
92
Kami sampai lebih dulu di KUA. Tadi Hengky menelpon bahwa ia dan rombongan keluarga besarnya akan menyusul lima sampai sepuluh menit lagi. Ia bercerita bahwa beberapa sepupunya nampak tidak menyukai MUA yang merias mereka dan meminta mereka mengulangi riasannya.
Ah, beberapa insiden yang kuanggap sebagai pemanis. Mungkin wajar karena saudara-saudara mereka tanpa dirias pun sudah terlihat cantik dan tampan. Ya, aku sama sekali tidak melihat satupun keluarga besar mereka yang tidak enak dipandang mata.
Sungguh keluarga yang luar biasa.
Syukurlah ruang tunggu di KUA lumayan besar dan nyaman. Setidaknya ada AC besar yang memenuhi kapasitas ruangan yang juga lebar. Aku tidak perlu repot mengkhawatirkan riasanku. Ya, walau tadi MUA yang meriasku bilang bahwa riasannya dijamin anti air dan tahan sampai malam hari.
Walau begitu, sambil tertawa ia bilang, “Kan nanti siang kita ketemu lagi, Mbak. Acara pernikahannya sore nanti, kan?”
Oke, untuk urusan riasan wajah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Mbak, mbaak.. itu Bang Andy nanti pasti dateng, kan?” Rissa, adik sepupuku yang baru kuliah semester empat berbisik dari belakang.
Aku tertawa pelan, “Mungkin iyaa, mungkin enggak...”
“Ih si Mbak, maah. Seriusan dong, Aku udah dandan cantik-cantik gini loh...” serunya sambil memajukan bibirnya.
Aku menepuk tangannya yang berada di pundakku, “Ditunggu aja yaa...”
Rissa adalah orang keempat yang menanyakan Andy padaku pagi ini. Pesona Andy memang luar biasa. Bukan hanya di kampus dulu, bahkan sekarang adik-adik sepupu dan karyawanku sedang dilanda demam Andy.
Aku yang tidak begitu menyukai berbasa-basi kini merasa tidak keberatan melayani tiap pertanyaan, ucapan selamat juga godaan dari saudara, teman-teman, dan juga petugas KUA.
Namun hingga setengah jam berlalu, rombongan keluarga Hengky belum juga datang. Abah dan Ibu mulai sibuk memintaku menghubungi Hengky. Karena jarak dari hotel dan KUA hanya memakan waktu selama lima menit, rasanya tidak mungkin selama lebih dari setengah jam, mereka belum juga sampai.
Aku menekan nama Hengky di layar handphone lalu menekan pilihan bergambar gagang telepon berwarna hijau.
__ADS_1
Hingga dua kali panggilan namun tidak juga diangkat, hingga panggilan ketiga, akhirnya telpon di angkat.
“Halo, Hengky. Sudah dimana?” tanyaku langsung bertanya hingga lupa mengucapkan salam.
“Naya...”
“Eh? Kak Andy?” Aku menjauhkan Handphone dari telinga untuk memeriksa kembali bahwa aku tidak salah menelpon.
Tidak, aku benar menekan nama Hengky tadi.
“Naya, kamu lagi dimana? Bisa menyingkir sebentar?” Nada suara Andy nampak terengah-engah.
Mendadak detak jantungku langsung memburu, “A-ada apa, Kak?” tanyaku berbisik sambil berjalan menjauhi saudara-saudaraku, mencari tempat yang sedikit sepi.
“Ada kecelakaan kecil, Naya. Mobil Hengky tadi ditabrak dari arah berlawanan.”
Pupil mataku membesar, detak jantung terasa terhenti. Aku tercekat tidak mampu mengatakan apapun. Lututku mendadak lemas dan aku jatuh terduduk.
Namun ia terlambat. Air mataku sudah jatuh tanpa bisa ku cegah. Bibirku tidak sanggup mengatakan satu patah kata pun. Jika keadaan Hengky baik-baik saja, ia yang akan mengangkat telponku. Jika itu hanya kecelakaan ringan, ia bisa mengabariku sendiri tanpa harus kutanya.
Hengky... dia... tidak baik-baik saja.
Melihatku jatuh terduduk membuat saudara-saudaraku panik. Ibu langsung menyambar telepon dari tanganku sementara saudaraku yang lain memegang pundakku, membimbingku kembali duduk.
Aku menatap Abah nanar, berusaha menahan air mata dan teriakan namun aku tidak bisa. Abah segera meraihku ke dalam pelukannya, ia membelai kepalaku lembut walau ia belum benar-benar mengerti tentang apa yang terjadi.
Ibu yang baru selesai menerima telpon ikut lemas. Namun dengan cepat ia bisa menguasai dirinya kembali, “Abah, Bapak Dani petugas KUA yang menjadi penghulu Naya dan Hengky hari ini, kan?”
Abah mengangguk pelan walau tidak mengerti maksud dari pertanyaan Ibu.
__ADS_1
“Naya, kamu harus kuat. Jangan rusak riasanmu agar Hengky bisa melihatnya nanti. Ayo, kita diminta ke rumah sakit. Tolong Abah, panggil juga bapak penghulu. Kita ke rumah sakit.”
Suasana mendadak kacau. Suara tangisku sungguh tidak dapat ku cegah. Beberapa saudara ikut menangis sambil berusaha menenangkanku.
“Yang ikut ke rumah sakit hanya Abah, Ibu, Naya, Bapak Penghulu, Uwak Ajo dan Paman Kasim. Selebihnya tolong tunggu di rumah. Saya mohon doakan Naya, doakan calon menantu kami,” suara Ibu terdengar parau, matanya sudah merah namun Ibu dengan hebat menahan kesedihannya.
Kakiku terasa lemas, aku tidak mampu melangkah. Bayangan yang terburuk langsung menghantuiku.
Tidak. Aku tidak siap. Aku tidak siap dengan kejutan seperti ini, ya Allah...
“Naya! Kamu harus kuat, Nak! Jangan seperti ini! Kita bahkan belum tahu keadaan Hengky yang sebenarnya...” Ibu menggenggam tanganku, berusaha mengalirkan kekuatan lebih untuk aku setidaknya bisa melangkahkan kaki ke dalam mobil.
“Ayo, Nak. Bapak Dani sudah menunggu di mobil,” Abah berdiri di depanku, mengulurkan tangannya. Tatapannya jelas sendu, ia menahan kesedihan agar aku tidak berlarut larut dalam ketakutan.
Uwak mengusap punggungku lembut, “Ayo, Naya...”
Aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan, ku ulangi sampai tiga kali hingga rasa sesak di dada sedikit berkurang.
“Ayo, kita berangkat.” Seruku pelan.
------------------------------------------------
Di dalam mobil aku tidak henti beristighfar. Sibuk menenangkan diri agar tangisanku tidak terdengar terlalu keras. Aku sudah tidak peduli riasanku berantakan saat ini, apa gunanya riasan sempurna jika Hengky tidak ada? Apa gunanya kebaya ini? Apa gunanya henna putih yang terukir sempurna di jariku ini?
“Kamu tenang, Nak. Gak mungkin Hengky meminta penghulu datang kalau keadaan dia parah atau tidak sadarkan diri. Mungkin dia cuman pengen ngasih kamu kejutan. Bukankah biasanya dia seperti itu? Iya kan, Bah?” tanya Ibu pada Abah. Suara ibu yang bergetar sangat kontras dengan kalimat penenang yang keluar dari bibirnya.
Aku tahu Ibu sama paniknya denganku, begitu pula dengan Abah. Tapi mereka berusaha kuat demi aku.
Abah mengangguk. Ia menoleh ke belakang, “Kamu tenang ya, Nak. Hengky baik-baik saja... Hengky baik-baik saja... tanamkan itu di dalam pikiranmu.”
__ADS_1
Ya, Hengky baik-baik saja. Hengky pasti baik-baik saja.