
#45
Aku kesulitan menyembunyikan rasa kaget juga kagum secara bersamaan.
Pemandangan di depanku ini seolah memberikan sebuah media hiburan visual yang mampu memberikan kenikmatan dan kekaguman bagi siapapun yang memandang. Ini membuatku makin menyadari bahwa keluarga Hengky memang bukan keluarga biasa.
Dalam bayanganku, kantor pengacara keluarga Hengky layaknya kantor pengacara pada umumnya.
Walau aku sudah melebihkan ekspektasiku dengan menambah detail seperti kantornya memiliki dua lantai, ruangan ber AC dan mewah, tempat duduk yang nyaman dan pelayanan yang ramah. Namun sepertinya ini saaaangaat amat jauh melebihi ekspektasi.
Pemandangan di depanku saat ini sama sekali tidak seperti kantor, ini lebih seperti sebuah mansion mewah.
Ya, seumur hidup, aku hanya bisa melihatnya di layar televisi kini seperti bermimpi bisa berada di mansion se mewah ini.
Halamannya saja bahkan bisa menampung lebih dari 20 mobil.
Saat mobil Hengky tadi hampir memasuki area mansion, aku dapat melihatnya dari atas dan memperkirakan luas nya setara dengan 2.322,5 meter persegi.
Jangan tanya bagaimana ekspresiku saat itu, sungguh aku mati-mati an menahan mulutku untuk tidak menganga.
Bangunan ini didominasi oleh warna cokelat dengan plafon setinggi enam meter atau lebih, pintu dan jendela besar, hingga halaman yang seluas lapangan sepak bola.
Persis seperti kataku tadi, halamannya saja dapat menampung dua puluh mobil atau lebih. Bahan bangunan yang digunakan pun sangat terlihat menggunakan kualitas terbaik.
__ADS_1
Saat pertama masuk tadi, mataku dimanjakan dengan pemandangan beberapa ornamen yang terbuat dari kayu jati, lantai yg terbuat dari granit, juga ada perapian granit di ruangan ketiga.
Pandangan mataku awalnya fokus ke atas, memandangi lampu gantung di ruang televisi. Setiap bulatan lampu terlihat seperti bubble yang beterbangan.
Bukan hanya lampunya, langit-langit yang dibuat tersembunyi juga sangat cocok dipadukan dengan dinding bata di sekitarnya.
Tiap ruangan memiliki nuansa yang berbeda. Tidak hanya itu, teknologi di dalamnya pun tergolong canggih dengan kunci, gerbang, hingga lampu pintar.
Saat baru datang tadi, kami di sambut langsung oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun. Rambut klimis lengkap dengan setelan jas berwarna hitam.
Dengan tinggi badan hampir setara denganku membuatku awalnya ragu, apakah benar orang ini adalah pengacara andalan keluarga Hengky?
Namun saat ia berbicara, dengan gesture tubuhnya, ia seolah mampu menghipnotis lawan bicaranya.
Saat akan menyalamiku, ia terlihat tersenyum lebar lalu menoleh ke arah Hengky,
Kalimatnya terhenti, ia sengaja meminta Hengky untuk menyebutkan namaku.
“Naya. My Future Wife.”
Aku melotot ke arah Hengky.
Laki-laki paruh baya itu malah tertawa sambil mengulurkan tangannya kembali,
__ADS_1
"Senang sekali saya bisa bertemu lebih awal dengan anda, Nona Naya. Ini pertama kalinya Mas Hengky membawa teman wanita nya kesini.”
Hengky menoleh ke arah laki-laki itu sambil mengangkat alisnya, “Ayolah, sampai kapan kita akan berbasa-basi seperti ini?”
Laki-laki itu kembali tertawa, “Naya bisa panggil saya Pak Hariyanto.”
Aku mengangguk sopan lalu menerima uluran salamnya.
“Okey, saya sudah menerima cerita dari Alex dan Crhis tentang kejadian hari ini. Tapi, apa Mas Hengky bisa menceritakannya lebih detail lagi? Ah, ya, tentu saja mas Hengky bisa bercerita sambil kita berjalan menuju lantai lima.”
Pak Hariyanto mempersilahkan kami berjalan lebih dulu dengan gesture tangannya.
Aku mengekori langkah Hengky dan Pak Hariyanto. Langkahku jelas tertinggal karena pandangan mataku masih saja fokus menelusuri kemewahan mansion ini.
Sementara Hengky dan Pak Hariyanto sibuk berbincang, aku justru sibuk menyeimbangkan langkah karena beberapa kali hampir terjatuh.
Saat kami mulai menaiki lift, saat itulah aku baru tersadar bahwa aku ada disini untuk menyelesaikan kasus peretasan dan teror dari Gilang.
Astaga... aku bahkan lupa dengan Gilang.
Ada di mana dia sekarang?
Lift yang berdinding kaca tebal membuatku bisa memandangi halaman depan dengan leluasa. Luasnya halaman dan taman di luar membuatku secara acak membayangkan jika di bangun kontrakan, entah berapa puluh pintu sangking luasnya.
__ADS_1
Astaga, apa yang sedang kupikirkan sekarang?
Bisa-bisanya aku malah berfikir tentang kontrakan.