Penjara Cinta

Penjara Cinta
Si Bodoh


__ADS_3

#50


Nada suara penuh kebanggaan dari Gilang membuat mataku terbelalak. Refleks aku menutup mulut.


Ini Gila! Bajingan ini sudah sangat keterlaluan! Aku sudah tidak tahan lagi!


Dengan penuh emosi aku berjalan ke arah pintu.


“Lalu Naya? Kenapa kamu meneror Naya? Meretas akun nya?”


Langkahku mendadak terhenti ketika namaku disebutkan. Setengah berlari aku kembali ke tempat duduk di depan cermin.


Gilang menoleh ke arah Shinta, ia tersenyum puas, “Bagaimana bisa aku menolak jika balasannya adalah Shinta? Apapun akan kulakukan asalkan dia bisa terus ada di sampingku. Setidaknya itu yang ia janjikan saat meminta pertolonganku untuk meretas dan meneror keluarga Naya.”


Shinta menatap Gilang penuh kemarahan, ia hendak maju menampar Gilang namun Gilang berjalan ke belakang punggung Hengky, meminta perlindungan.


“K-kau... kurang ajar! Sini! Sini, bajingan!!” Wajah Shinta memerah. Nafasnya terdengar memburu,

__ADS_1


“Aku sudah mempercayaimu sejak awal kuliah, Gilang! Segala hal aku ceritakan padamu! Tentang Andy, tentang Naya, tentang keluargaku yang bahkan tidak ada yang tahu! Aku membantumu melewati masa krisis saat kamu kecelakaan motor, kamu ingat itu?”


Gilang tertunduk, ia memainkan ujung kemejanya,


“Maaf, Shinta... Kamu... kamu tidak pernah mengizinkan aku untuk hanya sekedar memegang tanganmu. K-kamu tidak tahu sekuat apa aku menahan nafsu buasku saat bersamamu. Beri tahu aku,  bagaimana caranya hormon testosteron-ku bisa tersalurkan jika bukan dengan cara ini?”


“Itu karena aku menghormatimu, Bodoh!! Karena aku menjagamu! Aku tidak ingin kamu menjadi seperti aku!!” suara Shinta terdengar serak. Ia menghapus air mata yang mulai membentuk kabut di matanya.


Gilang mengangkat wajahnya, sorot matanya seketika berubah menyedihkan saat mendengar tangisan Shinta,


“M-maaf... maafkan aku... maafkan aku, Ta...”


Shinta tertunduk. Punggungnya naik turun mengikuti suara tangisan yang semakin keras terdengar.


 “Gilang, Apa kamu sadar kalau kamu sedang menggali kuburanmu sendiri?”


“A-apa?”

__ADS_1


“Hengky memancingmu untuk bicara, Bodoh! Kamu pikir dia benar-benar memasang kamera pengawas di dalam kosanmu?! Kamu pikir dia benar-benar setuju dengan pemikiran gilamu?!! Hanya aku yang mengerti! Hanya aku!! Kenapa kamu tidak pernah mau percaya padaku?!!”


Air mata Shinta semakin mengalir deras. Ia membiarkan air mata jatuh hingga membasahi kaosnya. Nafasnya naik turun mengikuti naiknya detak jantung yang semakin cepat. Otot matanya menegang, sorot matanya benar-benar menunjukkan kekesalan, kemarahan dan kekecewaan yang amat sangat.


Gilang tergagap. Ia menoleh cemas ke arah Hengky, tatapan matanya meminta jawaban darinya.


Hengky menyeringai kecil lalu mengeluarkan handphone dari balik saku celananya. Ia  menekan beberapa nomor lalu mendekatkan handphone ke telinganya,


“Sudah selesai. Tolong kirim dua orang kedalam.”


Setelah memasukkan kembali handphone kedalam saku, Hengky berjalan ke arah pintu, sebelum keluar ia membalikkan badan ke arah Gilang,


“Jika kamu melihat perempuan menarik, maka ingatlah pencipta-Nya. Jangan kemudian berpikir untuk menguasai apalagi melecehkannya. Naya pernah bilang, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pandangan pertama nikmati, pandangan kedua adalah laknat.


Jangan salahkan wanita, salahkan otak kotormu!! Apa otakmu itu hanya kamu pakai untuk menyalahkan dan menuduh dunia saja?!


Kamu terlalu sibuk menyalahkan setiap orang tapi lalai mengoreksi otak dan telat menyadari hati yang makin mati! Pantas saja pola pikirmu sangat dangkal seperti ini!

__ADS_1


Kamu tahu, kamu adalah polusi terburuk bagi udara di sekitarmu! Bahkan kematian pun tidak bisa membebaskanmu dari dosa menjijikkan ini!!”


__ADS_2