Penjara Cinta

Penjara Cinta
Motif Tersembunyi


__ADS_3

67


Apa yang sedang kulihat saat ini benar-benar tidak dapat kupercaya. Hengky, kekasih yang mati-matian ku sembunyikan dari Abah, dan Andy, mantan kekasih yang pernah menjadi sumber masalah terbesar dalam hidupku kini duduk makan bersama keluargaku.


Berkali-kali aku mengerjapkan mata hanya untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi saat ini.


Hengky yang sejak tadi terlihat tenang sangat kontras dengan Andy yang biasanya pandai menguasai publik kini terlihat sangat canggung. Beberapa kali ia mengeluarkan handphone nya hanya untuk membunuh rasa gugup yang menguasainya.


Tebak Hengky membawa kami makan dimana?


Resto mewah yang ada di hotel bintang lima.


Saat mobil Abah mengikuti mobilnya memasuki basement hotel, keluargaku sibuk mengomel kenapa malah Hengky mengajak kami ke hotel? Bukannya kita mau makan? Karena setahu mereka, hotel hanya tempat untuk menginap, bukan untuk makan.


Namun saat Hengky keluar dari mobil, tersenyum ramah, bahkan memegang tangan Nenek, membantunya saat akan menaiki lift membuat Ali dan Uwak yang awalnya paling vokal protes mendadak diam. Abah dan Ibu tidak banyak berkomentar. Hal ini justru membuat pikiranku makin dipenuhi dengan prasangka negatif tentang apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan.


Tidak mungkin Abah dan Ibu begitu saja mengajak mereka jika tidak memiliki maskud tersendiri, bukan?


“Maaf Abah, Ibu, Hengky gak punya rekomendasi resto yang nyaman kecuali disini. In syaa Allah tempatnya nyaman dan ada banyak menu yang bisa dipilih,”


Abah mengangguk sambil menepuk lengan Hengky, “Kamu sering kesini, Nak?”


“Beberapa kali, Abah. In syaa Allah tidak akan mengecewakan,” lanjut Hengky sambil sedikit membungkukkan punggungnya.


Tinggi badan Hengky dan Andy memang sangat mencolok. Itulah mengapa Ali yang dari tadi diajak berbicara oleh Hengky terkesan menghindar. Aku tahu, ia tidak suka merasa tersaingi.


Saat lift berhenti dan pintu terbuka, visual kami begitu dimanjakan dengan nuansa resto khas eropa. Suara instrumen musik klasik yang sangat ramah ditangkap oleh telinga juga aroma masakan yang membuatku menelan air liur.


Dalam hati aku bertanya, “mengapa Hengky tidak pernah mengajakku kesini?”


Seorang resepsionis laki-laki berusia sekitar 20 tahunan menyambut kami di pintu masuk. Dari tatapan dan cara bicaranya, ia terlihat sudah hafal dengan Hengky maupun Andy. Tanpa ragu ia segera meminta kami mengikuti langkahnya memasuki ruang VIP.


Nenek, Uwak dan Pamanku yang baru pertama kali memasuki resto mewah yang mempunyai ruang VIP nampak ternganga dengan pelayanan dan juga ruangan yang bernuansa klasik. Ruangan ini lebih terkesan elegan dengan gaya victoria abad pertengahan. Penataan lampu gantung, tirai, serta ornamen dinding pun sangat apik. Tampilan ruangan cenderung mengutamakan warna yang serba cerah. Kemudian dihiasi dengan berbagai furniture identik gaya Victoria.


Aku mendadak merasa seperti sedang berada di rumah Hengky. interior dan penataan ruangnya persis sama dengan ruang makan di rumah Hengky.

__ADS_1


Seorang pelayan masuk dan memberikan buku menu.


“Boleh Hengky bantu memesankan makanannya, Bah?” tanya Hengky sopan sambil tersenyum.


Abah mengangguk, “Silahkan.”


“Abah suka makanan yang seperti apa?”


Sementara Hengky bergantian bertanya tentang makanan yang ingin keluargaku makan, aku malah fokus menatap Hengky. Aku masih belum mengerti mengapa ia bisa secakap ini.


Tanpa ku minta, Hengky sudah berinisiatif menerjemahkan beberapa menu makanan dan menjelaskan kepada keluargaku jenis makanannya. Karena ini adalah resto khas eropa yang menu nya sebagian besar berbahasa asing, maka Nenek, Uwak atau Pamanku, tentu akan sangat kebingungan jika tidak dibantu olehnya.


Andy yang mulai rileks saja kurasa tidak akan bisa se-cekatan ini. jika ku fikirkan, mungkin pengalaman Hengky yang dari kecil sering diajak serta diserahkan mengurus urusannya sendiri membuatnya lebih dewasa dan lebih peka dari laki-laki seusianya.


“Naya?”


“Eh, I-iyaa...?” Aku tergagap.


“Kamu suka makanan apa?” Hengky tersenyum padaku.  Aktingnya memang luar biasa.


“Tenderloin?”


“Boleh.”


“Medium or well done...?”


“Well done.”


Hengky tersenyum sambil mengangguk. Ia berbicara pada pelayan dan menyebutkan beberapa menu. Setelah pelayan pergi ia menaruh kedua tangannya di atas meja lalu menatap Ali dan Abah bergantian,


“Ini Adik Naya ya, Abah?”


Abah mengangguk, “Iya, ini adik Naya yang pertama, namanya Ali Husain dan ini yang bungsu, Osman Al-Fatah. Oh ya, ini Nenek Naya, ini....” Abah memperkenalkan satu persatu keluarga besarku.


Setelah selesai memperkenalkan keluargaku, Abah membenarkan posisi duduknya, “Andy sudah lulus kuliah?”

__ADS_1


Andy yang dari tadi diam buru-buru mengangguk, “Alhamdulillah, bah. Baru lulus tahun kemarin sih. Agak telat lulusnya...”


“Hengky tadi wisuda juga kan?” tanya Abah lagi.


“Iya, Bah. Alhamdulillah...”


“Kemana keluarga kamu, nak? Tidak ikut mendampingi?”


Hatiku berdesir. Aku sudah tahu pasti Abah mengajak Hengky kesini bukan tanpa alasan. Apa yang akan Hengky katakan?


“Papi sedang mengurus beberapa klien di luar negeri sedangkan mami sedang sibuk di Yayasan Sosialnya, Bah...” Hengky menjawab dengan tenang.


Suara Uwak dan Ali yang saling berbisik sangat mengganggu telingaku. Nenek yang tidak seberapa mengerti tentang apa yang dikatakan Hengky hanya mengangguk berulang kali.


“Segitu sibuknya sampai saat anaknya wisuda tidak hadir?” tanya Abah hati-hati.


Hengky tidak menajwa. Ia hanya tersenyum.


“Lalu saudaramu yang lain bagaimana, Nak? Paman atau bibi?” Ibu mulai angkat bicara.


“Jadwal wisuda Hengky memang berbenturan dengan jadwal mereka jadi tidak ada yang bisa hadir. Kebetulan paman dan bibi tinggal di Surabaya, Makasar dan ada juga yang di Korea Selatan. Karena jarak yang lumayan jauh jadi tidak memungkinkan untuk hadir. Syukurlah Hengky punya Kakak yang bisa andalkan,” jelas Hengky panjang lebar sambil menoleh ke arah Andy.


Paman Kasim, adik Ibu yang paling bungsu  tertawa pelan. Ia mengangkat tangannya, “Tidak ada yang bisa menghandle keluarga sesuai dengan yang kita mau, bukan? Bukan salah Hengky jika keluarganya tidak ada yang bisa hadir.”


“Bukan salahnya namun itu mencerminkan kualitas dari hubungan antar keluarganya.”


Kalimat Abah singkat namun sukses membuat raut wajah Andy an hengky berubah. Aku menghela nafas kesal, “Abah, bisa gak kita ngomongin hal yang lain aja? Kok temenku jadi kayak di interogasi gini deh.”


Abah menggeleng pelan,”Bukan, Naya. Abah hanya ingin Hengky atau Andy tahu bahwa anak abah tidak akan abah izinkan masuk dan diambil oleh keluarga yang bahkan tidak saling melihat wajah saat pagi dan tidak saling sapa saat malam hari. Jika Papi dan Maminya sesibuk itu, lantas kamu bisa berharap apa dari contoh yang diberikan oleh orang tuanya tentang bekal menjadi seorang suami kelak?”


“Abah...” mataku terasa memanas.


“Sebelum hubungan kalian semakin jauh, Abah hanya ingin Hengky tahu, Naya ini tidak sama dengan perempuan di luar sana yang mungkin bisa dengan mudah Hengky dapatkan dengan hanya mengandalkan harta dan kekayaan belaka. Jika hanya masalah harta, in syaa Allah Abah dan Ibu lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan Naya,”


“Dari kecil Naya sudah dididik dengan ketat dan dibatasi bergaul dengan orang luar yang menurut Abah tidak baik untuknya. Jika pergaulannya saja sangat Abah jaga, bagaimana mungkin saat Laki-laki asing yang berasal dari keluarga yang tidak jelas datang untuk mengambil anak perempuan Abah satu-satunya dan hanya akan Abah biarkan begitu saja?”

__ADS_1


__ADS_2