Penjara Cinta

Penjara Cinta
Bungkusan Coklat


__ADS_3

#7


Sudah satu bulan setelah kejadian itu.


Aku sudah menduga kalau Andy hanya bersikap emosional sesaat. Selang tiga jam, status facebook itu menghilang dari berandanya.


Tidak lama, ia mengganti status nya dengan nasihat bahwa semua manusia bisa melakukan kesalahan dan tidak akan ada yang dapat luput dari ke alfaan. Katanya, ia pun telah memaafkan setiap orang yang menyakiti dirinya.


Seperti biasa, dengan wajahnya yang tampan, semua orang yang tadinya mengecam lalu berbalik mendukungnya.


Komentar di statusnya penuh dengan kata penyemangat dan juga pujian betapa luas hati pemaafnya.


Ya Tuhan... bagaimana manusia bisa berubah secepat itu?


Aku tidak ambil pusing. Bagiku semua sudah usai. Aku sudah bertekad akan memulai semuanya dari awal tanpa repot-repot menengok ke belakang.


Namun sore ini, saat aku sedang asyik membaca novel kesukaanku, Andy tiba-tiba datang ke Kosan ku dan memaksa untuk bertemu.


Sekarang, ia sedang berdiri di depanku, memasang wajah penuh penyesalan sambil membawa bungkusan besar berisi coklat.


Aku hampir tertawa melihat bungkusan ditangannya. Dia mungkin menganggap kesalahannya yang menumpuk itu bisa di atasi dengan coklat.


Yea.. aku memang suka coklat.


Tapi, seriously?? Keperawanan di tukar dengan coklat??!


“Aku tau kamu mungkin sudah eneg atau bahkan jijik banget sama aku, Naya...”


“Ya ampun... kok Kakak bisa tau sih..?!” Aku memotong kalimatnya sambil tertawa


“Naay....” Andy menatapku memelas, meminta ku untuk jangan menyela ucapannya, mendengarkan kalimatnya sampai akhir.


Aku berdehem pelan, mengulurkan tanganku sebagai kode mempersilahkan untuk melanjutkan kalimatnya.


“Aku minta maaf, Naya. Aku minta maaf untuk ucapan, tindakan atau pun perbuatan yang sudah ngebuat kamu ada dalam kondisi seperti ini.


Aku nyesel, Naya... aku nyesel gak bisa menguasai diriku sendiri. Aku juga nyesel ngebentak kamu waktu itu. Aku bener-bener gak ngerti kenapa aku bisa berbuat hal serendah itu sama kamu.


Dan tentang status facebook itu, Ah Ya Tuhan... mengingatnya lagi saja sudah membuatku malu. Aku bertindak sangat gegabah. Aku bodoh. Sangat bodoh.”


Andy terlihat serba salah. Kepalanya tertunduk sambil menggerakkan kaki kanannya. Ciri khas Andy saat ia merasa bersalah.

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang.


Mungkin sudah saatnya aku berdamai...


“Kak... hal pertama yang harus Kakak tahu, aku sudah memaafkan Kakak.


Seiring berjalannya waktu aku sadar kalo aku gak bisa terus-terusan nyalahin Kakak.


Semua yang terjadi juga akibat kesalahanku sendiri.


Aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Aku juga sudah berusaha tidak mengingat-ingat kejadian itu lagi...”


“Thank’s God... lega banget aku dengernyaa...” Andy mengusap wajahnya lalu tersenyum lebar.


Senyuman yang dulu selalu membuat hatiku berdebar.


“Naya.. Sorry, bisa gak kita kembali kayak dulu lagi? Aku kangen banget ngelewatin hari-hari ku bareng kamu, Nay... Aku pengen kita balik lagi...”


Aku mengeryitkan dahi, “Apa, Kak? Balikan lagi?”


“Aku kangen kamu, Nayaa... aku sayang banget sama kamu...”


Andy terdiam beberapa saat. Ia menundukkan kepalanya lalu menggeleng lemah,


“Aku gak mau bohong sama kamu. Aku juga gak bisa menjanjikan hal itu.


Ya Tuhan, Nayaa... Maafin aku...


Tapi, sialaannn! Otak ku gak bisa berfikir jernih akhir-akhir ini, Nay.


Aku terus-terusan kebayang kejadian sore itu sama kamu... aku... aku...”


“Cukup, Kak. Aku mohon jangan dilanjutkan lagi.”


Aku memotong kalimatnya sebelum kejadian sore itu kembali terbayang di benakku.


“Maafin aku, Naya... Maafin aku...” Ia terlihat putus asa.


“Kalo Kakak mau mencari pasangan yang terus bisa melayani nafsu kotor Kakak, maaf Kak, Kakak salah orang...”


“Naya... kamu tau.. bukan itu maksud aku...”

__ADS_1


Lagipula, Kakak kan sudah ada Mala...” tiba-tiba kalimat ini keluar dari mulutku.


Andy mengangkat wajahnya kaget,


“Aku gak pernah ngelakuin apa-apa sama dia, Nay! Demi Tuhan! Aku berani sumpah! Memegang tangannya pun aku gak sudi!


Dia memang beberapa kali menyuruhku ke Kosannya, berkata bahwa teman kosannya sedang pulang kampung dan dia kesepian, tapi demi Tuhan, gak aku balas pesannya.


Aku... aku cuman mau sama kamu, Naya...”


Entah yang dikatakannya benar atau tidak, hatiku seperti membatu. Rayuan seperti itu jelas sudah tidak mempan padaku.


“Masih ada hal yang perlu Kakak bicarakan sama aku? Aku mau melanjutkan bacaanku....”


“Kita... bener-bener gak bisa kembali lagi...?”


Aku menggeleng pelan sambil tersenyum, “Kak, please....”


“Oke...Oke... Maaf... maafin aku...”


Aku menatapnya sambil mengangkat kedua bahuku, it’s okay.


"Aku gak bisa disini lebih lama lagi ya?”


Tanpa menjawab, aku mengangkat buku ku. Memberikan kode bahwa aku ingin segera melanjutkan membaca buku.


Andy menarik nafas panjang. Lama ia terdiam lalu membalikkan badannya. Berjalan gontai ke arah gerbang Kosan.


Mataku menatap bumgkusan besar di lantai, berisi coklat berbagai merk yang ia bawa tadi.


Jangankan memakannya, menyentuhnya pun aku tak sudi.


Setengah berlari aku menyusul Andy.


Dengan cepat, Andy berbalik ke arahku, wajah lesunya seketika berganti dengan senyuman lebar, “Iya, Nay? Ada apa?”


“Bawa ini, Kak. Kasih ke Mala aja... aku sudah gak bisa di sogok coklat lagi”


Dengan penuh percaya diri, aku berjalan meninggalkan Andy yang masih menatapku bergantian dengan bungkusan ditangannya.


...---------------------------------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2