
80
Berakhirnya proses ta’aruf dengan Fatih membuatku melewati tahapan hidup yang lebih mudah dari sebelumnya. Ibarat seperti memberikan aku tiket khusus menuju jalur istimewa menuju hati Abah dan Ibu.
Mereka tidak lagi banyak mengatur hidupku. Beberapa kali memang tawaran ta’aruf kembali datang. Tidak, aku tidak mengatakan bahwa aku menolak mereka. Aku membiarkan mereka melewati tiap tahap namun kembali gagal, ya… sesuai dengan yang ku mau.
Tiga bulan setelah kami menolak Fatih, seorang laki-laki yang tergabung bersama organisasi yang sama denganku datang kerumah, meminta izin untuk mengajukan proses ta’aruf denganku.
Beberapa bulan terakhir, aku bergabung dengan organisasi, sejenis forum dimana para penulis berbakat seluruh Lampung tergabung di dalamnya. Dan laki-laki itu adalah ketuanya.
Wajahnya terlihat teduh dengan jenggot tipis yang menghiasi dagunya. Akhlaknya baik, terlihat dengan pengetahuan agamanya yang luar biasa. Itu aku ketahui dari cara berbicaranya. Ia juga mengaku bahwa dulu di kampusnya, ia adalah presiden mahasiswa.. Tinggi badannya hanya sekitar 160 cm. Namun wajahnya manis dengan dagu yang terbelah.
Abah dan Ibu menerima permintaannya untuk berta’aruf denganku setelah ia mengajukan CV data diri. Namun anehnya, setelah CV data dirinya kuterima, mendadak ia secara intens menghubungi lewat aplikasi bertukar pesan.
Awalnya aku tidak terlalu peduli, hanya ku balas beberapa. Namun semakin dibiarkan, isi pesannya semakin aneh.
“Naya, Kakak bayangin, kayaknya kamu cantik banget ya dengan rambut pendek sebahu?”
“Kalau kita menikah nanti, kamu mau anak laki-laki atau perempuan dulu?”
“Kamu lagi apa, Naya? Aku lagi bayangin nih lagi tidur dengan kamu di sebelah aku.”
Respon pertamaku membaca pesan sejenis itu adalah merinding bercampur jijik.Tanpa menunggu lama, aku keluar dari organisasi itu dan memutuskan kontak dengannya, nomornya ku blokir. Saat kuceritakan pada Ibu, Ibu marah sambil mencaci maki laki-laki itu, menyebutnya bahwa seorang laki-laki memang tidak bisa hanya dilihat sekilas mata saja, bahwa selama ini ia sering mendiskusikan masalah agama hanya sebagai kedok saja.
Ini gila. Hengky saja tidak pernah mengatakan hal semacam itu padaku.
Tidak lama, aku baru tahu, organisasi itu bukanlah sungguhan kumpulan penulis. Agenda mereka tidak jelas dan memang setiap meet up, bukannya membahas program, tetapi hanya obrolan tidak jelas sambil samling menggoda antara laki-laki dan perempuan.
Sial. Bisa-bisanya aku pernah tergabung dalam organisasi seperti itu.
Laki-laki ketiga, ia tidak mengajukan proses ta’aruf, ia adalah orang awam yang hanya ingin berkenalan denganku. Rumahnya berada persis di depan rumah Uwak. Ia dan keluarganya beberapa kali melihatku saat sedang berkunjung ke rumah uwak dan katanya, mereka jatuh hati padaku.
__ADS_1
Haha.. entahlah, aku pun geli menulisnya seperti ini. Tapi, menurut informasi dari uwak, mereka benar-benar serius untuk menarikku ke dalam bagian dari silsilah keluarga mereka.
Karena laki-laki ini orang yang tidak mengerti proses ta’aruf, ia mengajak bertemu di sebuah restoran. Aku sebenarnya tidak masalah, restoran di kota kecil seperti tempat tinggalku ini tidak mempunyai VIP room dan tempatnya pun terbuka, jadi menurutku tidak masalah jika kami bertemu disana.
Namun Ibu dan Abah jelas menentang. Haram hukumnya bertemu berduaan walau di tempat terbuka. Aku menurut dan menolak bertemu dengan laki-laki itu. Namun diam-diam uwak terus menghubungiku dan meminta aku bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Abah dan Ibu.
Aku sudah menolak tapi Uwak terus memaksa, alasan Uwak karena ia merasa tidak enak terus saja ditanya keluarga laki-laki itu tentang kapan aku dan anak laki-laki mereka satu-satunya itu akan bertemu?
“Ayolah, Naya. Kamu gak akan menyesal. Dia anak pejabat disini. Ayahnya adalah seorang kepala dinas dan ibunya pemilik klinik kecantikan terkenal disini. Apalagi dia anak satu-satunya, hidup kamu bakalan terjamin, Naya!”
Aku hanya tersenyum saat mendengar ucapan Uwak, Ayolah, jika ini menyangkut masalah harta, tentu Hengky jelas pemenangnya.
Namun kali ini aku menyerah, aku tidak tahan terus diteror dengan pertanyaan, “Gimana? Sudah kamu balas pesan si Hendra?”
Aku dan Hendra akhirnya bertemu. Ya, laki-laki itu bernama Bayu Hendra Indrawan.
Kesan awal ketika melihatnya untuk pertama kali adalah, “Wow! Aku seperti bertemu dengan anak berusia 18 tahun!”
Aku tidak terlalu memperdulikan itu namun saat obrolan kami berlanjut, hatiku langsung berkata,
Sumpah! aku sama sekali gak nyambung ngobrol dengan laki-laki ini.
Aku berbicara tentang politik, dia hanya tertawa cengar-cengir.
Aku bicara tentang agama, dia menggaruk kepala.
Aku tanya tentang bagaimana rencana masa depannya, ia hanya menjawab santai, “Biarkan saja semuanya seperti air yang mengalir.”
Oke, aku menyerah untuk mencari bahan obrolan. Saat ku biarkan dia yang membuka obrolan namun yang ada suasana makin awkward dengan ia yang hanya terdiam sambil salah tingkah.
Terakhir, aku membicarakan tentang gosip artis terkini dan diluar dugaan, ia meladeni obrolanku dengan penuh semangat.
__ADS_1
Oh, tidak. Alarm peringatan di kepalaku berdenging dengan keras.
Aku tidak bisa menikahi seorang laki-laki yang hanya tahu bagaimana gosip terkini tentang artis-artis. Ah, akan menjadi apa anakku nanti jika mempunyai ayah yang seperti ini?
Penolakanku kali ini membuat reaksi yang tidak ku duga. Uwak bahkan sempat mendiamkanku beberapa minggu. Kalimat terakhir yang ia katakan padaku adalah,
“Kamu akan menyesal, Naya. Padahal mereka sudah menyiapkan segala hal untuk melamar kamu. Seluruh keluarga besarnya sudah tahu. Bagaimana mungkin kamu tega menolaknya?”
Aku sempat bengong beberapa saat, apa maksudnya?
Aku sama sekali tidak meminta dilamar, aku pun hanya sekali menyanggupi bertemu dengannya. Obrolan kami pun tidak berjalan layaknya ‘manusia biasa’, yea… aku sebut seperti itu karena aku merasa tidak menjadi ‘aku’ saat berada di dekatnya. Lalu bagaimana mungkin reaksi keluarganya bisa seheboh itu jika tidak ada ‘bisikan’ dari pihak lain?
Ibu dan Abah saat mendengar cerita dari Uwak hanya tertawa pelan. Mereka berusaha mendinginkan hati Uwak dengan ucapan, “Sudahlah, bukan jodoh....”
Hanya berselang satu bulan dari penolakanku, sebuah undangan pernikahan sampai ke tanganku. Hendra menikah dengan seorang wanita yang kata Uwak berasal dari kota lain.
Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat mewah dan meriah, tujuh hari tujuh malam dengan mengundang seorang artis dangdut ibu kota. Uwak terus saja menyindirku, berkata bahwa aku mungkin sudah hidup enak jika menerima lamarannya, mahar mobil new fortuner pasti sudah berada di tanganku jika aku yang menjadi wanita yang dinikahi Hendra.
Saat mendengar omelan Uwak aku hanya tersenyum. Uwak hanya tidak tahu saja, dalam hati, aku malah bersyukur sudah menolaknya. Tidak, cara hidup kami sangat amat sangat sangat berbeda. Tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hati.
Beberapa ajakan lamaran dari beberapa orang setelahnya langsung kutolak. Aku sudah sangat lelah mencari alasan untuk menolak lamaran mereka.
Hingga tidak terasa waktu terus berlalu. Aku yang awalnya iseng mendesain beberapa abaya dan menjualnya pada orang terdekat, atas kuasaNya, berawal dari pesanan sepuluh abaya berkembang menjadi lima puluh dan tidak dapat ku percaya, kini aku sudah bisa menempelkan merk ku abaya ku sendiri dan mempunyai dua puluh orang karyawan.
Sepuluh orang di bagian produksi, dua orang admin, delapan orang bagian pengemasan. Dan aku sendiri selain sebagai owner juga merangkap sebagai content creator.
Desain abaya ku cenderung mengusung konsep remaja yang walau syar'i namun tetap stylish. Karena memang aku menyukai warna-warna soft dan tidak menyukai jika model abaya ku menjadi pasaran, aku selalu menjual satu model abaya dalam jumlah yang sangat terbatas. Kusebut, limited edition.
Dan rupanya, itulah yang menjadi daya tarik. Para pelanggan suka memakai pakaian yang tidak banyak dipakai oleh orang lain. Terasa istimewa dan mewah.
Aku yang sibuk dengan duniaku dan Hengky yang sibuk dengan dunianya. Tiga tahun berlalu hingga akhirnya Abah menghampiriku sore ini. Mengatakan sebuah kalimat yang tidak dapat ku percaya,
__ADS_1
“Apa kabar Hengky, Nak? Kapan-kapan minta ia datang kerumah. Temui Abah.”