
#14
“Jangan pernah bermimpi bahwa kamu bisa sembarangan menyentuh tubuhku lagi! Kali ini aku rela mati atau kamu yang mati!!”
Aku berteriak mengancam Andy. Suaraku gemetar, rasa takut masih menguasai diriku namun sudah bisa sedikit aku kendalikan.
Andy tertawa sinis. Dengan santainya ia duduk di tempat tidurku, mengelus bantalku.
“Biar ku tebak, Hengky pasti belum pernah duduk disini”
“Hengky gak sama kayak kamu, Bajingan!!”
“Hahahahaha...!!” Suara tawa Andy makin keras, ia membungkukkan badannya lalu menatap tajam ke arahku, “Semua laki-laki sama, Naya! Apalagi kalau sudah pernah melihat tubuh telanjang wanita! Semua sama saja!!”
“Itu salah kamu kenapa membiarkan matamu melihat sesuatu yang diharamkan untukmu!!” Nafasku naik turun. Kemarahan hampir mengusai diriku.
“Siapa suruh kamu punya tubuh yang sangat indaah, Naya Sayang...” Andy bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arahku sambil menatapku tajam
Pertahanan tubuhku secara otomatis membuatku mundur ke belakang, “STOP! Jangan coba-coba mendekat! Atau...”
“Atau apa? Kamu mau berteriak? Kamu mau nama kamu juga rusak karena ketahuan ada di dalam kamar berdua denganku? SILAHKAANN...!
Biar sekalian semua orang tahu seorang Naya yang terlihat Religius sedang berduaan dengan laki-laki asing dikamarnya!”
Andy memotong kalimatku. Ia terkekeh sambil terus melangkah ke arahku,
“Kalau di fikir-fikir, aku bahkan belum pernah melihat rambutmu. Lucu, bukan? Padahal aku sudah melihat bagian yang lebih sakral darimu....”
Aku kembali panik ketakutan. Bayangan kejadian sore itu berkelebat di mataku.
Tidak. Tidak akan ku biarkan terjadi dua kali. Yang pertama kali adalah keteledoran, jika terulang kedua kali, berarti aku benar-benar bodoh.
Aku segera berlari ke arah meja belajarku, membuka laci lalu mengarahkan pisau dapur ke arah Andy,
“Selangkah lagi kamu maju, aku bakal mengiris pergelangan tanganku!”
Andy mengangkat sebelah alisnya, ia tertawa mengejek, “Coba saja. Aku mau lihat seberapa besar nyali mu”
“Aku gak mengancam, Andy! Aku bakal benar-benar bunuh diri!”
“Ya...Ya...Ya...” Ia menjawab sambil memutar pergelangan tangannya, matanya berputar, meragukan keberanianku.
Mataku terasa panas. Aku ingin sekali menangis tapi ku tahan sekuat tenaga.
Bayangan Abah dan Ibu berkelebat menari dalam bayanganku.
Maafkan aku, Abah... Maafkan aku, Ibu...
Dengan cepat, aku mengangkat pisau, mengarahkan ke pergelangan tanganku.
Tidak apa-apa, Naya...
__ADS_1
Mati lebih terhormat daripada menyerahkan tubuhmu kembali.
Namun saat mata pisau sudah hampir mengenai kuliku, saat aku sudah memasrahkan segalanya, Andy melompat ke arahku. Membuang pisau ditanganku lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
“Kamu gila, Naya!! Bagaimana bisa kamu berfikir untuk bunuh diri di depan mataku?!”
Aku berontak melepaskan diri dari pelukannya sambil menjerit namun Andy makin mengeratkan pelukannya.
“Ya Tuhaan... Maaf... maaf sudah membuatmu ketakutan... Aku... Aku hanya menggertakmu tadi...”
Aku tidak menjawab.
Aku masih terus memukul lengan dan pinggangnya agar mau melepaskan pelukan.
Rasanya menjijikkan sekali saat kulitku bersentuhan dengannya.
Andy mengehela nafas panjang lalu melepaskan pelukannya. Ia menatap mataku sendu lalu menghela nafas kembali,
“Kapan kamu mau menceritakan tentang apa yang telah terjadi pada Hengky? Dia berhak tahu tentang kamu, Naya. Pada saat itulah kamu benar-benar tahu apakah dia benar-benar mencintaimu atau hanya sedang bermain-main denganmu...”
“Urus urusanmu sendiri. Gak usah ikut campur tentang hubungan kami!”
“Baiklah... Tapi jangan salahkan aku kalau aku yang akan bercerita padanya. Rasanya menyakitkan sekali melihat kamu sekarang pacaran dengan seseorang yang sangat ku benci.”
Setengah berlari aku berjalan ke arah pintu, menarik gagang lalu berdiri disebelah pintu, mempersilahkan ia pergi sekarang juga.
“Ingat kata-kataku tadi, Naya.”
Entah itu ancaman atau hanya sekedar masukan. Aku tidak perduli.
Saat tubuhnya baru saja melewatiku, aku segera membanting pintu.
Buru-buru kunyalakan kembali HP, menyetel keras-keras suara musik lalu berteriak menangis semauku.
...------------------------------------------------...
Suara Handphone membangunkanku.
Aku ketiduran setelah kelelahan menangis tadi siang.
Aku mengerjapkan mata saat melihat layar Handphone.
Sudah jam delapan malam. Ada 33 panggilan telfon tidak terjawab.
Aku menghela nafas.
Bukannya aku tidak mau menemui Hengky. Tapi aku tidak punya nyali untuk menatap matanya saat ini.
Selalu saja hatiku berteriak menyadarkanku betapa kotor dan menjijikkannya diriku ini.
Handphone berdering lagi. Nama Hengky kembali muncul di layar.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang,
Maaf.... Maafkan aku...
“Aku denger suara nada dering HP kamu dari sini, Naya. Please, Naya... Buka pintunya... Ya Tuhan, kamu nyiksa aku, Nay!”
Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan agar suara tangisanku tidak terdengar sampai keluar.
“Jangan ngelewatin ini sendirian, Naya.
Biarkan aku menemani kamu. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau.
Please Naya... Mengurung diri seperti ini tidak menyelesaikan apapun..”
Hengky benar. Ini memang tidak menyelesaikan apapun.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas. Menghela nafas panjang.
Baiklah.
Aku harus kembali melangkah maju.
Apapun ketakutanku, aku harus bisa menghadapinya.
Aku harus bisa melawan rasa takut agar bisa melanjutkan hidup.
Hengky langsung memelukku saat aku membuka pintu.
Wangi parfumnya menenangkan hatiku.
“Kamu sudah makan?” tanyanya setelah melepaskan pelukan.
Aku menggeleng lemah.
“Mau makan keluar atau kita pesan online aja?”
Hampir tiga hari aku mengunci diriku di kamar. Mungkin aku harus keluar rumah untuk menyegarkan fikiranku.
“Kita keluar aja ya?”
Wajah Hengky langsung terlihat cerah.
Ia mengangguk senang lalu berjalan keluar pintu.
“Aku tunggu di mobil ya?”
Aku mengangguk sambil berusaha tersenyum.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada laki-laki sebaik ini?
...-------------------------------------------------...
__ADS_1