makin mengeraskan suara tangisannya sambil memeluk Shinta.


“Terima kasih, Hengky, Andy, Naya... kalian sudah menyelamatkan nyawa anak Om. Kami berhutang besar pada kalian...”


Hengky menggeleng pelan, ia berjalan ke arah Ayah Shinta lalu menepuk pundaknya,


“Naya yang menyelamatkan Shinta, Om. Kami hanya membantu...”


“Terima kasih, Naya... Terima kasih...” Ibu Shinta berjalan pelan ke arahku lalu memelukku erat, “Kalian... kalian memang sahabat sejati...”


“Hengky... Andy... terima kasih selalu ada untuk anak kami. Dari kalian masih sama-sama kecil sampai sekarang kalian sudah dewasa...”


Andy tersenyum lalu melirik ke arahku, “Maya selalu menjadi sahabat kami, Om...”


Aku melepaskan pelukan Ibu Shinta. Lalu menoleh ke arah Andy.


Maya? Nama Itu....


Ayah Shinta tertawa pelan, ia mengusap kepalanya lalu duduk kembali di samping istrinya,


“Maya... Ah, sudah lama sekali Shinta menolak dipanggil Maya. Mungkin sekitar lima tahun ya? Benar kan, Nak?”


Ayah Shinta menoleh ke arah anaknya.


Aku menoleh bergantian ke arah Hengky lalu Shinta, meminta penjelasan.


“Naya? Kamu sudah tahu kan bahwa Andy, Hengky dan Shinta adalah sahabat dari kecil?” Ibu Shinta bertanya padaku sambil tersenyum.


...--------------------------------------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2