Penjara Cinta

Penjara Cinta
Jacuzzi


__ADS_3

#59


Aku masih menggerutu kesal ketika keluar dari lift. Entah mengapa aku terus saja mengkambing hitamkan Hengky dibalik perasaan aneh yang sedang ku rasakan. Aku tidak ingin merasakan sesuatu yang merepotkan seperti ini dan Hengky adalah sasaran empuk untuk menjadi samsak emosiku.


Namun ketika langkah kakiku sampai di rooftop, emosiku dengan sangat mudah menguap. Suasana rooftop saat pagi hari sukses memanjakan mata. Tanaman rambat yang terletak di bawah kursi dan meja membuat taman rooftop terkesan lebih sejuk alami. Atap kerai yang bisa dibuka dan ditutup dengan secara elektronik, menambah kesan modern namun tetap sejuk dipandang mata.


Tanaman hias di susun rapi sepadan dengan tatanan meja dan kursi dan juga karpet yang berwarna senada, serba putih. Lantai yang terbuat dari lantai kayu sukses menambah kesan sejuk makin terasa. Di pojok, terletak sebuah jacuzzi mewah dikelilingi tanaman yang membuatku secara otomatis membayangkan sungai kecil di tengah rumput saat berada di rumah nenek dulu.


Sejujurnya aku agak merinding melihat jacuzzi semewah ini berada di rooftop. Menurutku, siapa pula yang mau berendam di atas sini? Bagaimana jika sedang asyik meresapi hangatnya air lalu tiba-tiba ada orang masuk? Tidak mungkin berendam di dalam jacuzzi dengan memakai pakaian lengkap, bukan?


Duh, pikiranku mulai kacau lagi. Arrggh...!


Aku berjalan ke arah pagar pembatas yang dipenuhi tanaman rambat. Taman luas yang mengelilingi rumah Hengky terlihat jelas dari atas. Sambil memejamkan mata, aku menghirup dalam udara pagi yang terasa lebih segar hari ini. Ya, udara ini sedikit membawa pikiran aneh yang sedari tadi mendayu-dayu di telingaku pergi.


“Ini pertama kalinya kita berdua ke atas ya?” suara Hengky sudah berada di belakangku.


Aku terkesiap, buru-buru mengangguk. Secara refleks aku mengambil beberapa langkah menjauhi dirinya saat Hengky berjalan mendekat.


“Aku jarang banget ke atas sini. Walau aku tahu taman ini indah, tapi kalau hanya sendirian setiap hari, rasanya justru malah menyakitkan.”


Tidak ada jawaban dari mulutku. Mataku terus saja mencuri pandang ke arah jacuzzi.


“Aneh ya ada jacuzzi disitu?” Pandangan Hengky mengikuti arah mataku.


Ah, sial. Aku ketahuan lagi.

__ADS_1


“K-kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya!”  dalihku terburu-buru.


“Memang siapa yang mikir aneh-aneh?” tanya Hengky bingung.


Astaga, matilah aku.


Menyadari aku yang makin salah tingkah membuat Hengky segera memahami situasi. Ia tertawa keras lalu menghadap ke arahku,


“Astaga, Sayang. Kamu salah makan apa sih dari kemarin? Kok jadi aneh gini?”


Pertanyaan dan suara tawa Hengky semakin membuatku salah tingkah. Aku mengalihkan wajahku, menyembunyikan rona wajah yang pasti sangat merah saat ini.


Lihatlah, sudah ku bilang tubuhku akan mempermalukan dirinya sendiri.


“Mami sengaja mendesain rooftop dengan suasana yang nyaman dan sedikit intim. Ia berencana membangun rooftop lengkap dengan jacuzzi untuk memperbaiki hubungan pernikahannya dengan Papi.”


Hengky menghela nafas berat, “Sayangnya, apapun yang Mami lakukan tidak bisa membuat Papi kembali. Mami akhirnya mengikuti langkah Papi untuk mencari kebahagiaan yang tidak ia dapatkan disini. Mereka sibuk mencari kebahagiaan seolah aku adalah makhluk tak kasat mata bagi mereka. Dan inilah aku, seorang anak yang selalu kesepian, seorang anak yang selalu sendiri.”


“Kamu tidak benar-benar sendirian, Sayang. Kamu hanya menarik diri, menutup segala akses kedalam kehidupanmu. Aku jadi penasaran, mengapa kamu tidak pernah mengundang teman-temanmu ke rumah?”


Hengky kembali menghela nafas, “Aku sulit mempercayai orang lain, Naya. Setiap orang yang mendekatiku selalu saja mempunyai maksud tersembunyi. Selalu saja seperti itu.”


“Tidak semua orang, Sayang...”


“Ya. Kecuali kamu,” Hengky tertunduk, “dan Kak Andy,” tambahnya pelan.

__ADS_1


“Andy?”


“Dia benar-benar mengkhawatirkan aku, Naya. Mengkhawatirkan kita.”


Aku mengerutkan kening, “Mengkhawatirkan kita? Aku dan kamu? Maaf, Sayang... tapi aku sulit mempercayai orang itu. Mungkin untukmu dia adalah seorang kakak yang baik, tapi untukku...”


Hengky seketika menyadari kesalahannya, ia menoleh ke arahku, ekspresi wajahnya tampak khawatir, “Maaf, Sayang... bukan maksudku--”


“Dia yang menghancurkan hidupku, Hengky!” Potongku cepat. Nada suaraku terdengar menekan. Penuh dengan emosi yang selama ini ku simpan.


“Jangan menyalahkan takdir, Sayang. Sesuatu yang akan terjadi, sebaik apapun usaha kita mencegahnya, jika akan terjadi, maka terjadilah. Kamu tahu, jika bukan karena kejadian itu, mungkin kita berdua tidak akan berada disini, menikmati udara pagi bersama, atau sekedar meributkan aku yang bertelanjang dada.”


Hengky tersenyum ke arahku sambil mengedipkan sebelah mata. Aku tahu ia hanya ingin mengajakku bercanda, mencoba mencairkan suasana. Namun luka lama itu terlanjur kembali terbuka, terasa semakin perih bahkan hanya dengan mendengar namanya.


“Beri tahu aku, bagaimana caranya berdamai dengan kenyataan yang menyakitkan?” tanyaku sambil menatap tajam matanya.


“Menurut kamu kenyataan menyakitkan seperti contohnya Papiku adalah seorang gay dan Mami yang sekarang entah ada dimana?” Hengky tetap mempertahankan senyumannya.


 “Atau mungkin kenyataan pahit bahwa dari usia lima tahun aku harus bisa mengatasi masalahku sendirian? Atau mungkin dengan fakta bahwa sebagian besar keluargaku adalah penganut agama non islam yang mana itu akan menjadi penghalang besar untuk hubungan kita kedepannya?”


“Hengky, aku...”


“Atau fakta bahwa ternyata keperawanan kekasihku direnggut paksa oleh kakak sepupuku?”


Aku memandangi wajah Hengky yang mulai memerah. Peraaan bersalah membuat dadaku terasa sesak.

__ADS_1


Hengky menyeringai lalu membuang wajahnya kembali ke arah taman,


“Kamu tahu, Naya? Bukan kehilangan kesucianmu yang membuatku sakit, tapi kenyataan bahwa kamu terus saja terpenjara di dalam kerangkeng dendam dan bayangan Andy yang membuat darahku mendidih.”


__ADS_2