
#17
Laju mobil akhirnya berhenti. Kepalaku refleks bergerak mengikuti pemandangan asing yang ada di depanku, mencoba menerka keberadaanku saat ini.
Ingatanku masih sangat jelas saat melihat mobil melewati gerbang berwarna putih yang sangat tinggi. Sekitar lima menit kemudian aku memasuki daerah taman yang cukup luas hingga akhirnya mobil berhenti di tempat parkir yang berada di depan rumah. Rumah berwarna putih yang sangat megah dengan pencahayaan lampu yang makin menambah kesan klasik, tapi mewah.
Hengky masih belum mengatakan satu patah kata pun. Kemarahan masih terlihat sangat jelas di wajahnya.
Saat aku masih kebingungan tentang apa yang sedang terjadi, Hengky membuka pintu mobil untukku, memberikan kode untukku agar keluar.
“Kita dimana, Ky?” Tanyaku hati-hati, takut makin memancing emosinya lebih besar lagi.
Hengky tidak menjawab. Ia membalikkan badan lalu berjalan ke arah pintu utama.
Saat melihatku masih terdiam di samping mobil, ia mendengus kesal, menatapku sambil sedikit memiringkan kepalanya, memberikan kode agar aku mengikuti langkahnya.
Keraguan menguasai diriku. Banyak pertanyaan yang memenuhi fikiranku saat ini.
Rasa takut, khawatir dan ragu bercampur jadi satu.
“Mau sampai kapan kamu berdiri disitu?!”
Tatapan tajam Hengky membuatku tidak ada pilihan lain selain mengikutinya masuk.
Saat masuk, aku disambut oleh pemandangan yang sangat luar biasa. Interior rumah khas eropa yang sangat memanjakan mata, beberapa foto besar Hengky dan kedua orang tuanya menghiasi dinding rumah. Aku baru sadar bahwa saat ini aku berada dirumahnya.
Tiga pelayan berdiri di samping pintu, menyambut kami. Hengky mengayunkan tangannya, meminta seluruh pelayan pergi.
Tiba-tiba aku merasa seperti tidak mengenal siapa laki-laki yang sedang bersamaku saat ini.
Beberapa wanita mungkin justru merasa seperti memenangkan lotre saat mengetahui ternyata kekasihnya bak seorang Pangeran kaya raya yang tinggal di Istana yang megah. Tapi tidak denganku. Aku justru merasa takut dan was-was, merasa banyak hal ia sembunyikan dariku.
"Hengky... “ Suaraku tercekat. Aku mengehentikan langkahku, berusaha memahami apa yang sedang terjadi saat ini.
“Kamar ku ada di lantai tiga”
“A...apa? K-kamar?” Tanyaku terbata-bata. Alarm peringatan berbunyi nyaring di dalam hati dan fikiranku.
Hengky tidak menjawab. Ia berjalan ke arah lift menekan tombol lalu saat pintu lift terbuka, ia menoleh ke arahku,
“Masuk, Naya”
Aku menatap Hengky, memohon agar ia tidak menghianati kepercayaanku, “Hengky, kamu tahu kan bahwa aku percaya padamu?”
“Aku bilang masuk!!” Hengky memotong kalimatku kasar.
Aku kaget. Ini pertama kalinya Hengky membentakku. Aku menggelengkan kepalaku lalu memundurkan kaki.
Hengky menarik nafas kesal, “Naya, tolong jangan membuatku lebih marah lagi!”
Mendengar bentakkannya makin menyadarkanku akan situasi yang akan kuhadapi. Kejadian itu, entah akan terjadi atau tidak, namun tidak akan kubiarkan terulang kembali.
Ya. Semua laki-laki sama saja. Harusnya aku tetap meyakini itu dari awal.
Aku membalikkan badan lalu berlari kencang ke arah pintu. Menarik gagang pintu lalu kemudian telat menyadari bahwa pintu telah terkunci.
Fikiranku makin kacau. Aku makin panik ketakutan. Kejadian bersama Andy kembali berkelebat dalam ingatanku, berputar bak film lama yang makin membuat tubuhku gemetar.
Sementara aku masih berusaha mendorong dan menarik paksa gagang pintu, Hengky sudah berdiri di belakangku.
Tanpa banyak bicara, ia menggendongku ke pundaknya. Umpatannya terdengar jelas di telingaku.
Apakah telingaku salah mendengar? Dia bilang aku merepotkan?
Aku berteriak memohon padanya untuk diturunkan. Namun indra pendengaran Hengky seolah tersumpal, Ia tidak perduli apapun yang aku teriakkan. Semakin aku meronta, memukul punggungnya, ia semakin mengeratkan pegangan tangannya.
__ADS_1
Wajahnya tanpa ekspresi. Dengan santai ia menekan tombol lift dan pintu pun tertutup.
Saat pintu lift terbuka, saat salah satu pelayan menyambutnya, seolah tanpa terjadi apa-apa Hengky mengatakan meminta membawakan minuman dingin dan makanan ringan ke kamarnya.
Tidak ingin menanggung resiko akan kehilangan pekerjaannya, pelayan itu hanya melirikku sekilas lalu mengangguk takzim ke arah Hengky. Teriakan memohon pertolongan dariku seolah dianggap angin lalu baginya.
Langkah Hengky terhenti di salah satu kamar, Ia membuka gagang pintu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang tubuhku.
Dan saat pintu kamar terbuka, ia membawa tubuhku melewati dua ruangan, dan begitu sampai di ruangan ketiga, seketika mataku terbelalak melihat pemandangan yang tidak dapat kupercaya.
Hengky tersenyum sinis lalu menurunkan tubuhku di atas tempat tidurnya dengan kasar.
“Kamu selalu penasaran dengan kehidupanku, bukan? Ya! Ini lah hidupku! Kamu adalah hidupku, Naya! Lalu bagaimana bisa kamu malah menyerahkan segalanya kepada orang yang sangat aku benci?!!”
Telingaku tidak begitu jelas mendengar kalimat Hengky. Rasa terkejut dan ketakutan seolah menyumpal telinga ku.
Mataku menatap laki-laki yang sedang terus berteriak di depanku.
Hengky Widiyanto. Siapa sebenarnya dirimu?
-----------------------------------------------------------------------------
Ini benar-benar diluar yang aku bayangkan. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku bahwa Hengky mempunyai sisi lain yang sangat menakutkan.
Aku belum pernah melihatnya semarah ini. Bahkan sewaktu melihat status Andy yang menjelekkan diriku, kemarahannya justru terlihat lucu di mataku.
Namun saat ini, aku tidak bisa mempercayai sosok laki-laki yang ada di depanku adalah seorang Hengky Widiyanto yang aku kenal.
Hengky yang humoris, romantis dan lembut seketika berubah menjadi Hengky yang dingin, kasar, dan menakutkan.
Saat memasuki kamarnya tadi, aku merasa seperti dibawa memasuki sebuah film horor misteri yang biasanya sangat disukai Andy. Dan sialnya, aku berperan sebagai korban dalam peristiwa ini.
Kamar Hengky sangat luas. Terdapat satu ruangan yang berisi sofa mewah berwarna Abu-Abu, meja panjang berwarna serupa, meja besar lengkap dengan perangkat komputer dan kursi gaming, juga beberapa alat musik.
Ruangan setelahnya adalah ruang tidurnya, dan ada satu lagi ruangan yang lebih kecil di pojok sebelum ke arah kamar mandi mewah bernuansa monokrom dengan pemilihan keramik bergaya heksagonal.
Foto itu, bukan foto yang biasa aku bagikan di media sosial. Tapi foto yang di ambil secara diam-diam.
Walau pencahayaan ruangan itu kurang jelas, namun aku bisa mengenali dengan jelas wajah siapa yang memenuhi ruangan itu. Tidak mungkin aku tidak bisa mengenali wajahku sendiri.
“Lihat, Naya!! Lihaattt betapa aku saaangaatttt mengagumi dirimu....!!”
Hengky menarik tanganku, memaksaku untuk masuk ke ruangan itu, memaksa mataku melihat dengan lebih jelas.
Tubuhku berputar mengikuti tiap foto yang ku tangkap dengan mataku. Aku mengerutkan kening saat melihat bahwa foto-foto ini bukan hanya foto saat kami bersama.
Bagaimana mungkin bahkan foto saat aku masih mahasiswa baru bisa ada disini? Aku bertemu dengannya setelah pembagian kelas, dan saat foto itu diambil, aku belum mengenal dirinya, aku bahkan belum mengenal Shinta.
Aku menatap Hengky, meminta penjelasan atas apa yang sedang kusaksikan saat ini.
Hengky terkekeh. Ia menarik kursi lalu duduk di depanku, mensejajarkan dirinya dengan tinggi badanku,
“Kenapa, Sayang? Kamu kaget kenapa aku bisa punya fotomu saat kamu bahkan belum mengenal aku?”
Aku tidak menjawab, mataku terus menatapnya, memaksanya melanjutkan kalimatnya.
“Aku menemukan dirimu bahkan sebelum orang lain tahu. sebelum Shinta mengenalmu, aku sudah lebih dulu mengenal dirimu.
Hey, aku bahkan harus menggunakan sedikit uangku agar bisa satu kelas denganmu. Aku juga menggunakan uangku agar tiga kamar sebelum dan sesedah kamar Kosanmu tidak bisa di sewa oleh orang lain.
Kenapa? Karena aku sangat menjagamu, Naya! Aku tidak ingin orang-orang itu nantinya akan mengganggu atau membuatmu kesal.
Dan saat kamu bersama Andy? Kamu tidak akan percaya bahwa aku menaruh alat pelacak di Hpmu.
Kamu tahu? Aku sibuk menata fikiranku, meredam emosi dan rasa curigaku saat delapan bulan lalu, kamu berada di Kosan Andy selama lebih dari 1 jam!
__ADS_1
1 jam, Naya!! Entah apa yang sedang terjadi selama 1 jam itu!
Aku tahuuu sesuatu terjadiii pada kaliaan tapi aku berusaha tidak mempercayai naluriku, aku percaya kamu mampu menjaga dirimu dengan baik!
Lalu, setelah semua yang aku lakukan, setelah aku berhasil mendapatkanmu, tiba-tiba kamu bilang dengan mudahnya bahwa kamu sudah kehilangan keperawananmu??!!”
Hengky tertawa keras. Ia sampai memegangi perutnya sambil terus tertawa.
Tiba-tiba tawanya terhenti. Matanya menatap lurus ke arahku lalu menarik wajahku mendekati wajahnya, sangat dekat, sampai aku bisa mearsakan hembusan nafasnya,
“Kamu menghancurkan mimpiku, Naya! Mimpi yang bertahun-tahun ku rangkai saat aku bisa berhasil mendapatkanmu. Ah, ya! Tadi kamu bilang kamu mau putus denganku? Semudah itu?!”
Hengky membuang wajahku kasar, membuat tubuhku terdorong kebelakang.
Saat ini kinerja otak ku terasa melambat. Aku seperti tidak mengerti mengapa aku belum mampu mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Semua perkataannya bagaikan ledakan yang menghancurkan akal sehatku.
Aku berusaha tidak mempercayai ucapannya. Namun melihat matanya berkilat menahan emosi membuatku perlahan menyadari kebenaran yang sedang kuhadapi.
“Hengky... Tolong, jangan bicara apapun lagi. Kasih aku waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi saat ini...
Apa katamu tadi? Pelacak? Menggunakan uangmu? Apa-apaan ini?!”
“Aku sayang sama kamu, Naya! Sangat sayang sampai aku rela melakukan apapun untuk membuatmu tetap aman, tetap terpantau olehku, bahkan jika harus meletakkan alat pelacak di Hpmu.
Hey, Menurutmu darimana aku tahu kalau kamu ada di Perpustakaan waktu itu? Kamu percaya saja dengan ucapanku tentang Radar Cinta??!”
Suara tawa terdengar kembali dari mulutnya. Aku tidak tahu di bagian mana yang menggelitik perasaannya. Yang aku tahu, di balik tawanya, ia menyimpan rasa kecewa yang sangat besar kepadaku.
“Aku menahan mati-matian untuk tidak menyentuhmu, Naya! Bahkan gak cuman sekali aku rela menyakiti diriku sendiri agar bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuhmu! Aku lelaki normal, Naya! Ada banyak sekali kesempatan untukku jika memang aku ingin menyentuhmu! Tapi... malam ini... kamu tiba-tiba bilang dengan mudahnya bahwa Andy telah merenggut kesucianmu?!!”
“INI GAK MUDAH, HENGKY!! INI SAMA SEKALI GAK MUDAH UNTUKKU!! Kamu sendiri menyaksikan bagaimana aku mati-matian berusaha bangkit dari masalah ini!!”
Emosi tidak dapat ku bendung. Sakit sekali mendengarnya secara sepihak menilai diriku. Aku kira dia sangat mengenalku, aku kira dia sangat memahamiku.
“Oh Ya??” Hengky menatapku tidak percaya, “Lalu kenapa kamu mau putus sama aku? kamu mau kembali sama Andy? Mau kembali melanjutkan permainan ranjang yang belum sempat kalian coba?!”
PLAK!
Tanpa kusadari tanganku sudah mendarat di pipinya. Gemetar aku mengangkat tanganku, melihatnya penuh luka yang tersimpan lewat mataku.
Hengky tersenyum sinis sambil memegangi pipinya. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu menarik jilbabku,
“Tunjukkan padaku! Tunjukkan apa yang sudah Andy lihat darimu!”
Aku menggelengkan kepalaku, menahan tangannya agar melepaskan cengkraman di jilbabku.
Melihatku yang tidak bergeming menuruti perintahnya membuat Hengky kalap. Dengan kasar ia menarik tanganku, menyeret tubuhku ke atas tempat tidurnya lalu membanting tubuhku.
Aku berusaha bangun namun ditahan dengan tangannya,
"Kamu yang membukanya sendiri atau aku paksa?!” Sorot mata Andy penuh dengan kemarahan.
Sambil ketakutan aku menarik tubuhku ke pojok tempat tidur. Duduk sambil melipat kaki ke arah dada, melindungi tubuhku sebisaku.
Tidak! Tidak akan kubiarkan hal ini terjadi lagi!
Hengky makin kalap. Ia meloncat ke atas tempat tidur, lalu berteriak,
“Kamu tidak memberiku pilihan lain, Naya!!”
Tangan kirinya memegangi kedua tanganku, sementara tangan kanannya menarik jilbabku. Ia mengeluarkan gunting kecil dari balik saku, tanpa belas kasihan merobek pakaian yang ku pakai dengan penuh kemarahan.
Sambil terus merobek pakaianku, ia terus berteriak,
“KAMU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI, NAYA! JANGAN SALAHKAN AKU JIKA AKU MENJADI SEPERTI INI!”
__ADS_1
...-----------------------------------------------------------------------...