
46
Lift terhenti. Saat pintu lift terbuka, Hengky dan Pak Hariyanto berjalan keluar sambil menyelesaikan pembicaraan tentang kasus Gilang. Perlahan ku dengar Pak Hariyanto mulai beralih membicarakan kasus lain yang tidak ku mengerti.
Sedangkan aku? Ya Tuhan... aku tidak tahu mengapa aku justru malah berdiri tercengang begitu melangkah keluar lift.
Lantai lima sepertinya di desain khusus sebagai Kantor Pengacara. Namun tidak seperti layaknya Kantor Pengacara biasa, suasana dan desain kantor ini mirip seperti Kantor Polisi yang biasanya sering ku lihat dalam drama korea.
Beberapa meja berjejer teratur. Masing masing meja penuh dengan orang-orang yang sibuk menelpon dan beberapa orang sibuk dengan komputernya.
Yang membuatku tercengang adalah ada sel khusus di pojok ruangan. Ya. Benar-benar seperti sel penjara dengan tiga orang sedang meringkuk di dalamnya.
Tubuh mereka memang baik-baik saja tapi bibir mereka tidak henti berteriak lirih meminta pertolongan, meminta dibebaskan.
Aku memilih untuk diam walau tanpa sadar bergidik ngeri. Situasi saat ini kurang mendukung untuk menarik Hengky dan bertanya padanya tentang sel penjara itu. Di ruangan Pak Haryanto yang berdinding kaca, aku dapat dengan jelas melihat ia sedang sibuk berbicara dengan beberapa orang sambil memberikan beberapa instruksi.
Melihatnya nampak serius dengan gesture tubuh yang meyakinkan membuat Hengky terlihat sangat berbeda dengan Hengky yang ku kenal. Saat inilah aku baru benar-benar menyadari bahwa ia memang anak tunggal dan harapan terbesar bagi Ayahnya, bahwa ia menanggung tanggung jawab yang luar biasa sebagai pewaris tunggal perusahaan raksasa milik Ayahnya.
Namun, apakah suatu hal yang wajar sebuah perusahaan besar mempunyai kantor pengacara agak ‘aneh’ seperti ini?
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam lalu ku hembuskan perlahan, ku ulangi tiga kali, sampai perasaanku mulai tenang.
“Mbak, ada perlu apa kesini? Mau melaporkan sesuatu?”
Seorang laki-laki menegurku. Perawakan nya tinggi dengan kepala plontos membuat langkahku tanpa sadar beberapa langkah mundur ke belakang.
“A-aku datang bersama Hengky.” ucapku sambil tersenyum kaku. Jantungku berdegup kencang, rasanya aku diperlakukan seperti penyusup saat ini.
“Pak Hengky? Mbak yakin?” ia memicingkan mata, melihatku dengan curiga.
Aku menoleh ke arah Hengky, “Bapak boleh bertanya langsung pada Hengky jika tidak mempercayai saya.”
Aku menghela nafas kesal, dalam hati mengutuk Hengky yang justru sepertinya teralihkan sempurna kepada urusan yang lain. Ia benar-benar mengabaikan aku.
Setelah laki-laki itu mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arahku, Hengky menepuk jidatnya. Sambil tertawa ia berjalan ke arahku lalu menarikku ke dalam pelukannya,
“Maaf, Sayang. Ya Tuhan, terbiasa kesini tanpa orang lain membuatku lupa kalau kamu ada disini. Ayo pegang tangan aku, kita ke ruangan belakang. Gilang ada disana.” Hengky menjulurkan tangannya.
Aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum penuh arti kepada laki-laki yang mencurigaiku tadi. Ia langsung menunduk sopan sambil mengucapkan permintaan maaf.
__ADS_1
“Jangan marah, Sayang. Memang sudah menjadi tugas Pak Satria untuk menjaga keamanan kantor.” Hengky tersenyum, ia semakin mengeratkan pegangan tangannya.
Aku hanya mengangguk pelan. Sebenarnya tanpa diberi tahu oleh Hengky, aku juga mengerti mengapa Pak Satria bersikap seperti itu padaku tadi.
Sepertinya setiap ruangan di mansion ini tidak ada habisnya membuatku terkejut. Belum habis rasa terkejutku tentang ruang sebelumnya yang mirip dengan Kantor Polisi, kini aku kembali dikejutkan dengan ruangan kedua.
Ya. Saat Hengky membuka pintu dan memasuki ruangan baru, aku bisa melihat melalui cermin besar pemandangan dari ruangan sebelah.
Aku dapat dengan jelas melihat Gilang yang sedang duduk dan Pak Hariyanto ada di sisi meja lainnya, persis menghadap Gilang. Di dalam ruangan, ada Chris dan Alex yang tadi menjemput Gilang. Chris berdiri di samping Gilang, sedangkan Alex berdiri di samping Pak Hariyanto.
Aku dan Hengky dapat mengamatinya dengan cermat dari ruangan ini melalui cermin satu arah atau juga bisa disebut cermin dua arah. Gilang tidak dapat melihat kami, tetapi kami dapat melihat mereka dengan sangat jelas.
Hengky menggenggam tanganku, “Kamu siap, Sayang?”
Aku mengangguk, “Kita disini saja?”
“Aku sendiri yang akan menangani manusia itu. Kamu tunggu disini.”
Saat Hengky membalikkan badan, refleks aku menarik tangannya, agak ragu aku membuka mulut, “A-apa...Pak Hariyanto dan juga yang lainnya akan di dalam?”
__ADS_1
“Tenang, Sayangku. Aku tidak akan membiarkan satu pun orang tahu tentang kekurangan calon istri ku. Sudah menjadi kewajibanku untuk menutupi kesalahanmu dan melindungi siapapun yang mencoba menyakitimu.”