Penjara Cinta

Penjara Cinta
Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

77


Sial.


Kenapa aku harus kembali berada di titik ini?


Susah payah bangkit dari kubangan air mata, merangkak naik ke tepi namun kembali terpeleset dan kembali kesini.


Sepulangnya dari restoran tadi, aku belum juga keluar kamar. Perutku tidak lapar dan adanya kamar mandi di dalam sangat membantuku untuk tidak bertemu dan melihat wajah menyebalkan Abah dan Ibu untuk sementara ini.


Ya. Aku sangat membenci mereka yang bersikap sangat tidak adil pada Hengky.


Bagaimana mungkin mereka membiarkan Fatih dengan terang-terangan mengungkapkan perasaannya padaku namun menghina Hengky yang bahkan hanya tersenyum padaku?


Padahal saat itu Hengky hanya tersenyum, hanya menanyakan menu apa yang ingin ku makan lalu mereka ‘menghabisi’ Hengky tanpa ampun. Membangun tembok tinggi antara aku dan Hengky dan menutup segala akses ke arahnya.


Latar belakang keluarga mereka bilang? Hah! Omong kosong! Fakta bahwa Ayah Fatih yang mempunyai tiga istri dan ternyata menikahi istri yang ketiga tanpa restu dari istri yang pertama dan kedua membuatku semakin muak.


Aku tidak tahu apakah aku termakan berita hoax atau sekedar gosip belaka. Tapi informasi dari Paman Kasim benar-benar datang pada saat yang tepat.


Paman Kasim tadi baru saja menelponku. Awalnya hanya menanyakan kabar saja. Namun mendengar suaraku yang parau membuatnya khawatir dan mendesakku untuk bicara. Saat aku selesai bercerita, Paman Kasim menggeram marah dan memberitahuku tentang informasi yang tadi kuceritakan pada kalian.


Aku tidak tahu, dari aku kecil, Paman Kasim sudah sangat dekat denganku. Sifatnya yang ceria dan humoris mampu membuat aku yang pemalu merasa diterima dengan baik saat sedang berada di acara kumpul keluarga besar.


Paman Kasim adalah Pamanku yang paling cerdas. Ia menempuh Pendidikan S1 nya di Depok, kemudian melanjutkan S2 dan S3 nya di Jerman. Kepulangannya ke Indonesia adalah saat Nenek memintanya pulang dan menjodohkannya dengan Tante Irina. Ya, mantan istrinya.


Aku tidak tahu alasan mengapa Paman Kasim yang baik hati, ramah dan humoris bisa diceraikan oleh Tante Irina, tapi menurut rumor yang ku dengar, Tante Irina terbukti berselingkuh dengan laki-laki lain.


Fakta yang baru saja kudengar saat makan bersama setelah wisuda kemarin adalah, ternyata Abah dan Ibu-lah yang menjodohkan Paman Kasim dan Tante Irina.


Setelah pernikahan Paman Kasim dan Tante Irina gagal, lalu sekarang mereka akan mengulangi kesalahannya kembali?


Tiba-tiba bayangan senyum Hengky berkelebat kembali. Aku sangat ingin mendengar suaranya saat ini. kulirik jam dinding, baru pukul delapan malam, bukankah sekarang adalah saat restoran sedang ramai-ramainya?


Namanya sudah ku cari di daftar kontak namun ku urungkan kembali. Aku tidak ingin mengganggu kerjanya. Apalagi terakhir kali ia bilang bahwa ia sedang fokus mengembangkan restonya dan akan membuka cabang di kota lain.


Rasanya saat menghadapi masalah sendirian sangat membuatku frustasi. Kehadiran Hengky yang dulu selalu ada saat masalah sekecil apapun sekarang baru terasa sangat berarti. Dulu, aku menganggapnya wajar untuk selalu ada disisiku kapanpun aku membutuhkannya.


Namun kali ini aku menyadari sesuatu, tidak semua orang mendapatkan kasih sayang seperti itu.


Jika bukan bersama Hengky, akankah aku bisa mendapatkan kasih sayang setulus ini?

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang. Saat ini yang harus kulakukan hanyalah fokus untuk mencari alasan untuk menolak Fatih. Apapun yang ia katakan tadi, saat ia tahu rahasia terbesarku, aku tidak yakin ia akan dengan sangat percaya diri mengatakan, “Gak papa, Naya. Aku menerima kamu apa adanya.”


Tidak mungkin.


Bahkan Hengky saja saat mengetahui fakta itu sempat tidak bisa mengendalikan kemarahannya, lalu bagaimana dengan Fatih yang hanya ‘orang asing’?


Ayolah, Otaakk... berpikirlah dengan baik...


Cari alasan yang tidak bisa membuat Abah dan Ibu berkutik...


Cari alasan yang dapat membungkam Fatih dan segera mengakhiri proses ini.


Sebelum seminggu lagi, sebelum Fatih yang akan kembali datang tujuh hari lagi untuk mendengar langsung jawaban dariku.


------------------------------------------------


H-3, sebelum Fatih datang kerumah.


Aku yang sedang melipat baju di kamar dikejutkan dengan suara Ibu yang berteriak dari ruang TV. Setelah terburu-buru menghampiri beliau, ternyata Ibu mengatakan,


“Fatih nanya Ibu, Kamu suka jilbab warna apa?”


Keningku berkerut heran, “Mau ngapain nanya-nanya segala?”


“Apa? Boneka?” tanyaku tidak percaya.


Ibu mengangguk, menunggu jawaban dariku.


“Entahlah, Bu. Naya gak tertarik buat ngejawab pertanyaan gak penting kayak gitu.”


Aku segera membalikkan badan lalu kembali masuk ke kamar, meninggalkan Ibu yang sibuk menggerutu apa susahnya hanya menjawab pertanyaan mudah seperti itu.


Sekedar informasi, sampai saat ini, aku belum juga menemukan alasan penolakan yang tepat.


-----------------------------------------


H-5


01.00, dini hari.


Hengky menelfonku, ia berkata bahwa ia baru saja bermimpi buruk dan bertanya apakah semua baik-baik saja?

__ADS_1


Aku yang memang berniat tidak ingin menambah beban pikirannya hanya menjawabnya dengan jawaban yang ingin ia dengar.


Selanjutnya Hengky menceritakan tentang usahanya yang semakin ramai dan dalam waktu dekat ia akan segera launching cabang resto pertamanya di daerah dekat Ibu Kota. Ia bahkan mengutarakan mimpinya bahwa nanti ia akan membuka kesempatan untuk beberapa pengusaha pemula untuk membuka cabang franchise.


Ia juga bercerita bahwa Andy sangat membantunya dalam berbagai hal. Betapa ia sangat bersyukur dan berterima kasih padaku karena tetap bersedia menunggunya sampai hari ini.


Hari kelima, otak ku masih terasa tumpul untuk hanya sekedar mencari alasan simple untuk menolak Fatih.


-------------------------------------------


Mengapa waktu berjalan sangat cepat disaat aku menginginkan waktu terhenti?


Aku yang berusaha tidak begitu memikirkan hari ini dan berusaha menjalani hari dengan biasa saja kini berakhir dengan bangun pagi dengan ekspresi terkejut.


Hari ketujuh. Inilah hari yang sangat tidak kuinginkan datang.


Aku harus bagaimana? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


Setelah sholat subuh dan membaca dzikir pagi, nama Paman Kasim langsung terlintas dalam pikiranku.


Hanya Paman Kasim yang dapat membantuku kali ini.


Dengan gusar aku menunggu panggilanku diangkat oleh Paman. Tiga kali panggilan dan tidak juga diangkat.


Mataku sudah berkabut, dadaku mendadak sesak. Sambil gemetar aku kembali menekan tombol panggil.


“Assalamualaikum, Naya. Ada apa, dek?”


Aku memekik lega, “Paman dari mana aja? Kenapa dari tadi gak angkat telfon aku?”


“Ah, maaf, tadi masih di masjid. Ini baru pulang. Ada apa, dek?”


Aku yang sedari tadi berjalan mondar-mandir kini berusaha untuk tenang dengan duduk di atas ranjang, “Tolong aku, Paman. Fatih akan kesini hari ini.”


Suara Paman terdengar keheranan disana, “Lalu, kenapa kamu butuh bantuan Paman?”


“Fatih datang untuk melanjutkan proses ta’aruf. Aku gak mau sama dia, aku gak mau nikah sama dia. Apa Paman bisa ngomong sama Abah dan Ibu? Please... aku gak tahu harus gimana lagi...” seruku memohon. Aku bahkan sudah menangis sesenggukan saat ini.


“Jika ini menyangkut masalah kalian berdua, bukankah sebaiknya kamu berkata yang sejujurnya pada orangnya langsung? Katakan padanya apa yang kamu rasakan. Paman yakin, dia tidak akan mau melanjutkan pernikahan dengan seorang wanita yang telah terang-terangan mengatakan tidak menyukainya, bukan?”


“A-apakah dia mau memahami alasanku?” tanyaku ragu.

__ADS_1


“Tentu saja! Laki-laki mana yang bersikeras menikahi seorang wanita yang secara gamblang mengatakan, ‘aku tidak menyukaimu! Aku tidak mau menikah denganmu!”


__ADS_2