Penjara Cinta

Penjara Cinta
Kalian mau ikut?


__ADS_3

66


Tentang kebahagiaan yang pernah kusebutkan waktu itu, rasanya aku mulai percaya bahwa Tuhan adalah penulis Skenario terbaik. Hengky benar, aku jadi lebih menghargai tiap momen setelah ditempa banyak ujian.


Proses penulisan skripsi dipermudah. Aku tidak banyak melalui revisi hingga akhirnya skripsiku selesai. Dan Hengky, jangan ditanya. Dia bahkan sudah selesai lebih cepat dariku. Aku yang awalnya sedikit ogah-ogahan untuk menyelesaikan skripsi terus diomelin habis-habisan olehnya. Hampir tiap hari dia datang ke Kosan dan terus menanyakan perkembangan skripsiku.


Ditambah lagi dengan Andy yang beberapa kali mengirimkanku pesan agar segera menyusulnya lulus kuliah. Memamerkan bahwa ia mulai perlahan diberikan kepercayaan oleh ayahnya mengurus usaha keluarga. Rasanya seperti sangat mudah hidup jika berada di lini masa mereka.


Sejujurnya, aku tidak ingin terburu-buru lulus kuliah. Entahlah, bayanganku jika aku lulus dan kembali ke kampung lalu berjauhan dengannya, rasanya sangat menyiksa. Ku akui, aku sudah sangat tergantung padanya.


Ia menuruti apapun yang ku inginkan namun tetap tegas pada hal yang memang tidak bisa ditolerir. Perhatiannya tidak pernah berubah, senyumannya terus ada untuk membuatku nyaman, dan pelukannya, ah, sungguh... mengapa bisa aku begitu tenang saat berada di pelukannya?


Itu yang membuatku muram malam ini. Besok adalah wisuda kelulusan kami dan aku yang seharusnya lega dan merasa senang, justru menjadi bad mood dan sangat sensitif.


“Jadi besok MUA nya yang datang ke kosan kamu ya, Sayang. Kamu gak perlu pagi-pagi ke studio sama Nisa dan yang lainnya. Aku sudah handle semuanya.”


Isi pesan Hengky makin membuat perasaanku tidak menentu. Aku sangat tahu, pasti besok setelah acara wisuda, Abah dan Ibu akan langsung menyewa mobil khusus untuk membawa barang-barangku dan aku secara resmi akan pulang ke kampung. Totally.


Aku tidak ingin pulang. Aku ingin disini.


Mataku bertemu dengan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Baiklah, aku tidak ingin besok kulitku menjadi kusam dan mata panda memperburuk penampilanku. Sebaiknya aku tidur malam ini dan menyerahkan urusan besok pada Semesta.


Karena sekeras apapun kupikirkan tidak akan dapat mengubah skenario yang sudah Tuhan siapkan, bukan?


-----------------------------------------


Acara wisuda berlangsung dengan cepat. Setidaknya itulah yang ku dapatkan jika aku terlalu menikmati tiap detik yang ku lewati. Semakin menyenangkan, maka waktu akan  berlalu semakin cepat. Semakin menyesakkan, maka waktu seakan tidak mau beranjak.


Bukan hanya Abah dan Ibu yang datang. Tapi juga kedua adikku, Uwak (Paman tertua) dari pihak Ibu dan istrinya, Paman muda atau adik Ibu yang paling bungsu, Nenek dari Ibu dan dua orang asisten rumah tangga di rumah.


Ramai sekali bukan? Hahaha... lalu bagaimana aku bisa menikmati proses foto setelah wisuda jika setiap gerak gerikku diamati oleh mereka?


Hengky mendekatiku, ia tersenyum lembut sambil berkata tanpa suara, “Kamu cantik banget, Sayang...”


Uluran tangannya yang hendak membelai kepalaku terhenti saat aku otomatis mundur beberapa langkah lalu segera menoleh ke arah tempat duduk Abah dan Ibu.

__ADS_1


Hengky tersenyum lagi, ia mengangguk pelan tanda mengerti.


Syukurlah adanya Alfian, Nisa dan beberapa teman yang lainnya kompak mengajakku foto bersama. Terkadang aku foto berdua dengan Alfian, berdua dengan Nisa lalu aku memberikan kode pada Hengky agar ia mendekat. Kami berfoto berdua dengan sangat canggung.


Hengky tetap seperti biasa, ia tersenyum sambil menoleh ke arahku dan aku yang ketar-ketir khawatir Abah atau Ibu mengamati kami disini.


“Kita pisah disini nih ya? Yaah.. aku masih pengen bareng kalian tapi keluargaku udah ngajakin ke studio nih!” Bibir Nisa mengerucut.


Perkataan Nisa disambut oleh beberapa teman yang lain termasuk Alfian yang akan segera pergi. Aku menoleh ke arah Hengky, menyadari bahwa Papi dan Maminya tidak ada disini. ia datang sendirian tanpa keluarga. Aku tahu ia sangat tidak suka dikasihani, namun bagaimana mungkin aku tega meninggalkannya sendirian disini?


“Sayang, aku....”


“Gak papa, Sayang. Itu keluarga kamu udah nungguin...” Hengky memotong kalimatku. Ia mengangguk mengerti.


“Tapi kamu...” kalimatku terhenti. Aku tidak menemukan kalimat yang pas mewakili isi hatiku saat ini.


“Happy graduation, Adik-adikku!” Andy berteriak keras sambil berlari ke arah kami.


Ia tertawa renyah sambil merangkul kami, memberikan kode pada photographer yang sudah disewa oleh Hengky agar mengambil foto kami bertiga.


“Assalamualaikum...” suara Ibu terdengar dari belakang.


Aku membalikkan badan panik. Hengky memiringkan sedikit kepalanya sambil melihatku, memintaku untuk tetap bersikap tenang.


“Waalaikumsalam, Bu...” jawab Hengky dan Andy bersamaan.


“Masya Allah... ini teman-teman Naya sudah pada makan? Kita mau makan keluar, kalian mau ikut?”


 Aku menatap Ibu tidak mengerti, ada apa ini? mengapa tiba-tiba?


“Ah, kami...” Andy tertawa kaku, ia kebingungan mencari kata-kata.


“Jika diperbolehkan, Bu...” Hengky menjawab santai sambil tersenyum.


Aku dan Andy menoleh bersamaan ke arah Hengky, yang di tatap berpura-pura tidak mengerti, ia tetap tersenyum seolah tidak melakukan kesalahan apapun.

__ADS_1


“Bagus! Sekalian Abah pengen kenal dengan kalian. Kita ke parkiran ya?” Abah sudah berdiri di samping Ibu sambil tersenyum.


Hengky mengangguk. Ia berjalan di samping Abah diikuti oleh Andy yang menggaruk kepalanya tanda ia kebingungan.


Lihatlah, Hengky bahkan dengan santainya mengobrol dan tertawa bersama Abah. Membuat rasa hangat menyusup ke dalam hatiku. Tanpa sadar aku tersenyum, wajahku memerah.


“Kamu mau disini aja, Nay?”


Ibu berjalan mendahuluiku. Membuatku segera tersadar lalu segera berjalan cepat mensejajari langkah kakiku dengan Ibu.


Saat tiba di parkiran, aku melihat Hengky dan Andy yang sedang menyalami Uwak dan saudaraku yang lain. Namun  melihat tatapan kedua adikku, Ali dan Osman yang cengar cengir, aku sudah tahu, mereka pasti menggodaku karena kehadiran  Hengky dan Andy di tengah-tengah kami.


Uwak, Nenek dan saudara yang lain bergantian menyalamiku memberikan ucapan selamat. Nenek bahkan menangis haru sambil memelukku. Ia menciumku berulang kali sambil mengucapkan syukur karena aku telah menyelesaikan pendidikanku dengan baik.


“Oke, ada saran kita harus makan dimana?” tanya Abah.


“Pecel lele aja deh yang murah yaa, Bah! Murah terus banyaakk porsinya! Hahahaha...” Ali menyikut tanganku, ia mengedipkan mata.


Osman adikku yang paling bungsu menggeleng sambil mendecak kesal, “Aku gak bakal mau ikut kalo ujung-ujungnya makan di pecel lele ya, Bang!”


Nenek tertawa, pandangannya lalu mengarah pada Hengky, “Kamu siapa namanya, Nak?”


Hengky membungkukkan badannya sambil tersenyum, mensejajari dengan tinggi  badan Nenek, “Hengky, Nek...”


“Nak Hengky bisa tunjukkan pada kami tempat makan mana yang bagus?”


Hengky mengangguk cepat, ia menoleh ke arah Andy, “Nanti bisa ikuti mobil kami saja, Nek. Iya kan, Kak?”


Andy yang dari tadi tersenyum kaku mendadak bingung, “Eh, kemana? Mobilku tadi ada di...”


“Mobilku yang di depan itu, Abah. Nanti kita tunggu di gerbang depan ya...” Hengky segera memotong kalimat Andy. Ia mengangguk mengerti saat Abah setuju dengan ucapannya.


Saat Andy dan Hengky berjalan menjauh, uwak uti yang dari tadi terdiam mencubit lenganku, “Kamu pinter juga nyari pacar ya, Nay...”


Aku melotot kaget. Suara tertawa menggoda dari saudara yang lain membuatku makin kaku. Saat tatapanku bertemu dengan Abah, ia menatapku tajam lalu berjalan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Matilah aku.


__ADS_2