
#42
Dengan cekatan Hengky menekan beberapa pilihan di layar handphone. Sorot matanya nampak serius,
“Okey, jika ini terjadi lagi di kemudian hari dan aku gak ada di dekatmu, ingat cara ini, Naya.”
Aku mengangguk sambil tidak melepaskan tatapan dari handphone.
Ya Tuhan, ternyata mudah sekali. Hanya perlu membuka aplikasi, pilih pengaturan, lalu pilih pengaturan keamanan, kemudian aktivitas login.
Saat di klik oleh Hengky, maka muncul semacam maps yang memberi tahu lokasi orang yang sebelumnya membuka akun ku beserta merk handphone atau komputer yang dipakainya.
“Bingo!” Hengky menjentikkan jarinya.
“Gimana? Ketemu?”
Hengky mengangguk, ia menunjuk ke layar handphone,
“Lihat, ada tiga perangkat yang sebelumnya membuka akun mu. Pertama dan kedua lokasinya di Margorejo berasal dari perangkat komputer yang berbeda, bisa jadi ia membukanya di warnet.
Petunjuk terpenting kita ada disini, perangkat terakhir.”
Aku memusatkan perhatian,
“Baru login 30 menit yang lalu, lokasinya di Kampus kita dan berasal dari Handphone Realme Seven.”
“Coba aku pusatkan sebentar maps nya biar kita dapat lokasi akurat Si Realme Seven ini.”
Jari Hengky bermain lincah di layar. Menekan beberapa pilihan, membuka maps, meng-copy tautan, dan lokasi terkini pemilik handphone pun muncul.
Aku membelalakkan mata, “I-ini...”
“Ya. Orangnya ada disini, Naya. Di kelas kita.”
Refleks aku mengedarkan pandangan, melihat satu per satu wajah teman-teman sekelas ku.
Apa mungkin Mala?
__ADS_1
Pandangan mataku langsung tertuju pada Mala, Ia sedang mengoleskan lipstick merah ke bibirnya, saat menyadari aku melihatnya, ia membuang muka sambil tersenyum sinis.
“Bukan Mala, Sayang. Handphone nya bukan Realme Seven.”
Aku menoleh ke arah Hengky, “Memangnya siapa yang punya handphone itu?”
“GILA SIH INI! TERNYATA ORANGNYA ADA DI DEKAT KITA!!”
Mendengar Hengky yang tiba-tiba berteriak membuat suasana kelas hening seketika. Semua pandangan mata mengarah padanya.
“Hengky... kamu kenapa teriak? Aku sengaja diam-diam...” bisik ku kesal.
Tanpa menggubris perkataanku, Hengky tersenyum lalu berjalan ke depan kelas. Senyumannya penuh arti, senyuman mendominasi.
“Teman-teman, saya gak mau berbasa-basi. Kalian juga tahu bagaimana kalau saya sudah emosi. Walau saya sudah tahu siapa pelakunya, tapi saya kasih waktu sampai hitungan sepuluh, silahkan mengaku dan kamu akan menerima keringanan hukuman.
Karena jika tidak, kamu akan menerima konsekuensi yang gak pernah kamu bayangin sebelumnya!!”
“Ngaku apa?! Jelasin dulu, kek! Gak jelas banget!”
Rara, salah satu teman satu gank Mala berteriak ketus.
Kenapa? Karena untuk meretas akun dan mencuri informasi pribadi seseorang jelas membutuhkan otak yang pintar.”
Tatapan tajam Hengky segera membungkam Rara dan teman-temannya. Mereka mendengus kesal lalu berpura-pura asyik menatap layar handphone.
“Satu!”
Hengky mulai menghitung. Tatapan matanya menjurus kepada beberapa orang, sambil sedikit memiringkan kepalanya, ia tersenyum menyeringai, “Dua!”
Beberapa orang mulai saling berbisik.
“Tiga!”
“Ih cepetan ngaku kenapa, sih?! Hengky itu udah tahu siapa orangnya! Siapapun kamu, kamu gak bakal bisa berkelit lagi!”
Suara Nisa terdengar kesal. Ia berdiri lalu duduk di sampingku sambil membisikkan sesuatu,
__ADS_1
“Kamu udah tahu kan siapa orangnya?”
Aku menggeleng, “Mungkin Hengky sudah tahu.”
“Empat!”
“Woy laah! Seru banget ini! Jangan ngaku yaa siapapun kamu, gue pengen ngeliat lu di siksa sampai mampus sama Body Guard Hengky! Untung kelas hari ini sudah selesai, bisa bebass gue mukulin orangnya nanti!!”
Alfian tersenyum sinis, ia bangun lalu berdiri disamping Hengky, “Gue bantu hitung, Ky!”
“Lima!!”
“Mampus lu mampuuss! Lu salah cari lawan, Bro! Lu lupa siapa Bokap Hengky, hah?! Makin lama lu gak mau ngaku, makin abiiss lu, Bro...!”
Hengky menarik kursi ke depan kelas, dengan tenang ia duduk. Sambil melipat tangannya di atas dada, ia tersenyum menyeringai,
“Kalau kamu pikir, kamu bisa kabur dan berpura-pura, urungkan sekarang juga.
Polisi sudah siap menunggu di gerbang kampus!”
Suara kasak-kusuk makin keras. Beberapa teman kelas perempuan makin semangat ikut berteriak agar si pelaku mengaku. Beberapa teman laki-laki bahkan sudah ikut berdiri di depan kelas, pandangan mereka mengitari seluruh ruangan, bersikap awas jika ada yang mau melarikan diri.
“Gue juga kesel sama pelaku! Gara-gara dia kelas kita jadi di cap buruk sama orang-orang!”
Rangga, teman laki-laki yang selalu duduk di samping Hengky mengepalkan tangannya. Ia menepuk pundak Alfian lalu berdiri di sampingnya.
“Enam!”
Saat aku hendak membuka mulut ingin menyudahi drama ini, aku tidak menyadari salah satu dari mereka perlahan-lahan berjalan mundur kebelakang dan berusaha berlari keluar kelas.
Ia berteriak marah sambil menerobos barisan anak laki-laki yang berbaris di depan pintu.
“BRENGSEK KALIAN SEMUA!! AWAS, GUE MAU LEWAT!”
Hengky tersenyum sinis. Ia mengumpat pelan lalu berjalan santai ke arah laki-laki yang tangan dan pundaknya sedang dipegangi oleh teman-teman.
Dengan kasar Hengky menarik jaket hoodie laki-laki itu, memaksanya agar menatap wajahnya,
__ADS_1
"Sudah kuduga. Itu kamu, Gilang!!”