
84
Keheningan malam selalu berhasil membuatku terpesona. Suasana hati yang sejak sore tadi bercampur aduk kini menjadi lebih tenang setelah bangun dan mengadu padaNya, memohon restuNya. Kedamaian ini hanya bisa ku rasakan setelah ‘bertemu’ denganNya di sepertiga malam.
Perasaan apapun yang menguasai hati, namun saat mulai memasuki tahap yang membuat langkah kaki, pandangan mata, dan genggaman tangan yang akan selalu ‘terikat’ pada suatu hubungan yang bernama pernikahan, membuatku khawatir. Ini aneh, dulu aku selalu menginginkan hubungan final ini. Tapi kenapa sekarang aku menjadi ragu?
Apakah aku mampu menjadi istri yang baik nantinya? Menjadi Ibu yang baik untuk anak kami?
Perlahan ingatan menggiringku kembali kepada moment dimana Hengky maju memberikan kata sambutan sekaligus moment gunting pita sebagai tanda pembukaan resmi cabang ke sembilan White Cat Resto miliknya tadi siang.
Bukan ketampanannya yang membuatku resah malam ini, bukan pula tatapan memuja penuh kekaguman para tamu ke arahnya, aku belum bisa beranjak pada kalimat sambutannya siang itu,
“Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya saya maju kedepan memberikan kata sambutan sebagai Owner dan Presiden Direktur. Sebelumnya selalu diwakilkan oleh Kakak saya yang juga menjabat sebagai Direktur. Kelak, cita-cita saya dan Kakak saya, kami ingin White Cat Resto akan bisa membuka lebar kesempatan untuk orang lain membuka cabang kami dengan cara franchise. Alhamdulillah beberapa tawaran sudah masuk dan sedang diproses oleh bagian franchise division,”
“Sudah sangat lama saya menantikan moment ini datang dalam hidup saya. Butuh waktu hingga lima tahun hingga saya bisa mampu memantaskan diri dan memberikan kata sambutan pada grand opening cabang kami ke sembilan hari ini,”
“Lokasi resto dan Kota yang kami pilih, kalau saya boleh jujur, adalah lokasi paling pertama yang menempati urutan paling pertama sebagai prioritas saya. Namun, karena ini adalah yang paling utama, maka memerlukan beberapa proses hingga akhirnya bisa terwujud,”
“Di Kota inilah saya akan menaruh garis finish. Bukan sebagai akhir dari perkembangan resto kami, tapi bagi saya pribadi, kota ini akan menjadi tempat terakhir bagi saya untuk pulang. Kota ini, selain menyimpan berbagai keindahan alam, juga menyimpan seseorang yang sangat istimewa bagi hidup saya. Seorang wanita, yang bahkan namanya saja disebut, membuat saya tidak bisa menghentikan senyum di bibir saya,”
Hengky terdiam sesaat. Ia menundukkan kepalanya sebentar lalu mengangkat kepalanya, memusatkan pandangan matanya ke arah para tamu di meja VIP kedua, “Mohon maaf untuk Bapak Bupati, Ibu Bupati yang sudah meluangkan waktu untuk dapat hadir pada Grand Opening Resto kami,para tamu VIP yang saya hormati, saya mohon izin, untuk secara langsung melamar seorang wanita yang akan menjadi teman perjalanan hidup saya kedepannya.”
Aku mendadak pucat.
A-apa? Melamar? Melamar siapa?
Rasa bahagia, terkejut dan malu membuatku salah tingkah. Bapak dan Ibu Bupati yang langsung memberikan gerak tubuh setuju dan juga suara riuh dan tepukan tangan dari para tamu membuatku makin pucat.
Gerak mataku mengikuti arah mata Hengky yang memusatkan pandangannya ke arah lain, ia mengangguk sopan lalu tersenyum, “Abah...”
Hah? Abah?
__ADS_1
Di sisi tengah tempat berjalan ke arah panggung, Abah berdiri disana. Sontak aku menoleh ke arah Hengky, bertanya padanya lewat pandangan mata,
Apa yang sedang terjadi? Ada apa ini?
Hengky tersenyum manis ke arahku. Ia turun dari panggung, berjalan dengan penuh percaya diri ke arah Abah, lalu berhenti tepat di depannya,
“Abah, Izinkan saya meminta restu dari Abah, secara resmi, untuk melamar anak perempuan Abah satu-satunya, Naya Khairunnisa sebagai partner suka dan duka di sisa hidup saya.”
Seorang Pria berjas hitam, berlari ke arah Abah lalu menyerahkan microphone ke padanya.
Abah berdehem pelan, ia menoleh ke arahku lalu tersenyum, “Kamu mendapatkan izinku, Nak.”
Astaga, ini gila! Hengky sedang melamarku sekarang? Di depan banyak orang??
Saat aku memfokuskan pandanganku ke arah para tamu undangan, aku baru menyadari, aku telah melewatkan banyak jawaban dari pertanyaanku tadi. Lihatlah, Uwak, Paman Kasim, dan beberapa saudara yang lain ada di dua meja di belakangku sedang tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
Astagaa.. mengapa aku tidak menyadari itu dari tadi?
Ah, harusnya aku tidak pakai gaun ini tadi!
Seorang wanita cantik berambut lurus sebahu berjalan ke arahku, ia tersenyum lembut lalu menengadahkan tangannya, membimbingku keluar dari meja lalu berjalan ke depan,
Aku sepertinya ingat, wanita ini... bukannya...
“Naya Khairunnisa,” Hengky berjalan ke arah kami, ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana,” kebanyakan orang berkata bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dari dulu hingga sekarang kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta, kamu selalu berhasil menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang menunggu hari esok,”
“Naya Khairunnisa, maukah kamu menjadi obat jatuh cintaku ini? Bukan hanya untuk hari ini, tapi hingga akhir ketika Allah memanggil kita kembali.”
Semua pandangan mata terpusat padaku. Peluh sudah membasahi keningku dari awal tadi, kaki dan tanganku terasa dingin dan hingga sekarang detak jantungku masih memburu.
Aku menoleh ke arah Abah dan Ibu. Kebingungan harus menjawab apa. Namun ketika mereka secara lembut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya membuatku yakin, mereka sudah menerima Hengky seutuhnya.
__ADS_1
Ku hirup nafas dalam lalu ku hembuskan perlahan, “In syaa Allah, dengan izin dari Allah serta restu dari Abah dan Ibu, lamaran Hengky saya terima.”
Berakhirnya kalimatku tadi membawa kelegaan yang luar biasa pada hati. Sorak sorai suara para tamu dan iringan musik romantis membuatku seketika hanyut pada suasana haru dan bahagia yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.
Wanita yang ada di sampingku tadi menyambut kotak kecil dari Hengky, masih dengan senyumnya yang mempesona, ia mengeluarkan sebuah cincin bermata berlian yang sangat indah,
“Mami mewakilkan Hengky memakaikan cincinnya ya, Sayang...” ujar wanita itu sambil meraih tanganku.
Ya Allah, wanita ini Maminya Hengky! Astaga... bagaimana mungkin aku bisa lupa??
Suara tepuk tangan, siulan hingga riuh tawa bahagia langsung terdengar ketika Mami selesai menyematkan cincin di jari manisku. Pelukan hangat serta bisikan lembut, “Selamat datang di keluarga Widiyanto, Sayang...” membuat mataku secara otomatis segera melihat ke arah tamu untuk kedua kalinya.
Ah, benar. saudara-saudara Hengky ada disana. Secara mencolok dengan bentuk mata monolid, kulit putih dan postur mereka yang tinggi membuatku tidak kesulitan mengenali mereka.
Hengky berhasil mengejutkanku. Ia sangat berhasil memberikan kebahagiaan yang begitu tiba-tiba. Bahkan di dalam mimpi sekalipun, aku tidak pernah menduga hal ini terjadi di dalam hidupku.
Saat Abah dan seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya kuhafal sedang tertawa bersama sambil menjabat tangan membuat pandangan mataku berkabut, haru.
Abah dan Papi. Satu-satunya yang kami khawatirkan bertemu.
“Silahkan duduk kembali kepada keluarga dan calon pengantin kita hari ini. Beri tepuk tangan meriah dan juga sorak sorai untuk pasangan yang sedang dilanda asmara iniiii...!! Wah, harusnya saya dikasih upah double nih, Pak. Saya memimpin dua acara sekaligus nih.”
Suara gelak tawa MC dan para tamu undangan membuatku segera tersadar. Hengky yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan matanya dariku langsung tersenyum lembut saat pandangan mata kami bertemu.
Entah mengapa saat ini aku ingin bersembunyi darinya, aku tidak ingin ia melihat wajahku yang sedang memerah malu dan gerak tubuhku yang salah tingkah saat kami duduk berhadapan.
“Nak Hengky jadi menginap di Hotel Naviera? Besok mau ke rumah jam berapa?”
Suara Ibu yang bertanya pada Hengky sekali lagi membuat bola mataku membulat kaget, “Eh, kamu mau kerumah? Besok?”
“Bukankah kita harus mulai mempersiapkan acara pernikahan kita, Naya?”
__ADS_1