
#36
Jam enam pagi aku sudah berada di bis.
Sambil mengeratkan hoodie merah yang kupakai, aku menutup lubang AC di atas kursi ku.
Entah karena cuaca memang dingin atau karena aku yang sedang panik ketakutan, rasanya tangan dan kaki ku akan membeku sangking dinginnya.
Aku nyaris tidak tidur tadi malam.
Ketakutan dan over thinking memenuhi isi kepalaku.
Hanya ada dua alasan yang membuat Abah dan Ibu memaksaku untuk pulang, jika ini bukan tentang peretasan akun media sosial ku, maka pilihan kedua yang paling buruk adalah mereka mengetahui fakta menyakitkan tentang aku.
Ya. Hanya itu.
Abah dan Ibu tidak akan memaksa ku pulang hanya untuk merayakan ulang tahun ku.
Oh ya Tuhan... iya! Ini hari ulang tahunku.
Bagaimana mungkin aku bisa lupa hari ulang tahun ku sendiri?
Sial. Sebuah kado yang sangat manis di hari ulang tahunku, bukan?
Mungkin ini adalah hari ulang tahun yang tidak akan ku lupakan seumur hidup.
__ADS_1
Hengky saja mungkin lupa. Dia hanya menelfon dengan panik bertanya kenapa aku tiba-tiba mau pulang ke rumah. Subuh tadi setelah sholat, ia menjemput ke Kosan mengantarkan ku ke terminal.
Hanya satu kalimat yang selalu di ulang-ulang nya,
“Jangan pernah goyah walaupun mereka mengancam mu.”
Aku yang sudah terlanjur panik hanya tersenyum sinis lalu berucap pelan, “Kamu gak tahu gimana orang tua ku, Ky. Mereka akan melakukan apapun untuk membuktikan kecurigaan mereka.”
“Buktikan saja.”
“Apa?!”
Hengky tersenyum lalu meraih kedua tangan ku ke dalam genggamannya, “Orang tua mana pun tetap sama, Naya. Mereka tidak akan mau nama mereka rusak. Percaya sama aku, mereka hanya menggertak.”
Hengky benar. Pengakuan ku hanya berakibat buruk untuk masa depan ku. Mereka hanya akan memvonis ku tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu.
Selalu saja seperti ini setiap kali akan di sidang oleh Abah dan Ibu. Selalu saja aku tidak bisa tenang atau melawan seperti aku melawan setiap tatapan sinis setiap orang ke arah ku.
Orang tua ku berbeda. Mereka adalah pembunuh keberanian terbaik.
Saat laju bis semakin cepat, saat itulah aku merasa denyut jantung pun berdetak lebih cepat.
...---------------------------------------------...
Saat kaki ku memasuki rumah, suasana yang ku rasakan seperti sedang memasuki rumah hantu. Rumah hantu yang sewaktu kecil dulu sering ku datangi bersama teman-teman saat pasar malam.
__ADS_1
Perasaan tegang, ketakutan dan mencekam memelukku dengan erat. Apapun yang kupikirkan akan selalu berakhir pada ketakutan.
Pada dasarnya aku memang sangat penakut. Aku takut pada hujan lebat saat malam, aku takut pada gelap, aku takut pada kedalaman laut atau sungai, dan aku paling tidak bisa di bentak.
Aku tidak mengerti apakah ini pengaruh dari masa kecil yang selalu di bentak dan tidak di perbolehkan melakukan yang kusuka atau hanya karena karakter ku saja yang penakut.
Saat sudah melihat Abah atau Ibu melotot, nyali ku akan langsung menciut. Boro-boro di bentak, di lihat dengan tajam saja sudah membuat ku ketakutan.
Seperti saat ini.
Abah sedang pergi ke Kantor saat aku datang. Hanya ada Ibu yang katanya sedang tidak enak badan. Saat aku mencium tangan nya tadi, aku sangat tahu arti dari tatapan matanya. Tatapan mata seperti akan memakan ku bulat-bulat.
Beruntung kedua adikku sedang berada di Pondok Pesantren saat ini. Aku pun tidak mengerti mengapa aku lega adik-adikku tidak di rumah saat ini.
Mungkinkah ini karena harga diri seorang anak pertama? Walau bagaimana pun aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan adik-adik ku.
Selama hampir seharian aku di rumah, Ibu sama sekali tidak mengajakku bicara. Ia seperti menganggapku tidak ada. Begitu pun Abah saat sampai ke rumah sewaktu siang hari.
Setelah mengucap salam, begitu melihat ku Abah hanya melirik sekilas lalu masuk ke kamar.
Aku yang sedang di ruang TV mendadak seperti makhluk halus yang tidak kasat mata.
Aku tidak mengerti, mengapa mereka memintaku untuk pulang pagi-pagi sekali jika mereka malah memperlakukan ku seperti ini?
Psikologis ku seperti dimainkan semakin terpuruk lagi. Hati ku makin tidak karuan dan semakin panik setiap kali Abah atau Ibu lewat di depanku.
__ADS_1
Apakah ini saatnya? Apakah aku akan di sidang sekarang?