Penjara Cinta

Penjara Cinta
Ikrar Suci


__ADS_3

94


Dokter datang bersama dengan dua orang perawat, Andy menyusul di belakang mereka. Aku segera berdiri saat mereka datang, berusaha mendekat agar bisa mendengar jelas perkataan dokter.


“Mas Hengky, gimana perasaannya sekarang? Sudah jauh lebih baik?” tanya dokter sambil tersenyum ramah.


Hengky mengangguk, “Hari ini adalah hari pernikahan saya, Dok. Saya harus baik-baik saja.”


“Tidak ada alasan kamu tidak merasa baik-baik saja. Dari hasil CT Scan juga tidak ada masalah, kok.”


Setelah kalimat dokter selesai keluar dari bibirnya, rasanya seperti beban seberat sepuluh kilogram menghilang begitu saja dari pundakku, lega sekali. Cukup satu kalimat dan mampu mengubah atmosfer ruangan. Raut wajah semua orang yang ada di ruangan langsung cerah. Mami bahkan sampai menangis sambil memeluk Hengky,


“Lalu kenapa anak saya harus tetap memakai selang oksigen, dok?” Tanya Mami sambil terisak.


Dokter menepuk pundak Hengky, “Bagaimana? Dadamu masih terasa sesak? Masih kesulitan bernafas?”


Hengky menggeleng, “Tiba-tiba saja saya merasa sudah baik-baik saja, Dok.”


“Oh ya jelass... ini calon istri kamu disini..”


Ucapan Dokter membuat suara tawa terdengar memenuhi ruangan.


Hengky tersenyum lebar, “Dokter mau menjadi salah satu saksi pernikahan kami?”


Dokter laki-laki berambut setengah plontos tersebut sedikit terkejut sambil memundurkan kepalanya namun dengan cepat ia tertawa sambil mengangguk setuju.


“Baik, apa pernikahan bisa kita langsungkan sekarang, Pak Dani?” tanya Abah bersemangat.


Pak Dani mengangguk, ia maju kedepan. Dengan cepat ia memerintahkan beberapa arahan kepada keluarga lalu memintaku duduk di sebelah Abah.


“Nak Hengky, kamu membawa maharnya?”


Wajah Hengky mendadak pucat, ia secara spontan menoleh ke arah Andy.


Melihat semua tatapan ke arahnya membuat Andy kebingungan, “Eh, mahar ada di mobil kamu yang kecelakaan tadi. Dan tadi di pegang sama Om Frans.”


“Om Frans mana??!” tanya Papi panik.

__ADS_1


“Pulang ke hotel... tadi Mami yang nyuruh keluarga yang lain menunggu sementara di hotel..”


“Astaga...” lirih suara Papi. Ia sibuk mengeluarkan handphone, hendak menelpon keluarganya.


Pak Dani tersenyum, “Begini saja, apa yang Hengky bawa saat ini?”


Hengky terdiam sesaat, namun kemudian ia memberikan kode kepada Andy untuk mengambilkan tas kecil miliknya yang ada di atas meja.


Andy menyerahkan tas kecil Hengky, “Mau aku bantu?”


“Tolong ambilkan uang riyal yang ada di dompet aku, Kak.”


Andy merogoh dompet Hengky dan menemukan uang riyal lalu diserahkan pada Hengky, “Bisa pas gitu yaa...”


Hengky tersenyum, “Pakai ini gak papa kan, Pak?”


Pak Dani mengangguk, “Uang riyal sejumlah 2.022 ya?”


Tanpa menjawab dengan kata-kata, Hengky langsung mengangguk.


Tanpa sadar aku memegang tangan Ibu, proses pernikahan ini, jauh lebih sakral daripada yang kubayangkan. Tidak pernah terbayangkan olehku akan menikah di rumah sakit dengan calon suami yang memakai selang infus.


Saat semua mengangguk, detak jantungku semakin memburu.


Pak Dani menatap Hengky, ia tersenyum ramah lalu menyerahkan tangannya agar disambut oleh Hengky.


Dengan cepat Hengky menyambut uluran tangan Pak Dani. Wajahnya tampak tegang namun rona wajahnya sangat bersemangat.


Setelah Pak Dani membimbing aku dan Hengky secara bergantian mengucapkan kalimat syahadatain, ia dengan tegas mengucapkan kalimat yang membuat dadaku bergemuruh haru,


“Saudara Hengky Widiyanto bin Edward Kusuma Widiyanto, Saya nikahkan kamu dengan Naya Khairunnisa binti Tabrani Khalid dengan mas kawin uang riyal sejumlah 2.022 dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Naya Khairunnisa binti Tabrani Khalid dengan mas kawin tersebut TUNAI!”


------------------------------------------------


“Dok, selang infus ini boleh dilepas?”

__ADS_1


“Kenapa? Sudah gak sabar ya mau pulang sama isteri kamu?” tanya Dokter sambil tertawa menggoda Hengky, disambut pula tawa canda dari saudara yang lain.


Hengky tersenyum, “Saya mau mengajak istri saya sholat dua raka’at sebentar...”


Aku menatap Hengky penuh haru, “Kalau belum kuat nanti aja, Ky...”


“Loh, kok udah suami istri masih panggil nama sih?” suara Uwak yang keras begitu mudah membuat wajahku merona merah.


“Iya dong... Panggil Abang, atau Sayang...” seru sepupu Hengky yang juga ada di ruangan.


“Ah, aku...” bibirku tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Perubahan suasana secara cepat dalam kurun waktu singkat membuatku masih belum bisa benar-benar mempercayai bahwa aku sudah sah menjadi istri Hengky Widiyanto.


“Kita ke Masjid sebentar yuk, Sayang...”


Kalimat Hengky menyelamatkanku. Saat tatapan kami bertemu, aku harus segera menundukkan wajahku kembali karena entah sudah semerah apa wajahku saat ini.


Aku malu, aku senang, aku bahagia dan aku... ah, aku benar-benar malu.


Dan saat sorak sorai suara saudara-saudara menggoda kami, Hengky kembali menyelamatkanku dengan mengulurkan tangannya, “Yuk kita ke masjid, Sayang...”


-------------------------


Kalian mau tahu bagaimana perasaanku saat ini?


Aku seperti merasa sedang bermimpi indah. Sangat indah. Aku bermimpi aku dan Hengky secara resmi menikah dan saat ini aku mendengar suaranya lirih memohon padaNya untuk keberkahan pernikahan kami. Dengan posisi Hengky di depanku, sebagai imam sholatku, imam hidupku.


Visual yang kulihat terlihat sangat indah sampai aku merasa bahwa aku sedang bermimpi.


Kini syurgaku berada di tangannya, syurgaku berada dalam keridhoannya, syurgaku ada dalam untaian doanya.


Saat mendengar isak tangisnya saat berdoa untuk pernikahan kami, aku tidak mampu menahan air mata ikut menetes. Delapan tahun mengenalnya, ini adalah suara tangisan paling tulus yang pernah ku dengar dari seorang laki-laki yang bahkan dalam diri kami tidak mengalir sumber darah yang sama.


Allah mengumpulkan hati kami, menyusupkan rasa kasih dan sayang dan juga cinta yang perlahan semakin mengakar kuat di dalam hati kami. memberikan kami cobaan yang justru makin menguatkan tekad kami dan kini Allah menunaikan janjiNya bagi mereka yang mau bersabar atas ujian dariNya.


Saat selesai berdo’a, Hengky terdiam sesat lalu ia mendekatiku, menaruh tangan kirinya di ubun-ubun kepalaku dan berdo’a,


“Ya Allah sungguh aku meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang apa yang Engkau ciptakan atasnya.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan do’a, Hengky mengangkat wajahku dengan tangannya, memandang mataku lalu tersenyum lembut, “Assalamualaikum, istriku. Sudah siap mendayung perahu bersamaku?”


__ADS_2