
#15
Aku menghabiskan malamku dengan tawa. Hengky pandai sekali mengembalikan senyum di wajahku.
Dengan gombalannya, kedipan matanya, atau hanya sekedar menjahili karyawan rumah makan dengan kata-katanya.
Sepanjang perjalanan pulang ia terus bercerita tentang film Anime kesukaannya juga bagaimana ia di omeli habis-habisan oleh Shinta setelah mengajakku ke rumah sepupunya.
Shinta memarahinya karena bisa-bisanya dia menyembunyikan fakta bahwa Andy adalah kakak sepupunya selama ini.
Berpura-pura tidak tahu akan sifat brengseknya.
“Hey, aku berusaha memberitahu mu dengan cara terus menyatakan perasaaanku...” Hengky mengedipkan matanya, “Tapi kamu dulu gak pernah mau menerima perasaanku...”
“Maaf yaa, Sayang...” Aku tersenyum lembut padanya
Hengky tertawa pelan, ia mengusap kepalaku, “Sayaaangg banget aku sama kamu..”
Ah, hatiku terasa sakit mendengarnya. Sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah sosok Naya yang ia harapkan.
“Naya...?”
“Eh, iya? Apa...?”
“Tuh kaan ngelamun lagiii.... Aku bilang sayang kamu loh tadii...”
“Oh, Iyaa... Aku juga sayang kamu...”
“Gak pake banget? Aku pake banget loh tadii...”
Aku tertawa, “Iyaaa aku sayaaaaangggg bangeetttttttt sama kamuu...”
Hengky ikut tertawa. Ia menoleh ke arahku lalu menggigit bibirnya, “Ya Tuhan, gemes banget aku sama kamu.... pengen nyubiiitt keras-keraasss”
“Kenapa gak dicubit?”
“Nanti aku sakit...”
“Loh, kok malah kamu yang sakit?”
“Kalo kamu kesakitan, aku lebih ngerasa sakit...”
“Astagaa...!” Aku tertawa sambil memukul pundaknya.
Hengky ikut tertawa.
Keheningan tiba-tiba menguasai kami.
__ADS_1
Aku asyik melihat keluar jendela sedangkan Hengky asyik bernyanyi mengikuti suara musik di Radio.
Secara mengejutkan ia menarik tanganku, lalu ditaruh diatas dadanya, “Kerasa gak aku deg-deg-an banget?”
“Eh? Ya ampun kaget aku.
Yaa...kalo kamu gak deg-deg-an aku malah ketakutan, Sayang...”
“Aku sayang banget sama kamu, Naya.
Apapun yang sedang kamu hadapi, jangan pernah berfikir kalau kamu sendiri. Aku ada disini, selalu, apapun untuk kamu...”
Aku tertunduk mendengar kalimatnya,
“Hengky.... Aku ini....”
Ah, aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku. Setiap kali ia mengungkapkan rasa sayangnya, tiap kali itu juga rasa takutku bertambah.
“Emosi kamu lagi gak stabil sekarang.
Jangan ngomong apapun.
Kamu istirahat aja ya.. Kita hampir sampe di Kosan”
Aku menurut.
Handphone ku tiba-tiba bergetar.
Aku membuka HP lalu muncul notifikasi nomor yang sangat ku kenal mengirimkan pesan.
...Sudah kamu ceritakan sama Hengky, Naya? Atau biar aku saja yang cerita?...
Ya Tuhan... rasanya aku ingin segera berlari keluar lalu menabrakkan diriku ke kendaraan apapun yang lewat.
Aku ingin mati saja.
Tidak sanggup rasanya jika terus-terusan tersiksa seperti ini.
“Kenapa? Ada apa?” Hengky mengernyitkan dahinya. Pandangan matanya menuju Handphone di tanganku.
“Gak papa... Shinta baru aja ngomelin aku lagi...”
Hengky tertawa pelan, “Udaaah... cuekin ajaa....”
Ah, andai pesan ini bisa.
...----------------------------------------------------...
__ADS_1
Aku menghabiskan waktu bagai berjalan di atas kaca.
Hatiku selalu tidak tenang, fikiranku selalu berfikir tidak karuan.
Beberapa hari berlalu, namun pesan teks itu selalu menghantuiku.
Terkadang saat sedang tidur, aku tiba-tiba terbangun lalu ketakutan setengah mati. Menangis sendiri padahal tidak ada hal buruk apapun yang terjadi.
Ini jauh lebih menyiksa dari yang aku kira.
Saat aku menceritakannya pada Shinta, ia hanya banyak memelukku lalu terdiam mendengar tangisanku. Ia memintaku untuk lebih menguatkan diri, untuk jangan menyerah apapun yang terjadi.
Aku masih sangat ingat perkataanya tempo hari,
“Jangan sampai Hengky tahu.
Kalau sampai dia tahu, hidupmu akan makin kacau, Naya.
Aku bisa memperkirakan kira-kira bagaimana reaksi Hengky saat mendengar berita ini. Hanya ada dua pilihan, kamu akhiri hubunganmu dengan Hengky atau kamu akan terus merasa tersiksa sendiri”
Nasihat Shinta masuk akal.
Aku hanya punya dua pilihan.
Dua-dua nya memang menyakitkan tapi aku tidak bisa terus hidup dalam ketakutan.
Sambil menarik nafas aku mengirimkan pesan kepada Hengky,
...Nanti malem bisa jemput aku? Ada yang mau aku omongin sama kamu......
Tidak sampai lima menit Hengky membalas singkat pesanku,
...Hey, is everything okay?...
Aku melempar handphone ke atas tempat tidur.
Lebih baik tidak ku balas pesannya dan berbicara langsung nanti.
Entah bagaimana ekspresinya saat aku membicarakan hal ini...
Saat ini yang kupunya hanyalah harapan. Harapan agar semuanya berjalan sesuai rencana.
Baiklah, saatnya memilih baju.
Setidaknya, aku harus tampil cantik walaupun disaat yang paling tidak menyenangkan di dalam hidupku.
...---------------------------------------------------------...
__ADS_1