
#37
Sampai saat malam tiba, setelah sholat Isya, Abah memanggil ku ke ruang keluarga.
Inilah puncak acara.
Inilah tujuan Abah dan Ibu meminta ku pulang.
Sebelum keluar kamar, aku menarik nafas panjang lalu ku hembuskan perlahan.
Bagi ku, ini seperti ritual untuk memanggil keberanian dan kekuatan hati untuk datang menyertai ku.
Aku butuh Naya yang berani.
Aku butuh Naya yang ber-acting dengan baik.
Setelah memastikan hati dan mental ku siap, aku melangkah keluar kamar.
“Coba kamu jelaskan apa maksud dari pesan ini.”
Abah langsung menyodorkan handphone ke arah ku. Ekspresi wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi.
Dengan tenang, aku meraih handphone.
Dan ya... dugaanku benar. Seseorang mengirimkan pesan kepada Abah secara anonim.
...Selamat Malam, Pak. ...
...Maaf, saya hanya ingin memberitahukan perilaku memalukan Naya selama ini....
...Dia pernah menginap di Kosan laki-laki bernama Andy....
...Dia juga pernah meminta saya menemani nya membeli alat test kehamilan....
...Jika Bapak tidak percaya, silahkan cari Andy Nugroho. Semua mahasiswa mengenalnya....
Secara mengejutkan aku malah tersenyum lalu berusaha tetap tenang menyerahkan Handphone kembali kepada Abah.
Diam-diam aku menyembunyikan tangan ku yang terasa dingin dan gemetar ke dalam saku.
Detail sekecil apapun pasti akan di perhatikan oleh Abah dan aku tidak boleh ketahuan.
Membeli alat test kehamilan katanya?
Astaga... aku bahkan tidak berfikir sampai kesitu.
“Apa ini benar, Naya?” tanya Ibu sambil menatap mata ku.
“Ini bohong, Bu. Aku bahkan tidak pernah kepikiran akan memasukkan kejadian seperti ini dalam novel ku. Apalagi benar-benar terjadi dalam hidup ku.”
“Ini juga pesan yang dikirimkan oleh nomor yang sama,” Abah kembali menyerahkan handphone nya, meminta ku kembali membaca pesan di layar.
...Naya juga pernah menginap di rumah laki-laki lain....
...Saya sudah pernah mengingatkan nya agar menjauhi laki-laki itu tapi tidak di hiraukan....
Pikiran ku segera memunculkan satu nama. Shinta.
__ADS_1
Ya, hanya dia yang melarang ku berhubungan dengan Hengky atau Andy. Hanya Shinta juga yang menyimpan nomor Abah.
Ya Tuhan... Dugaan ku selama ini benar. Orang ini adalah Shinta.
“Naya?!”
Aku tergagap. Dengan cepat aku berusaha mengendalikan diri lalu kembali tersenyum, memandang mata Abah dan Ibu,
“Abah... Ibu... Naya tidak memaksa Abah dan Ibu percaya sama Naya. Karena jika pada dasar nya ada keraguan di hati Abah dan Ibu maka penjelasan sebaik apapun tidak akan membuat Abah atau Ibu percaya sama Naya.
Tapi satu hal yang harus Abah dan Ibu tahu, bukankah ini bukan kali pertama aku di fitnah seperti ini?”
Ibu berdehem pelan, ia menghela nafas lalu menyenderkan tubuh nya di punggung kursi,
“Kamu mau tahu, Naya? Abah sampai tidak tidur semalam, Ibu pun sama. Orang tua mana yang tidak shock membaca pesan seperti ini. Abah mu bahkan menangis sewaktu baru pertama membaca pesan itu.”
Abah tertunduk, ia menarik nafas panjang, “Abah berusaha tidak percaya, Naya. Tapi dia mempunyai bukti.”
“Apa? Bukti apa?”
“Kamu jujur saja, Naya. Ibu sudah tahu semuanya...”
Ini gila. Aku bahkan tidak menyadari ada bukti.
Tidak... aku harus tenang... aku harus tenang.
“Apa yang harus Naya akui, Bu? Naya tidak melakukan kesalahan apapun.”
“Kamu berani sumpah di atas Al-Qur’an?”
“Ya!”
Bangun, Naya!”
Abah mendadak berdiri lalu mencari kunci mobil. Sementara Ibu masih terduduk lemas di kursi nya. Pandangan mata nya kosong.
Tangan dan kaki ku makin terasa dingin. Aku menelan ludah,
Tidak... ini tidak boleh terjadi.
Apa yang harus ku katakan jika hasil pemeriksaan sudah keluar nanti?
Bagaimana ini? Ya Tuhan... bagaimana ini?
Secara tidak sengaja, mata ku melihat Ibu yang masih terduduk lemas. Wajah pucatnya semakin terlihat pucat saat tatapan matanya bertabrakan denganku.
Beberapa kali Ibu menghela nafas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Demi Tuhan, sampai mati aku tidak akan memaafkan orang yang membuat Abah dan Ibu ku seperti ini.
Seburuk apapun yang ku lakukan, orang tersebut tidak ada hak memperlakukan Abah dan Ibu seperti ini.
Dengan sengaja mengaduk perasaan dan emosi mereka sampai Ibu yang biasanya hanya marah-marah saja terlihat menanggung beban pikiran yang sangat luar biasa.
Sementara Abah terlihat linglung mencari kunci mobil.
Tidak, Abah tidak bingung, ia hanya berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang hampir jatuh. Ia berusaha menyibukkan diri agar mengalihkan perasaan sedih yang menguasai diri.
__ADS_1
Aku menggigit bibir ku kuat-kuat.
Tidak, aku tidak boleh menangis.
Aku harus kuat!
“Ayo, Bu! Kemana jilbab Ibu? Kita jalan sekarang!”
Abah yang sedari tadi mondar mandir mencari kunci mobil kemudian menyadari bahwa Ibu tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduk nya tadi.
“Setelah pemeriksaan, apapun hasilnya nanti, apakah menurut Abah berita tentang Naya tidak akan menyebar dengan cepat?”
Ibu menatap mata Abah, mata nya terlihat berkaca-kaca.
Punggung Abah melemas. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, menyembunyikan tangannya yang gemetar. Dengan lemah, ia berjalan kembali masuk ke dalam lalu duduk kembali ke kursi.
Aku yang melihat Abah dan Ibu menangis tanpa suara seolah sedang mengiris pergelangan tanganku sendiri.
Sangat sakit melihat mereka seperti ini.
Punggung Abah bahkan sampai terguncang karena menahan suara tangis nya agar tidak terdengar oleh ku.
Pertahanan ku jebol. Aku tidak bisa menahan air mata yang mendesak untuk keluar.
Sambil berlari aku memeluk Ibu, menangis di pangkuannya.
“Abah tahu, berita dengan sangat cepat menyebar seperti api memakan daun kering. Walau hasil pemeriksaan nanti akan menyebutkan bahwa Naya masih suci, tapi akan sangat mudah bagi orang lain memutar balikkan fakta. Mereka akan sangat jumawa bilang, ‘Lihat, Naya Khairunnisa anak Ustadz Tabrani Omar test keperawanan di Rumah Sakit!’, Jika itu terjadi, apa yang akan kita katakan tidak akan guna nya lagi, penjelasan apapun tidak akan membuat mereka percaya.”
Abah terdiam tidak membalas perkataan Ibu. Ia hanya mengangguk pelan sambil masih menundukkan kepala nya.
Ibu meraih wajah ku, sambil menahan tangis ia membelai rambut ku,
“Ibu percaya sama Naya. Ibu percaya, Nak. Dulu sewaktu kamu masih di Pondok Pesantren, saat liburan kamu main ke rumah teman mu, ada juga pesan yang masuk yang memberi tahu kamu kata nya main ke rumah Laki-laki.
Kamu mau tahu, Nak? Ibu datang langsung ke lokasi yang di sebutkan orang itu. Ibu membuktikan sendiri bahwa kamu hanya duduk di teras bersama teman-teman mu, tidak ada laki-laki selain dari Ayah nya teman mu yang sesekali keluar.
Mulai saat itu, Ibu berjanji tidak akan perduli lagi dengan fitnah semacam ini.
Maafkan Ibu, Nak... Ibu tidak mempercayai mu tadi...”
Tangisan ku makin kencang. Aku semakin mengeratkan pelukan ku. Selama ini aku tidak tahu Ibu selalu membela ku. Aku tidak tahu bahwa Ibu sangat menyayangi ku.
Aku terbiasa di didik dengan keras oleh Abah dan Ibu hingga nyaris tidak menyadari itulah cara mereka mengungkapkan kasih sayang nya.
Tidak semua orang pandai meng-ekspresikan rasa sayang nya lewat kata-kata atau pelukan hangat.
Apa yang sudah ku lakukan?
Aku membuat Abah dan Ibu menangis seperti ini.
A-aku sudah mengkhianati kepercayaan mereka.
Ya Tuhan, Naya...
Ya Tuhan... lihatlah hasil kebodohan mu!
Abah tiba-tiba berdiri lalu jongkok di samping ku, ia mencium kening ku lalu berbisik pelan,
__ADS_1
“Maafkan Abah, Nak...”
Air mataku semakin deras keluar.