Penjara Cinta

Penjara Cinta
Apa Kabar, Naya?


__ADS_3

47


Sebelum Hengky pergi, ia menekan satu tombol di atas meja. Begitu tombol selesai di tekan, suara dari ruangan sebelah langsung terdengar jelas.


Aku meraba kursi lalu duduk dengan hati-hati. Pandangan mataku tidak beralih dari sosok Hengky dan Gilang di ruangan sebelah. Entah apa yang akan terjadi nanti, perasaanku campur aduk tidak menentu.


 Antara penasaran, marah, kecewa, kasihan, semua tercampur sempurna menghasilkan sensasi yang membuat kepalaku terasa pusing dan telinga sebelah kiri yang entah mengapa terus berdenging.


Pak Hariyanto dan kedua bodyguard Hengky sudah keluar begitu Hengky masuk. Itu membuatku sedikit lega, setidaknya apapun yang mereka bicarakan di dalam, hanya aku yang tahu.


Hengky menarik kursi lalu duduk. Pandangan matanya tidak lepas dari Gilang. Sorot matanya tajam membuat siapapun secara naluriah akan menunduk ketakutan.


Seperti Gilang saat ini, ia tertunduk sambil memainkan ujung baju kemejanya. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi ke samping kini berantakan. Namun jika ku perhatikan lebih teliti, sorot matanya bukan ketakutan. Ia terlihat cukup tenang. Ini mengejutkan, mengingat sebelumnya bicara denganku saja ia tergagap dan kata-katanya belepotan.


“Kamu sudah makan?” Hengky membuka pembicaraan.


Gilang tersenyum sinis. Ia mengangkat wajahnya lalu menunjukkan tangannya yang terikat cable ties, “Sebelum kamu berbasa-basi, bukankah lebih baik membuka ikatan ini dulu?”


Melihat Hengky hanya mengangkat bahu sambil tersenyum tipis membuat rahang Gilang seketika mengeras, ia memiringkan sedikit kepalanya lalu menyeringai,


“Kenapa, Hengky? Kamu takut? Seorang Hengky Widiyanto takut padaku?”


Masih sambil tersenyum Hengky memajukan badannya, “Kamu memohon padaku?”


“Apa?”


“Bermohon padaku, nanti ku lepaskan ikatannya.”


Mata Gilang melotot marah, “Lebih baik aku mati disini daripada harus bermohon padamu!”


“O ya? Mati untuk siapa? Shinta?”


 Sorot mata Gilang mendadak berubah. Ia terkejut. Begitu pula denganku.


 Apa hubungannya dengan Shinta?


“S-Shinta apa? Kamu mengeracau, Hengky! Tidak mungkin aku bisa berhubungan dengannya!”  Gilang mengangkat dagunya, tatapan matanya tajam seolah menantang Hengky.


Hengky terkekeh. Dengan tenang ia berdiri lalu berjalan ke arah Gilang, ia membungkukkan badannya sehingga bisa menatap wajah Gilang dengan baik,


“Kamu selama ini menganggapku lelucon, bukan? Berpura-pura innocent setiap kali ke Kampus, berpura-pura gemetar setiap kali menegur setiap wanita, tapi sebenarnya justru itu yang membuatmu menjerat mereka!”


Wajah Gilang menegang, ia berusaha mengendalikan ketakutan yang tiba-tiba menyergap dirinya, “Kamu sedang shooting drama, hah?”

__ADS_1


 “Apa menurutmu ini juga drama?”


Hengky mengeluarkan beberapa foto dari balik blazernya. Aku refleks langsung berdiri, mendekatkan wajahku dengan kaca, berusaha ikut melihat foto apa yang membuat Gilang kehilangan kata-kata.


 “Kalau memang ini drama, acting kamu lumayan juga ya! Lihatlah, Naya dan Shinta saja sampai tertipu olehmu.”


Gilang tidak menjawab. Tangannya sibuk mengamati satu persatu foto di atas meja. Pupil matanya nampak melebar, walau ia berusaha dengan keras menyembunyikan ketakutannya, sepertinya tangannya tidak bisa berbohong. Foto di tangannya nampak bergerak mengikuti tangannya yang gemetar.


 “Kamar Kosan ini, nampak familiar, bukan?” Hengky menyeringai.


Gilang menghindari tatapan Hengky. Nafasnya terlihat memburu. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat percaya diri, kali ini ia persis seperti anjing ketakutan.


“Bagaimana rasanya menjadi pesuruh Shinta? Manis ya? Atau apa kamu sudah langsung mencicipi tubuhnya sebagai imbalan kerja bodohmu ini?”


“HENTIKAN! Shinta tidak murahan seperti pacarmu!!”


Melihat Gilang yang mendadak emosi justru membuat Hengky tertawa keras. Ia menepuk pundak Gilang beberapa kali,


“Kamu... HAHAHA... Tidak ku sangka kamu lebih bodoh dari yang ku perkirakan!”


“Kamu yang bodoh!! Kamu tertipu oleh wajah sok polos Naya! Atau jangan-jangan kamu belum tahu bahwa Naya sudah digilir oleh Andy dan teman-temannya?!” bibir Gilang menyeringai.


Deg!


 Tawa Hengky mendadak terhenti. Ia menghela nafas kasar lalu mengumpat pelan,


 “Kamu melakukan dua kesalahan, Gilang. Pertama kamu mengganggu kehidupan Naya dan kedua, kamu membuat emosiku mendidih!!”


Gigi Hengky beradu menahan emosi, secepat kilat ia mengangkat tangannya. Sorot matanya dipenuhi kemarahan.


Melihat tangan Hengky terangkat membuat mata Gilang terbelalak, ia langsung secara otomatis melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.


Saat sedetik lagi tinju Hengky mengenai wajah Gilang, pintu tiba-tiba terbuka,


Pandangan kami secara bersamaan menuju ke pintu.


Chris menundukkan kepalanya, “Shinta sudah berhasil kami temukan.”


 “Ah... baguslah. Tolong bawa dia kesini sekarang! Aku tidak sabar melihat bagaimana wajah cecunguk ini setelah bertemu dengan wanita impiannya!”


-------------------------------------------------------------------


Ketika Shinta masuk di dampingi oleh Chris, mataku terbuka lebar mengikuti gerak tubuh SHinta. Aku benar-benar tidak mengenali bahwa wanita itu adalah Shinta yang ku kenal. Alisku makin naik mengikuti gerak mata yang makin melebar saat Shinta tersenyum kaku sambil memanggil nama Hengky, berbasa-basi.

__ADS_1


Rambut Shinta diwarnai pirang, ia memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki. Daun telinganya di hiasi helix piercing sebanyak empat buah di masing-masing telinga, ia bahkan mencukur habis alis tebalnya. Dan wajahnya... ya Tuhan, pipinya terlihat lebih tirus dari terakhir kali kami bertemu. Kaos over size nya tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang makin kurus.


“Kamu bersembunyi dengan baik, Maya.” Hengky menjulurkan tangannya, memberi Shinta kode untuk duduk.


“Cukup baik sehingga tidak mudah ditemukan olehmu, bukan?”


Gilang yang dari tadi nampak tegang menoleh ke arah Shinta, ada kesedihan dan juga kekhawatiran pada sorot matanya saat melihat Shinta.


Shinta mengedarkan pandangannya, jarinya mengetuk meja berirama, “Akhirnya kamu mengajakku ke sini.”


Hengky mengangkat tangannya, “Welcome.”


“Kamu kenapa kesini, Shinta?” suara Gilang tercekat.


“Menurutmu aku kesini secara sukarela?”


Shinta mencibir. Ia melirik Gilang sebentar lalu membuang pandangannya. Sebenarnya aku tahu, pandangan mata Shinta nampak terkejut saat masuk keruangan saat mendapati Gilang ada di sana.


Gilang menarik nafas gusar. Jarinya saling meremas, kelihatan sekali ia nampak tidak nyaman dengan kehadiran wanita di sebelahnya.


Shinta merubah posisi duduknya, dengan percaya diri ia membusungkan dadanya sambil menaruh kedua tangan di atas meja,


 “Sudah lama sekali aku penasaran dengan mansion mewah keluarga Widiyanto. Kamu tahu, walau mataku ditutup selama perjalanan kesini, hidungku dengan mudah mencium aroma kemewahan.


Aku sangat penasaran, seperti apa mansion mewah yang katanya memiliki ruangan bilyar, tempat karaoke, bowling, helipad, hingga bar untuk menjamu keluarga atau tamu relasi bisnis Ayahmu.


Bukankah kalian sering meminta tamu penting dan relasi bisnis untuk menginap di sini? Dengan mansion berjumlah lima puluh kamar, aku yakin mereka tidak membutuhkan hotel jika fasilitas disini sudah jauh melampaui hotel bintang lima.


Tapi sayang sekali, keluarga kita sudah bekerja sama sekian lama, tapi kenapa Ayahku tidak pernah kalian undang kesini?”


Hengky menghela nafas, rahangnya mengeras menahan emosi, “Maya, kamu...”


“Dimana Naya? Jangan bilang setelah menyeretku kesini kamu hanya ingin melepas rindu antara kita berdua?”


Shinta memotong kalimat Hengky. Ia terkekeh namun pandangannya tiba-tiba berhenti di cermin dua arah.


Pandangan kami secara tidak langsung bertemu. Aku menelan ludah,


Tenang, Naya... tenang... dia tidak bisa melihatmu dari sana.


Namun seketika aliran darahku terasa terhenti saat melihat Shinta sedikit memiringkan kepalanya sambil menyeringai menakutkan,


“Oh... aku tahu.... ternyata kamu disana. Hai, Naya. Do you miss me, My Friend?”

__ADS_1


__ADS_2