
#27
“Dia selalu saja seperti ini! Setiap ada masalah, selalu melarikan diri!”
Hengky mendengus kesal. Ia memukul setir kemudi dengan tangannya.
Kami tidak dapat menemukan Shinta. Hampir lebih dari satu jam berkeliling mencari namun hasilnya nihil. Entah kapan dia pergi saat perhatian kami sedang terfokus pada Fahri dan Andy.
Aku tidak meladeni ucapan Hengky. Aku sibuk dengan fikiranku sendiri. Sepertinya ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Shinta, Sahabatku.
Dia selalu saja pintar beretorika atau memberikanku nasihat atas setiap masalah yang ku hadapi. Namun lihat dirinya saat ini, melarikan diri dan meninggalkan orang tuanya yang kebingungan mencarinya.
Aku memandangi Ibu Shinta yang sedang terduduk sambil menangis di samping mobilnya, sementara Ayah Shinta sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telfon.
Aku tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan namun dari ekspresinya sudah jelas ia khawatir dan panik luar biasa.
Ya Tuhan, Shinta... lihat Ayah dan Ibumu.. Apakah kamu hanya memikirkan dirimu sendiri?
Tok! tok!
Aku sedikit terkejut saat melihat Andy mengetuk kaca mobil. Ia memberikan kode agar aku menurunkan kaca jendela mobil.
Hengky menahan tanganku yang akan memencet tombol untuk membuka kaca, “Biar aku saja.” Ujarnya singkat.
“Sebelah sini!” Hengky mengeluarkan tangannya.
Andy mendengus kesal, dengan berat hati ia berjalan memutari mobil, “Kenapa, Hengky? Kamu takut pacarmu akan jatuh cinta lagi padaku?”
“Cepat katakan, ada apa?” Hengky tidak memperdulikan sindiran Andy.
“Ikuti mobilku. Aku tahu dimana Shinta.”
“Apa? Darimana kamu tahu?”
Andy tersenyum lalu melongok kan kepalanya kedalam mobil,
“Kamu terlalu sibuk menjaga pacarmu sampai lupa tempat base camp kita sewaktu kecil. Shinta selalu kesana setiap kali ia sedang berada dalam masalah. Kamu lupa?”
“Sebentar, aku bilang dulu sama Om dan Tante..”
Andy menahan pintu mobil yang hampir dibuka oleh Hengky,
“Apa yang ada di otakmu itu hanya pacarmu saja?! Hey, menurutmu kenapa Shinta melarikan diri?”
“Karena melarikan diri dari orang tuanya?” Aku menjawab pelan.
"Bingo!” Andy mengedipkan mata kanannya padaku.
Hengky mendengus kesal, ia kembali menutup pintu mobilnya lalu segera menyalakan mesin mobil.
“Hey.. hey... mau kemana??” Andy memukul kaca mobil.
Sambil tersenyum kesal Hengky mengeluarkan kepalanya,
"Apa yang ada di dalam otakmu itu hanya mengurusi hubungan ku dan Naya saja? Kamu pikir, aku tidak tahu alamatnya?!”
Andy tertawa, ia melirikku lalu menunjuk Hengky, “Naya, Apa kamu tahu kalau pacarmu ini sangat pendendam?”
Setelah mengatakan kalimat itu ia tertawa keras lalu berjalan santai ke mobilnya.
__ADS_1
“Dan dia...dari dulu.. selalu saja menyebalkan!” Hengky bergumam pelan lalu menyalakan kembali mesin mobilnya.
Aku ikut tertawa. Melihat sikap mereka, aku sangat yakin bahwa jauh di dalam lubuk hati mereka, ada ikatan yang masih kuat terjalin. Entah mereka tidak menyadari itu atau sengaja mengalihkan diri dari ikatan itu.
Sambil masih tertawa aku memukul pundak Hengky,
“Kalo kamu perempuan, kayaknya Andy bakal suka banget deh sama kamu...”
“APA?!”
Melihat matanya melotot makin membuat tawaku makin keras.
...--------------------------------------------------...
Waktu jarak tempuh antara Kantor Polisi dan Base Camp yang di sebutkan oleh Andy tidak terlalu jauh. Hanya... yaa... tiga jam.
Hahhaha... apakah kalian merasa tertipu? Yeaa... begitu pun aku.
Saat baru jalan, aku bertanya pada Hengky apakah Base Camp yang sedang kita tuju jaraknya jauh? Dengan santai ia menggelengkan kepalanya, “Deket, kok...”
Namun setengah jam berlalu tapi tidak juga sampai.
Aku bertanya lagi, “masih jauh?”
“Bentar lagi...”
Dan teruuss saja begitu sampai tiga jam berlalu. Aku hampir memukuli pundaknya habis-habisan karena kesal.
Hengky hanya tertawa menanggapi omelanku. Ia hanya bilang, “Kalau aku bilang jauh, kamu pasti tidur...”
Alasan macam apa itu?
Namun, perjalanan yang menghabiskan waktu sampai tiga jam tidak sia-sia. Pemandangan pantai di sepanjang perjalanan ke arah base camp sangat memanjakan mata. Naik turun jalan yang kami lewati makin membuat Pantai terlihat indah dari jauh.
Ah, aku jadi ingin ke Pantai...
Saat mobil Hengky melewati gerbang tinggi yang dijaga oleh dua orang security, perasaanku mulai aneh.
Tunggu dulu... mereka bilang base camp sewaktu mereka kecil kan? Tapi ini...
Dan benar saja. Saat mobil terhenti di sebuah villa mewah dengan view pantai di belakangnya membuat mulutku sukses menganga.
“Sayang... ini kamu yakin tempatnya?” tanganku menepuk pundak Hengky tanpa mengalihkan pandanganku dari depan.
“Mana mungkin aku lupa, Sayang. Ini hadiah ulang tahunku sewaktu usia lima tahun...”
“Apaa??!” mataku melotot tidak percaya.
Hengky tertawa. Ia membukakan pintu mobil untukku, “Nanti, ini juga bakal jadi punya kamu...”
“Sayang, kamu mau tahu gak? Base Camp waktu aku kecil umur lima tahun itu gardu kecil untuk Para Bapak-Bapak jaga malam di Kampung. Itu pun kami sudah merasa sangat keren bisa punya base camp sendiri. Tapi... apa ini?? Ini kalian sebut base camp??”
Aku menggeleng tidak habis fikir. Kelas sosial antara aku dan Hengky semakin jauh. Membuatku makin berfikir ulang, apakah aku harus mundur dari sekarang atau memberitahukan kepadanya bagaimana keadaan keluargaku yang sebenarnya kepada dirinya.
“Kalian... anak-anak sultan memang luarr biasaa...” Aku menepuk pundak Hengky pelan saat baru keluar dari mobil.
“Aku tidak bangga dengan hasil kekayaan Ayahku, Sayang. Saat ini aku sedang menabung agar bisa membangun bisnisku sendiri...”
“Hey kaliaan! Mau sampai kapan pacaran disitu??” Andy berteriak sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Yuk, masuk, Sayang...” Hengky menggegam tanganku.
Terlihat sekali villa ini jarang sekali dikunjungi. Memang terlihat bersih karena menurut cerita Hengky, ada yang datang membersihan villa seminggu tiga kali. Tapi tetap saja, aura ruangan yang sering dikunjungi manusia akan berbeda dengan yang dibiarkan kosong tanpa penghuni.
Saat kami masuk menuju teras ruang belakang, terlihat seorang wanita yang sedang duduk di kursi malas, menghadap pantai. Rambut ikal panjangnya berayun tertiup angin.
Ya. Itu Shinta. Sahabat baik ku.
Hengky dan Andy memberikan kode padaku agar aku yang maju menyapa Shinta.
Aku menurut. Sambil menarik nafas panjang, aku menghampiri Shinta lalu langsung memeluknya.
Shinta tersenyum. Ia membalas pelukanku lalu menoleh ke belakang,
“Sudah kuduga, Kalian pasti menyusulku kesini...”
“Kamu cukup merepotkan beberapa minggu ini, Maya...”
Andy sudah mengambil posisi, ia duduk di kursi teras yang ada di samping Shinta.
Shinta tersenyum lemah, ia menghela nafas lalu menoleh ke arah Hengky, “Hey, Bro...”
“Dan kamu membuat pacarku kurang tidur akhir-akhir ini”
Hengky menarik tanganku mendekati dirinya, ia menepuk kursi disampingnya, memintaku duduk disana.
Shinta menghela nafas kembali. Ia tertunduk lalu mengeluarkan sebatang rokok.
“Ta..?? Kamu bilang sudah berhenti kaan dua tahun lalu?” Aku mengernyikan dahi sambil menatap tajam ke arahnya.
“Sorry, Naya... Aku butuh ini sekarang... sekali inii sajaa....”
Shinta nampak mengacak isi tasnya, ia mencari-cari korek api namun sepertinya ia tidak membawanya.
CTAK!
Andy sudah berdiri di samping Shinta, menyalakan korek api untuknya.
“Thanks, Kak...”
Shinta menghisap rokoknya lalu di hembuskannya perlahan. Terlihat sekali ia menikmati setiap hisapan yang masuk ke dalam mulutnya. Beberapa kali terdengar helaan nafas beratnya. Sementara kami tidak menemukan kata yang pas untuk di ucapkan kepada dirinya.
Beruntungnya suara deburan ombak menyelamatkan keheningan. Burung camar terlihat beberapa kali nampak melintasi kami. Ah, luar biasa... aku bahkan belum pernah berkunjung ke villa semewah ini dengan pemandangan pantai yang menyejukkan hati.
“Kalian ingat waktu kecil dulu, kita sering diantarkan sopir kesini? Bermain dari pagi hingga sore hari lalu saat waktunya pulang, kita merengek pada Mbaa yang mengasuh kita sambil merayu agar kita diizinkan menginap disini...”
Shinta tersenyum pahit, ia menghisap rokoknya makin dalam.
“Sepertinya sudah saatnya untukku menceritakan kejadian yang sebenarnya ya, Kak?”
Menyadari semua tatapan ke arah dirinya, Andy menghela nafas panjang, ia berjalan ke arah tangga menuju pasir pantai lalu duduk di sana,
“Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya, bukan? Jika sudah seperti ini, sepertinya kamu tidak ada pilihan lain...”
Shinta tertawa pelan. Ia mengusap air mata yang berembun di matanya,
“Ah, sial! Gimana bisa aku gak terobsesi dengan Kakak kalau Kakak sebaik ini sama aku...”
...----------------------------------------------------------...
__ADS_1