
55
Hengky tetap mempertahankan senyuman di wajahnya. Tangannya terkepal namun bibirnya tersenyum. Senyuman yang hanya menarik kedua sudut bibirnya namun tidak menimbulkan guratan di mata. Aku tahu ia tersenyum hanya untuk menyamarkan emosinya.
Hengky menoleh ke arahku lalu menatap mataku, mencari kebenaran di baliknya. Membuatku terpojok oleh tikaman tatapan matanya.
“Apa kamu sudah memberitahu Naya kalau...”
“Stop, Kak. Kalau Kakak terus seperti ini aku harus mengusir Kakak pergi dari sini,” Hengky memotong kalimat Andy cepat namun tidak mengalihkan pandangan matanya dariku.
“Aku hanya tidak mau kalian menjalani suatu hal yang sia-sia,” suara Andy bagai putaran kaset lama bagiku. Andy selalu pintar berdalih, ia selalu bisa memenangkan pembicaraan.
“Simpan saja perhatian kakak yang mengharukan itu untuk orang lain. Seperti yang kakak lihat, kami baik-baik saja.”
Hengky menghela nafas kesal. Ia menghentakkan kaki lalu berjalan ke arah pintu, “Sepertinya kita harus berbicara di tempat lain. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Kakak.”
“Bicara saja disini. Biar Naya juga tahu.”
Aku berdiri, “Kalian silahkan bicara disini saja. Aku akan kembali ke kamar sebelah.”
Situasi ini membuatku jengah. Untuk apa Andy datang jika ia hanya ingin memancing kemarahan Hengky?
Hengky mengangguk. Ia membiarkanku melewati pintu, berbisik pelan bahwa ia mencintaiku lalu menutup pintu setelah aku melewatinya.
Aku membalikkan badan ke arah pintu sambil menghela nafas panjang. Sepertinya aku harus bersiap menghadapi suasana hati Hengky yang akan memburuk setelah ini.
__ADS_1
Saat melangkahkan kaki ke arah kamar, handphone di saku terasa bergetar. Aku menatap nama di layar, Alfian memanggil.
“Naya? Kamu dimana? Sudah tiga hari aku sama Nisa bolak balik kosan kamu. Kamu pulang kampung ya?”
Ya Tuhan! Bisa-bisanya aku melupakan mereka.
“Eh, iya. Aku lagi dirumah. Maaf ya pulang tiba-tiba.”
Aku sengaja berbohong. Tidak mungkin aku memberitahu mereka bahwa kami baru saja mengalami kecelakaan mobil dan parahnya lagi, aku sudah tiga hari berada dirumah Hengky. Lagi pula Hengky tidak akan mengizinkan orang lain mengunjungi rumahnya.
“Yaahh... padahal banyak banget yang mau aku bicarain sama kamu, Naya. Gilang gimana? Duh, Kapan kamu pulang? Selama liburan semester kamu dirumah?” kali ini Nisa yang berbicara. Nada suaranya terdengar gusar.
Jika mendengar suara mereka yang sedikit berteriak, mode panggilan di setting loudspeaker oleh mereka.
Ya, kecelakaan ini pula yang membuatku harus menelpon Abah dan Ibu bahwa aku tidak bisa pulang selama liburan. Alasanku karena harus lembur menyerahkan judul skripsi sekaligus tiga bab awal. Tidak ku sangka, Abah dan Ibu sepertinya mempercayaiku.
Terdengar suara Nisa dan Alfian sedikit berdebat, aku tersenyum, “Alfian?”
“Eh? Iya, Nay?”
“Jagain Nisa yaa...” sahutku sambil menahan tawa.
Terdengar jelas penolakan dari Nisa maupun Alfian. Alfian dengan tegas berkata, “Males banget!” dan Nisa yang juga tidak mau kalah berkata bahwa ia pun tidak sudi.
Sambil tertawa aku membuka pintu kamar, “Guys, tau gak? Kadang jodoh itu kayak hilal, sudah muncul, eh malah diperdebatkan.”
__ADS_1
Sudah kuduga, mereka berlomba berteriak menolak ucapanku. Setelah beberapa menit mendengar keributan akhirnya telpon dimatikan.
Aku menaruh handphone kembali ke atas meja di samping tempat tidur. Sambil menghela nafas, pandangan mataku mengarah ke jendela. Bentuk jendela di kamar ini sedikit berbeda. Walau jendelanya tidak selebar di kamar Hengky, namun sisi bagian dalam jendela cukup luas sehingga bisa dijadikan tempat duduk.
Saat baru sampai kemarin, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk melihat taman, bersantai sambil membaca buku atau hanya sekedar memainkan handphone. Sebuah bantal tipis namun nyaman sebagai alas untuk punggung bersandar sementara sebuah kasur kecil digunakan sebagai alas duduk.
Entah mengapa, aku merasa kamar ini memang didesain untukku, sangking nyaman nya untuk ku tempati. Ya, tentu saja aku terlalu berlebihan. Tidak mungkin orang tua Hengky membangun rumah ini sambil memperhitungkan kehadiranku yang bisa jadi pada saat yang sama aku masih duduk di bangku TK.
Pandangan mataku mengarah ke taman, tapi pikiranku menebak-nebak tentang apa yang sedang mereka bicarakan di kamar sebelah. Mengingat suasana terakhir yang kurang menyenangkan sebelum aku pergi tadi, rasanya tidak berlebihan jika aku mencemaskan Hengky.
Aku takut Hengky tidak bisa menahan emosinya lagi.
Ah, semoga saja aku yang terlalu berlebihan. Hubungan mereka sudah membaik, maka untuk bicara secara baik-baik pun bukan masalah yang sulit untuk mereka, bukan?
Ingatanku kembali kepada moment dimana dengan sangat tidak tahu dirinya, hatiku justru merasakan desiran aneh saat menatap mata bulat Andy. Mata bulat dengan bulu mata lentik yang membuatku iri.
Astaga, ada apa denganku?
Mungkinkah aku mulai gila karena sudah tiga hari tidak keluar dari rumah?
Atau mungkin kepalaku terbentur sesuatu saat kecelakaan kemarin?
Tunggu, jangan-jangan...
Aku meraih handphone lalu mengecek tanggal. Pantas saja, ini akhir bulan. Saat hormonku mulai tidak seimbang menjelang kehadiran tamu bulanan. Pantas saja aku merasa aneh akhir-akhir ini. Perubahan hormon estrogen dan testosteron yang meningkat selama ovulasi dapat menyebabkan sensasi atau desiran aneh yang kerap datang.
__ADS_1
Baiklah, mungkin sebaiknya aku tidur sambil menunggu mereka selesai.