
#13
Saat aku sadar, aku mendapati diriku sudah berada di atas tempat tidur.
Sosok pertama yang kutangkap dengan mataku adalah Hengky.
Ia berada persis di sampingku.
Kepala nya tertunduk sambil menggenggam tanganku.
Saat aku memanggil namanya, dengan cepat ia mengangkat kepalanya. Dari ekspresi wajahnya sangat terlihat seolah beban baru saja terangkat dari dirinya.
“Naya... Ya Tuhan... Maafin aku, Naya...” Ujarnya penuh penyesalan sambil menaruh tanganku di pipinya, ia menatapku khawatir.
Ibu Hengky tiba-tiba sudah berada didekatku, memegang pundak Hengky, memintanya untuk tenang.
“Minum ini dulu, Naya...” Ia menyodorkan segelas air hangat untukku.
Aku mencium bau khas madu. Kuhabiskan setengah gelas lalu menyerahkannya ke Hengky, “Aku habisin nanti ya?”
Hengky mengangguk lalu menyerahkan kembali gelas kepada Ibunya yang pergi setelah mengambil gelas dari Hengky.
“Gimana keadaan kamu sekarang?”
Aku mencoba tersenyum, “Aku udah gak papa kok, Sayang...”
“Aku panik banget tadi, Nay. Aku terlalu emosi sampe gak sadar kalo wajah kamu udah pucet banget tadi..”
“Kamu gak salah, Sayang. Aku aja yang terlalu lemah...”
Mendadak aku kembali teringat Andy. Bayangan wajahnya tadi membuatku merinding.
Aku tidak mengira bahwa efek trauma ini sangat berpengaruh pada hidupku.
Aku mengira hidupku sudah baik-baik saja, tapi begitu melihat dirinya, pertahanan yang sudah mati-matian kubangun, runtuh seketika.
“Jangan fikirin Andy, Naya. Dia gak pantes di sebut laki-laki. Kelakuannya mirip seperti banci! Pengecut!”
Nada suara Hengky menggeram. Rahangnya mengeras.
Aku memegang tangan Hengky, “Dimana dia sekarang?”
“Naya... jangan pernah temui dia lagi!”
Jika aku boleh memilih, sampai mati pun aku tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Tapi ada banyak ketakutan yang makin merajalela menguasai fikiranku.
Bagaimana jika dia menceritakan segalanya pada Hengky?
Bagaimana jika Hengky tahu fakta yang sebenarnya?
Akankah ia tetap mencintaiku?
Akankah ia tetap berlaku sama padaku?
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Aku harus menemui dirinya.
Tapi, apa yang akan aku katakan padanya? Haruskah aku memohon berlutut di kakinya?
“Dia masih di depan. Menunggu kabar tentang kamu.”
Hengky menatapku dengan tatapan yang sulit ku mengerti.
“Sayang, aku...”
“Enggak, Naya. Selama kamu masih sama aku, kamu gak boleh nemuin Andy lagi!
__ADS_1
Dia brengsek, Naya! Aku selama ini gak pernah mau cerita sama kalian bahwa dia adalah Kakak Sepupuku karena aku sendiri jijik melihat dirinya.
Kamu mau tahu? Dia pernah ku hajar habis-habisan karena ketahuan hampir saja melecehkan temanku sewaktu SMA dulu. Berpura-pura jatuh cinta, berpura-pura bertekuk lutut di kakinya, setelah berhasil mengambil hatinya, ia berniat mengambil segalanya yang tersisa. Termasuk kesuciannya.
Beruntung aku berhasil memergokinya saat itu. Dasar rendahan! Dia bahkan berani mau melakukannya di dalam mobil?!
Hah!! Aku masih emosi luarr biasa kalau mengingat kejadian itu!”
Aku seperti tertampar oleh kata-kata Hengky. Aku tahu kalimatnya sama sekali tidak bermaksud menyindir apalagi menyakiti hatiku.
Tapi rasanya sakit sekali.
Beruntung sekali wanita itu berhasil diselamatkan oleh Hengky.
Andai saat itu pula dia ada untuk menyelamatkanku.
Andai aku seberuntung wanita itu...
Tanpa terasa air mataku mengalir.
Aku menangis tanpa bisa ku tahan.
Ya Tuhan... aku kira aku sudah berlari, namun ternyata selama ini aku hanya berjalan ditempat.
Tanpa kemajuan, tanpa masa depan.
“Naya... I’am so sorry. Aku gak bermaksud mengungkit masa lalu kamu.
Ya Tuhan... Maaf, Sayang....”
Hengky merengkuh tubuhku, ingin memelukku namun seketika tangannya terhenti, ia buru-buru menarik tangannya,
"Maaf.. maaf ... aku cuman bermaksud memeluk supaya kamu lebih tenang... Maaf, aku lupa...”
Tanpa memperdulikan ucapannya. Aku menarik tangan Hengky, memeluk dirinya, menangis sejadi-jadinya.
Aku kembali terjebak di tempat yang sama. Setelah susah payah merangkak naik, lalu tiba-tiba terpeleset dan jatuh kembali ke dasar lubang yang sama.
Sangat gelap. Aku bahkan tidak bisa melihat apapun dari sini.
Hidupku kembali terpuruk dan hancur.
Hengky hanya tahu aku trauma akan fitnah dan ucapan Andy.
Hingga kini, hanya itu yang ia yakini. Hal itu justru membuatku hatiku semakin terluka.
Dia sangat menghargaiku selama ini, bagaimana saat ia tahu fakta tentang diriku?
Hampir tiga hari aku mengunci diriku di kamar Kosan.
Shinta atau bahkan Hengky yang datang tidak membuatku bergeming.
Aku tetap tidak mau keluar kamar.
Aku menghukum diriku dengan menyadarkan kembali akan fakta yang telah terjadi.
Bagaimana aku bisa lupa bahwa aku tidak boleh mendapatkan cinta seorang laki-laki?
Aku tidak layak mendapatkannya.
Aku terlalu kotor, aku sangat menjijikkan.
Saat sedang meratapi diri, aku menemukan seseorang yang harusnya bertanggung jawab atas keadaan yang terjadi padaku.
Andy Widiyanto.
Harusnya dia yang menanggung semua ini.
Mengapa hanya aku yang terpuruk?
__ADS_1
Mengapa hanya aku yang tersika?
Sedangkan ia terlihat sangat baik-baik saja. Hidupnya sangat baik-baik saja.
Kemarahan melingkupi hatiku.
Dengan penuh emosi aku menekan nomor seseorang yang kuhafal di luar kepala.
Saat panggilan tersambung, aku segera tersadar.
Apa yang sedang kulakukan?
Terlambat.
Seseorang sudah mengangkat telefonnya sambil tertawa.
"Apa kabar, Naya? Kenapa? Kamu merindukan aku?”
Dengan cepat kumatikan panggilan telefon lalu ku non aktif-kan HP.
Tanganku gemetar. Jantungku berdetak tidak beraturan. Seluruh tubuhku terasa dingin seketika.
Hanya mendengar suaranya sudah membuatku ketakutan luar biasa.
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang harus ku katakan?
AKU HARUS BAGAIMANA, YA TUHAANN........
...-----------------------------------------------------------...
Saat ini tidak ada yang bisa ku lakukan kecuali menjernihkan fikiran.
Jika aku mengambil keputusan saat emosi sedang menguasai diri, maka aku akan menyesalinya sampai mati.
Ya. Apapun keputusan yang ku ambil, ini berpengaruh besar terhadap hidupku.
Ini sama saja seperti urusan hidup dan mati.
Bukankah aku sama saja mati jika Abah dan Ibu sampai tahu?
Dan kalaupun aku masih hidup dalam kenyataan keputusan yang salah, maka sesungguhnya aku hanya berjalan dengan kaki ku, bergerak dengan tubuhku namun tanpa jiwa.
Oke.
Mari tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan.
Aku harus tenang... aku harus tenang...
“Naya!! Buka pintunya atau ku hancurkan sekarang!”
Aku dikagetkan dengan suara gedoran pintu.
Suara bariton yang khas. Suara yang tidak akan pernah aku lupa seumur hidupku.
Setengah ketakutan, seperti terhipnotis, aku menyeret langkahku mendekati pintu.
Saat pintu terbuka, Andy tersenyum lebar, “Gadis pintar....”
Ia memaksa masuk lalu menutup pintu dengan tangan membelakangi dirinya.
Aku terpaku ditempatku.
Seluruh tubuhku kaku seperti sulit digerakkan. Ketakutan menguasai diriku.
“Kamu tahu, Naya? Sudah lamaa sekali aku merindukan suasana seperti ini...”
...-----------------------------------------...
__ADS_1