
54
Tidak ku sangka, aku kembali lagi kerumah ini. Rumah besar yang penuh dengan barang-barang mewah namun justru entah mengapa terasa kosong.Padahal pelayan di rumah ini saja berjumlah sekitar dua puluh orang. Memang terlihat ramai, namun pada hakikatnya kosong.
Satu hal yang ku syukuri, kehadiranku kali ini bukan karena dipaksa seperti terakhir kali. Awalnya aku ingin meminta Hengky untuk membawaku pulang ke Kosan saja. Namun melihat perawat yang sedang sibuk mengobati luka Hengky membuat lidahku kelu. Ya, tidak etis rasanya saat rombongan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Hengky namun aku malah minta diantarkan ke kosan.
“Memangnya ini taksi online?” mungkin itu yang akan mereka katakan jika aku tetap memaksa untuk di antarkan ke kosan.
Namun alasan terbesar yang membuatku urung membuka mulut adalah karena aku takut akan memancing kemarahan Hengky. Ia yang tadi bersikap heroik melindungiku akan terasa seperti menjadi bahan lawakan jika aku tiba-tiba berkata, “turunkan aku di kosan.”
Ah, membayangkannya saja membuatku merinding.
Saat tiba di rumahnya, ia berusaha membuatku nyaman dengan menempatkanku di kamar yang berbeda dengannya. Tentunya sambil diawasi oleh perawat yang sengaja diminta oleh Hengky tinggal selama tiga hari di rumahnya.
Tiga hari yang terasa sangat cepat. Tidak seperti biasanya, aku yang biasanya merasa risih tinggal di rumah laki-laki kini mulai merasa seperti tinggal di rumahku sendiri. Hengky benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik.
Tidak seperti sebelumnya aku dilarang keluar kamar, kali ini aku diizinkan pergi kemanapun yang aku mau. Walau tentu saja aku si introvert ini akan merasa malu jika dengan penuh percaya diri berkeliling berlagak menjadi seperti pemilik rumah.
Para pelayan mungkin akan menyapaku dengan baik, melayaniku sama seperti mereka melayani tuannya, namun isi hati manusia, siapa yang tahu?
Hasilnya, hampir seharian aku hanya ada di kamar atau pergi ke jendela besar di kamar Hengky. Berbincang ringan, bertanya kabar, lalu menonton film bersama.
Syukurlah, ternyata luka di pelipis Hengky tidak begitu dalam sehingga tidak memerlukan tindakan penjahitan kulit untuk menutup luka. Siku dan lututnya memar sekaligus luka kecil. Mungkin tergores pecahan kaca. Di hari ketiga, Hengky masih memakai plester luka di kening, siku, dan lututnya.
Aku yang dari awal memang merasa baik-baik saja tetap tidak diperbolehkan pulang oleh Hengky saat hari ketiga. Padahal, perawat sudah pulang dari tadi pagi. Rumah pun tidak seramai tiga hari yang lalu.
Satu hal yang membuatku penasaran, kemana Papi dan Mami Hengky? Tidak mungkin mereka tidak mengetahui tentang berita kecelakaan anak mereka, bukan? Apalagi Papi Hengky sedang ada di kota yang sama pada hari kejadian.
Yang datang berkunjung hanya Om Hari dan beberapa orang dari perusahaan. Aku hanya melihat mereka sekilas saat baru saja kembali dari taman.
Di hari ketiga, seseorang yang sudah cukup lama tidak kulihat, datang menjenguk. Seseorang yang pernah mengukir senyum di bibirku namun kemudian menggores luka dalam yang bahkan hingga kini masih kurasakan.
Andy tersenyum saat melihatku keluar kamar, ia mengangkat sebelah alisnya saat melihatku,
“Wow...! Mimpi apa aku semalam sehingga bisa melihat kamu disini hari ini.”
Aku yang juga sebenarnya terkejut atas kedatangannya yang tiba-tiba, hanya membalas kalimatnya dengan senyuman tipis. Sekedar senyuman berbasa-basi lalu berjalan mendahuluinya menuju kamar Hengky.
“Kamu sudah hafal kamar Hengky?” tanya Andy sambil membungkukkan badannya, mensejajarkan dirinya dengan tinggi badanku.
“Kakak pikir selama tiga hari disini aku hanya dikunci di kamar saja?” jawabku ketus.
“Sudah tiga hari? Luar biasa. Entah apa yang telah terjadi selama tiga hari itu ya...”
__ADS_1
Nada suaranya terdengar sangat familiar di telingaku. Nada suara menyelidik sekaligus menyindirku.
Tok! tok!
“Ada kak Andy disini.” seruku agak keras, berusaha berpura-pura tidak mendengar kalimat yang Andy ucapkan tadi.
“Iya, Sayang. Tunggu sebentar.”
Aku mengangguk pelan. Berusaha tidak menoleh ke samping karena aku tahu Andy sedang memandangi wajahku sambil berusaha menahan tawa.
“Masih lama, Sayang?” tanyaku dengan tidak sabar.
Tidak ada sahutan.
Aku mulai tidak nyaman berada berdua dengan Andy di lorong ini. Pandangan matanya benar-benar membuatku jengah.
Mengapa tidak ada pelayan disini? Bukankah biasanya mereka sangat rajin mondar mandir disini setiap waktu?
Hampir tiga menit berlalu. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Hengky di dalam? Mengapa lama sekali??
“Bisa gak jangan ngeliatin muka aku terus?” seruku kesal. Pandangan mataku tetap ke arah pintu, tidak sudi menoleh ke arahnya.
Andy tertawa, tangannya mencoba memegang kepalaku namun di tahannya saat hampir mengenai jilbabku, “Senang melihatmu setelah sekian lama.”
“Kakak sekarang gondrong?” tanyaku berbasa-basi.
Mau tidak mau kalimat itu sukses membuatku menoleh ke arahnya. Ia tersenyum lembut sambil terus menatap mataku. Mata bulatnya yang dulu sangat kusukai. Pandangan mata yang...
Hey, Naya! Sadarlah!!
Aku buru-buru mengalihkan pandangan mataku. Tanganku hampir mengetuk pintu namun pintu tiba-tiba terbuka.
Hengky tersenyum lebar. Rambutnya masih basah, wajahnya terlihat segar. Aroma sabun khas laki-laki menyeruak ketika ia meminta kami masuk.
Rupanya ia sedang mandi tadi. Pantas saja.
Melihat Hengky dan Andy duduk bersama sambil sesekali tertawa membuatku menyadari, wajah mereka tidak ada mirip-miripnya.
Wajah Hengky yang korea banget dan Andy yang ala timur tengah. Siapapun tidak akan menyangka bahwa mereka adalah saudara sepupu. Masing-masing dari mereka mempunyai aura tersendiri.
“Jadi setelah sekian lama, Naya adalah orang luar pertama yang kamu ajak masuk ke Giant Tree?”
Andy kembali menatapku, ia mengangkat alis kirinya. Ia sangat tahu, dulu aku sangat menyukai saat ia menggodaku sambil mengangkat alis kirinya.
__ADS_1
“Giant tree?” tanyaku sambil menatap Hengky, menghiraukan Andy yang tadi menggodaku.
“Kami menyebutnya giant tree saat masih kecil. Mansion itu sangat luas, seperti pohon raksasa yang mencolok di tengah perkebunan sawit milik Papi.” Hengky menjelaskan padaku sambil berjalan mengambil beberapa minuman ringan di dalam lemari es.
“Coffee?” tanyanya pada Andy.
“Coffee, Nay?” Andy menatapku.
“Eh? Kan Hengky nawarin Kakak,” jawabku kebingungan.
Andy tertawa, ia mengangguk ke arah Hengky tanda menyetujui pilihan kopi.
“Naya gak suka kopi, Kak.” ujar Hengky santai sambil menaruh minuman di meja. Ia tersenyum padaku lalu menyerahkan air mineral.
“Eh? Sejak kapan?” Andy terlihat bingung, “Dulu...”
“Kalau orang lagi jatuh cinta, memang terkadang dia menjadi orang lain dihadapannya.” Hengky memotong kalimat Andy, “bedanya saat ini Naya gak perlu jadi orang lain saat bersamaku.”
Dengan tenang Hengky membuka tutup botol air mineral dan menyerahkannya kepadaku. Sepertinya ia memang sengaja mengatakan itu untuk membungkam Andy.
Aku tersenyum ke arah Hengky, “Makasih, Sayang.”
“Hey, gimana kabar Tante? Sudah pulang dari Turki?”
Hengky mengalihkan pembicaraan. Ia sangat mengerti jika obrolan ini dilanjutkan akan terasa tidak nyaman.
Andy membuka tutup botol minuman kopi kemasan,
“Sudah tadi malam. Aku bawa beberapa oleh-oleh. Sudah kubilang kamu gak bakal butuh oleh-oleh tapi Mama memaksa. Katanya kamu dulu sangat menyukai turkish delight dan akhirnya Mama beli banyak banget turkish delight!” gerutu andy sambil setengah kesal.
“Tante baru habis liburan?” tanyaku penasaran.
“Pulang kampung, Sayang.” Jawab Hengky lembut.
“Tante Emira? Eh? Kok aku gak tau...” secara refleks aku menoleh ke arah Andy.
Andy memiringkan sedikit kepalanya sambil tersenyum, “Kenapa? Kamu merasa seperti sudah mengetahui segalanya tapi ternyata bukan apa-apa?”
Aku buru-buru mengalihkan pandangan mata. Menghindari keterkejutanku atas pertanyaan menohok dari Andy.
Sejujurnya ia benar. Andy terlalu sering bercerita tentang kehidupannya sehingga membuatku seolah mengetahui segalanya tentangnya. Namun ternyata hal sedasar ini saja aku tidak tahu.
“Hey, bukankah wajar jika Naya baru mengetahuinya sekarang? Lagi Pula nantinya dia akan mengetahuinya setelah jadi istriku.”
__ADS_1
Hengky merangkul pundakku, ia tersenyum menatap Andy. Senyuman mendominasi seolah memberi tahu Andy bahwa apapun yang terjadi antara aku dan Andy, semua sudah usai.
“Oh ya? Apakah Naya juga memberitahumu bahwa dia tidak bisa menikahi laki-laki sembarangan? Contohnya lelaki sepertimu?”