
49
“K-kamu... kamu hanya mengancamku, bukan? Hey, ayolah... tentang peretasan itu, i-itu... itu hanya bercanda. Aku dan Shinta tidak benar-benar serius melakukannya. Iya kan, Ta?”
Gilang seketika berdiri. Ia berjalan mondar-mandir dengan tatapan penuh khawatir. Sementara Shinta tidak mengeluarkan sepatah kata-pun. Aku hafal diluar kepala saat Shinta mulai panik, ia akan menggerakkan tumit kakinya berkali-kali ke lantai sambil menggigit kuku. Pandangan matanya bergerak kesana-kemari, sementara pikirannya sibuk mencari dalih.
Hengky mengangkat bahunya, “Tergantung...”
“Apa?”
Hengky berjalan ke arah Gilang, ia tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gilang,
“Tergantung apa alasanmu. Tenang saja... aku masih bisa bersikap fair. Jika alasanmu masuk akal, aku akan melepaskanmu. Jangan khawatirkan tentang Shinta, kamu aman bersamaku.”
Setengah tidak percaya aku menatap wajah Hengky. Dilihat dari cara berbicara, gestur tubuhnya, bahkan ia kembali berbisik untuk lebih meyakinkan Gilang.
Beberapa kali aku melihat Hengky mengedipkan matanya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yang jelas itu bukan kedipan menggoda.
Pandangan mata Gilang bergerak kesana dan kemari, rasa percaya dirinya mendadak mulai bergerak ke permukaan. Sambil tersenyum lebar ia berdiri lalu mengangkat dagunya,
“Ya! Salah mereka mengapa mereka tidak bisa menjaga cara berpakaian mereka?! Bukan salahku jika aku sebagai laki-laki tergoda! Siapa suruh mereka memakai pakaian seksi?! Bukankah tujuan mereka memakai pakaian seperti itu untuk menarik birahi kami kaum lelaki?!”
Hengky mengangguk beberapa kali, ia kembali berjalan menuju kursinya,
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Nisa? Nisa memakai jilbab, mengapa kamu juga mengincar Nisa?”
Gilang terkekeh, ia melirik Shinta, “Karena dia membenci wanita ku!”
“Oh... balas dendam maksudmu?”
“Aku tidak tahan mendengar mulutnya terus saja berbicara buruk tentang Shinta. Kamu, Naya dan semua orang bersikap seolah paling suci, seolah Shinta adalah manusia penuh cela! Padahal, kamu mau tahu, Nisa bahkan tidak memberontak saat aku sudah masuk ke dalamnya! HAHAHA...!”
Suara tawa Gilang membuatku merinding. ia tertawa tapi otot sekitar matanya tidak ikut terlibat. Bahkan aku yang dari jauh pun bisa tahu, suara tawa Gilang palsu. Ia bukan tertawa bahagia, ia hanya bermain untuk menyelamatkan dirinya.
“Hentikan, Gilang.”
Shinta tidak mengalihkan pandangannya, ia masih tertunduk. Raut wajahnya menahan kemarahan sekaligus rasa kecewa.
Gilang tersenyum lebar, ia menepuk pundak Hengky, “Jadi, sudah berapa wanita yang kamu jerat, Ky? Dengan wajah tampan dan kekayaanmu yang luar biasa, kamu bisa memilih wanita sesukamu.”
“Nanti dulu, Kawan. Pelan-pelan. Percaya padaku, ceritamu jauh lebih menarik!” Hengky mengerjapkan mata lalu memasang senyum manis di bibirnya, “So, tell me, apa menurutmu semua wanita pantas untuk dilecehkan karena cara berpakaian dan sifat mereka yang menyebalkan?”
Jika diperhatikan lebih teliti, Ekspresi wajah Hengky agak aneh, terlihat berbeda antara bagian kiri dan kanan. Ketika melihat bagian wajah kirinya, pupil matanya melebar, itu terjadi ketika ia tertarik pada sesuatu. Hal ini sangat berlawanan dengan bagian wajah kanannya, pupil matanya menyempit, itu terjadi ketika ia melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.
Melihat dan memperhatikannya selama hampir setahun membuatku hampir hafal akan kebiasaannya.
Apa yang sedang terjadi? Apakah mungkin....
__ADS_1
Gilang tertawa senang, ia mengangguk membenarkan lalu berjalan semangat ke arah Hengky,
“Bukankah wanita diciptakan hanya sebagai objek agar banyak tujuan dalam hidup bisa tercapai? Kita ambil contoh lewat iklan saja, jika menonjolkan lekuk tubuh wanita, pasti akan cepat laku! Lewat tubuhnya pula, mereka bisa dengan cepat di kenal dunia.
Dari dulu, wanita dijadikan sebagai objek melalui cara yang bervariasi. Sayangnya, mereka malah dengan senang hati menjual murah lekuk tubuh mereka! Jadi, jangan salahkan aku jika aku melayani apa yang mereka mau!”
“Jadi menurutmu Rara, Nisa, Dita dan Maria memang layak mendapatkannya?”
“Semua wanita kecuali Shinta,” Gilang menyeringai, namun mendadak ia tersadar akan sesuatu, “Dan Naya tentunya...” ralatnya terburu-buru.
Hengky mengangguk, gerak tubuhnya terlihat sangat natural. Ia bahkan tidak mempermasalahkan nada sumbang yang sangat jelas kudengar dari Gilang.
“Hey, beritahu aku, apakah mereka memberontak dengan keras? Bagaimana rasanya?”
Mata Hengky kembali berkedip. Tidak, akal dan logika ku tidak bisa menelan begitu saja perkataan Hengky.
Tiba-tiba aku teringat perkataan Hengky saat ia mengajariku menilai lawan bicara lewat gestur tubuh. Ia berkata jika lawan bicaramu terlalu sering berkedip dan tanpa ritme, ada kemungkinan besar ia sedang berbohong. Bisa jadi ada sesuatu yang sebenarnya sedang ia sembunyikan darimu.
Apakah itu adalah arti dari kedipan mata berulang kali (yang sepertinya) tanpa sadar Hengky lakukan?
Aku masih terus memandangi wajah Hengky, berusaha memahami permainan apa yang sedang ia mainkan. Tentu saja Hengky tidak akan setuju begitu saja dengan ucapan gila yang keluar dari mulut kotor Gilang, bukan?
“Hey, My Bro! Kamu menganggapku remeh? Bukan hanya mereka! Setengah anak-anak kelas kita sudah masuk dalam perangkapku! Kamu mau aku kasih lihat? Tersimpan rapi di dalam folder di komputerku sesuai dengan urutan nama mereka!”
__ADS_1