
#48
“Kamu ketakutan, Maya?”
“Apa?” Shinta menoleh ke arah Hengky.
Hengky berjalan ke arah cermin lalu mengetuk kaca, “Apa kamu takut dengan seseorang di balik cermin ini?”
Shinta tertawa keras, ia memukul meja beberapa kali sambil tertawa,
“Maksudmu Naya? Ya Tuhan, seharusnya kamu sekarang pergi ke ruangan sebelah dan memeriksa ekspresi wajahnya. Aku berani bertaruh, Naya pasti sedang pucat ketakutan atau menangis tersedu-sedu!”
“O ya? Aku mau tahu, apakah kamu masih bisa tertawa seperti ini setelah aku menemukan bukti tentang persekongkolan kalian untuk meretas akun dan meneror keluarga Naya?”
Tawa Shinta mendadak terhenti, “Omong kosong macam apa ini?!”
Hengky melirik Gilang, “Aku tahu kamu menyimpan foto-foto tadi, keluarkan sekarang!”
Gilang tidak bergerak sedikitpun. Indra pendengarnya seolah tidak berfungsi saat ini. Ia hanya menunduk sambil sedikit mengalihkan kepalanya, menjauhi tatapan mata Shinta.
“Kamu kira hanya foto itu yang aku ambil, Gilang? Itu bahkan belum ada separuhnya dari perbuatan bejatmu! Kamu mau aku keluarkan foto-foto yang lain?”
Gilang tergagap. Ia buru-buru mengeluarkan lima foto yang sedari tadi di sembunyikannya di bawah kemejanya.
Shinta mendengus kesal, dengan kasar ia meraih kumpulan foto. Saat pandangan matanya mengamati satu per satu foto di tangannya, saat itu pula pupil matanya seketika melebar, ia menutup mulut dengan tangannya,
“Ya Tuhan... a-apa ini? darimana kamu mendapatkan foto ini? A-aku.... aku.... AKU TIDAK PEDULI! HAHAHAHA....!”
Aku mengernyitkan dahi, ekspresi Shinta yang awalnya terkejut ketakutan berubah seketika. Ia tertawa dengan keras, suara tawa nya jelas bermaksud untuk mengejek Hengky. Ia terus tertawa mengabaikan tatapan Hengky dan Gilang.
__ADS_1
“Aku tidak perduli apapun yang akan kamu lakukan padaku, Hengky Widiyanto! Aku puasss telah menghancurkan kehidupan Naya!! Setelahnya, aku tidak peduli! Kamu mau memasukkan aku ke penjara? Silahkan!”
“Shinta... bukan ini yang aku mau. Ini... ini gak sesuai dengan yang kita rencanakan!”
Dahi Gilang berkerut, matanya menatap sedih ke arah Shinta, tangannya berusaha memegang tangan Shinta namun langsung di tepis dengan kasar.
“Jangan coba-coba menyentuhku lagi, Sialan!! Dasar bodoh! Karena kebodohanmu kita berdua terjebak disini!!”
Saat ini rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Sejujurnya sejak tadi aku tidak bisa fokus menyimak pembicaraan mereka. Mataku sibuk mencari celah agar aku bisa melihat foto apa yang ada di meja itu. Kenapa Gilang ketakutan setelah melihat foto itu?
“S-shinta??” Gilang nampak kaget mendengar suara bentakan Shinta. Ia kembali berusaha menyentuh tangan Shinta namun Shinta malah menyeret kursinya menjauhi Gilang.
Sebuah penolakan yang sangat jelas. Fakta menyakitkan yang harus Gilang terima bahwa Shinta hanya memanfaatkan dirinya. Ya, setidaknya saat ini, akal dan logika ku mengambil kesimpulan seperti itu.
Hengky melipat tangannya ke atas dada, ia menunduk sambil terkekeh pelan, “Ada yang ingin kamu sampaikan, Gilang? Lihat, wanita impianmu yang kamu sebut suci tanpa noda ada di sampingmu!”
“Wanita impian?! Ha...!” Shinta tertawa mengejek, “Kamu pikir aku gila, hah? Bahkan Dita saja gak akan mau punya laki-laki pecundang seperti kamu, Gilang! Dita yang jelek saja gak mau sama kamu, apalagi aku!!”
“Melihat wajahmu saja aku sudah muak, apalagi membayangkan menjadi kekasihmu!”
“T-tapi, selama ini....”
“Pffttttt....! Hahahahaha....!” Tawa Hengky terdengar keras. Tanpa menunggu kelanjutan kalimat Gilang, ia menepuk pundak Shinta dan Gilang secara bersamaan,“Hey, kalian, sampai kapan kalian akan berakting seperti ini? Kalian kira aku tidak tahu kalau kalian dekat sejak awal kuliah?”
Apa?! Sejak awal kuliah?? Tidak mungkin!
Wajah Shinta dan Gilang menegang. Seketika mereka terdiam kehilangan kata-kata. Pandangan mata Shinta seolah bertanya, bagaimana bisa Hengky mengetahui hal itu?
“Apa Shinta tahu kalau kamu sudah beberapa kali mengajak Nisa, Rara, Maria atau bahkan Dita beberapa kali ke kosan mu?”
__ADS_1
Gilang seketika berdiri. Ia menunjuk wajah Hengky sambil berteriak marah,
“Kurang ajar!! Berani-berani nya kamu memfitnahku, Hengky!”
“Fitnah? Apa menurutmu itu fitnah? Kamu yakin?” intonasi suara Hengky terdengar tenang.
“T-tentu saja! Ma-mana mungkin aku bisa mengajak mereka ke Kosan ku! Bahkan berbicara denganku di kelas saja mereka tidak mau!”
Hengky menganggukan kepalanya, “itulah alasan mereka mempercayaimu! Mereka tanpa ragu mengikutimu ke Kosan saat kamu meminta pertolongan mereka. Mereka mempercayaimu saat kamu menawarkan bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah yang sulit pada mereka. Tapi kamu dengan teganya malah melecehkan mereka!”
“T-tidak! Itu omong kosong! Jangan percaya itu, Shinta! Bajingan ini sedang mencoba mempermainkan kita!”
Gilang berjalan mendekati Shinta yang seakan sedang mematung. Ia berlutut memohon agar Shinta tidak mempercayai ucapan Hengky.
Ekspresi Shinta jelas menunjukkan keterkejutan. Yang membuatku tidak mengerti, mata Shinta mulai terlihat berkabut, ia sedang menahan air matanya agar tidak jatuh, agar tidak membuat harga dirinya semakin hancur.
Mengapa ia sampai sesedih itu?
Mengapa ia tidak melakukan itu saat mengkhianati persahabatan kami dulu?
“Aku cukup beruntung. Ada beberapa orang yang memang sudah ku curigai sejak lama, kamu salah satunya. Untuk berjaga-jaga, aku meminta pertolongan beberapa orang untuk memasang kamera pengawas di depan dan di dalam kosan mu. Yang awalnya hanya untuk berjaga-jaga, tapi lihatlah, aku bahkan mendapatkan tangkapan yang lebih besar!
Kamu boleh saja menipu seluruh wanita di dunia ini, menjerat atau membunuh mereka, aku tidak akan peduli.
Tapi saat kamu mengganggu wanita ku, membuat nya menderita selama beberapa minggu, kamu... kamu benar-benar telah melakukan kesalahan besar, Gilang Atmaja!!
Kamu salah memilih target! Kalian berdua benar-benar berhasil memancing kemarahanku!
Menurut kalian, setelah memancing kemarahanku, apakah aku akan sukarela melepaskan kalian begitu saja? Membiarkan kalian bebas?”
__ADS_1
Hengky menarik rambut Gilang, sambil menyeringai ia menoleh kepada Shinta, “Lihat baik-baik, Maya. Apa akibatnya jika bermain-main dengan emosiku!!!”